
Alvin terus melangkah masuk, hingga baru saja dia sampai di dalam gedung, beberapa orang langsung mengepungnya dengan tangan penuh senjata.
Alvin yang terkejut, sigap mengambil posisi kuda-kuda, sambil memperhatikan sekitarnya. Tidak lama, suara tepuk tangan terdengar menggema di dalam bangunan yang sudah tampak lapuk itu.
Alvin mengalihkan pandangannya ke arah tangga, di mana suara itu berasal. Hingga seseorang perlahan muncul dengan menuruni anak tangga.
Alvin memicingkan mata, melihat sepatu snekers khas anak muda yang dipadukan dengan celana denim bermerek, mulai terlihat di pandangan mata.
Dari tampilannya, jelas itu bukan Pak Mardo, bahkan postur tubuhnya pun berbeda. Ini lebih tinggi dan berotot dibandingkan dengan Pak Mardo.
"Wah, wah, wah! Ternyata kamu cukup berani juga datang ke sini sendiri ya?" ujar remeh laki-laki itu yang mungkin berumur tiga puluhan.
Ya, dia adalah Roy -- anak Pak Mardo yang hampir menodai Indira.
Ah, mengingat semua itu emosi Alvin kini mulai kembai naik, dia mengepalkan tangannya dengan sangat erat, hingga terlihat memutih di beberapa bagian.
"Apa maumu sebenarnya dariku, hah?!" tanya Alvin menatap Roy degan mata yang memerah, menahan desakan amarah yang sudah hampir meluap.
"Aku?" tunjuk Roy pada dirinya sendiri, walau kakinya terus melangkah menuruni tangga.
"Aku ingin nyawamu, bodoh! Hahaha!" Roy kini berhenti di anak tangga terakhir.
"Tapi, sepertinya permainan ini akan segera berakhir, karena kamu dengan bodohnya malah mengantarkan nyawamu sendiri padaku, hahaha!"
Tawa remeh yang ke luar dari mulut Roy, kini terdengar menjijikan di telinga Alvin.
"Kita lihat saja, apa mungkin kamu dan para antek-antekmu ini bisa menghabisiku? Atau aku yang akan membawa kalian semua ke alam baka?!" tantang Alvin tanpa rasa takut.
Roy mengangkat salah satu alisnya dengan bibir menyeirngai keji, mendengar ucapan Alvin yang hanya dia anggap omong kosong.
"Oh, kalau begitu maumu, baiklah, kita mulai sekarang," ujar santai Roy sambil memberikan isyarat pada semua anak buahnya untuk menyerang Alvin bersama-sama.
Alvin dengan sigap menghindar dan menangkis secara bersama, tidak tanggung-tanggung, mereka terus menyerang tanpa ampun dan tanpa jeda sama sekali, hingga Alvin kesulitan untung menyerang balik.
Alvin sampai terpojok saat dirinya terpelanting hingga menabrak dinding saat tendangan dari salah satu anak buah Roy berhasil mengenai perutnya bagian atasnya.
"Uhuk!" Alvin terbatuk merasaan sesak di bagian ulu hati.
__ADS_1
Namun, karena itu tangannya meraba besi silinder di sampingnya, sepetinya bekas pembangunan yang masih cukup kuat untuk menjadi senjata.
Alvin meraihnya kemudian segera bengkit kembali dan bersiap menyerang. Dia menendang orang yang sudah berada cukup dekat denganya, tangannya sekaigus mengayunkan besi pada laki-laki lainnya.
Dalam satu gerakan, Alvin sudah menumbangkan dua orang anak buah Roy, walau mungkin dalam beberapa saat mereka bisa bangun dan menyerang lagi. Namun, setidaknya itu lebih meringankan bebannya untuk sementara.
Roy tampak berdiri santai di ujung tangga sambil menghisap rokok di sela jari. Sepertinya dia menganggap pertarungan ini sebagai sebuah tontonan yang menyenangkan.
Alvin terus menangkis dan memanfaatkan peluang untuk menyerang, tidak ada sedikitpun waktu luang untuknya walau hanya menghirup napas.
Peluh mulai membanjiri tubuhnya dengan beberapa pukulan pun sempat mendarat melukai tubuhnya.
Lelah? ... Sudah pasti.
Namun, ingatan keselamatan ibunya menjadikannya semangat dan kekutan tersendiri bagi Alvin, hingga membuatnya seakan menjadi orang tanpa ada rasa sakit.
Alvin terus bangkit dan kembali menyerang walau tubuhnya sudah terasa remuk redam.
Kini hampir sepertiga anak buah Roy sudah terkapar dengan luka yang terdapat di kepala dan kakinya, sasaran utama Alvin agar mereka tidak bisa bertarung lagi.
Mata Roy semakin melebar saat satu orang lainnya datang paling terakhir dengan membawa senjata dan langsung menembak kaki beberapa anak buahnya yang sedang bertarung, secara brutal dan terlihat sangat santai.
