
...Happy Reading...
...................
Dia terkekeh semu, sambil menatap ponselnya yang masih kosong. Dia melihat tanggal terakhir Jani mengirim pesan padanya. Ternyata itu sudah lebih dari satu minggu yang lalu.
Alvin tidak pernah menyadari kalau selama lebih dari tiga tahun ini, dia hanya beberapa kali menghubungi Jani terlebih dahulu. Itu pun jika Jani sedang sakit, atau ada urusan yang mengharuskannya pergi ke luar kota tanpa keluarganya.
"Heuh, kenapa aku baru sadar kalau selama ini aku tidak pernah ada untuknya, padahal dia selalu ada untukku," gumam Alvin sambil menyandarkan tubuhnya.
Laki-laki itu menutup mata mengingat kembali masa lalu antara dirinya dan Jani. Mulai dari pertemuan mereka di bis, sewaktu dirinya berusaha pertama kali kembali ke Jakarta, setelah tiga tahu. Lalu bertemu kembali di kampus, dan terus berhubungan hingga sekarang.
Perempuan itu bahkan dengan lapang dada menerima penolakan darinya, dan meminta mereka tetap dekat walau itu hanya sebagai teman saja.
Ternyata setelah sekian tahun berlalu, Jani menepati janjinya, perempuan itu tidak pernah meminta hubungan lebih padanya. Walau terkadang sikapnya memang sedikit manja, seolah mencari perhatian.
Awalnya Alvin memang merasa risih dengan semua itu, dia yang bahkan tidak suka kontak fisik dengan sesama laki-laki, merasa semakin terganggu dengan kedekatan mereka.
Namun, semakin lama Alvin semakin terbiasa, Jani bahkan bisa membuatnya bersikap lebih santai, walaupun dia tahu kalau Jani adalah perempuan yang menyukainya, dan mungkin bisa saja mengharapkan hubungan yang lebih darinya.
Kini, di saat Jani hilang kabar hanya dalam beberapa hari saja, dia sudah bingung mau bagaimana. Selama ini hanya Jani yang selalu ada untuknya, menjadi perempuan cerewet yang selalu bertanya apa pun padanya.
Alvin kembali membuka mata, dia kembali melihat pesan yang selalu dikirim oleh Jani padanya.
Tuan Putri: [Pagi, Alvin. Jangan lupa sarapan sebelum berangkat kerja, ya. Semangat💪🤩]
Tuan Putri: [Jangan lupa makan siang. Semangat💪 You are the best!]
Tuan Putri: [Hati-hati di jalan, ya. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah🤍]
Itu adalah beberapa pesan yang selalu dikirimkan berulang padanya oleh Jani, hampir setiap hari di jam yang sama. Terkadang dia bahkan tidak membalas pesan dari perempuan itu.
"Heuh!" Lagi-lagi Alvin menghembuskan napasnya.
Dia benar-benar tidak sadar kalau selama ini dirinya sudah terbiasa dengan keberadaan Jani di sisinya. Atau mungkin memang dirinya sendiri yang selalu menampik semua itu, karena masih merasa mereka berbeda kasta.
Enatahlah, mungkin itu semua akan terjawab seiring berjalannya waktu, karena terkadang ada sesuatu yang yang hanya membutuhkan waktu agar kita mengerti.
"Assalamualaikum." Alvin terperanjat saat suara seseorang yang tengah menghantui pikirannya tiba-tiba melintas di telinga, menyadarkannya dari lamunan.
"Vin, diapelin pacar tuh!" terdengar suara bapak-bapak yang sedang berkumpul di pos.
__ADS_1
Alvin yang awalnya hanya mengira kalau suara itu ilusinya, akhirnya tersadar dan langsung menolehkan kepalanya melihat ke arah depan kontrakan.
Matanya melebar saat melihat Jani yang berdiri di sana, dengan napas terengah. Hidungnya tampak lembab dan merah, seperti seseorang setelah menangis.
Alvin langsung berdiri lalu berjalan menghampiri perempuan itu, dia sama sekali tidak pernah menyangka kalau Jani akan datang ke kontrakannya di tengah malam seperti ini.
Entah ke mana para kakak dan Papahnya yang selama ini selalu menjaga Jani dengan sangat posesif. Kenapa perempuan ini bisa lolos dari jam malam, dan datang ke kontrakannya?
"Jani, kamu kenapa datang ke sini malam-malam?" tanya Alvin dengan wajah khawatirnya.
"Sama siapa ke sininya, hem?" Alvin beralih melihat ke belakang Jani, mencari sosok yang mungkin mengantarkan Jani ke sini, entah itu keluarga atau mungkin sopir.
