
...Happy Reading...
...................
Alvin sampai di kampung, di saat matahari sudah tidak bersinar lagi, Mang Lukman yang mendengar Darman sakit juga ikut pulang kampung, untuk menjenguknya.
"Vin, syukurlah kamu sudah sampai." Imran yang bertugas untuk menjemput Alvin, langsung menghampiri saudaranya itu, saat Alvin baru saja turun dari mobil.
"Ran, kakek gak apa-apa kan?" tanya Alvin.
Sepanjang perjalanan hatinya benar-benar merasa tidak tenang, pikirannya selalu tertuju pada kondisi kakeknya.
"Lebih baik kamu lihat sendiri saja, dia terus memanggil nama kamu sejak tadi pagi, makanya kami terpaksa memberi kabar padamu," jawab Imran dengan raut wajah terlihat bersalah.
"Apa maksudmu, Ran? Bukannya selama ini kamu selalu bilang kalau kakek dan nenek baik-baik saja? Lalu, sekarang kenapa atiba-tiba kondisi kakek ngedrop?" brondong Alvin.
Imran mengambil tas ransel Alvin lalu menaruhnya di bagiandepan motor, dia kemudian mulai menarik pedal gas di saat Alvin sudah naik di belakngnya.
"Seperti yang kamu tau, kakek kan memang sudah lama memiliki tekanan darah dan gula darah tinggi, ditambah dengan usianya yang sudah tua, membuat akhir-akhir ini penyakitnya sering kambuh secara tiba-tiba," jelas Imran.
"Lalu, kenapa kalian tidak ada yang mengabari aku, Ran? APa jangan-jangan kalau kakek tidak memanggilku, kalian tidak akan pernah mengabari aku tentang kondisi kakek, hah?" Alvin menekan setiap katanya, menahan amarah yang hampir saja dia lampiaskan ke pada Imran.
Rasa kecewa kepada keluarganya dan Imran, karena tidak pernah jujur tentang kondisi kakeknya, membuat dada Alvin terasa sesak, seakan ada batu besar yang menimpanya. Dia ingin berteriak menyalahkan semua orang itu yang tidak mengerti perasaannya.
Namun, Alvin sadar kalau dirinya tidak bisa berbuat semua itu, bagaimana pun marahnya Alvin, dirinya tetap tidak akan sanggup untuk membenci keluarga yang sudah selalu ada di saat kedua orang tuanya sudah tidak bisa menjadi sandarannya lagi.
"Bukan begitu, Vin. Kami hanya tidak mau kalau kuliah dan pekerjaan kalu akan terganggu dengan kabar ini, apalagi kamu baru saja masuk kerja di sana, mana mungkin kamu akan langsung meminta cuti untuk menengok kakek," jelas Imran.
Alvin tidak lagi menjawab, dia belum bisa mencerna apa yang baru saja Imran katakan. Apa mungkin mereka tidak tahu kalau kakek dan neneknya begitu berharga untunya, dia bahkan mau mengorbankan nayawanya, jika itu demi sepasang manusia yang sudah renta itu.
__ADS_1
Alvin tampak menghela napas berulang kali, dia bisa melihat dari kejauhan kalau di rumah kakek dan neneknya tampak banyak saudar-saudar yang tengah duduk.
"Assalamualaikum," sapa Alvin, sambil mulai mencium punggung tangan satu per satu orang yang ada di sana.
"Waalainkumsalam. Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga," ujar salah satu orang yang ada di sana.
Alvin hanya tersenyum, dia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Da bisa melihat neneknya yang sedang duduk di kursi, tubuhnya terlihat lebih kurus, jika dibandingkan dengan terakhir mereka bertemu, wajahnya pun nampak sendu.
"Assalamualaikum, Nek," ujar Alvin sambil berlutut di depan neneknya, dia langsung mengambil kedua tangan neneknya lalu menciuminya.
"Waalaikumsalam. Alvin, kamu sudah datang, Nak?" ujar Nenek Esih sambil mengusap wajah cucunya.
"Iya, Nek. Alvin udah ada di sini sekarang," jawab Alvin dengan mata tampak berkaca-kaca.
Ibu Imran yang tampak duduk di samping Nenek Esih, tampak terharu melihat kasih sayang antara Alvin dan neneknya.
