
"Kenapa ayah buat keributan sampai Hana masuk rumah sakit lagi??" tegur Mama Jihan geram.
"Maksud Ayah nggak gitu Ma. Ayah hanya bersikap tegas untuk meluruskan masalah agar tidak terjadi hal seperti ini lagi..!!" jawab Aya Rico yang mendapat omelan dari sang istri.
"Tapi imbasnya ke cucu kita yah. Kalau ada apa-apa sama cucu kita, gimana perasaan ayah?? Gimana Ranggi???? Bagaimana Hana????"
Ayah Rico menunduk merasa bersalah. Memang selama ini Ayah Rico lebih keras pada putranya itu mengingat kelakuan Bang Ranggi terkadang di luar batas.
"Ranggi nggak akan mungkin terjerumus lembah hitam yah. Dia tidak akan mungkin mengikuti jejak leluhurmu. Masalah perempuan.. Mama yakin dia tidak akan berani berbuat lebih. Tidak bisakah Ayah percaya pada putramu?" kata Mama Jihan kemudian mendekap erat Ayah Rico.
Mata ayah Rico terpejam pedih.
"Masa laluku buruk Ma, aku tak ingin Ranggi menjadi Mafia dan tidak pernah ingin dia merusak perempuan. Aku akui, sifatnya memang ekstrem dia petarung ku"
"Do'a kan saja semua putramu agar terus bisa di jalan yang seharusnya" Mama Jihan membelai rambut Ayah Rico.
~
"Ayah nggak marah lagi. Tadi hanya salah paham saja"
"Hana yang salah Bang, Hana minta maaf membuat jabatan Abang jadi di cabut" Hana menangis merasa sangat bersalah.
"Jabatan di cabut bukan berarti di pecat tidak hormat sayang. Abang hanya tidak menduduki jabatan itu lagi. Lagipula apalah arti sebuah jabatan" jawab Bang Ranggi lebih santai menghadapi Hana.
"Tapi Abang harus lari keliling lapangan, rambut Abang nggak ada.. Hana khan suka rambut Abang" celoteh Hana seketika membuat tawa Bang Ranggi pecah.
"Jadi hanya karena tidak terima jambul ini hilang to?" tanya Bang Ranggi.
"Ya semuanya" jawab Hana akhirnya menangis.
Ayah Rico menghela nafas panjang mendengar Isak tangis Hana dari balik pintu. Sama persis seperti Jihan istrinya, Hana ternyata begitu tergila-gila dengan jambul yang tidak ada fungsinya.
"Ayah memang menjengkelkan" kata Mama Jihan.
"Sudah donk sayang.. Ayah khan sudah minta maaf" jawab Ayah Rico sekarang malah menjadi tersangka kerusuhan.
-_-_-_-_-
Hana berkutat dengan ponselnya sore itu dan disana Bang Ranggi sibuk mempersiapkan Hana untuk keluar dari ruang observasi.
Mata Hana berkaca-kaca dan raut wajahnya begitu sedih.
Bang Ranggi pun melirik Hana yang sejak tadi memasang wajah tak bersahabat.
"Ada apa dek?" tanya Bang Ranggi.
"Nggak usah janji kalau nggak bisa menepati..!!" jawab Hana.
"Laahh.. Abang janji apa?" tanya Bang Ranggi lagi.
"Ya sudah kalau nggak ingat" wajah Hana seketika berubah mendung.
__ADS_1
Ono opo maneh sih?? Mumet tenan iki.
"Oiya.. beli sate ayam ya?" kemudian Bang Ranggi baru mengingat janjinya.
"Mana uangnya?" Hana menunjukan isi IBanking yang belum bertambah jumlahnya dari nominal semula.
Bang Ranggi meneguk salivanya. Ia mulai cemas.
"Mati lu ayam. Janji adalah hutang, nggak bisa bayar.. dapat tagihan dari yang berwajib." ucap Opa Garin memanasi suasana padahal beliau baru saja tiba sambil menggendong Cherry.
"Naahh.. turun betul nggak itu bunganya? Jangan-jangan Ranggi bohong" imbuh Ayah Rico di belakang Opa Garin.
Hana melirik Bang Ranggi.
"Ya ampun.. ada sayang.. adaa kok.. sabar sebentar lah" kata Bang Ranggi cemas seketika.
"Opa curiga jangan-jangan Ranggi hanya mau bermanis mulut saja" Opa Garin memasang wajah serius.
Wajah Hana semakin mendung, bibirnya nyaris mencebik melebihi manjanya Cherry.
Astaga.. m****s aku kalau dananya nggak keluar hari ini.
Ting..
Terdengar bunyi nyaring dari ponsel Hana dan istri Ranggi itu mengambil dan mengamati ponselnya. Beberapa detik berikutnya, ia mengusap mata dan berkedip-kedip memastikan lagi penglihatannya menatap layar monitor.
