
Bang Richi membuat telur asin dari telur puyuh yang sudah di belinya dan menuruti tutorial dari Bang Hasdin. Ia membungkus semua telur yang sudah terbalut garam dalam aluminium foil lalu menjemurnya di bawah terik matahari.
-_-_-_-_-
"Kenapa ndhuk?" tanya Mama Jihan saat melihat Hana hanya duduk melamun di ruang tamu.
"Abang kemana ya ma?" air mata Hana sudah ingin meluncur dari pelupuk mata, tangannya mengusap perut datarnya. Dari balik ruang tengah, Ayah Rico tau menantunya pasti sangat merindukan Ranggi yang sok ganteng itu.
Kemana itu istrinya lagi rewel begini. Hana pasti si muka mesum.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi Abang pasti pulang" jawab Mama.
Tak lama Bang Ranggi membuka pintu rumah, tangannya menenteng kantong plastik. Baru saja datang, tatapan mata Ayah Rico sudah mengintimidasi.
"Abang ada sedikit pekerjaan. Telat sedikit.. maaf..!!" ucap Bang Ranggi daripada satu rumah akan menyerangnya.
"Ini setengah delapan malam Bang" jawab Hana.
"Abang nunggu ini dek" Bang Ranggi mengangkat kantong plastik di tangannya.
"Abang pengen telur asin"
Hana terdiam dengan raut wajah manja.
"Adek kenapa?" tanya Bang Ranggi sambil meraih tangan Hana.
Seketika Hana terisak dan melangkah memeluk Bang Ranggi. Wajahnya terus bersandar didada bidang suaminya.
Mama mengedipkan mata agar Bang Ranggi bisa memanjakan istrinya di dalam kamar.
Mengerti maksud Mamanya, Bang Ranggi meletakkan telur asin pesanannya kemudian menggendongnya masuk ke dalam kamar.
~
"Kenapa sayangku?" Bang Ranggi merebahkan dan mengecup bibir Hana sekilas.
"Pengen lihat perut Abang" jawab Hana pelan.
"Mau apa kamu lihat perut?"
"Pokoknya mau lihat" rengek Hana.
Bang Ranggi membuka seragam luarnya lalu melepas kaos nya. Kini tersisa celana loreng yang melekat di badan.
"Celananya juga Bang..!!" pinta Hana.
gleekk..
Bang Ranggi menelan salivanya kasar.
Kenapa nih si Hana, tumben minta aneh-aneh begini? Semoga saja nggak ada hal lain yang dia minta.
Mau tidak mau Bang Ranggi menurut dan melepas celana lorengnya. Entah kenapa Bang Ranggi sedikit kikuk berhadapan dengan Hana hanya mengenakan celana pendek warna hitam favoritnya.
Tak disangka Hana meraih tangan Bang Ranggi dan memintanya merebahkan tubuh di ranjang bersamanya.
Tanpa alasan, bagai terhipnotis Bang Ranggi menurut tapi pandangan matanya tak lepas dari wajah Hana.
Hana bergeser dan bersandar manja di dada Bang Ranggi. Jemari lentik itu menyusuri wajah Bang Ranggi mulai hidung, dagu, leher, dada perut hingga....
__ADS_1
"Jangan sekarang sayang. Tolong..!!" Bang Ranggi mencegah Hana menyentuhnya. Ada rasa sedih dan sakit yang ia tahan. Sejak membawa Hana ke kamar tadi. Tubuhnya sudah menegang hebat.
"Abang nggak pengen? Hana tau Abang pengen" tanya Hana.
Bang Ranggi bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Hana. Jika ia menjawab mau.. maka ia harus meladeni bujukan Hana tapi jika tidak.. maka dirinya akan menyakiti perasaan sang istri dan membuatnya rendah diri.
"Sayang.. Abang bukannya tidak mau, tapi kamu tau sendiri.. dokter minta kamu untuk bedrest selama beberapa waktu sampai rahim mu kuat" jawab Bang Ranggi berhati-hati.
"Tapi sudah nggak ada tanda bahaya lagi. Sudah nggak sakit lagi"
"Tapi sesekali masih sakit khan?" tanya Bang Ranggi melembutkan suaranya.
Hana menarik diri, jelas sekali istri Ranggi itu begitu kecewa.
Bang Ranggi kembali menarik Hana.
"Abang cemaskan kamu dan anak kita dek"
"Abang tidak mau karena Hana bekas Bang Hasdin khan?" ucap Hana mulai melantur.
"Ngomong apa sih kamu. Nggak baik bila g begitu" tegur Bang Ranggi.
Hana tak peduli. Yang ada dalam pikirannya hanya kacau dan tidak bisa di kendalikan. Hana beranjak dengan cepat dan berjalan keluar kamar.