Siapa lagi yang memiliki senjata dan keberanian tinggi, selain Max–salah satu anggota mafia Black Eagle yang memiliki pabrik pembuatan senjata sendiri.
Secepat kilat Roy berlari ke atas, yang langsung disusul oleh Max. Melihat itu Alvin yang sudah bisa sedikit bernapas karena bantuan dari anak buah Max langsung menyusul mereka ke bagian gedung atas.
"Mama!" gumamnya sambil berlari menaiki tangga.
Ingatannya kini pada Ganis yang pastinya sedang disekap di salah satu bagian gedung itu.
Max dan Alvin terus berlari menaiki tangga mengejar Roy, hingga mereka sampai di lantai paling atas, di sana ternyata sudah ada Ganis yang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan beberapa orang anak buah Roy yang menjaganya.
"Mama?!" Alvin melebarkan matanya melihat pemandangan itu. Jantungnya yang sudah berlalu kini semakin cepat, dengan rasa penasaran dan kahawatir akan kondisi ibunya sekarang.
Padahal jika dilihat, kini kondisi tubuhnya sendiri sudah sangat memprihatinkan. Darah terlihat mengalir dari pelipis, bibir pecah dan lebam di mana-mana. Belum lagi pakaian yang sudah koyak dan kotor akibat pertarungan beberapa saat yang lalu.
"Serang mereka!" teriak Roy yang langsung mengambil alih Ganis sambil menodongkan senjata pada leher wanita yang masih tidak sadarkan diri itu.
__ADS_1
Tanpa ampun Max yang berdiri di depan Alvin langsung menarik pelatuk dan mengarahkannya pada lima orang laki-laki yang menghampiri merek.
Tembakkan beruntun berhasil menembus kaki kelimanya dan tumbang seketika sebelum berhasil menyentuh kulit Max dan Alvin.
Max meniup ujung senjata miliknya sebagai tanda penghormatan dan kebanggaan atas pekerjaannya yang memuaskan. Dia menyeringai dengan tatapan tajam menghunus tubuh Roy di depannya.
Tubuh Roy bergetar saat mendapati seseorang yang sama sekali dirinya tidak kanal itu, tampak sekali ketakutan dari raut wajahnya.
Bukan ini yang Roy rencanakan, dia hanya ingin bermain lebih dulu dengan nyawa Alvin sebelum mengakhirinya di tangannya sendiri, dengan senjata yang kini malah mengarah pada Ganis.
Kemudian dia akan membawa Ganis pada Pak Mardo dan mendapatkan semua warisan dari keluarga Karyoso yang sangat banyak itu.
Namun, kini yang terjadi semua di luar kendalinya. Tiba-tiba ada segerombolan orang yang datang dan menolong Alvin dengan sangat brutal dan tanpa ada ampun.
Siapa sebenarnya mereka? Mungkin itulah yang sekarang menjadi pertanyaan utama di kepala Roy.
"Jangan mendekat, atau senjata ini akan langsung menembus kepala wanita gila ini!" peringat Roy sambil mengarahkan ujung senjatanya pada rahang Ganis.
"Jangan berani kamu, Roy!" teriak Alvin.
Alvin yang hendak kembali merangsek maju, kini ditahan oleh tangan Max. "Jangan bertindak gegabah atau ibumu yang akan jadi taruhannya!"
Suara dingin dan tegas dengan hawa kelam yang menyelimuti Max membuat Alvin tidak bisa melawan.
Sementara itu, di jalanan tempat mobil berhenti, kini satu mobil lagi tampak berhenti di sana. Pak Umar dan Pak Mardo terlihat bergegas ke luar, kemudian berjalan cepat menuju bangunan tua, tempat Alvin, Roy, dan Max berada.
Ternyata semua rencana penculikan Ganis dilakukan Roy, tanpa melibatkan Pak Mardo. Walau awalnya Pak Mardo memang menyetujui rencana itu, akan tetapi saat dirinya mengetahui kondisi Ganis, Pak Mardo mengurungkan niatnya, dia tidak ingin lagi melibatkan Ganis di dalam rencananya.
Mungkin hati nurani Pak Mardo masih bekerja dan tidak tega untuk membahayakan nyawa adik kandungnya sendiri, karena sasarannya memang Alvin, bukan Ganis.
Namun, sepertinya sekarang Pak Mardo harus kecewa pada anaknya sendiri yang malah bertindak di luar kendali.
Kedua laki-laki yang tidak lagi muda itu kini tengah berlari, seolah sedang berpacu berpacu dengan waktu, saat tanpa mereka tahu kalau nyawa Ganis sedang dalam bahaya, apalagi mereka terus mendengar suara senjata api dari dalam gedung, dan itu semua akibat kegilaannya juga keserakahannya akan harta yang bahkan masih menjadi milik kedua orangtuanya.
Keduanya terus berlari hingga saat mereka sampai di lantai teratas bersamaan dengan suara satu tembakan lagi yang menggema dan membuat mata kedua laki-laki tua itu terbelalak, saat melihat apa yang terjadi di depannya.
......................
__ADS_1