ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Diintrogasi calon mertua


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Alvin baru saja sampai di rumah bos barunya, dengan langkah sedikit tergesa dia masuk ke dalam rumah. Sebulan lebih dia bekerja dengan Ezra, dirinya sudah cukup tau kebiasaan Ezra, yang hanya akan menyuruh pelayan rumah membuka pintu setiap kali dia datang.


"Di mana, Pak Ezra, Bi?" tanya Alvin pada wanita yang dia tahu sebagai pengasuh anak kedua bosnya.


"Bapak masih di atas, dia berpesan agar Nak Alvin menunggu di bawah dulu," jawab wanita itu.


"Oh baik, Bi, saya tunggu di sini saja," ujar Alvin.


Seperti biasa di sela dia menunggu ada Naura yang menghampiri dan mengajaknya bermain. Tentu saja itu selalu disambut baik oleh Alvin yang memang senang dengan anak-anak.


.


Sementara itu di lain tempat, seorang laki-laki paruh baya terlihat sedang menerima laporan dari anak buahnya.


Beberapa foto sebagai barang bukti laporan mereka terlihat berserakan di atas meja di depan laki-laki paruh baya itu.


"Kalian yakin kalau dia datang ke tempat seperti ini?" tanya laki-laki itu sambil melihat foto yang ada di tangannya.


Foto itu menunjukan gambar sebuah rumah sakit tempat Ganis dirawat selama ini. Tatapannya begitu tajam menelisik gambar di foto itu, entah apa yang sekarang dia pikirkan.


"Benar, Pak. Kami melihatnya sendiri dia masuk ke dalam dan baru ke luar setelah beberapa jam berada di sana," jawab laki-laki yang merupakan anak buahnya.


"Selidiki rumah sakit itu dan terus ikuti bocah itu, aku ingin tau pasti ke mana saja dia pergi dan apa saja yang dia lakukan," perintah laki-laki itu pada anak buahnya.


"Baik, Pak," jawab anak buahnya, kemudian berlalu dari ruangan itu.


"Apa mungkin Ganis ada di sini? Tapi, untuk apa dia di sana?" gumam laki-laki itu, bertanya-tanya sendiri.


.


"Anak Papa, lagi main apa nih?" tanya Ezra yang baru saja turun dari lantai dua rumahnya, tentu saja bersama sang istri di sampingnya, mengalihkan perhatian Alvin dan juga Naura yang sedang menggambar sesuatu di dalam buku gambar yang dibawa Naura beberapa saat lalu.


Ah, rupanya Alvin sudah mulai terbiasa melihat sikap bosnya yang selalu tidak bisa jauh dari istrinya ketika sedang berada di rumah. Untung saja, bosnya juga tidak membawa istrinya ke ruang kerja, bila tidak lama-lama dia bisa tidak tahan melihat kemesraan diantara mereka.


"Naura lagi gambar sama Om Al, Pah," jawab gadis kecil itu menghentikan aktivitasnya.


"Waah, gambar apa, sayang?" tanya Ezra lagi, sambil mendekati keduanya, dengan tangan masih menggenggam tangan istrinya.


Melihat itu Alvin sedikit menjauh dari Naura, mengingat ada istri Ezra yang sangat menjaga jarak dari laki-laki, dan juga sikap posesif bosnya itu pada istrinya.

__ADS_1


Lebih baik aku menghindar daripada menjadi sasaran tatapan tajam Pak Ezra, batin Alvin sambil berdiri kemudian melangkah menjauh dari area keluarga itu.


"Kita lagi gambar taman bunga. Bagus gak, Pah?" tanya Naura sambil memperlihatkan hasil gambarnya yang diarahkan oleh Alvin.


"Bagus, sayang. Kamu memang anak Papah yang pintar." Ezra mengacak rambut gadis kecil itu kemudian tampak melirik istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Sekarang, Naura mainnya sama Mama dulu, ya. Om Al–nya mau kerja dulu sama Papah." Nindi selaku istri bosnya terlihat mengambil alih percakapan.


