Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 25. Celaka dua belas.


__ADS_3

Pagi ini berjajar rapi Bang Khaja dan Bang Langsang di Batalyon. Hari ini pangkat mereka setingkat lebih tinggi.. dari Lettu menjadi Kapten. Danyon sudah menyematkan pangkat baru mereka di pundak. Ada rasa haru dalam hati mereka bisa mencapai pangkat tersebut.


Berdiri di hadapan mereka Naya dan Andin. Disana Andin lebih melow, ia menyeka air matanya ikut haru menyaksikan pangkat suaminya setingkat lebih tinggi. Perlahan air kembang mengucur dari puncak kepala membasahi tubuh Bang Langsang.


Selamat ya Pa, mudah-mudahan Papa mampu memikul tanggung jawab sebagai pemimpin yang amanah di pangkat yang baru ini." Andin mengecup kening Bang Langsang membuat Bang Langsang ikut tersentuh.


"Aamiin.. Terima kasih banyak Mama sayang. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada hadirmu di sini Ma" Bang Langsang luluh memeluk Andin. Entah kenapa perasaan nya ikut lemah, tidak sanggup berhadapan dengan sang istri.


Namun berbeda dengan Naya. Istri Bang Khaja itu melirik nakal penuh keisengan, Bang Khaja sudah ketar-ketir di buatnya. "Selamat naik pangkat.." ucapnya riang dan tak ada sedikitpun wajah sedih. "Abang nggak mau buat rencana ajak Naya kemana gitu???" tanya Naya.


"Seharusnya Abang yang di beri hadiah. Piye to?" Bang Khaja bersungut membuang nafas.


"Ya sudah, Abang mau minta apa?"


"Anak perempuan." jawab Bang Khaja.


"Abang nggak boleh milih. Ini khan anak Naya" kata Naya berkacak pinggang.


Bang Khaja menurunkan kedua tangan Naya agar terlihat lebih anggun. "Ya Allah, macam preman aja dek. Ini acara mandi kembang bukannya berdebat"


Naya mengambil gayung, memejamkan mata dan malah berkomat-kamit bagai makhluk pandai ilmu sihir. Tak berapa lama Naya menyiram puncak kepala Bang Khaja. "Jadilah pemimpin yang bijak, selalu jadi contoh yang baik untuk anggota Abang.. dan semoga Abang selalu sayang sama Naya dan Naya punya tas baru"


Awalnya hati Bang Khaja ingin melow, tapi kata terakhirnya membuat hatinya geli juga. "Nanti selesai acara Papa belikan" kata Bang Khaja.


"Yeeeyy.. terima kasih Papa" Naya mencium kening Bang Khaja kemudian memeluknya. "Naya punya tas baru lagi" ucap Naya.


Kini Bang Khaja melebarkan garis pipinya. Ia pahami arti rasa bahagia. Melihat istrinya bahagia, hatinya pun ikut bahagia.


...


Bang Langsang usai berganti pakaian, ia segera menyusul Andin di tenda yang sudah di persiapkan untuk acara ramah tamah para anggota. Sudah menjadi tradisi untuk makan bersama dan acara bebas jika ada anggota yang naik pangkat.


"Sudah makan dek?" tanya Bang Langsang.


"Belum Bang, malas" jawab Andin.


"Abang ambilkan ya, kita makan sama-sama..!!"


"Andin nggak selera makan Bang, rasanya mual"


"Kasihan dedek donk sayang, dia pasti juga lapar. Mau ya.. beberapa suap saja" bujuk Bang Langsang.


Andin pun akhirnya mengiyakan.


:


"Sedikit lagi..!!"


"Nggak Bang, Andin mual, bau nasi" ucapnya sambil menutup mulut dengan kedua tangan.


Benar saja. Andin berdiri kemudian meninggalkan meja menuju toilet. Bang Langsang segera mengikuti langkah Andin.


~


"Lagi??"


"Iya Bang, es buah" pinta Naya.


