
Hana terdiam dalam kamar karena masih memikirkan ucapan Bang Ranggi. Seingatnya dulu dirinya di perlakukan dengan kasar hingga dirinya mengandung Cherry.
"Kenapa sih?" tegur Bang Ranggi yang sebenarnya paham perasaan Hana.
"Seingat Hana, Abang kasar sekali sama Hana. Abang sempat membekap mulut Hana dan kasar sekali memintanya dari Hana" ucap Hana.
Hati Bang Ranggi koyak dan teriris ngilu tak sanggup membayangkan apa yang sudah Hasdin berbuat pada istrinya itu dulu, tapi karena janjinya pada diri sendiri terutama pada Tuhan, ia pun berusaha menepis perlahan rasa cemburu dan pastinya rasa sakit yang sudah menghancurkan batinnya itu.
"Bisa-bisanya mimpi burukmu itu kamu jadikan cerita di antara kita. Jelas-jelas dulu kamu yang sudah berani melakukannya saat Abang minta" jawab Bang Ranggi.
Hana pun berkedip-kedip polos.
"Mungkin Hana sudah kena guna-guna dari Abang"
"Enak saja, Abang yang kena guna-guna. Bisa-bisanya tersangkut perempuan tengil macam kamu" sergah Bang Ranggi.
"Tapi suka khan Bang????" tanya Hana.
"Ya suka, Abang sudah kebelet pengen anak" jawab jujur Bang Ranggi yang sebenarnya mengingat betapa dirinya memang sangat menginginkan hadirnya si buah hati dari rahim Hana.
//
"Citra minta cerai..!!"
Bang Hasdin terdiam sejenak mendengar permintaan sang istri. Memang saat ini dirinya sudah tak akan lagi menjadi seorang abdi negara dan gagal dalam karir karena ulahnya. Tapi ia tak pernah ingin gagal menjadi seorang suami dan ayah untuk calon bayi yang sedang di kandung Citra.
"Abang tidak bisa mengabulkannya Citra..!! Perceraian memang di perbolehkan tapi sangat di benci oleh Tuhan" jawab Bang Hasdin.
"Tapi Abang sudah menduakan Citra. Taukah Abang saat itu Citra hanya ingin menjadi satu-satunya istri Abang? Citra ingin memakai seragam kebanggaan istri abdi negara, tapi Abang menghancurkan semuanya" pekik Citra.
"Maafin Abang ya dek, Abang sudah membuatmu susah"
__ADS_1
"Kalau Abang memang sayang sama Citra.. Abang bilang sama si Ranggi agar tetap mengijinkan Abang untuk tetap bekerja. Citra juga nggak suka Abang masih ada hubungan sama Hana. Untuk apa Abang memberinya uang? Apa Ranggi tidak mampu menafkahinya?" ucap Citra tegas.
"Dek, Hana memang tidak lagi menjadi istri Abang.. tapi soal komunikasi semua hanya untuk Cherry itu pun melalui Dan Ranggi. Abang masih memberinya sedikit nafkah untuk Hana bukan karena Dan Ranggi tidak mampu, tapi karena memang kewajiban Abang untuk Cherry dan sebagai bentuk terima kasih karena sudah bersusah payah mengandung Cherry" Bang Hasdin tetap berusaha memberi pengertian pada Citra.
"Aaahh terserah. Citra mau cerai" Citra meninggalkan Bang Hasdin dengan rasa marah yang memuncak.
"Astagfirullah hal adzim" Bang Hasdin mengusap dadanya bersabar hati.
"Inikah namanya karma? Ternyata semua sangatlah menyakitkan. Bagaimana caranya agar Citra bisa sejalan dengan pikiranku. Maaf Hana.. Cherry saya telah menyakiti kalian dan sekarang saya ikhlas menerima takdir Tuhan." tak terasa air mata Bang Hasdin menetes juga dari sudut bingkai matanya.
-_-_-_-_-_-
Hari sudah beranjak tengah malam dan Bang Ranggi belum bisa tidur, hatinya gelisah dan penuh sesak. Setengah bungkus rokok dan kopi hitam belum bisa menenangkan batinnya yang kesakitan. Ingin rasanya menjerit dan meraung-raung membuang rasa sakit di hati.
