ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Dijenguk


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


Alvin termenung, dia mengingat apa yang dikatakan dokter beberapa saat yang lalu. Ternyata semua biaya rumah sakit sudah ditanggung oleh keluarga Jani.


Alvin mendesah, dia belum menerima kabar dari Jani, setelah insiden tadi malam. Entah bagaimana kondisi gadis itu saat ini.


"Vin, ayo makan dulu, biara kamu cepet sembuh," ujar Imran sambil menyiapkan makanan yang baru saja diantar oleh perawat.


"Kamu, kapan datang, Ran?" tanya Alvin.


"Aku datang tadi pagi. Kamu itu bikin orang kampung khawatir saja, sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu luka parah kayak gini?" cerocos Imran. Dia mulai menyuapkan bubur untuk Alvin.


Alvin termenung untuk beberapa saat, tangannya retak, hingga sekarang tidak bisa digerakan, dua tulang rusuknya juga mengalami cedera, dan ada luka di dalam perut juga. Ditambah dengan berbagai luka luar yang hampir menhiasi sekujur tubuhnya.


Wajahnya penuh dengan luka lebam, bibirnya juga pecah, tulah ragangnya sedikit bergeser, hingga dia tidak bisa berbicara seperti biasanya.


"Aku dibegal di jalan," jawab Alvin, sepenuhnya berbohong.


"Tapi, kamu gak bilang sama Nenek, kan?" tanya Alvin kemudian, mengingat Neneknya yang kan sangat khawatir.


"Gak ada yang berani bilang sama Nenek, Vin. Makanya aku cuman dateng sendiri," jawab Imran.


"Ya ampun, Vin, kamu gak tau sih gimana paniknya Mamang waktu mendengar kabar kalau kamu ada di rumah sakit. Apalagi, dokter bilang kalau kamu berada dalam kondisi bahaya kalau sampai waktu dua puluh empat jam kamu gak sadar. Rasanya Mamang udah putus asa, pas ngelihat kamu begitu, Vin. Gimana coba Mamang mau menjelaskan sama orang kampung," cerocos Mang Lukman yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat Alvin.


Alvin memang sempat mengalami kondisi kritis, akibat trauma luka yang dulu. Kondisi Alvin yang pernah mengalami kecelakaan hingga koma membuat tubuh Alvin mengalami trauma, hingga bisa saja berdampak bahaya bagi nyawanya.


Namun, untung saja Alvin bisa melewati semua itu dan sadar sebelum waktu dua puluh empat jam.


"Maaf, ya, Mang. Alvin jadi ngerepotin," lirih Alvin.

__ADS_1


"Udahlah, kamu gak usah ngomong macam-macam. Lagian gak ada yang merasa direpotkan. Namanya musibah siapa yang tau kapan datangnya." Pak Umar ikut menimpali.


Alvin tersenyum, ketiga laki-laki di hadapannya adalah orang-orang yang sangat berharga untuknya. Selama ini mereka lah yang senantiasa mendampinginya menghadapi setiap masalah di hidupnya.


.


.


Sudah seminggu Alvin dirawat di rumah sakit, hari ini dia sudah diperbolehkan pulang. Selama itu banyak teman dari kantor yang menjenguknya, dia juga ternyata mendapat kabar buruk yang sebenarnya sudah dia perkirakan sebelumnya.


Staf HRD yang ikut menjenguknya memberikan dua pilihan yang diberikan Arkan pada Alvin. Untuk mengundurkan diri secara baik-baik dalam waktu seminggu, atau dipecat secara tidak hormat.


Tentu saja pilihan yang pertama tidak gratis, dia harus membayar semua itu dengan cara tidak lagi berusaha menghubungi Jani, apalagi menemuinya. Mereka ingin Alvin memutuskan hubungannya dengan Jani.


"Heuh!" Alvin menghembuskan napas kasar, dia mengalihkan pandangannya pada Imran yang sedang membereskan baju dan juga sisa barang bawaan orang-orang yang menjenguknya.


Matanya kembali beralih pada salah satu tangannya yang masih harus menggunakan penyangga.


"Sudah, Mang," jawab Imran.


