Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
77. Tabah menjalankan peran.


__ADS_3

Hana terdiam duduk bersandar di ranjang. Bayangan pahit tentang hidupnya masih berkelebat membuat tubuhnya gemetar menyimpan ketakutan tapi juga amarah yang tertahan. Perlahan ia mengarahkan kakinya turun dan berjalan menghampiri box bayi baby Khaja. Seketika itu juga Hana menjerit histeris.


Tepat saat itu Bang Ranggi masuk ke dalam kamar rawat bersama Bang Ares dan melihat Hana histeris melihat baby Khaja.


"Sayang.. kamu kenapa dek??" Bang Ranggi langsung mendekap Hana dan Hana sekilas menatap wajah Bang Ranggi.


"Kenapa Abang memperkosa Hana?? Apa salah Hana???? Bang Herman pasti marah" Hana berteriak ketakutan sampai kain penutup box bayi tersingkap.


"Ares.. tolong bawa Khaja keluar, biar Hana kutenangkan dulu..!!" pinta Bang Ranggi.


"Tapi kamu nggak sehat"


"Percayalah, semua pasti baik-baik saja" kata Bang Ranggi.


Bang Ares segera membawa baby Khaja dan ternyata ada Ayah Rico dan keluarga di sana.


"Ada apa?" tanya ayah Rico.


"Hana kambuh, Ranggi sedang menenangkan Hana" jawab Bang Ares.


~


"Allahu Akbar.. Lailaha Illallah.. sadar sayang..!!!!"


"Kamu pria paling jah***m Hasdiiin..!!" Hana terus berteriak marah.


"Hana.. lihat Abang dek..!!"


"Baang Rahmaaann..!!!!" Hana berteriak memanggil nama Bang Rahman dan itu berkali lipat membuat hati Bang Ranggi semakin sakit. "Kau iblis..!!!!" bentak Hana memaki Bang Ranggi, ia terus menyerang Bang Ranggi tanpa henti tak mengingat kemarin baru saja persalinan.


Tak ingin terjadi sesuatu pada Hana, Bang Ranggi segera memutar tubuh Hana dan menguncinya lalu mendekapnya erat. "Lihat Abang..!!!!!!" ucapnya sedikit keras menatap Hana sampai Hana mau menatapnya.


"Tenang dek.. ini Bang Ranggi sayang, suamimu..!!" bujuk Bang Ranggi dengan lembut dan melunakan suara di telinga Hana.


Perlahan Hana mulai tenang, Bang Ranggi mengangkat Hana kembali ke ranjang kemudian Bang Ranggi menutup tirai dan ikut naik ke atas ranjang bersama Hana. Di dekapnya lagi istri cantiknya itu.


"Ceritakan semuanya. Abang akan dengarkan..!!"


Hana kembali menangis, badannya masih gemetar.

__ADS_1


"Sepahit apapun, akan Abang dengarkan. Abang ada untuk kamu"


Memory Hana kembali, ia mengingat semuanya. Perasaannya sakit mengingat masa lalu beberapa tahun yang lalu. Hana menarik nafas panjang, menguatkan hati.


"Ceritakan..!!" pinta Bang Ranggi lagi. Perlahan Bang Ares masuk bersama Ayah Rico tanpa suara. Mereka berjaga karena takut akan terjadi hal tidak di inginkan di dalam sana.


"Beberapa tahun lalu, Hana menjalin hubungan dengan Bang Rahman. Kami sudah sangat dekat sampai saat Hana masih sekolah pun Bang Rahman memutuskan untuk bertunangan dengan Hana. Tapi tak sengaja suatu hari saat pulang sekolah, Hana melihat Bang Rahman sedang makan siang berdua dengan seorang wanita yang sangat cantik.. Bang Rahman terlihat sangat sayang padanya. Hana mencoba mendekat ada percakapan romantis disana dan Hana memilih pulang. Beberapa hari setelah itu, Bang Hasdin muncul di antara kami" Hana menguatkan hati mengingat semua.


"Lanjutkan..!!" kata Bang Ranggi.


"Hana menjalin hubungan di belakang Bang Rahman untuk balas dendam. Hana menerima 'cinta' Bang Hasdin. Hana hanya berniat membuat Bang Rahman marah"


Bang Ranggi terpejam sejenak, ia mulai paham bahwa kemarahan gadis seusia Hana dulu masih tak berarah dan hanya penuh emosi tanpa tujuan yang jelas, dan pada akhirnya menimbulkan petaka.


"Jadi saat Bang Rahman pergi kamu masih menjalin hubungan dengan Hasdin?? Logikanya jika kamu hanya ingin membalas ulah Bang Rahman.. kenapa kamu masih punya hubungan dengan Hasdin?" tanya Bang Ranggi.


"Karena saat itu Bang Hasdin yang memberi kenyamanan. Bang Hasdin punya banyak waktu untuk Hana sedangkan Bang Rahman tidak" jawab Hana.


"Sekarang Abang tanya dan jawab dengan jujur..!! saat melakukannya dengan Hasdin.. kamu dalam keadaan sadar atau tidak?"


Air mata Hana berlelehan. Rasa pahit begitu terasa. "Nggak Bang, Hana tidak tau seperti apa itu hubungan 'laki-laki dan perempuan', Abang tanyakan saja sama dia. Yang Hana tau, segalanya setengah sadar, Hana merasa di pukul, di paksa, di jambak dan si siksa. Sekujur tubuh Hana sana sakit dan saat Hana bangun terasa benar-benar sakit"


"Di rumah temannya Bang Herman" jawab Hana.