Alvin menggandeng tangan Neneknya sambil berjalan beriringan ke dalam kamar. Di sana tampak Kakek Darman sedang terbaring dengan mata tertutup rapat.
"Bapak, lihat siapa yang datang," ujar Nenek Esih, sambil duduk di samping Kakek Darman, dia mengelus pelan tangan Darman yang tampak sudah sangat keriput.
"Assalamualaikum, Kek. Ini Alvin," ujar Alvin sambil mengambil tangan kakeknya lalu menciuminya cukup lama.
Melihat kondisi kakeknya yang tampak sangat lemah, membuat hatinya terasa sangat sakit. Dia merasa tidak berguna sebagai seorang cucu, juga belum bisa memberikan kebahagian untuk kakeknya itu.
Satu tetes air mata tampak lolos dari pelupuk begitu saja, rasa takut kehilangan kembali membuatnya jatuh terpuruk.
Perlahan Kakek Darman mulai membuka matanya, terdengar suara batuk beberapa kali dari laki-laki tua itu.
"Ada Alvin, Pak. Cucu, Bapak, sudah datang, jadi sekarang, Bapak, harus sembuh ya," pinta Nenek Esih.
__ADS_1
"Kakek, ini Alvin. Maaf, Alvin telat datang buat nengokin, Kakek," ujar Alvin lirih.
Tangannya terus menggenggam tangan Kakek Darman, seolah Alvin tidak ingin meninggalkannya ataupun ditinggalkan.
Kakek Darman tampak tersenyum, melihat cucu laki-laki yang sudah dia rawat itu berada di depannya. Dia tampak mencoba untuk bangun, walau tubuhnya sudah begitu lemah.
Alvin dengan sigap langsung membantu Kakek Darman untuk bersandar di kepala ranjang. Imra dan Ibunya berdiri di pintu, melihat betapa senangnya Kakek Darman bisa melihat Alvin.
"Kamu sudah besar sekarang, Vin," ujar Daraman lirih sambil memegang lengan bagian atas Alvin.
Alvin berusaha tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Kek. Sekarang Alvin sudah besar, tambah ganteng lagi," jawab Alvin diakhiri dengan kekehan kecil dia akhir katanya, walau dia tidak bisa membohongi matanya yang memerah menahan kesedihan.
Kakek Darman ikut terkekeh dengan candaan Alvin. "Gimana kuliah kamu, Vin? Kakek dengan kamu juga sekarang sudah kerja di kantoran ya?" tanya Darman.
"Alhamdulillah, kuliah Alvin lancar, sekarang Alvin juga sudah mendapatkan kerja yang lebih baik," jawabnya sambil menundukkan kepala, menyembunyikan air yang kembali jatuh di matanya.
"Kakek senang, sekarang kamu sudah bisa mandiri." Kakek Darman tampak tersenyum senang.
Malam itu Alvin tampak tidak mau jauh dari Darman, dia juga tidak bisa tidur dengan nyenyak. Alvin akan terbangun tiga puluh menit sekali hanya untuk pergi melihat keadaan kekeknya.
Dia sempat berbincang dengan ibunya Imran untuk menanyakan kondisi Kakek Darman yang sebenarnya. Dari sana Alvin baru mengetahui kalau selama ini Kakek Darman sudah bolak-balik diperiksa ke klinik, karena tekanan darah dan gula darahnya tidak stabil.
Ibu Imran juga meminta maaf, karena dia mencegah Imran untuk memberitahu Alvin tentang semua ini. Mereka hanya takut itu akan membuat Alvin khawatir dan mengganggu proses belajar dan bekerja Alvin di Jakarta.
"Iya, Bi. Alvin mengerti." Hanya itu jawaban yang bisa Alvin keluarkan saat mereka tengah berbincang berdua. Dia kemudian memilih pamit masuk ke kamarnya. Tubuh dan pikirannya sangat lelah, hingga dia merasa ingin sendiri, untuk memulihkan kondisinya
Imran dan ayahnya juga tampak memilih menginap di sana, mereka tidur di ruang tengah, dengan kasur lipat sebagai alasnya. Rumah batu terasa sepi, setelah malam telah hampir mencapai pertengahannya.
.....................
__ADS_1