Mang Lukman membantu Alvin untuk berjalan. Sebenarnya kaki Alvin dalam keadaan baik-baik saja. JIka dibandingkan dengan semua anggota tubuhnya, mungkin kaki adalah satu-satunya yang selamat dari luka dalam.


Hanya ada beberapa luka lebam, akibat terkena tendang. Akan tetapi, semua itu tidak separah di tempat lain. Akan tetapi, cedera yang dialami dua tulang rusuknya membuat Alvin tidak bisa bergerak bebas.


Mereka semua pulang dengan mobil hasil meminjam dari tetangga. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Pak Umar. Laki-laki tua itu, meminjam mobil kepada orang yang mempunyai kontrakan, hanya untuk menjemput Alvin dari rumah sakit, dan memastikan Alvin selamat sampai di kontrakan lagi.


Begitu Alvin sampai di kontrakan, ternyata sudah banyak warga yang menunggunya, kontrakan Mang Lukman hampir tidak pernah sepi, oleh para warga yang terus bergantian menjenguk Alvin.


Bukan hanya para bapak-bapak atau laki-laki yang datang untuk menjenguk, bahkan para ibu-ibu dan anak-anak yang suka Alvin temani bermain bola, terus datang ke kontrakan hanya untuk memastikan Alvin semakin memebaik.


"Kak Alvin, cepet sembuh lagi dong, kita udah kangen nih main bola lagi di lapangan," ujar salah satu anak laki-laki berumur sepuluh tahun.

__ADS_1


Alvin tersenyum, "Iya, nanti kalau sudah sembuh kita main bola bareng lagi," jawab Alvin.


"Vin, kalau kamu sakit kita para ibu-ibu gak ada orang buat cuci mata lagi pas sore-sore," ujar salah satu ibu-ibu tetangga kontrakan, yang sering duduk di luar sambil melihat anak-anak bermain.


"Iya, Vin, engak ada lagi bujang ganteng buat kita godain," sambung salah satu tetangganya yang lain, hingga membuat tawa semua orang yang ada di sana pecah.


Ibu-ibu tetangga kontrakan memang sering menjadikan Alvin korban bercandaan mereka, saat dia pulang dari kantor. Sikap Alvin yang ramah pada semua orang, mulai dari anak-anak sampai lansia, membuatnya banyak disayangi oleh orang disekitarnya.


Berbeda dengan para ibu-ibu dan anak-anak, bapak-bapak yang sering nongkrong di pos malam mengejeknya habis-habisan.


"Gimana sih, Vin, baru juga nganterin cewek pulang udah babak belur begini?" decak bapak-bapak yang bekerja menjadi seorang satpam, kebetulan saat Jani ke kontrakan malam itu, dia ada di pos bersama yang lainnya.


"Iya nih, bujang kita kok letoy banget. Harusnya kita gembleng dulu, biar kalau nanti kejadian begini lagi, dia gak kaget," sambung bapak-bapak yang rumahnya bersebelahan dengan Pak Umar.


"Eh, ngomong-ngomong, pacar kamu kok gak nengokin sih, Vin?" tiba-tiba saja ada pertanyaan dari bapak muda yang baru saja pindah ke kontrakan beberapa bulan lalu.


Alvin sempat terdiam beberapa saat, kemudian tersenyum.


"Dia bukan pacar aku, Bang," bantah Avin.


"Lagian, dia sudah berangkat ke luar negri, buat lanjutin kuliahnya," sambung Alvin.


"Lah, berarti dia gak tau dong kamu babak belur begini?" Bapak-bapak itu sepertinya sudah ketularan virus kepo dari para istrinya.


"Iya. Dia berangkat pagi harinya," jawab Alvin, berusaha terlihat baik-baik saja.


"Ya Ampun, harusnya dia tau kalau kamu kayak gini waktu pulang nagterin dia, biar cewek itu gak bisa lupain kamu."


Alvin tersenyum melihat canda tawa para warga yang silih berganti datang menjenguknya, dia sangat senang berada id lingkungan ini, lingkungan tempatnya menjalani hidup selam adi Jakarta, dengan para warga sederhana dan beragam budaya.


Hampir setiap daerah di Indonesia ada di sini, hingga Alvin belajar mudah bergaul dari para orang-orang di daerah ini.

__ADS_1


......................


__ADS_2