"Astagfirullah hal adzim.." kini Bang Ranggi benar-benar menangis dalam diam.


Ya Allah.. manusia macam apa Herman? Tidakkah itu berarti dia telah menjual Hana?? Apa salah Hana sampai Herman tega membuat trauma fisik dan mental seperti ini??.


"Sekarang Abang sudah tau.. Maafkan Hana sudah membawa Abang ke dalam masalah ini. Jika memang Abang menyesal menikahi Hana.. Abang bisa tinggalkan Hana..!! Hana sudah rusak. Hana ini perempuan nggak waras Bang" pekik Hana meronta.


Bang Ranggi semakin mendekap erat tubuh Hana ke dalam pelukannya. Ia mencium curuk tengkuk istrinya. "Tak ada yang pernah Abang sesali dari dirimu, Abang juga tidak pernah menyesal mencintaimu" jawab Bang Ranggi.


"Apa yang bisa Abang banggakan dari Hana?? Sebagai seorang wanita.. Hana pantas untuk di buang, Hana menjijikkan"


"Kita tidak bisa memilih jalan yang sudah di takdirkan Tuhan, kita hanya bisa memperbaiki diri kita menjadi manusia yang lebih baik meskipun dunia menolak. Segala taubat dan usaha kita.. hanya Allah dan diri kita saja yang tau." kata Bang Ranggi. "Apa untungnya kita terus meratapi diri dari sebuah masa lalu. Apa dengan tangismu, akan merubah semua? Apa segala yang sudah hilang itu akan kembali lagi??"


"Hana yang tidak bisa menerimanya Bang"


"Kalau Abang sanggup menerima masa lalumu.. kenapa kamu tidak? Teruslah berusaha sadar.. ingat Cherry.. ingat Khaja..!! Duniamu sudah berubah. Tidak ada lagi cerita tentang Rahman atau kenangan pahit dari Hasdin. Yang ada sekarang hanya Ranggi dan Hana. Kamu istri Abang.. tinggalkan duniamu yang pahit karena Abang tidak akan pernah memberikan kepahitan yang sama dalam hidupmu"

__ADS_1


Hana mulai berpikir dan hatinya perlahan tenang. Di genggamannya tangan Bang Ranggi yang tidak pernah membiarkan dirinya menghadapi masalah seberat apapun sendirian. Hanya pria itu yang terus ada bersamanya.


"Lihatlah dirimu, karena bayangan ketakutan mu itu.. anak kita jadi korban. Kalau kamu tidak berusaha untuk berubah.. anak kita Cherry dan Khaja akan ketakutan menghadapi mu. Kamu ingin anak-anak kita hidup seperti keluarga lainnya khan?" bujuk Bang Ranggi.


"Iya Bang, Hana tidak mau mental mereka terganggu"


"Jadi kamu harus melawan rasa 'sakitmu', kalau memang tidak kuat.. limpahkan ke Abang saja dan jangan buat anakmu terbawa perasaan mu. Kamu bisa pahami itu dek?" tak lelahnya Bang Ranggi memberi pengertian untuk Hana.


"Iya Bang, Hana paham"


"Alhamdulillah.." Bang Ranggi mengusap tubuh Hana di sana sini. Kini Hana sudah benar-benar tenang dan ia berharap segala kepahitan di masa lalu tidak akan membuat Hana kambuh lagi.


...


"Ya Allah, Ranggiii..!!!!!" Bang Gazha menggoyang badan Bang Ranggi yang ambruk di tempat usai sholat di mushola rumah sakit. Matanya basah, terlihat sekali usai menangis. Tangannya mengepal kuat.


"Aku nggak apa-apa Bang" jawab Bang Ranggi lirih.


"Nggak apa-apa gundhulmu..!!! Dokter khan sudah bilang jangan lepas infus. Baru juga di lepas, kamu sudah merokok.. akhirnya drop lagi. Kalau kamu bisa jaga kondisi pasti kamu sudah bisa pulang" Bang Gazha terus saja mengomeli Bang Ranggi layaknya Abang yang begitu sayang pada adiknya. Dengan cekatan Bang Gazha meminta bantuan beberapa orang untuk membantunya membawa Bang Ranggi ke tempat yang lebih nyaman.


:


"Apa ini karmaku Bang, pacarku dulu banyak sekali" Bang Ranggi menggelinjang kesakitan hingga dirinya sendiri tidak paham dari mana sakit yang ia rasakan.


"Makanya jadi laki jangan keterlaluan."


"Sekarang Zahra dimana ya Bang?" tanya Bang Ranggi.


"Mau apa? kamu pengen di siram air comberan lagi sama orang tuanya?" bentak Bang Gazha. "Berani benar kamu cari Zahra. Kamu nggak lihat bagaimana keadaan Hana????"


"Aku cari dia bukan karena aku masih ada rasa. Nggak usah mikir macam-macam lah, aku sampai seperti ini karena mencintai Hana.. nggak mungkin ada Zahra lagi. Aku hanya berharap dia menemukan pria yang sesuai dengan hatinya. Gajiku tak mungkin cukup menyenangkan dia apalagi orang tuanya. Apalagi aku hanya membawa jantanku saja untuk putrinya" jawab Bang Ranggi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2