Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
39. Berdamai dengan keadaan diri.


__ADS_3

Meskipun Hana sedang tak ingin berdekatan dengannya.. Bang Ranggi tak patah arang. Ia tetap membujuk Hana dan memeluknya.


"Ini Abang sudah pulang. Adek nggak senang kah lihat Abang pulang??" bujuk Bang Ranggi sembari memeluk Hana. Ingin rasanya air mata itu tumpah, tapi ia sadari.. jika dirinya pun ikut lemah, maka rumah tangganya akan goyah.


//


"B*****t.. apa maumu sebenarnya?????? Kenapa tindakanmu semakin tidak terkontrol Hasdin?????" bentak Bang Ares.


Saat itu Bang Ares baru menyadari ada bau alkohol yang sangat menyengat dari badan Bang Hasdin.


"Ya Tuhan.. lebih baik kau mati saja Has..!!" Bang Ares sudah terbakar emosi sampai akhirnya beberapa anggota harus memisahkan Bang Ares dari Bang Hasdin.


"Kau tau sendiri.. Ranggi bukan orang sembarangan. Kau bisa mati berurusan dengan Ranggi"


"Aku tidak takut" jawab Bang Hasdin tertawa terbahak karena dirinya masih dalam pengaruh alkohol.


"Ijin Dan.. ponsel Pratu Hasdin sudah selesai di periksa" lapor seorang anak buah.


"Apa hasilnya?" tanya Bang Ares.


"Dari keterangan POM.. seperti ini Dan" anggota tersebut menyerahkan sebuah berkas rahasia pada Bang Ares.


"Astagfirullah..!!" kaki Bang Ares terasa lemas bagai tak sanggup berpijak. Wajahnya pias dan perasaannya begitu terpukul.


-_-_-_-_-


Malam di rumah sakit.


"Kau pulang dulu bro, ganti bajumu, makan dan istirahatlah.. biar aku dan Dinar jaga Hana disini" kata Bang Ares.


Memang sekembalinya Bang Ranggi dari penugasan, sama sekali littingnya itu belum melapor pada dinas.


"Kalau Dinar yang mengalami hal seperti ini apa kamu sanggup makan dan istirahat?" tanya Bang Ranggi.


"Aku paham.. Setidaknya kau perhatikan kesehatanmu juga..!! Bagaimana lukamu?"


"Lebih baik badanku yang remuk daripada aku harus melihat Hana seperti ini" jawab Bang Ranggi.

__ADS_1


"Apa kata dokter?" tanya Bang Ares.


"Hana hamil Res" jawab Bang Ranggi.


Mendengar itu, Bang Ares cukup syok. Banyak yang ia cemaskan. Terutama Hana yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Anakku" ucap Bang Ranggi kemudian.


"Aku nggak mau semuanya akan berakhir menyakitkan Rang. Jika memang hatimu sudah bukan untuk Hana lagi, lepaskan dia.. biar aku yang akan menjaganya" kata Bang Ares lebih berhati-hati.


"Apa maksudmu?? Apa dengan kata lain kau percaya bualan tikus sawah itu?" Bang Ranggi kembali terpancing emosi mendengar ucapan Bang Ares.


"Bukan begitu Rang.. aku hanya berjaga saja, takut hal buruk terjadi pada Hana untuk kesekian kalinya. Seburuk apapun itu.. Hana tetap adikku Rang..!!!" jawab Bang Ares.


Bang Ranggi menghampiri Bang Ares, ia langsung menarik kerah pakaian Bang Ares, seketika itu juga Dinar histeris. Bang Ares pun meminta Dinar untuk duduk dengan tenang agar Ranggi bisa sedikit mengontrol emosinya juga di hadapan wanita, apalagi kini Dinar tengah hamil besar.


"Istriku tidak sehina yang kau kira. Kalau kamu tidak percaya benih yang sedang tumbuh di rahim Hana adalah hasil kerja kerasku untuk Hana.. biar aku saja yang mengakuinya.. kau jangan pernah ikut campur masalah rumah tanggaku..!!" ucap keras Bang Ranggi, matanya memerah menahan marah.


Bang Ares segera memeluk Bang Ranggi. Memang sulit meredakan emosi sahabatnya itu dan ia sangat memahami perasaan Ranggi saat ini.


"Kau jangan banyak bicara Res, sekali kau menyinggung Hana.. aku tak akan peduli sekalipun kau kakak iparku" jawab Bang Ranggi kemudian menyangga tubuhnya pada ranjang Hana. Untuk kesekian kalinya tubuhnya lemas. Bang Ares pun sigap mengarahkan Bang Ranggi untuk duduk.


"Tolong ambilkan minum dek. Ranggi lemas banget ini" pinta Bang Ares.