Sikapnya yang lembut selalu membuat Alvin tidak bisa menyembunyikan rasa kaumnya pada wanita itu, tutur kata yang selalu terdengar hangat dan santun tentu membuat siapa saja yang mendengar nyaman, dan itu terjadi juga dengan Alvin.


"Tapi, Mah, aku masih mau main sama Om Al." Sama seperti sebelumnya, gadis kecil itu selalu merengek jika dia merasa belum puas bermain dengan Alvin.


Bila sudah begitu, Alvin harus turun tangan sendiri untuk membujuk gadis kecil itu. Tentu saja, semua itu sudah diketahui oleh Ezra dan istrinya, hingga mereka hanya melihat Alvin sambil memberi ruang untuk Alvin membujuk anak sulungnya.


Alvin meringis melihat kalau bosnya kini sudah paham situasi antara dirinya dan Naura, entah mengapa sejak pertama kali bertemu, anak itu memang sudah langsung dekat dengannya, hingga semakin dia sering ke rumah bosnya, maka kedekatan keduanya semakin membuatnya canggung.


Selalu ada saja cara gadis kecil itu agar membuat Alvin menjanjikan sesuatu lagi dan lagi, hingga tidak bisa ke luar dari ucapannya sendiri, mengingat itu adalah anak dari bosnya.


"Om Al, ada yang harus dikerjakan sama, Papah gadis kecil, dulu. Sekarang gadis kecil, Om kasih tugas untuk menyelesaikan gambar ini dulu, nanti kalau sudah selesai kita akan menggambar bersama lagi," ujar Alvin merayu Naura dengan sangat hati-hati.


"Janji ya, Om. Kita akan menggambar lagi nanti?" tanya  Naura memastikan ucapan Alvin.


"Iya, nanti kalau Om ada waktu luang dan gadis kecil sudah menyelesaikan gambar ini, kita akan menggambar bersama lagi," angguk Alvin.


"Janji?!" Naura menunjukkan jari kelingkingnya pada Alvin.


"Sekarang Om boleh bicara dulu sama Papah gadis kecil?" tanya Alvin yang langsung diangguki oleh Naura.


Setelah drama yang selalu membuatnya serba salah dan merasa canggung dengan bosnya itu, akhirnya kini Alvin sedang berjalan bersama menuju ruang kerja bosnya itu.


"Pintar juga kamu mendekatkan diri dengan anakku, padahal selama ini dia tidak terlalu dekat dengan orang lain selain keluarga," ujar Ezra yang membuat Alvin melebarkan mata.


"Ah, itu ... saya hanya suka dengan anak kecil, Pak. Saya tidak bermaksud untuk mendekati anak Bapak," ujar Alvin memberi penjelasan, sungguh aura dari bosnya itu masih saja membuatnya tertekan walau mereka sudah bekerja lebih dari sebulan ini.


"Ohya? Baguslah kalau begitu, aku harap aku bisa percaya padamu," ujar Ezra yang membuat Alvin menelan salivanya susah payah.


"In Sya Allah, Pak," jawab Alvin.


"Hem, aku harap kamu tidak membuat anakku kecewa," ujar Ezra lagi dengan suara menekan.


Alvin sempat terdiam beberapa saat, terkejut dengan apa yang dia dengar dari bosnya itu.


Serasa lagi berhadapan sama calon mertua, batin Alvn merasa lucu dengan pemikirannya sendiri, hingga tanpa sadar dia tersenyum tipis.

__ADS_1


Melihat tidak ada jawaban dari sang asisten, Ezra pun menghentikan langkahnya kemudian menoleh kilas pada Alvin. Alvin cukup terkejut dengan apa yang dilakukan bosnya, hingga dia harus menyeimbangkan tubuhnya yang hampir saja menabrak punggung bosnya itu.