"Bang, ini ada uang masuk" kata Hana.
"Ya itu uangnya" jawab Bang Ranggi sembari bernafas lega.
"Tiga. Nol nya, satu.. dua.. tiga...... tujuh Bang??? Masa Abang dapat bunga Bang Tiga juta? Abang dapat darimana? kerja apa?" Hana kembali bertanya bak intelijen penyelidik.
"TIGA PULUH JUTA sayang.. Kamu lulus SD nggak??" ledek Bang Ranggi.
"Ya ampuun.. ini malah tiga puluh juta. Jangan-jangan Abang maki orang Bank" pekik Hana terlonjak kaget.
Bang Ranggi menepuk dahinya.
Bang Ares terkikik geli mendengar ocehan Ranggi dan Hana.
Tak lama ponselnya berdering. Ia segera mengangkat panggilan telepon dari Dinar.
"Assalamualaikum.. sebentar lagi Abang pulang." ucapnya sebelum Dinar bertanya, ia mengaktifkan loud speaker karena ponselnya baru terbanting semalam saat dirinya emosi menyangka Ranggi berada di 'club malam'.
"Wa'alaikumsalam.. Abaang.. perut Dinar sakit sekali" kata Dinar di seberang sana.
"Kamu makan apa sampai sakit perut?" tanya Bang Ares kemudian menjauh dari keluarga barunya.
"Nggak makan aneh-aneh Bang, tapi sakit sekali. Paha Dinar juga sering basah"
Bang Ares tertegun sejenak. Denyut nadinya berdesir.
__ADS_1
"Astagfirullah.. kamu diam disana..!! Duduk dan jangan mondar-mandir. Abang jalan pulang..!!" tanpa pamit Bang Ares segera berlari kencang.
...
"Huugghh.." Dinar sudah berkeringat dingin merasakan perutnya yang tak karuan. Ia melihat kalender di dinding, belum pada bulannya ia harus melahirkan.. tapi rasa perutnya seakan bayinya sudah ingin terlahir.
"Dek..!! Ya Allah.. apa si dedek minta sekarang?" tanya Bang Ares sembari mengusap kening Dinar yang penuh keringat bercucuran.
"Nggak tau Bang, tapi ini sakit.. sakit sekali dan Dinar nggak pernah merasakan sakit seperti ini" jawab Dinar sudah pucat dan kurang bertenaga.
"Ya sudah kita ke rumah sakit saja" Bang Ares mengangkat tubuh Dinar perlahan dan membawanya segera ke rumah sakit tempat Hana mendapat perawatan tadi.
...
Bang Ranggi mengimbangi langkah Hana, ia pun masih sangat cemas dengan keadaan Hana. Dari sana tak sengaja matanya melihat Bang Ares sedang membawa Dinar masuk ke ruang persalinan.
"Lho dek, itu Ares..!!" tunjuk Bang Ranggi ke arah Bang Ares.
"Kenapa masuk ruang persalinan? Bukannya kehamilan Dinar belum waktunya persalinan ya?" tanya Bang Ranggi.
"Iya ya Bang, ada apa kok sampai Bang Ares bawa Mbak Dinar ke rumah sakit. Lebih baik kita kesana deh Bang..!!" ajak Hana.
:
"Walaah.. ada-ada aja sih Res, mudah-mudahan lancar persalinannya ya" kata Bang Ranggi dari samping tirai dan hanya sesekali memberanikan diri untuk mengintip.
"Iya.. terima kasih, aku juga baru tau kalau ternyata rahim Dinar pendek, ketubannya juga berlebih" jawab Bang Ares.
Hati Bang Ranggi terasa ngilu melihat Dinar menggelinjang kesakitan. Kakinya seakan tak sanggup menapak, denyut nadinya pun kian kencang.
"Abaaaaang.. ada obat nggak?? perut Dinar sakiiit" ucap Dinar terus merintih.
Bang Ares tersenyum getir, ia mencium kening Dinar.
"Sabar ya sayang..!!" bujuknya meskipun tidak akan membantu.
Seketika Bang Ranggi merasa mual. Ia tak sampai hati, tak kuat melihat penderitaan Dinar yang sedang berjuang.
"Abaaang.. suruh sakitnya berhenti..!!" pekik Dinar.
"Astagfirullah hal adzim.. ayo keluar dek..!! Abang nggak kuat, rasanya sudah mau pingsan.. nggak tega dengar perempuan teriak sakit begitu" ajak Bang Ranggi sudah semakin pening.
"Itu khan Mbak Dinar Bang, gimana nanti kalau Hana yang melahirkan?" tanya Hana.
"Uugghh.." Bang Ranggi hanya bisa mengusap dadanya yang berdesir ngilu, agaknya kali ini dirinya benar-benar ketakutan.
"Nanti Abang cari info biar persalinanmu nggak harus sakit seperti itu."
.
.
__ADS_1
.
.