
Disana Bang Ares memilih mengurus Bang Hasdin yang kembali tidak sadarkan diri akibat perlakuan manis Bang Ranggi sedangkan Bang Ranggi menemani Hana minum di kedai samping danau tak jauh dari Batalyon.
"Sudah lega?" tanya Bang Ranggi sambil melirik Hana yang sedang menyeruput minuman matcha latte dari Bang Ranggi.
Hana masih terdiam tanpa suara dan Bang Ranggi tau betul rasa sakit yang di alami Hana bukanlah hal yang mudah untuk di jalani. Apalagi baru saja ada pesan singkat dari Bang Hasdin bahwa pria itu mentalak Hana.
"Abang pengen nawarin bahu, tapi............"
Seketika Hana menyandarkan keningnya di bahu Bang Ranggi dan saat itu mereka menyadari apa yang terjadi pada mereka berdua adalah sesuatu yang salah.
"Kenapa Hana cengeng seperti ini Bang? Salahkan jika Hana inginkan kebahagiaan Cherry? Tak masalah jika semua orang mencela Hana.. tapi jangan Cherry" ucap Hana terdengar sedih.
"Dalam darahnya mengalir nama Bang Hasdin.. hanya itu saja yang pernah Hana tau. Hana hanya takut Cherry kecewa karena dirinya tidak lagi punya keluarga yang lengkap"
"Darah Hasdin selamanya tidak akan pernah bisa di hapus dan kamu jangan pernah menyesali takdirmu. Yang sudah terjadi.. biarlah terjadi. Abang yang akan menggantinya dengan diri Abang" jawab Bang Ranggi serius.
Hana sedikit menjauh dan menghindar dari Bang Ranggi, bagaimana mungkin dirinya mengharapkan pria berkedudukan tinggi seperti Bang Ranggi apalagi ia menyadari dirinya sudah rusak, bukanlah gadis yang selama ini selalu menjadi idaman para pria.
"Kenapa?" Bang Ranggi merasa Hana menghindarinya.
"Apa maksud Abang?" tanya Hana.
"Apa kamu bersedia kalau Abang menggantikan posisi Hasdin?" ucap Bang Ranggi tanpa sungkan, langsung pada pokok persoalan dan tidak bertele-tele padahal ia tau keadaan saat ini begitu kacau dan rumit untuk di jelaskan.
"Nggak" tolak Hana mentah-mentah.
"Apa alasannya?"
"Masih banyak wanita terhormat, bukan sampah seperti Hana. Hana ini bekas orang.. tidak pantas berharap lebih" jawab Hana.
"Apa kamu bisa meminta takdirmu? Apa kamu tau jalan hidupmu dan Cherry akan seperti ini?? Lantas apa salahnya kalau kamu itu janda?? Itu lebih terhormat daripada merebut suami orang dan jika ada pertanyaan seperti itu.. Abang yang salah karena memang Abang yang lebih dulu menaruh hati pada istri orang" ucap Bang Ranggi setengah emosi mendengar pengakuan Hana.
"Biar Abang tampar mulut orang yang berani mengatakan hal buruk tentangmu. Apa mereka itu anggota malaikat sampai berani menggunjingmu?"
__ADS_1
Hana kembali duduk terdiam.
Bang Ranggi menatap lurus ke depan.
"Abang minta maaf kalau cara Abang salah. Inilah Abang, baik dan buruknya kamu sudah melihatnya sendiri. Abang juga bukanlah orang suci yang tidak pernah salah"
"Hana takut Bang"
"Jika memang harus.. Abang akan bersujud di kaki Abangmu untuk mendapatkan restunya" kata Bang Ranggi.
***
"Siapa yang pukul Abang??? Tolong cari Pa..!! Citra nggak mau Abang sampai kenapa-napa lagi" pinta Citra sesenggukan.
"Citra tidak tau masalah apa di luar sana sampai Bang Hasdin harus seperti ini"
"Jangan nangis sayang..!! Nanti papa cari tau ya" bujuk Pak Ganda tak tega melihat putrinya menangis.
"Ijin Dan.. Letda Ranggi menolak berkas pengajuan nikah Mas Hasdin" ucap seorang ajudan Dan Ganda.
"Sebenarnya ada apa Pa? Kenapa dari awal sulit sekali menaikan pengajuan nikah Citra?" tanya Citra mulai merasa janggal.
"Nggak ada apa-apa sayang. Biasalah.. kamu Khan nikahnya dadakan. Jadi ya agak sedikit sulit" kata Pak Ganda beralasan.
...
"Sama seperti anda Pak Ganda. Anda pun tidak memiliki bukti pernikahan Hasdin dan Citra. Anda lihat ini.." Bang Ranggi melempar berkas surat pengajuan nikahnya di depan meja, tepat di depan mata Dan Ganda.
"Bisa baca khan? Retna Hana Auliani Baiz adalah istri dari Letda Ranggi. Tidak ada hubungannya Pratu Hasdin dengan Hana lagi."
"Kau kurang ajar Ranggi..!!!! Berani kau dengan Komandanmu..???????" bentak Dan Ganda.
"Ini aturan yang berlaku, wajar dan baku. Hasdin menikah diam-diam. Dia juga sudah memiliki putri yang di telantarkan akibat kelalaian nya dulu. Tidak ada yang salah juga khan saya menikahi Hana.. wanita 'tanpa status' yang jelas dari Hasdin"
__ADS_1
Rasanya Dan Ganda sesak, geram dan jengkel berhadapan dengan Bang Ranggi. Beliau menendang kaki meja dengan kuat.
"Astagfirullah hal adzim.. pasti sakit" Bang Ranggi mengambil tissue dan plester di laci mejanya lalu mengusap dan secepatnya menempel plester di kaki meja.
"Edaaaann.. komandan edaaann..!!!!!!!" umpat Dan Ganda sambil membanting pintu.
Bang Ranggi hanya tersenyum kecil.
"Berani kau menyentuh Hana, kau akan berhadapan denganku tua bangka sialan" gerutu Bang Ranggi.
...
"Apa-apaan kamu Ranggi. Kamu mau mempermalukan adikku dengan caramu yang seperti itu???" tegur keras Bang Ares.
"Lalu apa kamu mau menunggu adikmu yang di permalukan lebih dulu?? Pernikahan Hasdin da Hana tidak ada yang tau selain perangkat warga. Tidak ada bukti untuk itu. Secara agama.. mereka sudah lampu merah berpisah. Aku juga masih slow saja sambil menunggu masa iddah Hana. Terus salahku opo???" tanya Bang Ranggi.
"Kamu terlalu terburu-buru Ranggi.. apa kata orang??? Aku pun malah belum tau kau sudah mengesahkan Hana untuk menjadi istrimu" kata Bang Ares kesal.
"Kalau aku tidak terburu-buru, adikmu itu kembali masuk dalam mulut buaya"
"Tak sadar kau rupanya.. kau pun juga buaya" teriak Bang Ranggi.
"Jadi tidak mau nih??? Ya sudah, bulan depan sudah otw keponakan baru" ancam Bang Ranggi sambil berlalu.
"B*****t, bisakah kau tidak memakai otak mesum mu itu" Bang Ares mulai kelabakan dengan kelakuan littingnya.
"Uugghh.. adikmu itu terlalu menggoda iman" Bang Ranggi mengusap dadanya memasang wajah yang jelas Bang Ares tau maksudnya.
"Ranggiiiiiii...!!!!!!! Allahu Akbar.. dosa apa aku ini sampai punya ipar macam kau" pekik Bang Ares kebakaran jenggot.
.
.
__ADS_1
.
.