Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
37. Tragedi berdarah ( 1 ).


__ADS_3

Hana meletakan ponselnya usai mendapat kabar dari Bang Ranggi walaupun hanya sesaat saja ia mendengar suara suaminya itu. Gundah tentu ia rasakan, sudah satu setengah bulan ini ia menunggu Bang Ranggi, hanya ada dua kali kabar dan semuanya tidak lebih dari lima menit.


"Kapan Abang pulang?" gumam Hana saat melihat hari terus berjalan.


Hana melirik dari dalam rumah, Cherry sedang sibuk bermain dengan Bang Ares dan Mbak Dinar di rumah depan. Sedangkan ia hanya sendirian saja.


Malam semakin berlalu. Ia memilih beranjak ke dapur lalu memasak seadanya hanya untuk dirinya sendiri dan si kecil Cherry. Langkahnya sedikit berat, ia berjalan pelan meraba dinding.


//


"Kita langsung masuk saja di titik ini..!! Sampai kapan kita harus menunggu pergerakan yang tidak pasti" ucap Bang Ranggi saat ia berunding tentang penyergapan pemberontak yang tidak kunjung mendapat perintah penyerangan.


"Kau jaga sok pintar Ranggi. Apa kamu memang berniat untuk membangkang?" bentak Dan Ganda.


"Lalu sampai kapan kita disini tanpa kepastian. Amunisi pun akan habis sia-sia. Katanya kau ini tau tak tik tapi tidak mau gerak. Untuk apa kita bela negara ini kalau hanya akan berakhir seperti ini" kata Bang Ranggi kemudian mematikan alat penyambung komunikasi dengan pusat.


"Ijin arahan selanjutnya Dan..!!" tanya Serka Mahfud merasakan perundingan Dan Ranggi serta Dan Ganda yang alot.


"Serang sekarang juga, berondong, bom dan ratakan sampai habis..!! Saya tidak berunding lagi dengan si Ganda itu, saya sudah berunding dengan pihak pusat. Mereka hanya memberi kita waktu satu jam untuk meratakan medan. Setelah itu kita akan kembali pulang" Bang Ranggi langsung memberikan arahannya saat itu juga.


"Siaapp..!!!!!!"


***


Bang Ares pusing setengah mati memikirkan sang ibu yang terus saja mengancam dan merengek minta tambahan uang padahal dirinya dan Hana sudah memberi uang lebih pada ibunya itu.


"Punya anak semuanya durhaka, nggak bisa lihat orang tua senang. Dulu bapaknya yang nggak pernah menyenangkan istri, suka selingkuh.. sekarang anaknya nggak tau diri semua. Untuk apa kalian bertiga ibu besarkan kalau nggak pernah bisa membuat ibu senang" bentak ibu.


"Waktu kami memang terbatas untuk ibu, rejeki kami memang tidak seberapa banyak. Apalagi rejekiku juga untuk keluargaku Bu. Ibu istighfar.. jangan selalu bilang aneh-aneh. Kalau ibu tidak bisa tenang.. ibu akan hidup sebatang kara dengan jalan pikiran ibu sendiri" kata Bang Ares.

__ADS_1


Ibu tidak terima.. ia mematikan sambungan teleponnya. Dalam kepalanya terus berpikir apa yang akan ia lakukan untuk mendapatkan uang karena dirinya juga sedang terlilit hutang yang lumayan besar. Ia mengemasi barangnya dan segera pergi.


-_-_-_-_-_-


Hana celingukan melihat ke sekitarnya, tak ada ibunya disana. Tak lama ia mendapat pesan singkat untuk datang ke sebuah homestay.


"Ibu mau aku menjemputnya disana??" Hana bergumam lirih.


//


Bang Ranggi menyalakan ponselnya berniat untuk menghubungi Hana karena ia baru saja mendarat di kotanya usai penugasan.. tapi betapa terkejutnya ia melihat titik GPS Hana berada di homestay. Bang Ranggi segera menghubungi homestay tersebut.


"Cukur yang rapi rambutku bro.. istriku bisa pingsan lihat aku begini" pinta Bang Ranggi pada seorang ajudannya sambil memencet nomer telepon yang baru saja ia temukan di aplikasi.


"Siap Dan..!!"


"Hallo.. homestay kalimaya?"


-_-_-_-_-


"Ba_ang Hasdin? Abang disini?" Hana cemas dan takut melihat Bang Hasdin masuk ke kamar homestay dan mengunci pintunya.


"Mana ibu?" tanya Hana.


"Ibumu di cafetaria.. Abang ada disini karena ibumu juga" jawab Bang Hasdin.


"Hana.. bisakah kita berdamai? Abang ingin dekat dengan Cherry dan juga kamu. Apa yang Abang lakukan saat itu hanya demi kamu dan Cherry" kata Bang Hasdin.


"Sudah Bang, jangan bahas ini lagi. Hana mau pulang..!!" Hana menyambar tas nya dan beranjak dari kamar tapi tangan Bang Hasdin menariknya.

__ADS_1


"Abang sudah berusaha sabar dan bicara baik-baik sama kamu.. tapi kalau kamu sulit Abang tenangkan.. lebih baik Abang pakai cara kasar..!!" Bang Hasdin memanggul dan membanting Hana di atas ranjang.


Bang Hasdin melonggarkan Pakaiannya dan merobek pakaian Hana dengan kasar. Hana menjerit ketakutan sampai akhirnya Bang Hasdin membungkam bibirnya dengan bibirnya sendiri dengan kasar.


Hana memberontak sampai badannya terasa sangat sakit. Saking sakitnya ia bingung bagaimana caranya harus bergerak. Sebelah tangannya yang tidak terkungkung secepatnya meraba vas bunga di atas nakas dan menghantam kepala Bang Hasdin.


pyaaaaarr..


Mendapat hantaman keras, emosi Bang Hasdin semakin tersulut.. ia menampar Hana dengan keras. Darah menetes dari kepala di badan Hana. Bang Hasdin menampar pipi Hana sekuatnya.


"Kurang ajar kamu Hana, Abang akan memberimu hadiah yang berharga..!!" dengan brutalnya Bang Hasdin merobek sisa pakaian yang melekat pada tubuh Hana kemudian melepas sisa pakaiannya dan menindih Hana.


"Bang Ranggiiiiii..!!" teriak Hana dengan kuat saat dirinya masih bisa meronta.


"Suamimu yang sok berpangkat itu tak akan bisa menyelamatkan kamu. Hanya Abang saja yang bisa menyenangkan kamu saat ini" bentak Bang Hasdin.


"Jangan Bang..!! Hana mohon..!!" pinta Hana dengan wajah memar.


"Sekarang kamu bilang jangan. Angkuhmu sudah hilang? Kemana kesombonganmu saat kamu katakan istri Letda Ranggi Tanuja??" Bang Hasdin terus saja membentak Hana.


"Sekarang kamu harus rasakan bedanya Abang sama suamimu itu..!!!!!!"


"Abaaaanngg.. jangaaaaaaaann..!!!!!" pekik Hana saat Bang Hasdin berusaha menghujamkan diri pada tubuh Hana.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2