Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 3. Satu sama.


__ADS_3

Banyak protes dengan jalan cerita..??? Nara akan buat END dengan sempurna. Membuat cerita juga butuh perjuangan ya☺️. Terima kasih 🙏🙏.


🌹🌹🌹


Andin pergi hingga ke makam ibu kandungnya. Kini Papanya sudah menikah lagi. Ibu tirinya memang sangat menyayanginya tapi tetap dalam hati seorang anak pasti sangat merindukan ibunya.


"Mama.. Papa memaksaku menikah dengan pria yang tidak aku cintai. Apakah aku harus menerimanya atau tidak. Aku takut pria itu tidak sebaik Papa. Aku sangat takut tidak di cintai" ucap Andin sesenggukan.


//


Bagaimana kalau kelakuannya sama seperti wanita di luar sana. Busuk seperti Belinda. Materialistis tak berarah, tidak ingin punya anak dan ingin bebas tanpa aturan.


"Ya Allah, aku harus bagaimana? sebejat apapun diriku, aku juga ingin wanita yang mampu menempatkan dirinya saat berada di sampingku, yang jelas dia mau ikhlas menerima segala apa yang ada pada diriku nanti" gumam Bang Langsang.


Tanpa di duga Bang Khaja duduk di sampingnya. "Ayo pulang.. Mama sakit. Kasihan Mama" bujuk Bang Khaja.


"Sepertinya aku menaruh hati pada yang lain" kata Bang Langsang.


"Tumben kamu bisa se melow ini. Sama siapa?" tanya Bang Khaja.


Bang Langsang tersenyum kecut. "Sudahlah.. Mama tidak mungkin salah memilihkan pendamping untuk ku" jawab Bang Langsang.


-_-_-_-_-


Papa Rahman memeluk putrinya yang sedang menangis di pusara mendiang istrinya. "Papa janji.. dia lelaki yang baik. Papa memilihkan dia untukmu bukan tanpa alasan sayang"


Andin menangis sedih. "Baiklah Pa, tapi Andin tidak mau keluar dari kamar dan Andin hanya ingin melihat wajahnya jika Andin sudah siap."


"Papa akan sampaikan padanya"


"Siapa namanya Pa?"


"Nama calon suamimu?" tanya Papa Rahman.


"Iya."


"Seingat Papa namanya Trabas Trijata" jawab Papa Rahman.

__ADS_1


-_-_-_-_-


"Tidak apa-apa Pa, hitung-hitung kami saling mengenal." Bang Langsang menjawab calon Papa mertuanya.


"Ya sudah.. Ayo kita mulai" ajak Papa Rahman.


:


Bang Langsang berpikir keras kiranya dimana dirinya pernah membaca nama Dyah Mada Andini. Seolah nama itu tak asing bagi dirinya.


"Kamu kenapa? Katanya sudah ikhlas?" tanya Papa Ranggi sesaat pernikahan Bang Langsang usai.


"Ikhlas Pa, hanya saja.. sepertinya aku pernah tau nama ini. Tapi dimana ya?"


"Ngaco kamu, kamu nggak pernah lihat istrimu" kata Papa Ranggi.


"Pa.. bolehkah aku tau apa motif Papa menikahkan anak gadis Papa denganku?" tanya Bang Langsang pada Papa Rahman.


"Pertama.. terus terang ini soal masa lalu." Papa Rahman tersenyum melirik Mama Hana. Papa Ranggi pun sedikit menendang kaki seniornya dan mendapat balasan senyum lebar dari istri Bang Rahman Papa Ranggi. "Kedua.. Andin ini limited edition. Nanti kamu akan tau sendiri kalau sudah waktunya."


"Baiklah Pa, tapi.. bisakah aku menemui istriku dulu, tidak apa-apa aku tidak melihat wajahnya. Aku hanya ingin melihat tangannya." pinta Bang Langsang.


Setelah berbagai bujukan akhirnya Bang Langsang berdiri di hadapan pengantinnya berbatas tirai. Bang Langsang merasakan ada yang mencium punggung tangannya. Perlahan ada desiran rasa yang tidak ia pahami.


Bang Langsang menarik tangan istrinya dan bisa melihatnya dengan jelas. Kulit yang cerah, bersih, mulus dan terawat. Bang Langsang menggenggam tangan itu. "Andin istri Abang, terima kasih banyak kamu bersedia menerima Abang sebagai suamimu. Abang harap seiring berjalannya waktu.. kita berdua mampu menjalankan ibadah panjang kita dengan cara yang patut. Abang memberimu waktu untuk menata hatimu dan Abang juga akan menjalankan kewajiban Abang sebagai suamimu. Jika kamu telah siap dengan hatimu, katakan dan Abang akan menjemputmu pulang"


Papa Ranggi ternganga putranya yang bengal bisa berucap lembut di hadapan istrinya, terbersit rasa takut itu semua hanya alasan karena bermanis mulut adalah keahlian rata-rata para pria.


Bang Langsang memakaikan salah satu cincin turun temurun milik keluarga lalu mencium punggung tangan Andin karena dirinya masih belum bisa mencium kening sang istri.


Bang Khaja mendekati ustadz dan penghulu yang baru saja menikahkan Bang Langsang. "Permisi Pak ustadz.. apakah bisa pernikahan seperti ini bisa menimbulkan cinta dan sayang?" tanya Bang Khaja.


"Allah Maha mengerti hati setiap manusia. Allah mampu menggoyang hati manusia yang menginginkan jalan yang baik. Tidak ada yang tidak mungkin" jawab Pak ustadz.


Bang Khaja mengangguk, ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. "Pa, bisakah aku juga meminta ijin, menikah dengan cara yang sama seperti Lansang?? Bedanya dia tidak tau siapa istrinya, tapi aku sudah tau"


Setelah beberapa saat, melalui perundingan keluarga akhirnya Papa Ranggi menyetujui.

__ADS_1


***


"Abang belum mengenal siapa Naya, Naya hanya gadis kampung, miskin dan tidak punya apa-apa" ucap Naya di hadapan keluarga Bang Khaja termasuk di hadapan Bang Langsang yang ikut menemui Naya di kost nya yang kecil.


"Abang sudah tau semuanya dek. Abang tidak ada masalah dengan semua itu termasuk. Abang juga sudah ceritakan tentang keadaan mu dengan keluarga Abang."


Naya terdiam, setitik air matanya menetes. Mama Hana beralih duduk di samping gadis yang terlihat amat sangat sederhana namun parasnya tak kalah cantik seperti Andin menantunya. Mama Hana menghapus air mata Naya.


"Bagaimana dek? Mau ya?"


"Maukah Abang meminta ijin sama ayah?" tanya Naya.


"Baiklah, Abang bersedia. Siapa Nama ayahmu?"


"Letda Handro" jawab Naya.


"Astagfirullah hal adzim.. jadi ibumu.. Zahra???" Papa Ranggi sungguh kaget mendengarnya.


"Pak Ranggi kenal? Bunda saya sudah meninggal. Ayah juga tidak pernah menikah lagi setelah Bunda meninggal" Naya menangis sesenggukan jika mengingat segala hal tentang bundanya.


"Ibumu sakit ndhuk?" tanya Opa Rico.


"Nggak, nenek yang membuat perpisahan itu terjadi dan........" Naya seakan tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Ayo cerita sayang..!!" bujuk Oma Jihan.


"Naya pernah mau di jual nenek"


"Ya Allah Gustiii.." seisi ruangan tak habis pikir dengan ulah ibu Tami.


"Abang akan temui ayahmu dan Abang akan menikahimu di hadapan Ayahmu" ucap Bang Khaja.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2