
Imelda tersenyum penuh kemenangan melihat rambut Bang Ranggi terpangkas, belum lagi saat Bang Ranggi berlari mengelilingi lapangan karenanya ia berpikir berarti dirinya tak harus menghadap dan melapor pada Hana tentang pengajuan nikahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Bang Richi.
"Nggak apa-apa. Ayo cari makan.. aku sudah kelaparan" jawab Imelda.
"Pelan-pelan dek. Kasihan anak kita"
Imelda seakan tak peduli dengan perkataan Bang Richi. Yang ia tau, ia kesal melihat kebahagiaan Bang Ranggi dan Hana.
"Nanti malam kita ke rumah Dan Ranggi..!!"
"Untuk apa Bang, aku malas pergi kesana. Apalagi harus bertemu dengan istrinya yang sok cantik itu" jawab Imelda dengan ketus.
"Apa karena Pak Ranggi itu mantan pacarmu jadi kamu bersikap seperti itu? Ingat Mel.. Pak Ranggi sudah menikah dan sangat menyayangi istrinya. Abang rasa kamu banyak tingkah" ucap Bang Richi mulai kehilangan kesabaran.
"Karena seleranya tidak mungkin seperti itu. Sok cantik.. sok kalem. Aku tau perempuan itu mantannya Hasdin littingmu. Entah anak si Hana itu sungguh anak Hasdin atau bukan, atau jangan-jangan hanya akalnya karena ulahnya usai buka order" pekik Imelda.
"Astagfirullah.. jaga bicaramu..!! Tega sekali kamu menuduh perempuan lain seperti itu" tegur Bang Richi.
"Waah.. semakin banyak saja pengacaranya Hana. Ya sudah.. bela saja dia. Kita batalkan pernikahan ini" ancam Imelda.
Kali ini Bang Richi diam. Sudah banyak tingkah Imelda yang berlaku di luar batas. Sifat itu dengki dan suka merendahkan orang lain terang saja begitu mengganggu. Jika saja Imelda tak mengandung benihnya, ia pun malas menikahi gadis itu tapi nasi sudah menjadi bubur.. calon bayi dalam rahim Imelda tak bersalah maka ia akan bertanggung jawab atas kesalahannya itu.
Melihat berkas pengajuan di tangannya, hatinya semakin sakit.. ingin rasanya merobek dan membuang tumpukan kertas yang seharusnya menjadi kebahagiaan dirinya tapi kesalahan tetap harus di bayar mahal.
...
"Uhhuukk.. aarrgh.. dadaku sesak sekali" Bang Ranggi ambruk di tengah lapangan sampai beberapa anggota akhirnya membantunya.
"Ijin Dan, masih kuat atau tidak? Lebih baik istirahat saja" kata seorang anggota.
"Kali ini saya benar-benar tidak kuat" jawab jujur Bang Ranggi.
"Baik Dan, saya bawa ke ruang kesehatan..!!"
"Saya mau ke kantin saja. Sepertinya es teh di plastik lebih segar" jawab Bang Ranggi.
"Siap Dan..!!"
__ADS_1
~
"Aaahh.. segar sekali rasanya badan. Es teh memang terbaik" Rasa penat Bang Ranggi berangsur pulih.
Baru saja Bang Ranggi akan bersandar, ada seorang anggota menghampirinya.
"Selamat pagi.. Ijin Dan, Ibu di larikan ke rumah sakit"
"Haahh.. rumah sakit lagi?? ada apa??" tanya Bang Ranggi panik.
"Siap.. ijin kurang tau Dan. Saya hanya menyampaikan pesan dari Komandan Pusat"
"Ya sudah.. terima kasih ya"
...
Bang Ranggi berlari di koridor rumah sakit di ikuti Bang Ares yang juga tidak kalah panik.
"Sebenarnya ada apa lagi selain kau buat onar di gudang logistik????" tegur Bang Ares.
"Nggak ada apa-apa lagi Res" jawab Bang Ranggi.
Bang Ranggi tak langsung menjawab. Hatinya gundah sebab ia sadari semalam Hana sempat menenggak minuman setan juga menghisap rokok yang ia tinggalkan di meja mini bar.
