
"Baik Dan.. saya mengaku salah. Saya sudah kalah. Saya akan menerima hukuman apapun sebagai sanksi atas perbuatan saya." ucap Bang Hasdin pasrah pada Bang Ranggi.
"Baiklah kalau itu mau mu" Bang Ranggi tidak mengambil kesempatan pada orang yang sudah tidak berdaya.
"Richiii.. tolong panggilkan anggota pom. Saya mau buat BAP" kata Bang Ranggi.
:
"Kenapa Abang mengambil keputusan sepihak. Citra nggak mau Abang di pecat" teriak Citra.
"Abang salah dek, sudah menelantarkan anak dan istri. Abang pantas menerimanya." jawab Bang Hasdin.
"Kalau Abang di pecat, siapa yang akan menghidupi Citra? Siapa yang akan menafkahi anak ini????"
"Kamu jangan cemas, Abang bisa kerjakan apapun.. yang penting halal dek." Bang Hasdin mencoba menenangkan Citra.
"Nggak Bang, kalau Abang tidak jadi tentara lagi.. lebih baik kita pisah" ucap Citra kemudian berlari meninggalkan ruangan.
"Citraaa.. jangan lari dek..!!!!!" teriak Bang Hasdin.
"Kejar dulu. Selesaikan masalah mu..!!" perintah Bang Ranggi.
"Siap.. tidak..!!" tolak Bang Hasdin.
"Kejar..!! Jangan sampai kamu mengulangi kesalahanmu untuk kedua kalinya..!!!"
Mendengar itu, Bang Hasdin segera berlari.
:
"Apapun yang terjadi.. kamu dan anak kita tetap tanggung jawab Abang. Abang akan lakukan apapun asal kalian bahagia..!!" kata Bang Hasdin.
"Ceraikan Citra..!!! Sekarang kamu tak punya daya apa-apa Hasdin. Kamu hanyalah sampah" bentak Dan Ganda.
Kini Bang Hasdin baru menyadari kekeliruannya. Ia sudah kehilangan Hana sekaligus Cherry putrinya. Hanya Citra yang tersisa dalam hidupnya.
"Tidak.. sampai kapan pun saya tidak akan mengucapkan kata itu lagi" bantah Bang Hasdin.
"Hajar dia..!!!!" perintah Dan Ganda.
"Diam di tempat kalian atau kejadian hari ini akan saya laporkan pada atasan..!!!" ucap Bang Ranggi.
"Kau lagi..!! Pria bermasa depan suram" ledek Dan Ganda.
"Cckk.. Mau ku panggil bapak tapi bau tanah, mau ku panggil komandan.. juga tak pantas. Harus ku panggil apa rupanya setan belang ini" gerutu Bang Ranggi dengan gaya khas nya.
"Kamu berani mengatai ku???" tanya Dan Ganda tersulut emosi.
"Anda merasa????" Bang Ranggi balik bertanya dan memasang wajah sok kalem.
"Jangan cari perkara Ranggi..!!" bentak Dan Ganda.
"Dan kau tua bangka sialan.. Jangan pernah menyentuh keluargaku lagi. Terutama istriku.. atau rahasia busukmu akan membuatmu tersungkur di jalanan" raut wajah tenang Bang Ranggi saat itu sudah berubah penuh ancaman.
"Perbanyak ibadahmu saja..!!! ingat cucumu. Apa kau tidak malu jika kelakuamu di tiru?" Bang Ranggi melenggang pergi dengan gagah.
__ADS_1
...
Setelah sekitar dua jam, urusan Bang Ranggi sudah selesai. Ia hendak membuka pintu mobilnya tapi ada tangan lembut yang menyentuhnya.
"Citra mau bicara sama Abang"
Bang Ranggi memutar pergelangan tangannya. Kini setelah dirinya menikah, rasanya begitu risih berinteraksi dengan wanita.
"Saya tidak punya banyak waktu, istri saya sedang menunggu" jawab Bang Ranggi yang jelas lebih tampan dengan kaca matanya.
"Biasakah Abang tidak menuntut Bang Hasdin?" tanya Citra.
"Sebelumnya saya ingatkan. Saya ini masih atasan suamimu"
"Aahh.. eghmm.. Iya Pak Ranggi.. maaf"
"Saya tidak bisa menarik ucapan saya. Perbuatan suamimu.. tidak bisa saya maafkan" jawab Bang Ranggi.
"Tapi saat itu Abang sedang dalam pengaruh alkohol, dia tidak benar-benar menyadari perbuatannya" kata Citra mencoba mencari pembelaan untuk Bang Hasdin.
"Kalau saya menyetubuhi kamu dengan paksa, apa kamu bisa menerimanya???" ucap keras Bang Ranggi.
"Kalau itu bisa membebaskan suami ku, aku ikhlas" jawab Citra tanpa takut.
Cukup kaget Bang Ranggi mendengar jawaban Citra.
"Kau gila.. ini benar-benar gila. Baiklah.. mungkin kamu mau, tapi maaf.. selera saya hanya Hana. Permisi..!!!" Bang Ranggi bergegas pergi dan menjauh dari hal yang berhubungan dengan keluarga Dan Ganda.
