
Harap kebijakan dalam membaca..!!
🌹🌹🌹
Bang Khaja memeluk Naya usai lepas dinas. Rasa rindu tiba-tiba bergelayut manja menggoyang naluri. Bang Khaja menyerusuk mengejar sela leher Naya dan agaknya Naya mengerti perasaan Bang Khaja.
"Abang mau minum teh dulu?" tanya Naya setengah menahan geli.
"Nggak"
"Abang mau mandi?" tanya Naya lagi.
"Nanti."
"Apa hari ini Naya berbuat salah?"
Bang Khaja sedikit menarik diri. Sungguh ujian besar mengajari sang istri. "Abang pengen berduaan sama kamu. Abang kangen"
"Kita khan bertemu setiap hari Bang"
"Badannya sudah, batinnya belum." Bang Khaja semakin mendekatkan wajahnya pada Naya tapi baru saja bibirnya mendekat, Naya lemas dan pingsan, mungkin saking takutnya berhadapan dengan Bang Khaja. "Astagfirullah.. piye sih dek..!!!"
∆∆∆
Wajah Bang Langsang masih muram. Sepanjang jalan pulang Bang Langsang lebih banyak terdiam.
"Abang marah sama Andin??" Andin membuka suara lebih dulu.
"Kamu ikhlas atau tidak menikah sama Abang?" tanya Bang Langsang.
"Ikhlas"
"Kamu ada rasa nggak sama Abang??"
"Kenapa Abang tanya begitu??" Andin bingung dengan pertanyaan Bang Langsang.
"Abang coba sabar nunggu kamu. Nunggu kamu siap terima Abang, bahkan sampai sekarang Abang nggak pernah paksa kamu untuk melayani hasrat Abang yang kadang menjulang setinggi langit. Untuk minta hak Abang ke kamu saja.. Abang masih punya rem diri, tapi kenapa pria lain malah memujimu????" Bang Langsang menghantam kemudi mobil meluapkan rasa marah dalam hati.
Andin yang paham emosi Bang Langsang, segera mengalungkan kedua tangannya setengah memeluk Bang Langsang. "Nggak usah semarah itu Bang, Andin khan nggak pernah merespon laki-laki lain, terutama Bang Huda." jawabnya seakan tau suaminya sangat mencemburui Bang Huda.
Bang Langsang memalingkan wajahnya tapi Andin menghadapkan wajah Bang Langsang agar bisa menatapnya. "Kalau mau coba tuh bilang, bukan marah. Andin juga nggak mungkin nolak suami" Andin mendekatkan wajahnya tapi menariknya kembali saat Bang Langsang menuntut menginginkan dirinya.
"Jangan main-main kamu dek. Kamu yang mancing Abang" Bang Langsang pun 'mengejar' Andin.
"Andin yang mancing atau Abang yang mau??" tanya Andin sambil membuka kancing baju Bang Langsang.
Nafas Bang Langsang mulai memburu, tangannya menjelajah nakal tapi Andin menepisnya. "Abang yang mau. Nggak bisa tunda lagi. Abang sudah pengen punya anak dek"
__ADS_1
Bang Langsang melepas pelukan Andin, ia segera turun dan berjalan cepat membuka pintu mobil untuk Andin kemudian menggendong Andin masuk ke dalam rumah.
//
Bang Khaja membuang nafas lega saat Naya sudah sadar. "Bagaimana kita bisa punya anak kalau kamu setakut ini dek. Ini proses alami sayang"
"Maaf.. Naya nggak sengaja Bang"
"Nggak apa-apa. Kita bisa coba lagi lain kali" Bang Khaja tersenyum tapi tetap tak bisa menyembunyikan rasa kecewa.
"Sekarang saja Bang..!!" pinta Naya.
"Kamu sudah berani?"
Naya mengangguk. "Iya Bang, Naya berani"
"ya sudah, kita coba pelan-pelan. Kalau kamu nggak nyaman, kita sudahi saja" kata Bang Khaja.
Bang Khaja memperlakukan Naya dengan sangat lembut, ia memastikan agar Naya benar-benar merasa nyaman. Sampai Naya terbuai dan benar-benar menurut padanya dan tak menyadari kini mereka berdua tanpa batasan sama sekali. Perlahan Bang Khaja berpindah posisi dan memulainya dengan pasti.
//
Bang Langsang lumayan gugup berhadapan dengan Andin padahal saat bersama wanitanya dulu, dirinya tidak pernah segugup ini tapi ternyata ada yang lebih gugup darinya. Andin yang terus menggoda dan menguji imannya malah takut setengah mati saat ia dekati.
