
Harap kebijakan dalam membaca..!!
🌹🌹🌹
Pihak POM datang ke Batalyon dan mengamankan Bang Herman, tapi karena perkelahian tersebut.. Bang Ranggi pun juga mendapatkan sanksi.
"Kamu yakin mau menjebloskan Herman ke penjara? Dia kakak iparmu" tanya Dan Vian.
"Siap Dan.. yakin" jawab Bang Ranggi.
Dan Vian menepuk bahu Bang Ranggi. "Maaf.. terpaksa kamu harus mendapatkan sanksi disiplin agar memberi contoh pada bawahanmu meskipun kamu juga tidak sepenuhnya salah" kata Dan Vian.
"Siap komandan.. saya mengerti"
...
Bang Ares duduk berhadapan dengan Bang Herman.
"Kamu lihat.. Ranggi berani menjebloskan Abang ke tahanan militer. Apa pantas adik ipar berlaku seperti itu? Abang punya anak istri. Pikirkan kakak ipar dan keponakanmu..!!"
"Kurasa Ranggi pantas melakukannya Bang, untuk apa membela Abang sepertimu. Hana sudah bahagia bersama Ranggi dan sebentar lagi buah hati mereka akan lahir." kata Bang Ares.
"Ranggi bukan pria yang baik, dia temperamen."
"Apa bedanya denganmu Bang? Ranggi memang temperamen tapi dia tidak pernah menyakiti Hana dengan tangannya yang kekar meskipun ia mungkin mampu melakukannya dan ia juga tidak pernah melecehkan Hana sekalipun saat itu Ranggi belum menikahi Hana dan sedang mengalami tingginya nafsu seorang pria" ucap keras Bang Ares.
Bang Herman terdiam mendengar ucapan adiknya. Memang saat muda dulu dirinya pernah khilaf memperlakukan Hana dengan sangat buruk dan kasar.
"Tapi bukan berarti kau bisa melangkahiku"
"Dan bukan berarti kau bisa membenarkan segala tindakanmu Bang. Hana juga adikku. Kau pikir hatiku tidak hancur melihat dia kau siksa seperti itu" jawab Bang Ares mengunci ucapan Bang Herman. "Sudahlah, restui mereka..!! Ada nyawa kecil, darah kita dalam rahim Hana"
...
Bang Ares menemui Bang Ranggi yang baru saja di tenangkan oleh Dan Vian. Perasaannya juga tak menentu harus terjadi hal seperti ini dan ia tau pasti Ranggi amat sangat marah hari ini.
__ADS_1
"Aku minta maaf..!!" kata Bang Ares merasa tidak enak.
"Aku ini juga bukan laki-laki yang baik, tapi aku tidak gila seperti Abangmu" jawab Bang Ranggi masih menyimpan emosi.
"Iya Rang.. aku minta maaf"
"Apa kau pikir.............." ucapan Bang Ranggi terpotong karena tiba-tiba saja ponsel nya berdering. "Cckkk.. si demplon telepon lagi" gerutu Bang Ranggi kemudian segera mengangkat panggilan teleponnya.
"Abang kemana????" tanya di seberang sana.
"Masih di kantor nih sayang, sebentar lagi pulang. Ada pekerjaan yang belum bisa di tinggal" nada suara Bang Ranggi tiba-tiba melunak dan terdengar begitu lembut. Tak ada yang menyangka bahwa pria satu itu baru saja membuang suara petirnya.
"Pulang Bang..!!" pinta Hana.
"Iya Neng, sebentar lagi Abang pulang. Sudah kangen Mas Ranggi ya?" goda Bang Ranggi tak sengaja melupakan kehadiran Bang Ares dan Komandan pusat daerah disana.
"Iya.. adek kangen" jawab Hana tak kalah manjanya.
Refleks Bang Ranggi berdiri dan mengemasi barangnya di atas meja, seulas senyum nakal terbersit menghias raut wajahnya.