Tanpa di duga ada tangan melingkar di pinggangnya, wangi lembut menyeruak di hidung membangkitkan gairah yang sejak tadi ia simpan rapi.
"Kenapa disini? Hana pengen di temani Abang" ucap Hana membuat Bang Ranggi kaget.
Bang Ranggi segera membuang sisa puntung rokok yang baru beberapa kali ia hisap dan mengibaskan asap rokok di sekitar karena tidak ingin bumil menghirupnya. Ia pun menggigit bibirnya menghilangkan aroma rokok yang menempel di bibir.
"Hana mau di temani Abang. Hana kangen" pintanya manja kemudian beralih ke pangkuan Bang Ranggi.
Terang saja Bang Ranggi tak sanggup menolak manjanya sang istri yang sebenarnya begitu ia sukai.
"Kangen apa?" Bang Ranggi mencubit gemas dagu Hana.
Hana berbisik nakal di telinga Bang Ranggi dan terang saja Bang Ranggi langsung bereaksi. Ia pahami hormon bumil pasti sedang meninggi dan Bang Ranggi sangat menikmati suasana seperti ini.
"Waduuuhh.. kalau sudah begini, Abang harus stok tenaga ekstra nih. Kalem donk sayang" jawab Bang Ranggi padahal sedari tadi tangannya sudah meronda dan tidak bisa diam menyusuri setiap lekuk tubuh Hana.
Hana terus memancing Bang Ranggi hingga rasanya tubuh Bang Ranggi tersengat aliran listrik tegangan tinggi.
__ADS_1
"Abang.. apa Hana boleh masuk diskotik?" tanya Hana tiba-tiba.
Seketika mata Bang Ranggi melotot, emosinya langsung mencuat mendengar permintaan Hana.
"Kenapa minta hal seperti itu? Perempuan baik-baik tidak pantas ada disana" jawab Bang Ranggi.
"Tapi Hana pengen Bang, ini khan Hana ijin sama Abang. Bagaimana kalau Hana diam-diam ada di sana" kata Hana dengan wajah cemberut. Kakinya sudah menendang kesal.
Bang Ranggi melihat wajah Hana kemudian matanya menyusuri lekuk tubuh Hana sampai melihat perut Hana yang sudah terlihat membesar. Dalam hatinya beristighfar tapi juga mengumpat karena bingung menghadapi bumil yang seakan menguji emosinya.
"Baang.. boleh nggak sih?" tanya Hana manja bersandar di bahu Bang Ranggi. Tangannya bergerak nakal dan terkadang bermain di 'lokasi berbahaya'.
"Sebentar.. Abang siapkan dulu..!!" pada akhirnya Bang Ranggi lemah juga dengan permintaan sang istri. Ia mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi barak F.
"Iya.. selamat malam. Tolong kalian siapkan gudang logistik yang sedang di renovasi. Saya minta setting jadi ruang night alpha..!! kamu tau khan?" perintah Bang Ranggi.
"Club malam Dan??" tanya anggotanya memastikan pendengarannya.
"Iya.. Sekarang ya..!! Setengah jam lagi harus sudah jadi itu ruangan dan awas..!! Jangan sampai bocor kemana-mana" pinta Bang Ranggi.
"Siap..!!" jawab seorang anggota di seberang sana.
Bang Ranggi beralih menatap wajah Hana.
"Sudah nih, mau apalagi? bersiap dulu sana. Abang tunggu di gudang logistik. Pakai baju yang tebal. Udara dingin sekali. Pelan-pelan jalan kesananya. Jangan sampai Opa dan yang lainnya bangun" kata Bang Ranggi panjang lebar.
"Satu kali ini saja aneh-aneh. Lain kali jangan lagi. Ini hanya untuk memenuhi rasa penasaran mu karena diskotik" Bang Ranggi mengalihkan Hana untuk duduk perlahan kemudian mengacak rambut indah istrinya itu kemudian meninggalkan Hana.
.
.
__ADS_1
.
.