Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
62. Lemah dalam kepanikan.


__ADS_3

Dua jam sudah Dinar berjuang tapi tak kunjung ada kemajuan dalam tahap persalinannya dan itu membuat Bang Ares setengah mati kebingungan.


"Bisa operasi atau tidak Bang?" tanya Bang Ares.


"Sudah nggak bisa Res, bayinya sudah di panggul dan ini memang agak terlalu cepat" jawab Bang Joy.


"Ya Tuhan Bang, tolong usahakan cara lain agar persalinan Dinar bisa lancar..!!" pinta Bang Ares ikut kacau.


"Kalau sudah begini, kita hanya butuh keajaiban Res. Memang melahirkan itu butuh banyak sekali perjuangan" kata Bang Joy.


Bang Ares tertegun, rasa campur aduk mengobrak abrik hatinya.


"Yang kuat ya dek. Abang pasti akan selalu ada di sampingmu..!!"


Dinar seakan tak merespon Bang Ares, yang ia rasakan hanya sakit tak terkira.


"Sakitnya Abang bawa saja..!!!!!" pinta Dinar di sela rasa sakitnya yang hilang timbul.


"Aduuuuhh.. kalau bisa juga sudah Abang bawa dari tadi dek" jawab Bang Ares.


Disaat seperti ini teringat sosok sang ibu yang telah melahirkan dirinya namun hal itu sekaligus membuat hatinya begitu sakit. Sosok yang seharusnya membuat dirinya bangga tapi harus terkoyak penuh luka.


Tak tega aku melihat istriku menderita seperti ini dan pastinya ibuku juga mengalami hal ini, memperjuangkan kehidupan yang baru.. tapi kenapa, kenapa ibu tidak bisa selayaknya seorang ibu?? Aku sudah bersalah padamu bu, jika saja ibu tidak bersikap seperti itu.. mungkin keluarga kita sudah bahagia Bu.


Dinar mengejan pelan dan tidak sebanding dengan tenaganya yang seolah hanya seperti tarikan nafas ringan.


"Pakai tenagamu sayang..!! Kalau hanya begini saja, kamu semakin kesakitan" bujuk Bang Ares.


"Ini sudah sakit sekali..!!!!!!!!" ucap Dinar setengah menjerit, ia kesal sampai mencubit perut Bang Ares sekuatnya, tapi karena perut Bang Ares terlampau rata.. tangannya tak bisa mencubit dengan sempurna dan semua itu membuat Dinar menjadi semakin emosi.


"Dinar pengen cubit Abaangg..!!!" omelnya sambil terus mencari celah di perut Bang Ares.


"Ya sudah, cubit saja to.. apa susahnya??"


Emosi Dinar tersulut dan akhirnya benar-benar mencubit Bang Ares sekuatnya.


"Hwaduuuuuuh..!!!!!" pekik Bang Ares hingga terdengar sampai luar ruangan.


~

__ADS_1


Bang Ranggi duduk gemetar, tapi bukan Ranggi namanya kalau tidak bisa menyembunyikan segala perasaan.


"Abang takut ya?" tanya Hana.


"Takut apa? Nggak lah" jawab Bang Ranggi.


"Halaaahh... hayoo ngakuuu..!!!" Hana seakan meledek Bang Ranggi.


Belum sampai Hana menutup mulutnya, Bang Ranggi sudah berlari menuju toilet. Rasa mual menyerang dan mengaduk-aduk perutnya bagai penggiling adonan semen.


Hana pun berjalan pelan mengikuti Bang Ranggi menuju toilet pria.


~


"Sudah.. Abang nggak apa-apa. Kamu keluar lah dek. Jangan ikuti Abang kesini..!!" pinta Bang Ranggi karena akhirnya para anggota dan pengunjung di rumah sakit jadi mengurungkan niat untuk masuk ke toilet pria karena Hana berada disana.


"Tapi Abang masih mual" Hana menolak karena sesekali Bang Ranggi masih melonggarkan isi lambungnya.


"Nggak dek.. Abang nggak apa-apa" jawab Bang Ranggi tapi tidak sesuai dengan keadaannya saat ini yang pastinya sangat membutuhkan bantuan.


Tak sengaja kemudian Om Richi masuk ke dalam toilet. Sungguh terkejut dirinya melihat ada seorang komandan dan istri di dalam toilet.


"Tunggu Richii.. tolong saya..!! Saya nggak kuat berdiri..!!" pinta Bang Ranggi.


Baru saat itu Om Richi sadar kalau komandan sangat membutuhkan bantuan.


"Siap Dan..!!" Om Richi pun beralih membantu Bang Ranggi dan melupakan rasa perutnya yang sempat melilit.


~


Om Richi mengompres dahi dan perut Bang Ranggi dengan es batu. Meskipun sempat bingung menghadapi kerewelan atasannya tapi Om Richi tetap berusaha memberikan bantuan semaksimal mungkin untuk Bang Ranggi.


"Saya sudah baikan Richi, Terima kasih" ucap Bang Ranggi sambil bersandar di kursi ruang tunggu sembari meluruskan kakinya.


"Apa perlu saya panggilkan dokter Dan?" tanya Om Richi.


"Nggak perlu, saya baik-baik saja kok" jawab Bang Ranggi.


Duduk tak jauh disana, Imelda melihat Bang Ranggi tak jauh berbeda dari yang dulu.. pria itu tetap tampan dan gagah meskipun sedang lemas seperti ini.

__ADS_1


Kesemrawutan itu akhirnya teralihkan karena beberapa orang perawat membawa dua kantong darah masuk ke ruang persalinan.


Hana baru saja kembali dari kantin tak jauh dari tempat itu dan membawa teh hangat untuk Bang Ranggi.


"Ada apa Om?" tanya Hana pada seorang perawat.


"Siap ibu, istri Letda Ares butuh bantuan" jawab seorang perawat berpangkat praka kemudian ijin berlalu.


"hhgghh.. hhkk.." Bang Ranggi kembali mual. Ia meremas perutnya.


"Komandan takut menghadapi persalinan?" tanya Om Richi tidak percaya.


"Kamu nanya apa ngeledek? Mana ada saya takut??" jawab Bang Ranggi.


Tak lama Bang Ares berjalan gontai keluar ruang persalinan. Tangannya menyangga tubuhnya yang sekiranya tidak seberapa tangguh lagi. Terdengar pula jerit Dinar yang membuatnya memercing ngeri.


"Kowe ngopo Res?" tegur Bang Ranggi karena heran Bang Ares berada di luar ruangan persalinan padahal seharusnya Bang Ares berada di dalam sana.


"Nafas dulu. Nggak kuat aku lihat Dinar. Dari tadi hanya menjerit saja" jawab Bang Ares.


"Allahu Akbar.. masuk sana..!! Jangan cemen, itu khan karena ulahmu juga" kata Bang Ranggi.


"Abaaaanngg..!!!!!" teriak Dinar begitu kencang.


"Huuuuahh" Bang Ares merosot lemas karena takut.


"Aaawwhh.. Astagfirullah.. Jantungku mau copot" Bang Ranggi salah tingkah memposisikan duduknya. Ia menepuk dadanya pelan, jantungnya berdebar kencang ikut panik padahal bukan Hana yang sedang menjalani persalinan.


"Aduuhh.. rasanya aku mau pingsan" Bang Ranggi duduk semakin merosot.


"Loohh Dan.. Masih kuat nggak Dan???" Om Richi kelabakan melihat dua komandan nya pucat pasi bersamaan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2