~
...
Hana masih meringis merasakan perutnya yang terasa sakit.
"Belum reda kah sakitnya sayang?" tanya Bang Ranggi.
"Masih sakiit Bang" jawab Hana.
"Apa yang kamu pikirkan? Bilang sejujurnya sama Abang..!!" pinta Bang Ranggi.
Hana hanya menatap wajah Bang Ranggi dengan cemas, bibirnya masih terkunci seakan tertutup dan sulit untuk bicara.
"Kenapa masih diam?" Bang Ranggi semakin cemas dengan keadaan Hana.
"Abang tau mungkin hatimu kecewa, tapi si kecil kita tidak salah. Kamu masih punya Abang. Menikah itu.. aku dan kamu menjadi satu, kita selesaikan semua masalah bersama.. bukan memendam masalah sendiri." kata Bang Ranggi.
"Apa.. ini anak Abang?" tanya Hana.
"Apa maksudmu? Jelas anak Abang lah dek"
Perlahan ia mengambil ponselnya dan menyerahkan pada Bang Ranggi.
Bang Ranggi menerima dan membacanya kemudian beristighfar mengusap wajahnya.
"Astagfirullah hal adzim"
__ADS_1
Mata Hana masih menatap wajah Bang Ranggi.
"Satu kali kita melakukannya, kalau memang Allah berkehendak.. ya pasti akan jadi juga dek. Mungkin saat itu pertolongan obat setan mu manjur, badan Abang sedang fit dan kamu dalam masa subur. Siapa yang bisa menolak kalau si kecil sudah pengen main sama Papanya" jawab Bang Ranggi.
"Tapi waktu itu kita selesai lebih cepat Bang" Hana sangat takut, pikirannya tidak bisa stabil.
Bang Ranggi tak tau lagi bagaimana harus menjelaskan pada Hana yang terbilang 'tidak pintar' dalam masalah ranjang. Jika ia terus membahas hal ini, pikiran nya akan menerawang karena hanya dirinya sebagai pria yang bisa merasakan setiap proses penyaluran hasratt hingga ke titik akhir.
"Baaang..!!"
"Cckk.. apa sih kamu dek" Bang Ranggi seolah menghindar tapi Hana masih menyimpan wajah menuntut.
"Apa ini bukan anak Abang?" tanya Hana.
"Ya Tuhan.. Abang getok juga kepalamu ya dek..!! Bukan main pertanyaanmu ini. Isi kepalamu geser kemana dek? Si kecil saja usia 9 Minggu, apa saking keenakan.. kamu hilang ingatan?? Siapa yang waktu itu keenakan duluan?? Waktu kamu dorong Abang.. itulah prosesnya. Abang malah dapat ampasnya doank" jawab Bang Ranggi kesal.
"Benar Bang??" tanya Hana lagi.
"Hmmm.."
"Terus kenapa ibu minta Hana gugurkan kandungan? Dan kenapa saat Hana tanya Bang Hasdin.. Bang Hasdin juga membenarkan" Hana yang polos tak juga paham situasinya.
Bang Ranggi meletakkan ponsel Hana. Ingin rasanya menjawab dengan jujur, tapi bibirnya seakan terkunci.
"Karena ibu sakit jiwa.. Hasdin mengambil keuntungan karena ingin mendapatkan perhatian mu lagi. Pintarlah sedikit Hana" Bang Ares yang baru muncul langsung menjawab pertanyaan Hana karena ia tau Bang Ranggi tidak akan sanggup mengungkap hal tentang ibu mertuanya di hadapan Hana yang sedang terguncang.
Air mata Hana menetes. Ia teringat sosok ibunya.
...
"Hana sudah pernah depresi, jadi masa pemulihan ini masih akan terus berlanjut. Menurut rekam medis yang saya baca.. juga latar belakang hidupnya, wajar jika Hana sampai seperti ini. Tanpa sosok bapak, ibu yang juga sakit mental, yang sering memukul dan melontarkan kata-kata kasar.. jelas saja akan membentuk perasaan yang tidak stabil. Kakak pertamanya pun tak pernah 'merangkulnya' " kata dokter kejiwaan.
"Apa ini termasuk penyakit serius dok?" tanya Bang Ranggi di dampingi Bang Ares.
"Ini bukan penyakit dan bisa sembuh asalkan dukungan dari keluarga juga di maksimalkan." jawab dokter.
Bang Ranggi melirik Bang Ares sebab ia pun terlupa, belum pernah menanyakan perihal Abang Hana yang satu lagi.
:
"Abangku itu memang galak, aku juga sering di hajarnya. Tapi mungkin Hana berbeda.. dia khan perempuan" kata Bang Ares.
"Dan kau diam saja?????" tanya Bang Ranggi.
"Terakhir saat Abangku bertindak buruk, dan itu di depan mataku.. aku tidak lagi diam. Saat itu aku baru sadar ternyata Hana tidak pernah bohong" jawab Bang Ares.
"Dia apakan Hana???????"
.
.
.
.
__ADS_1