Jika dulu ia terbiasa dengan wanita yang menawarkan diri, kini baru pertama kali ia temui wanita yang menutup erat tubuhnya. "Andin tidak pernah membukanya meskipun pakaian Andin tidak sopan. Andin hanya kerja Bang" ucapnya terisak.
"Iya dek, Abang mengerti. Sudah jangan menangis lagi" Bang Langsang menutup kancing seragam Andin yang baru terbuka satu sedangkan kancing baju lorengnya sudah terbuka lengkap menyisakan kaos loreng di dalamnya.
Bang Langsang memijat pelipisnya, ia tidak ingin memaksa Andin jika memang tidak siap memadu kasih bersamanya.
Tau dirinya sudah sangat mengecewakan.. Andin memeluk erat punggung Bang Langsang. "Maaf Bang..!!"
"Abang khan sudah bilang, nggak akan memaksamu. Abang masih bisa menahannya karena........"
"Andin nggak apa-apa. Andin janji nggak apa-apa" ucap Andin kemudian berpindah posisi dan duduk membuka kaki menghadap Bang Langsang.
Bang Langsang pun tersenyum. "Abang nggak tau darimana kamu belajar seperti ini. Tapi Abang berharap kamu hanya seperti ini di depan Abang saja" ada rasa tak terlukiskan dalam hati Bang Langsang.
Entah siapa yang memulainya. Keduanya pun terhanyut dalam rasa. Satu persatu pakaian berhamburan. Tangan Bang Langsang dengan lincah melepas pengait di punggung Andin dan mengarahkan Andin agar menyenangkannya juga.
"Abang bersumpah belum pernah mencobanya, tapi Abang tidak akan mengecewakan kamu" kata Bang Langsang akhirnya jujur.
Andin masih terdiam tapi sesaat kemudian ia bereaksi sampai menjerit kecil. Andin terisak-isak sampai Bang Langsang cemas di buatnya tapi saat ini pun Bang Langsang masih sulit mengontrol diri. Yang ia rasakan hanya hanyut, lepas, melayang dan hilang kendali.
...
"Kenapa nggak bilang. Sok bisa kamu dek"
__ADS_1
Mata Andin sembab dan tubuhnya begitu lemas. Bang Langsang menghajarnya habis-habisan tanpa ampun.
"Andin benar-benar ingin jadi istri yang baik untuk Abang, nggak pengen Abang kecewa" kata Andin.
Bang Langsang tersenyum mendengar ucapan Andin. Mungkin inilah hikmah dari tidak mengenal dan tidak mengalami proses pacaran. Sungguh indah cara Tuhan mengenalkan mereka hingga sesaat Bang Langsang usai melepaskan masa perjakanya.. dari yang awalnya ia hanya memiliki rasa sayang layaknya pria yang sedang kasmaran, kini ia merasa amat sangat mencintai istrinya lebih dari apapun. Rasa egois, ingin memiliki seutuhnya serta jiwa protektif nya dua kali lipat mencuat begitu saja.
"Terima kasih, terima kasih banyak sayang. Abang tau pasti sangat berat menjaganya untuk suamimu ini. Abang bahagia sekali dek. Amat sangat bahagia, punya berlian yang begitu berharga sepertimu" mata Bang Langsang berkaca-kaca mengecup bibir manis Andin.
"Nggak uring-uringan lagi khan Bang?" tanya Andin pelan.
Bang Langsang tersenyum kecil. Ia menghapus sisa sembab di pipi Andin. "Nggak.. sudah plong.. pikiran sudah nggak semrawut lagi"
"Dasar lanang" cibir Andin sembari memalingkan wajahnya.
"Uluuuhh.. istri Abang ngambek. Mau apa sih sayang?"
"Motor.." jawab Andin asal.
Bang Langsang mengambil ponselnya lalu menekan nomer rekannya. "Mas, tolong kirim brosur motor terbaru ya..!!"
"Sekarang boss?"
"Iya.. Nyonya pengen yang baru" jawab Bang Langsang.
"Siap boss..!! Mau model yang bagaimana?"
Andin sampai melotot mendengar Abang Langsang membeli motor seperti membeli kacang goreng.
Bang Langsang menutup ponsel dengan sebelah tangannya. "Mau model bagaimana yank?" tanya Bang Langsang.
"Hhaaa.. Ehmm.. motif unicorn ada nggak Bang?" jawab Andin refleks tanpa berpikir.
"Siapkan motif unicorn untuk besok pagi..!!"
"Tapi boss........."
tuutt..
Bang Langsang sudah mematikan panggilan teleponnya.
"Beres cantikku" Bang Langsang mencium bibir Andin sekali lagi membuat Andin salah tingkah.
.
.
.
__ADS_1
.