:
Begitu masuk ke dalam ruang tindakan, Hana sudah sesak dan memegangi perutnya. Dada Bang Ranggi terasa nyeri bagai terhantam kuat.
"Apa yang sakit dek, bilang sama Abang..!!" Bang Ranggi mengusap punggung Hana, dan disana Hana hanya bisa memeluk pinggang Bang Ranggi dan meremas ujung pakaiannya dengan kuat.
Tak akan mungkin Bang Ranggi menyalahkan Hana karena jelas ini semua keteledoran nya membiarkan Hana mencoba dunia malam. Ia pun tidak menyangka ada hal-hal yang akan terjadi di luar perhitungan nya termasuk dirinya yang kurang bisa menahan perasaan hingga mungkin terlalu kasar memanjakan Hana.
"Tak tau lah Abang harus bilang apa? Hana tidak kuat menahan reaksi minuman. Mungkin sejak semalam istrimu sudah menahannya tapi baru benar merasakan efeknya sekarang."
"Hana minum?????" tanya Bang Ares.
"Kamu ini dungu sekali Ranggi..!!" bentak Ayah Rico.
Bang Ranggi terpejam menahan perasaan tak karuan. Ia juga menyadari kekeliruannya hingga menyebabkan sang istri harus bolak-balik mendapatkan penanganan rumah sakit dan keluarga yang terus menyalahkan kebodohannya semakin membuatnya tertekan.
__ADS_1
Opa Garin merangkul cucunya itu.
"Sudahlah.. diam semua..!! Ranggi sudah sangat kacau. Jangan lagi tambah bebannya" kata Opa Garin menengahi semua.
"Dan kamu Ranggi. Opa tau maksudmu baik.. menuruti rewelnya istri ngidam. Ya itu memang seninya punya istri hamil, semua juga tidak akan menyangka akan terjadi musibah seperti ini"
Bang Ranggi tak sanggup bicara apapun lagi, tak sengaja air matanya menetes merasakan Hana yang begitu kesakitan.
"Maaf.. maaf sayang" hanya itu ucap lirih yang terdengar.
"Rico.. kamu juga jangan terlalu menekan Ranggi. Yang dulu sudah berlalu, dia bukan laki bocah bandel yang bisanya hanya tawuran dan main perempuan. Dia sudah tau porsi tanggung jawabnya, sudah berkeluarga dan mau punya momongan.. tidak mungkin pikirannya tidak pecah setelah punya istri. Ingat Ric, tidak ada di dunia ini yang sempurna.. kesalahan dalam rumah tangga itu wajar. Maklumi dan nikmati saja prosesnya. Kamu ini seperti tidak pernah muda saja" tegur Opa Garin.
"Iya Pa." jawab Ayah Rico mulai melunak.
Tak lama Hana berangsur tenang, agaknya 'bayi kecilnya' ingin terus dekat dengan papanya.
"Terong Belanda bagaimana Bang?" tanya Bang Ranggi.
"Seperti biasa Rang.. aman. Tapi ya jangan selalu seperti ini. Abang khan sudah bilang jangan berulang kali. Kalau dia benar-benar nggak kuat ya fatal" jawab Bang Joy.
Bang Ranggi memercing ngeri.
"Puasa dulu ya Rang..!!" ucap Bang Joy.
"Siap Bang" Jawab Bang Ranggi.
"Laahh.. Ranggi kok puasa. 'Iman' nya masih harus di pertanyakan dok" kata Opa Garin.
"Opaa.. aku serius. Demi anak istri apa sih yang nggak?" Bang Ranggi kembali sensitif.
"Opa juga serius. Hana baru seliweran saja sudah pasti kamu sambar. Jangankan lewat, lihat jempolnya aja kamu sudah kelojotan.. perutmu sudah kesemutan semriwing naik turun. Imanmu itu tipis" jawab Opa Garin yang paham betul watak cucunya.
"Cckk.. opa, nggak usah di perjelas juga lah" kata Bang Ranggi yang tak pernah bisa berwibawa di hadapan Opa Garin.
.
.
.
__ADS_1
.