"Siap salah Komandan" Bang Ares mendahului meminta maaf daripada satu litting harus tercatat tinta merah perihal kesopanan akibat Bang Ranggi yang sedang di mabuk cinta.
"Sudahlah, saya maklumi.. saya juga pernah muda. Lagipula siapa yang mau menandingi emosi macan si Ranggi Tanuja itu. Mungkin hanya Hana saja yang bisa membuatnya tenang" Dan Vian menggerutu sendiri seperti orang berkumur.
"Siap..!!"
...
Hana melihat tangan Bang Ranggi menyimpan sedikit luka.
"Itu jari Abang kenapa ada luka?"
"Kurve lah sayang" jawab Bang Ranggi enteng sambil berusaha mencari kesempatan untuk menyisir bibir manis Hana.
"Masa kurve lukanya begitu?" tanya Hana lagi.
__ADS_1
"Terus harus bagaimana lukanya? Apa mau lihat luka di hati Abang karena merindukanmu??"
"Iisshh.. Abang nih sok romantis" Hana memalingkan wajahnya.
"Abang memang romantis lho yank. Banyak perempuan yang tergila-gila sama Abang. Kamu saja yang jual mahal" kata Bang Ranggi terus memepet Hana. Agaknya kali ini ia lebih sulit mengendalikan diri.
Hana mengalungkan kedua tangan ke belakang leher Bang Ranggi lalu mengecup bibirnya yang suka berucap nakal menggodanya. "Hana obral khusus buat Abang"
Mendengar itu naluri pemburu Bang Ranggi semakin tertantang, batin dan pikirnya berperang.
Astagfirullah hal adzim.. apa aku harus kalah dengan ujian seperti ini? Dulu sebanyak apapun wanita menggodaku, aku bisa tahan meskipun nyaris goyah.. tapi soal Hana, kenapa ribuan kali terasa sulit? Pertahanan ku hanya satu centimeter di depan mata. Kalau kulanjutkan, anak istri taruhannya tapi kalau tidak.. vertigo lah sudah. Tuhan.. apakah ini rasanya ikatan batin setelah pernikahan?? Dimana aku hanya menginginkan dan mengharap kehangatan dari pasangan halalku dan tanpa beban melampiaskan nafsu dan mencurahkan rasa rindu.
"Abang nggak mau ya? Nggak kangen sama Hana?" tanya si cantik Hana memasang raut wajah yang semakin membuat Bang Ranggi tak tahan.
"Kangen banget, tapi Abang nggak mau ambil resiko hanya karena Abang ceroboh. Hanya demi sebutir kacang bawang akhirnya jadi bumbu pecel yang pedas. Abang rela nunggu dan Abang akan tabung rasa kangen ini sampai mendekati di Terong Belanda lahir" jawab Bang Ranggi.
"Tapi Hana kangeeen..!!"
Bang Ranggi menyentil lembut kening Hana. "Harusnya kamu bantu Abang yang mati-matian berjuang menjagamu, bukannya malah semakin menantang minta di serang. Kalau Abang sudah nggak bisa tahan lagi, apa kamu siap meladeni Abang? Kamu tau sendiri bagaimana cara main Abang. Siap teler besok pagi???" jawab Bang Ranggi mengingatkan.
"Kalau nggak mau.. kenapa tangannya daritadi nggak bisa diam?" tegur Hana. "Hmm.. Abang juga tegang banget" suara Hana mendayu manja namun terdengar lembut.
"Astagfirullah.. Lailaha Illallah.." secepatnya Bang Ranggi mengusap wajahnya dan beranjak dari atas tubuh Hana.
Hana ikut duduk dan memeluk Bang Ranggi, ia menyandarkan diri di punggung 'Papa Cherry' itu.
"Waduuuh dek.. kowe iki nggudo tenan kok." gerutu Bang Ranggi merasakan dirinya sudah tak aman lagi.
.
.
.
.
__ADS_1