Gak lucu kan kalau aku sampe nabrak Pak Ezra? Kalau asisten perempuan nabrak punggung bos laki-laki, mungkin jadinya adegan romantis. Kalau aku sama Pak Ezra, nanti jadinya malah menjijikan, batin Alvin, bergidik ngeri dengan bayangannya sendiri.


"Vin!" Panggilan dari sang bos menyadarkan Alvin dari lamunanya sendiri.


"Iya, Pak. In Sya Allah," jawab Alvin, masih mengingat perkataan Ezra sebelumnya.


"Hem, bagus. Aku pegang omongan kamu, Vin," desis Ezra dengan nada penuh ancaman di telinga Alvin.


Astagfirullah, bener-bener berasa sedang di introgasi calon mertua, batin Alvin, padahal dia sendiri merasa lucu dengan pikirannya sendiri, karena memang tidak mungkin Ezra menjadi mertuanya.


"Dan satu lagi–" Ezra tiba-tiba berbalik dengan telunjuk menghadap kepada Alvin.


"Astagfirullah!" Alvin yang terkejut tidak bisa menahan mulutnya sendiri untuk refleksi beristigfar sambil melangkah mundur.


"Iya, Pak." Alvin langsung menormalkan lagi raut wajahnya kemudian berusaha fokus pada sang bos.


"Jangan kamu pandang istriku seperti itu lagi, atau aku akan langsung memecatmu saat itu juga!" desis Ezra dengan tatapan mengancam, jari telunjuknya pun berada tepat di dada Alvin dan mengetukkannya beberapa kali.


Tubuh Alvin mematung melihat sikap penuh ancaman dari bosnya sendiri, hanya karena masalah caranya memandang istri bosnya itu.


"Mengerti?!" tanya Ezra lagi.


"I–iya, Pak," angguk Alvin.


"Bagus, ingat semua itu selama kamu masih bekerja denganku," ujar Ezra kembali menegakkan tubuhnya dan berjalan begitu saja meninggalkan Alvin yang masih menatapnya dengan wajah bingung.


Ya ampun, aku gak nyangka kalau selama ini Pak Ezra memperhatikan caraku memandang Bu Nindi .... Benar-benar suami posesif, batin Alvin menggeleng pelan, kemudian berjalan cepat menyusul langkah bosnya itu.


Sudah selesai dengan pembahasan tentang kedekatan Alvin dan Naura, kini keduanya masuk ke dalam ruangan kerja Ezra untuk membahas apa yang ingin dibicarakan oleh Ezra sebelumnya. Mereka tampak berbincang cukup lama, entah itu masalah pekerjaan dan masalah pribadi.


"Vin, mulai besok kamu bisa bawa mobil ini kalau bekerja," ujar Ezra saat mereka baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


"Tapi, Pak, saya kan sudah ada motor," ujar Alvin menolak pemberian mobil dari Ezra.


"Ini tidak aku berikan cuma-cuma, Vin. Ini adalah fasilitas yang diberikan kantor untuk kamu sebagai asisten pribadiku, jadi tidak ada penolakan," ujar Ezra dengan nada tegas, seperti biasanya.


Akhirnya dengan sedikit berat hati, Alvin menerima kunci mobil dari bosnya, tanpa ada curiga sedikit pun.


Hingga beberapa saat berlalu kini keduanya tampak kembali ke luar dengan Alvin memegang kunci mobil dari bosnya, kemudian pamit pulang mengingat hari yang sudah larut malam.


"Hati-hati di jalan, dan sepertinya mulai sekarang kamu harus lebih waspada lagi," ujar Ezra tiba-tiba sebelum mereka berpisah.

__ADS_1


Tentu saja perkataan itu membuat Alvin mengeryitkan kening, karena selama ini Ezra tidak pernah berpesan seperti itu padanya. Sikap Ezra yang cuek dan dingin, bahkan sudah menjadi biasa untuk Alvin, hingga di saat bosnya itu mengatakan kata yang berarti suatu perhatian, dia malah merasa ada yang janggal.


......................


__ADS_2