
Mobil sudah berhenti di depan UGD. Bang Ranggi mengangkat Hana menuju UGD.
"Waahh.. istrimu mau lahiran Rang??" tanya Bang Joy.
"Siap Bang..!!"
"Kok bisa? Langsung ke ruang bersalin saja, dorong pakai kursi roda..!!"
:
"Sebenarnya nggak apa-apa juga sih kalau usia kehamilan sudah besar begini. Hanya saja.. kamu pakai perasaan nggak?"
Bang Ranggi terdiam dan Bang Joy pun memahami diamnya Bang Ranggi sudah menjawab segala pertanyaan nya.
Bang Joy memeriksa kandungan Hana di layar USG. "Sejak kapan air ketubannya rembes?" Bang Joy menanyai Hana.
"Tidak ingat dok. Mungkin sejak sakit semalam" jawab Hana.
"Kalau sakit kenapa nggak bilang?" Bang Ranggi mengusap rambut Hana. "Sesudah atau sebelum?"
"Kedua kalinya Bang"
Marah pun rasanya tiada guna. Bang Ranggi menarik nafas dalam-dalam. Jelas saja dirinya menyesal bukan main. "Kalau sudah begini bagaimana? Kamu buat Abang serba salah dek"
~
Papa Yudha bersiap menyusul usai kegiatan, tepat saat itu mobil Ayah Rico datang.
"Bang.. mau kemana?" teriak Ayah Rico dari dalam mobil sambil memakai bando berwarna pink yang di sodorkan Cherry.
"Ke rumah sakit. Menantumu tadi pingsan" jawab Papa Yudha.
"Ya Allah Bang, kenapa sampai pingsan segala??" Ayah Rico terlihat sangat mencemaskan menantunya.
"Abang juga nggak tau, ayo kita kesana lihat sama-sama"
"Kau masih tanya lagi. Sudah pasti gara-gara anakmu yang mesum itu" kata Opa Garin.
"Cckk.. Ranggiiiii..!!!" Ayah Rico geram sekali mendengarnya.
...
Hana berdiri kemudian membuat posisi naik turun agar panggulnya terbuka.
__ADS_1
"Istrimu jangan di tinggal ya Ranggi..!!" pesan Bang Joy sebelum meninggalkan tempat.
"Siap Bang"
Duduk tak jauh dari mereka Bang Ares yang terpejam. Wajahnya memucat mengingat saat Dinar melahirkan.
"Sudah Baang.. Hana nggak kuat" ucapnya sembari sesekali menarik nafas dari hidung dan membuang nafas dari mulut.
Bang Ranggi mencoba memeluk Hana dan akhirnya istri cantiknya itu mau bersandar padanya. Beberapa saat kemudian Hana memegangi perutnya dan mengejan. "Aduuhh.. jangan ngejan dulu..!! Jalannya belum genap sayang, nanti bengkak. Kalau sobek reparasinya susah" kata Bang Ranggi.
"Nggak kuat Bang, ini mulas sudah dari semalam. Operasi saja bisa nggak??" pinta Hana.
"Sabar sebentar, Abang rundingan sama Bang Joy" kata Bang Ranggi lalu mengambil ponselnya.
"Aduuhh.. sakiiiiiiit..!!!!!" Hana memukuli Bang Ranggi, agaknya rasa sakitnya semakin menjadi membuat ponsel Bang Ranggi terjatuh. "Aaaaaarrhh Ya Allah. Hana nggak kuat Baaang" Hana menggenggam seragam Bang Ranggi sekuatnya.
"Bu, tolong sampaikan sampaikan sama dokter Joyo. Saya minta tindakan operasi..!!"
"Baik Pak"
Bu bidan baru berjalan beberapa langkah tapi tiba-tiba Hana mengejan sekuatnya. Bang Ranggi panik dan ikut memegangi bagian bawah. "Tahan sebentar dek.. Jangan di tekan lagi..!!" belum sampai bibir Hana tertutup, Bang Ranggi merasakan ada benda yang mengganjal. "Iki opo??" gumamnya meraba bingung dan Hana mengejan sekali lagi.
"Hana benar-benar nggak sanggup lagi Bang" ucapnya lirih. Bang Ranggi pun sigap menyangga Hana yang seketika itu juga tak sadarkan diri.
Setelah memantapkan hati, Bang Ranggi mengangkat Hana masuk ke dalam ruang tindakan. "Bismillah.. kamu kuat sayang"
~
"Nggak bisa Ranggi, kepalanya sudah di jalan"
"Tolong lah Bang, Hana sudah sangat kesakitan" pinta Bang Ranggi, keringat dingin bercucuran dari pelipisnya.