"Siap Bu Boss" Bang Khaja segera berdiri mengambilkan Naya es buah. Istrinya itu doyan makan apapun tanpa penolakan. Badannya pun semakin berisi setelah melewati masa kesal melihatnya.


Saat mengambil es buah, Bang Khaja melihat Bang Langsang dalam paniknya mengurus Andin yang tengah mual di toilet. Ingin rasanya membantu tapi sang istri sedang menunggunya di meja dengan gelisah.


Nanti dulu lah, mumpung Naya mau makan banyak.


~

__ADS_1


Andin ambruk memeluk Bang Langsang, badannya lemas tak bertenaga.


"Madya...tolong buka ruang kesehatan..!!" pinta Bang Langsang pada Bang Madya yang juga sedang melintas di sekitar toilet.


"Siap Dan..!!" Bang Madya berlari menuju ruang kesehatan sedangkan Bang Langsang menggendong Andin.


:


"Sebaiknya di panggil saja dokternya Dan, ibu lemas sekali" saran anggota kesehatan lapangan.


Bang Langsang segera mengambil ponselnya dan menghubungi Bang Pratama seniornya. "Ijin Bang, bisa saya minta tolong..!!"


...


"Mabuk ini wajar Lang, mual awal kehamilan.. tapi kalau berlebihan begini namanya hyperemesis gravidarum."


"Bahaya nggak Bang?" tanya Bang Langsang.


"Jika bumil berhari-hari terus tidak mau makan dan memuntahkan makanan berarti tanda bahaya Lang. Andin butuh tenaga tapi asupan makanan tidak ada."


Bang Langsang sudah cemas bukan main. Hatinya resah memikirkan Andin dan calon buah hatinya.


"Perhatikan sampai besok ya Lang. Kalau Andin tetap tidak mau makan.. segera bawa ke rumah sakit, terpaksa harus di rawat inap..!!" perintah Bang Pratama.


"Siap Bang..!!"


...


Sudah dua jam lamanya Andin mendapatkan pertolongan dari cairan infus dan perlahan kondisinya sedikit membaik.


"Makan ya..!!" Bang Langsang mengambil kesempatan saat Andin mulai terlihat sehat. Beberapa saat yang lalu ia sudah membeli bubur ayam yang biasa mangkal di depan koperasi Batalyon.


Andin mengangguk, Bang Langsang membuka bungkusan bubur ayam lalu menyuapi Andin.


Satu suap, dua suap, tiga suap Andin masih mampu menelan makanan. Tapi tiba suapan ke empat, Andin sudah mulai kembali mual. "Sudah ya Bang..!!"


"Andin terlalu mual Bang" jawab Andin.


Bang Langsang mendesah resah, tapi semua ini lebih baik daripada satu sendok pun tak ada yang masuk ke dalam perut Andin meskipun bubur mungkin juga tak memberikan tenaga apapun untuk Andin.


"Ya sudah, istirahat sebentar lagi ya. Satu jam lagi kalau sudah semakin sehat.. kita pulang"


"Iya Bang"


...


Hari menjelang malam, Andin sudah merasa lebih baik dari keadaan sebelumnya. Acara kenaikan pangkat sampai harus terlewat karena Andin tidak enak badan.


"Maaf ya Bang, gara-gara Andin Abang jadi nggak ikut kegiatan" kata Andin merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa. Hal sepele begini bukan masalah besar" jawab Bang Langsang.


Tak berapa lama, Bang Khaja datang dengan menggandeng Naya untuk menjenguk Andin. "Piye Lang?"


"Ya begini aja Bang, ini sudah lebih baik daripada tadi siang."


"Apa kata Bang Pratama?" tanya Bang Khaja.


"Kalau besok masih belum stabil ya di rawat inap" Bang Langsang tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


Naya mengusap perut Andin. "Sehat-sehat ya keponakan Mama Naya, besok kalau sudah lahir.. kita main sama-sama"


Andin tersenyum mendengarnya. "Iya Mama Naya" jawab Andin berusaha melebarkan senyumnya.


