
Keluarga panik karena Opa Rico dilarikan ke rumah sakit.
"Kenapa Mama bahas masalah ini lagi??? Papa benar-benar tidak ingin melihat Tante Alisa" Papa Ranggi menegur Oma Jihan.
"Posisi Mama serba salah Ranggi. Mama juga perempuan, mama tau rasanya memiliki cinta yang tidak terbalas" kata Mama Jihan.
"Tapi semua berbeda konteks ma, Almarhumah Oma buyut memakai cara licik untuk mendapatkan Papa sampai Papa dan Mama bertengkar hebat.. Mama meminta cerai saat mengandung Ayu usia kehamilan sembilan bulan. Hujan petir Mama pergi dari rumah. Papa stress berat dua hari Mama tidak ditemukan. Akal sehat Papa hilang, mabuk, nabrak papan nama Batalyon. Papa benar-benar hampir membunuh Oma Alisa yang saat itu juga sedang mengandung. Kalau Mama ingin mendekatkan Papa dengan Tante Alisa.. kenapa dulu mama sampai harus minggat??" ucap keras Papa Ranggi.
Bang Langsang sampai ikut pusing memikirkan keributan itu. "Tanpa mengurangi rasa hormat saya. Tolong Papa dan semuanya keluar dari ruangan ini. Andin baru saja melahirkan. Saya tidak ingin Andin jadi sensitif atau stress memikirkan masalah keluarga"
:
"Apa memang pernah terjadi hal seperti itu Bang?" tanya Andin.
"Abang sendiri tidak pernah tau bagaimana ceritanya. Biarlah itu menjadi urusan Opa. Abang bukannya tidak mau tau.. tapi Abang tidak mau sok tau dengan apa yang terjadi pada mereka dulu. Menurut Abang lebih baik kita menjaga keluarga kecil kita.. jangan sampai hal seperti itu terulang lagi. Kita fokus saja pada Angger" jawab Bang Langsang.
"Iya Bang, Andin ngerti kok. Abang nggak akan mikir hal itu lagi. Abang percaya sama Abang" kata Andin.
"Pintar..!! Sekarang istirahat biar cepat pulih"
***
Pagi ini Oma Alisa datang ke rumah sakit sesuai permintaan Opa Rico. Oma Alisa datang ke rumah sakit di dampingi Asnan.
"Maaf saya memintamu datang kesini"
"Nggak apa-apa Mas" jawab Oma Alisa masih seperti yang dulu.
"Alisa.. aku ingin bicara berdua sama kamu..!!" pinta Opa Rico. Sekilas matanya melirik raut wajah Jihan istrinya yang terlihat lebih tenang.
__ADS_1
"Iya mas"
~
"Saya tidak akan bertele-tele Lisa. Saya hanya ingin katakan, kita sudah semakin tua.. tidak tau kapan saat malaikat maut akan menjemput. Sesakit apapun kata-kata saya hari ini, kamu juga harus mendengarnya..!!"
"Aku ngerti Mas"
"Tragedi bertahun-tahun yang lalu sangat menyiksa saya. Mungkin hatimu pun begitu. Saya, Jihan dan kamu sama-sama terluka tapi Jihan istri saya yang paling di rugikan dalam masalah itu"
"Aku minta maaf mas"
"Kalau maaf bisa mengembalikan senyum tulus Jihan untuk ku, apapun akan saya lakukan" ucap Opa Rico memukul perasaan Oma Alisa. "Saya memberi status pada putramu atas permintaan dan kebaikan hati Jihan, juga memberikan mu uang untuk hidup dan membiayai anakmu karena kerelaan Jihan membagi nafkah dari saya karena ulahmu dan almarhumah Mama. Saya tau setiap hari Jihan menangis, sakit ia tepis.. bahkan sampai saat ini dia masih memikirkan kesejahteraan kamu dan menganggapmu 'sahabat' dalam hidupnya. Dia masih ingin memintamu menjaga putra Langsang"
Alisa menunduk dan terdiam. Ingin rasanya menangis tapi air matanya tak akan sanggup mengganti seluruh beban luka yang sudah ia goreskan di tengah keluarga Bang yang saat itu tengah hangat dan bahagia.
"Tapi maaf Alisa, saya tidak mengharap hadirmu. Cukup saya memberi status untuk anakmu atas permintaan Jihan dan tidak akan pernah mengabulkan permintaan Jihan untuk menikahimu sekalipun sampai saya mati. Istri saya hanya Almarhumah Asya dan Jihan yang memenuhi lahir batin dunia akhirat saya" ucap tegas Opa Rico.
Opa Rico tertegun baru mengetahui kebaikan hati sang istri.
"Jujur saat itu, masih ada hati ingin memilikimu Mas. Kenapa Jihan bisa bahagia sedangkan aku tidak, padahal aku sama dengan dia.. mengandung buah hatimu juga"
"Sekarang kamu sudah menyadari sifatmu yang terlalu tamak?" tanya Opa Rico.
"Iya mas"
"Tolong menjauhlah dari hidupku. Aku sangat mencintai istriku" pinta Opa Rico.
"Bolehkah aku menyentuh tanganmu??" tanya Oma Alisa.
__ADS_1
"Tidak, saya hanya milik Jihan" jawab Opa Rico.
...
Malam hari Opa Rico sudah boleh meninggalkan ruangan karena kesehatannya sudah membaik, Mama Jihan pun berjalan bergandengan tangan bersama Opa Rico.
"Kamu marah, aku bicara berdua dengan Alisa?" tanya Opa Rico.
"Sedikit" jawab Oma Jihan mendengar kata yang terdengar kaku di telinganya.
"Marah pun tak apa. Papa rindu cemburumu itu" kata Opa Rico.
"Cemburu itu pasti ada, Mama juga manusia biasa." ucap jujur Oma Jihan.
"Kenapa tidak kamu ungkapkan?"
Oma Jihan menatap wajah Opa Rico. Wajah itu memang sedikit menua, namun pria itu tetap gagah dan mempesona di matanya "Mama yakin sedikitpun tidak ada tempat untuk wanita lain"
"Ya.. dan akan selalu begitu"
Jauh disana ada yang mendengar kata-kata itu dengan terluka.
Aku sadar, cinta itu tidak akan bisa menjadi milikku Mas walaupun aku memaksamu dengan beribu cara.
.
.
.
__ADS_1
.