Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
31. Tekanan balik.


__ADS_3

Hana ingin menjawabnya tapi kemudian ada seorang anggota yang menghampiri Bang Ranggi dan itu jelas saja membuat Bang Ranggi kelabakan setengah mati.


"Kenapa?" tanya Bang Ranggi berusaha sesantai mungkin.


"Ijin.. Pak Ares mencari bapak karena mbak Cherry mendadak demam"


"Lho.. tadi baik-baik saja kok" tanpa pikir panjang Bang Ranggi setengah berlari menemui Cherry diikuti rekan Bang Hasdin.


Saat pikiran Bang Ranggi teralihkan, Hana mengikuti langkah Bang Ranggi.. tiba-tiba saja Bang Hasdin menarik tangan Hana.


"Abang mau bicara dek..!!"


Hana cukup terkejut karena Bang Hasdin ada disana. Tapi kini hatinya sudah berubah dan jauh lebih kuat, semua itu karena kehadiran Bang Ranggi dalam hidupnya.


Hana pun menarik kuat tangannya agar lepas dari cengkeraman Bang Hasdin.


"Dek..???? Maaf Pak Hasdin.. Tolong yang sopan. Saya ini istri atasan bapak" kata Hana sambil berusaha melepaskan diri.


"Apa katamu? Baru saja kamu jadi istrinya Ranggi, sekarang kamu sudah belaga menjadi nyonya. Kita tetap ada ikatan sebagai orang tua Cherry.. kamu harus ingat itu dek. Kita pernah punya anak" jawab Bang Hasdin.


"Saya tetap mengingatnya, bahkan untuk seumur hidup saya, tapi sekarang kita memiliki jalan yang berbeda.. bapak sudah memilih Citra dan saya telah memiliki suami yang luar biasa seperti Bang Ranggi. Harap jaga perilaku..!!" ucap tegas Hana kemudian mengibaskan lagi cengkeraman tangan Bang Hasdin.


Hana pun berlari pulang sedangkan Bang Hasdin yang masih terlihat kesal.


~


"Darimana saja kamu? Anak sakit kenapa nggak cepat datang?" tegur Bang Ranggi sambil menggendong Cherry masuk ke dalam mobil.


"Biar saya yang gendong Cherry..!!" pinta Bang Hasdin yang akan mengambil Cherry dari gendongan Bang Ranggi.


Saat itu Bang Ranggi tidak mungkin menolak nya karena Bang Hasdin memang ayah dari Cherry tapi ternyata Cherry kecil menolak ikut dengan Papa kandungnya.


"Cherry ikut Papa Oi" kata Cherry.


"Ya sudah, Cherry sama Papa" Bang Ranggi pun tak jadi menyerahkan Cherry pada Papa kandungnya.


Ada rasa kesal yang kembali mengusik batin Bang Hasdin tapi ia tidak bisa berbuat apapun karena Cherry sendiri yang menolaknya. Terpaksa ia hanya mengambil kunci mobil di tangan Bang Ranggi dan mengambil alih peran sopir.


...

__ADS_1


"Siapa penanggung jawabnya? Cherry sakit typus.. harus di rawat inap" tanya dokter senior.


"Saya Bang..!!"


"Saya..!!" jawab Bang Hasdin bersamaan dengan Bang Ranggi.


Karena Bang Ranggi bukan ayah kandungnya.. ia pun membuka suara.


"Pratu Hasdin memang bapak kandungnya, tapi Hana dan Cherry adalah tanggung jawab saya saat ini" Bang Ranggi pun berucap tegas.


"Baiklah.. karena seluruh administrasi masuk dalam ke dalam tanggungan Ranggi, maka Letda Ranggi yang akan menyelesaikan semua" kata dokter senior.


"Siap..!!"


"Siap..!!" Bang Hasdin diam seribu bahasa, hatinya terasa ngilu tak bisa berbuat apapun untuk putri kecilnya.


dddrrtttt.. dddrrttt.. dddrrttt...


Bang Hasdin menarik ponsel dari saku celananya dan ternyata Citra menghubunginya. Ia pun sedikit menjauh.


"Kenapa dek?" tanya Bang Hasdin.


"Sabar ya dek. Cherry lagi sakit, sekarang ada di rumah sakit. Kalau Cherry sudah baikan baru Abang pulang" kata Bang Hasdin.