~

__ADS_1


Di tempat lain. Bang Huda berjalan menuju ruang kesehatan Batalyon, tak sengaja dirinya berpapasan dengan Ayu.. adik Bang Khaja dan Bang Langsang.


"Permisi Om.. ruang kesehatan Batalyon dimana ya?" tanya Ayu.


"Itu disana. Saya juga mau kesana" jawab Bang Huda. "Kalau boleh tau, mbak mau bertemu dengan siapa ya?" Bang Huda masih sopan berinteraksi dengan Ayu.


"Mau ketemu pacar saya"


Ketus sekali.. Pacar siapa dia?


Bang Huda mengerutkan keningnya. "Siapa ya?" tanya Bang Huda karena di ruang kesehatan itu hanya ada Bang Khaja, Bang Langsang dan dua orang ajudan Bang Langsang.. Sumadi dan Madya.


"Bang Langsang" jawab Ayu ketus sambil melenggang pergi.


Secepatnya Bang Huda menggapai tangan Ayu. "Heehh.. jangan macam-macam kamu. Kapten Langsang sudah punya istri, istrinya pun juga sedang hamil..!!"


Melihat wajah garang Bang Huda, timbul rasa usil dalam hati Ayu. "Aku harus kesana Om.."


"Jangan.. istri Kapten Langsang sedang sakit. Kalau kamu ada keluhan.. bisa sampaikan langsung pada saya.. saya akan menyampaikannya nanti..!!" kata Bang Huda memberi jalan tengah.


"Aku hamil, mau minta tanggung jawab nya" jawab Ayu memasang wajah cemas dan sendu.


"Astagfirullah hal adzim" Bang Huda mengusap wajahnya. "Siapa namamu?? Saya hubungi Langsang dan kita selesaikan masalahmu secara tertutup" ucap tegas Bang Huda.


"Katakan saja wanita kesayangannya yang semalam menemuinya" jawab Ayu.


//


"Apa sih maksudmu??"


"Ada seorang gadis mau menemuimu. Dia bilang hamil anakmu. Cepat kamu kesini, di samping gudang senjata..!!" kata Bang Huda.


Sungguh kaget Bang Langsang sampai ponselnya terlepas dari tangan, ponselnya sudah ia mode loud speaker hingga pastinya terdengar Bang Khaja, Naya dan pastinya Andin sendiri..


Andin memalingkan wajahnya, tangisnya pecah hingga sesak mendera.


"Andin.. sayang.. dengar Abang dulu dek..!!" bujuk Bang Langsang seketika panik.


Lebih kacau lagi ternyata Papa Ranggi dan Opa Rico masuk ke dalam ruangan karena berniat menjemput kedua menantu kesayangan.


"Benar itu Langsang??? Kamu main gila dengan perempuan lain??" bentak Papa Ranggi.


"Nggak Pa, demi Allah. Aku nggak tau dia siapa" jawab jujur Bang Langsang.


"Lang.. Andin pingsan" kata Bang Khaja menepuk pipi Andin.


"Kamu ini memang keterlaluan. Pikirannya hanya perempuan dan perempuan saja..!! Otak bejat"


plaaakk.. buuugghhh..


Bang Langsang tumbang merasakan tendangan kuat dari Papa Ranggi.


"Hhgg.. Sumpah mati, aku nggak selamat kalau sampai selingkuh, demi Allah aku nggak main perempuan."


Tak lama berselang ada keributan di luar ruangan, Bang Khaja segera melihat keadaan di luar.


"Ada apa ini??" tegur Bang Khaja.


"Perempuan ini.. yang bilang hamil anak Langsang." jawab Bang Huda.


"Astagfirullah.. Ayuuuuu..!!!!!!!!!!" Bang Khaja ikut emosi merasakan tingkah Ayu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2