"Abang tau Ranggi.. tapi inilah kodratnya wanita" jawab Bang Joy. "Kalau kamu nggak kuat atau nggak tega, keluarlah..!!"
Hati Bang Ranggi merasa terpukul, sambil memijat punggung Hana, ia membacakan do'a di telinga Hana.
"Saya tetap disini menemani Hana" ucap Bang Ranggi.
"Janji jangan pingsan." Bang Joy menegaskan.
"Siap"
~
__ADS_1
Hana menjerit histeris, pastinya ia sudah sangat kelelahan meskipun ini bukan pengalaman pertamanya, saking sakitnya ia sampai muntah hebat dan itu membuat Bang Ranggi semakin panik dan gelisah.
"Abang janji nggak akan buat kamu sakit lagi. Cherry sama terong Belanda sudah cukup dek. Abang minta maaf sudah buat kamu kesakitan"
"Ranggi.. kamu jangan panik. Kalau nggak kuat cepat keluar..!!" pinta Bang Joy melihat sinyal lemah dari suami Hana itu.
Tak ada jawaban dari Bang Ranggi sampai Bidan meminta Hana untuk mengejan.
"Yang kuat Bu Ranggi.. sangat kuat. Kasihan adeknya Bu..!!"
Bang Ranggi terus beristighfar di telinga Hana. "Abang minta tolong lahirkan anak kita. Abang janji dalam hidup dan mati Abang hanya untuk mencintaimu. Abang pertaruhkan segalanya, apapun yang kamu minta.. tolonglah Ranggi junior ini" air mata Bang Ranggi meleleh deras. Ia menciumi Hana kemudian mencium perut Hana. "Cepat keluar sayang. Kamu boleh marah sama Papa karena sudah membuatmu ada di perut Mama, tapi jangan pernah sakiti Mama." bujuk Bang Ranggi. Bibir itu masih menempel di perut dan ia merasakan sedikit pergerakan.
Sebelah tangan Hana menggigit tangan Bang Bang Ranggi dan sebelahnya lagi menarik rambut Bang Ranggi dengan kuat.
"Ya Allah.. cukup sudah, ini yang terakhir. Sumpah Abang nggak tega dek. Sakit sekali hati Abang lihat kamu kesakitan" Bang Ranggi membiarkan Hana sampai akhirnya yang di tunggu pun tiba.
"Alhamdulillah.. Lanang, jagoane Papa Ranggi"
"Alhamdulillah Ya Allah" Bang Ranggi langsung bersujud syukur atas kelahiran putranya. Laki atau perempuan ia terima dengan ikhlas. Tangisnya terdengar terisak pilu. Ia segera berdiri memeluk Hana.
"Tidak tau bagaimana cara Abang berterima kasih sama kamu. Abang senang sekali dapat jagoan." Bang Ranggi memeluk Hana dengan erat tak lupa menghujani Hana dengan ciuman sayang. "Kamu minta apa dek? Selama Abang mampu, pasti Abang belikan"
"Hana pengen makan nasi kuning" pinta Hana.
"Abang buat syukuran satu Batalyon. Jangankan nasi kuning.. nasi warna biru juga Abang siapkan" jawab Bang Ranggi masih mengurai tangis.
Hana mengangguk menyisakan senyum. Baru kali ini Hana melihat pria gagah kesayangannya sampai menangis. "Hana mau tidur Bang.. Hana capek sekali"
Tangis Bang Ranggi semakin pecah. "Tidurlah, asal kamu janji untuk kembali lagi.. Abang dan anak-anak menunggumu." Bang Ranggi kembali mengecup bibir Hana. Air matanya sampai menetes di kelopak mata Hana. Pegangan tangan Hana terlepas, Bang Ranggi memeluk dan menyimpannya di dada.
"Haii Bunga Hana terindah.. Bunga cantik kesayangan Ranggi. Aku mengijinkan kamu tidur untuk terbangun lagi. Terima kasih sudah memberiku gelar seorang ayah. Berjanjilah untuk selalu ada di sampingku. Aku mencintaimu lebih dari apapun. Hana bungaku yang terindah.. Mas Ranggi sayang Hana" Tubuh Bang Ranggi menggigil, ia terisak, ada ribuan rasa takut menyiksa batin.
Bangun Hana.. bangun dek, jangan pernah tinggalkan Abang ya sayang..!!
"Ranggi.. adzan dulu..!! Jagoanmu sudah menunggu" Bang Joy menepuk bahu Bang Ranggi tapi juniornya itu tidak bergeming.
.
.
.
.
__ADS_1