"Di rumah sakit mana Bang? Biar Citra kesana. Citra mau kenalan sama anak Abang, juga sama mantan istri Abang" pinta Citra.


"Abang ada di RST, jangan sekarang..!! ini sudah malam, kamu juga harus perhatikan kandunganmu" bujuk Bang Hasdin.


"Citra kesana sekarang..!!"


Bang Hasdin hanya bisa mendesahh pelan saat Citra mematikan sambungan teleponnya.


...


Citra tertegun sejenak melihat ada Letda Ranggi dan Ibu Hana berada tak jauh dari kamar VIP tempat Cherry di rawat.


"Selamat malam Pak Ranggi.. ibu. Ibu menjenguk Cherry?" sapa Citra.


Bang Ranggi hanya sedikit menyunggingkan senyum kecut sampai Hana yang harus menjawabnya.

__ADS_1


"Selamat malam juga Bu Hasdin. Saya dan Abang menemani Cherry malam ini" jawab Hana.


Kening Citra berkerut tidak memahami situasi, perasaannya tidak enak apalagi melihat raut wajah Letda Ranggi yang seakan tidak suka bertemu dengannya.


"Ijin ibu.. tapi apa ibu tidak lelah. Ada saya dan Bang Hasdin disini?" kata Citra.


Bang Hasdin segera menghampiri ketiganya saat memahami Citra mungkin saja bertanya-tanya tentang suatu hal.


"Nggak apa-apa dek.. nanti kita jaga sama-sama" bujuk Bang Hasdin.


Citra tersenyum mengangguk meskipun tetap tidak tau apa yang sedang terjadi saat ini.


***


Tengah malam Bang Ranggi dan Bang Hasdin masih terjaga. Mereka duduk bersebrangan berhadapan. Hana tidur di ranjang tunggu pasien sedangkan Citra tidur di sofa. Meskipun saat itu Bang Ranggi tau Citra sedang mengandung.. tapi ia seakan menutup mata dan tidak peduli apapun yang terjadi pada Citra saat itu. Yang ia tau.. Citra juga harus merasakan sulitnya berjuang dalam kehamilan, tidak di pedulikan orang sekitar dan abaikan hak nya.


"Sepertinya Hana nyaman menjadi istri Letda Ranggi." ucap Bang Hasdin tanpa sungkan.


"Tentu saja. Aku memanjakannya dengan sukacita bukan menyusahkan dia penuh dukacita" Jawab Bang Ranggi enteng. Refleks tangan Bang Ranggi mengusap perut Hana. Ia sungguh berharap setelah ini akan ada malaikat kecil yang akan menemani hari-hari mereka nanti.


"Rupanya Letda Ranggi yang terhormat sudah tanam modal" ledek Bang Hasdin.


"Setidaknya saya ada modal kejantanan. Bukan modal banci yang setelah 'titip' tapi langsung lari" ucap Bang Ranggi terkesan santai tapi begitu menusuk.


"Saya bukan lari.. tapi saya sungguh tidak tau 'kecelakaan' ini akan terjadi"


"Kalau kamu sudah paham saat itu sudah menghilangkan keperawanan seorang wanita.. seharusnya kau bertanggung jawab atas ulah b******n mu itu" Bang Ranggi sedikit membentak Bang Hasdin sampai kemudian Bang Hasdin tersenyum kesal.


"Dua kali aku dapat yang tertutup rapat.. sedangkan anda pak?????" tak hentinya Bang Hasdin menekan mental Bang Ranggi.


"Dengar baik-baik Hasdin.. perawan itu hanya imbuhan dan harapan dari kebanyakan para pria.. tapi janda bukanlah suatu cela. Batu berlian.. jika kau tidak pandai melihatnya dari berbagai sisi, maka kau tak akan pernah menemukan nilainya karena secantik apapun bentuknya.. dia tetaplah batu bagimu. Tapi jika kau tau betapa berharga nilainya.. meskipun ia sudah terjual berkali-kali atau bahkan masuk ke lumpur hitam.. dia berharga. Kau hanya menyakiti raganya saja tapi Hana tetap perawanku, berlianku yang berharga. Dia Nyonya Prabu Ranggi Tanuja.. bisa kau pahami itu Pratu Hasdin??"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2