Dinar segera sigap mengambilkan botol air mineral dan menyerahkan pada Bang Ares. Dengan cepat suami Dinar itu mengangsurkan air minum untuk Bang Ranggi.


"Abang jangan marah lagi sama Bang Ares ya" ucap Dinar lumayan cemas melihat ketegangan Bang Ranggi dan Bang Ares tadi.


Bang Ranggi sedikit menyunggingkan senyumnya tanda dirinya sudah lebih berdamai dengan Bang Ares.


"Maaf ya Dinar. Sikap Abang sudah membuatmu takut. Lain kali Abang janji akan lebih belajar untuk mengontrol emosi"


"Iya Bang"


Tak lama berselang, Hana mulai terbangun. Sosok yang pertama ia lihat adalah Bang Ranggi. Ketakutannya mulai kembali.


"Kalian duduklah di sofa. Biar aku yang bicara sama Hana..!!" pinta Bang Ranggi.

__ADS_1


Bang Ares dan Dinar duduk di sofa kamar rawat Hana. Bang Ranggi menutup tirai dengan rapat. Badan Hana gemetar tapi Bang Ranggi tetap menyunggingkan senyumnya. Ia mengucap salam dalam hati.


"Hai cantiknya Abang, sudah enakan badannya?" sapa Bang Ranggi.


Hana mengangguk pelan tapi ia bergerak mundur saat Bang Ranggi mendekatinya. Bang Ranggi dengan sigap mengunci sisi ranjang agar Hana tidak terjungkal ke belakang.


"Abang naik ya..!! Ranjangmu khan besar, Abang capek sekali nih sayang" perlahan Bang Ranggi naik ke atas ranjang Hana kemudian setengah memeluknya dan perlahan mengajak kembali merebahkan diri di ranjang.


Tubuh Hana semakin gemetar, Bang Ranggi pun mengangkat dagu Hana agar dapat menatap wajahnya juga.


"Lihat baik-baik sayang.. ini suamimu. Apa yang kamu takutkan? Terbukalah dan bicara sama Abang..!! Abang akan dengarkan semuanya. Tolong jaga kandunganmu ini dek..!!" kata Bang Ranggi. Ia tak peduli ada Bang Ares disana, yang ia tau hanya senyum Hana bisa kembali lagi.


"Hana.. bukan sengaja untuk bertemu dengan Bang Hasdin. Hana juga nggak pernah mengkhianati Abang selama Abang bertugas. Hana.. nggak tau kenapa Hana bisa hamil" jawab Hana mulai terisak, terlihat sekali Hana sangat ketakutan.


"Cckk.. ada-ada saja kamu ini. Kamu hamil karena Abang lah." ucap Bang Ranggi paham ketakutan Hana saat ini.


"Abang sudah tau bagaimana kamu bisa sampai homestay itu. Jangan banyak pikiran lagi. Abang tidak permasalahan semua itu. Abang hanya tidak mau sampai ada apa-apa sama bayi kecil ini"


"Kenapa Bang? Kenapa Abang masih mau bertahan dengan keadaan kita yang seperti ini? Abang tau khan.. seburuk apa Hana??" Hana histeris merasakan perhatian Bang Ranggi.


"Abang bukan dewa, juga bukan malaikat yang tidak pernah berbuat salah dan bukan manusia paling suci di muka bumi. Jalan pikiran Abang juga tidak selalu lurus, banyak kelakuan Abang yang sama sekali tidak bisa di banggakan. Pantaskah Abang menuntutmu untuk selalu sempurna padahal yang kamu alami hanya sebuah musibah. Hal yang tidak pernah kamu minta dalam hidupmu?" jawab Bang Ranggi.


"Abang tidak kecewa?" tanya Hana.


"Sangat dek. Amat sangat, bahkan Abang teramat sangat menyesal.. tapi bukan karena kamu. Abang menyesal dan kecewa pada diri sendiri. Abang suamimu, tapi tidak bisa menjagamu." suara Bang Ranggi terdengar mulai bergetar. Sekuat apapun dirinya.. dirinya tetaplah manusia biasa.


"Terima kasih banyak atas segala usahamu untuk menjaga kehormatan diri. Apapun itu, sudah Abang lupakan.. Abang ikhlas lahir batin menyayangimu. Abanglah yang pantas mati, tidak becus menjagamu" Bang Ranggi menciumi wajah Hana kemudian memeluknya, tak pernah ia tampak kan air mata dari hati yang penuh luka. Segalanya hanya pihak rumah sakit, dirinya dan Tuhan saja yang tau tentang bagaimana keadaan Hana saat ini.


Bang Ares bersandar lemas di sofa, rasanya hampir pingsan merasakan nasib Hana. Dadanya terasa sesak, tangannya mengepal kuat.. dilema harus memutuskan segala yang terbaik bagi keluarganya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2