Namun, Alvin sama sekali tidak menemukan satu orang pun di belakang Jani, kecuali para bapak-bapak di pos yang sedang mencuri pandang padanya.
Tanpa aba-aba Jani langsung memeluk Alvin, hingga membuat Alvin melebarkan matanya. Tubuhnya mematung, menerima pelukan tiba-tiba dari seorang perempuan, selain Mama, Alin, dan Neneknya.
Para bapak-bapak di pos langsung bersorak, seakan sedang menonton sebuah drama percintaan yang menyenangkan.
"Jani, tolong lepas dulu, kita tidak mahram," ujar Alvin, sambil mencoba mendorong pundak Jani agar mau melepaskan tangan dari tubuhnya.
Jani menggeleng, dia malah semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Alvin.
"Aku mau nikah," ujar Jani tiba-tiba, masih memeluk Alvin.
Alvin terkejut, kerutan di keningnya terlihat jelas, saat mendengar perkataan lirih dari Jani.
"Kamu dijodohin?" tanya Alvin, dia sering mendengar kalau orang-orang kaya akan menjodohkan anak-anak mereka dengan rekan bisnisnya.
Jani menggeleng, dia terisak tanpa mau melepaskan pelukannya.
"Lalu kenapa, hem?" tanya Alvin lagi.
"Ayo kita duduk dulu, sepertinya kamu sedang tidak sehat," sambung Alvin sambil menuntun Jani untuk duduk di kursi depan kontrakan.
Alvin berjongkok di depan Jani, karena tangannya sama sekali tidak dilepaskan oleh Jani.
"Coba ceritakan dulu, apa yang terjadi, hem?" tanya Alvin lembut. Tatapannya sangat sejuk, membuat tangis Jani tidak bisa dibendung.
"Aku cuman mau nikah sama kamu. Aku mau tetap sama kamu, Vin," ujar Jani di sela isak tangisnya.
Alvin menatap Jani lama, dia menghapus air mata yang terus mengalir membasahi pipi mulus perempuan di depannya.
__ADS_1
Alvin tampak menghembuskan napas pelan, sebelum kembali berbicara dengan Jani.
"Jani, coba dengar aku dulu, ya," ujar Alvin memulai perkataannya.
"Nikah itu bukan sesuatu yang main-main kita harus memikirkannya dengan matang lebih dahulu, sebelum memutuskan menikahi seseorang."
"Tapi, aku sudah memikirkannya," lirih Jani, dengan kepala menunduk dalam.
Alvin kembali menghembuskan napas pelan sebelum meneruskan perkataannya.
"Menikah itu bukan hanya tentang dua orang, atau bahkan waktu yang singkat. Menikah itu tentang keluarga, juga tentang bagaimana kita akan menghabiskan sisa waktu hidup kita di dunia bersama dengan orang lain."
"Jani, jujur ... aku bahkan belum siap untuk memulai suatu hubungan, apalagi sebuah pernikahan. Aku belum bisa meninggalkan tanggung jawab kepada Mamah, dan belum bisa menambahkan satu tanggung jawab lain lagi," jelas Alvin.
"Bilang aja kalau kamu memang gak pernah melihatku. Kamu memang gak mau nikah sam aku, iya kan?" tuduh Jani dengan nada putus asa.
"Bukan begitu, Jani–"
"Kamu sudah punya pacar kan di belakang aku?!" potong Jani sebelum Alvin meneruskan perkataannya.
Alvin tampak terkejut, dia menautkan alisnya, menatap Jani dengan sorot mata bingung.
"Aku tidak mempunyai hubungan dengan siapa pun, Jani."
"Gak usah bohong!"
"Apa kamu penah melihat aku berbohong?"
"Tapi aku melihat kamu pergi bersama perempuan lain." Jani masih belum percaya dengan Alvin.
"Kapan" Di mana? Aku tidak pernah pergi bersama perempuan lain, kecuali rekan kerja, itu pun karena tugas lapangan," jelas Alvin.
Mungkin sekarang dia sudah tah apa sebenarnya kondisi yang sedang terjadi saat ini. Jani salah paham pada dirinya, perempuan itu mengiranya sudah menjalin hubungan lain di belakang dia tanpa memberitahu dia lebih dulu.
"Audah, sekarang lebih baik aku antar kamu pulang. Tunggu aku ambil jaket dulu," sambung Alvin lagi, sambil berdiri dan masuk ke dalam kontrakan.
Dia mengambil jaket untuk jani, sekaligus memakai jaket untuknya sendiri.
"Ayo." Alvin membantu Jani berdiri, lalu membantunya memakai jaket dia kemudian mengeluarkan motor milik Mang Lukman, untuk mengantar Jani pulang.
................
__ADS_1