"Lho dek..!! Mau kemana kamu??" teriak Bang Ranggi. Secepatnya ia memakai kaos loreng juga celananya yang sempat ia lepas tadi kemudian mengikuti Hana.
"Istrimu kenapa Ranggi??" tegur Ayah.
"Nanti saja yah, Hana salah paham" jawab Bang Ranggi kemudian berlari keluar rumah.
:
Bang Ranggi memutari kompleks tapi tidak terlihat istrinya.
"Ijin Dan.. cari siapa?" tanya Bang Richi.
"Kamu lihat istri saya?"
"Tadi keluar kesatrian Dan" jawab Bang Ril
"Aseemm.. polah opo maneh iki" gerutu Bang Ranggi kemudian berlari tanpa pamit.
:
"Deeekk.. piye sih. Lihat jalan to" bentak Bang Ranggi menarik kuat lengan Hana karena istrinya itu menyebrang begitu saja tanpa melihat ke kanan dan kiri.
"Untuk apa Hana hidup? Tidak ada yang menginginkan kehadiran Hana disini." jawab Hana kembali dalam pikiran yang tidak stabil. Setiap Hana merasa tertekan, dirinya akan merasa rendah diri.
Bang Ranggi yang juga sedang metasa lelah akhirnya terpancing emosi. Taksi yang hendak melintas di hadapannya.. ia hentikan.
"Masuk..!!" Bang Ranggi sedikit mendorong Hana.
"Kita kemana Pak?" tanya sopir taksi.
"Hotel terdekat..!!" jawab Bang Ranggi.
Sopir tersebut gemetar karena ada seorang pria berpakaian kaos loreng membawa seorang wanita ke dalam taksinya.
:
__ADS_1
Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah Bang Ranggi di hotel. Bang Ranggi mengambil dompet di saku bajunya lalu membayar tagihan argo taksi.
Dengan takut sopir taksi itu menerima uang dari Bang Ranggi dan secepatnya tancap gas mobil.
~
"Kamu memancing kesabaran Abang dek" Bang Ranggi mengunci rapat pintu kamar hotelnya kemudian mendekati Hana dan memegang kancing baju atas Hana.
"Abang mau apa? Jangan dekati Hana" pekik Hana.
"Nggak mau??? Tadi di rumah kamu dekati Abang dan sekarang kamu bilang nggak mau???? Apa maumu sebenarnya??" bentak Bang Ranggi.
Hana gemetar hingga tubuhnya lemas. Matanya ketakutan melihat sorot mata Bang Ranggi. Bibirnya ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada yang bisa tersampaikan.
Beruntung saat itu Bang Ranggi langsung menyadari emosinya bisa menyakiti Hana. Seketika Bang Ranggi memeluk Hana dan membelai lembut tubuh istrinya. Ia beristigfar sebanyak banyaknya kemudian mengecup puncak kepala Hana.
"Jangan begini sayang, Abang sedih sekali melihatmu seperti ini" Bang Ranggi terus mengusap Hana. Ia bimbang, cemas bagaimana mengatasi depresi Hana.
"Abang bukannya tidak ingin menyentuhmu. Abang nggak mau menyakitimu sama si kecil kita dek. Ada yang harus Abang jaga baik-baik. Abang sayang kamu juga anak-anak kita."
Hana sesenggukan, wajahnya masih terlihat syok bersandar takut di dada Bang Ranggi.
"Astagfirullah hal adzim.." Bang Ranggi mengusap wajahnya gusar. Ia pun menggendong Hana sampai ke ranjang.
"Abang harus bagaimana ini dek?"
Perlahan Bang Ranggi merebahkan Hana. Ia mengusap perut Hana kemudian menciumnya.
"Papa minta tolong kamu kuat ya nak. Anak Papa hebat khan"
Kedua mata itu saling menatap.
"Tidak ada suami yang tidak rindu istrinya.. begitu juga Abang." tangan Bang Ranggi membuka pakaian Hana. Seketika tubuhnya memanas dan menegang. Bang Ranggi mulai gelisah. Bujukan demi bujukan membuat dirinya lebih aktif berinteraksi karena Hana hanya diam seribu bahasa menatap wajahnya.
Bagaimana ini? Menyenangkan Hana pasti berimbas padaku juga. Nggak mungkin aku nggak khilaf.
Meskipun Bang Ranggi ragu, ia tetap membujuk Hana.
Apa aku harus melakukannya? Apa ini aman untuk Hana dan anakku? Bagaimana kalau Hana pendarahan lagi?.
Tapi melihat lekuk tubuh istri cantiknya.. wajar nalurinya tergoda, Hana yang berkulit putih mulus dengan tubuh impian para pria.. Hati dan pikiran Bang Ranggi beradu. Lama kelamaan batin Bang Ranggi tak tahan. Ia pun melonggarkan ikat pinggangnya dan sedikit bergeser.
"Ja_ngan.. jangan sentuh Hana." ucap Hana saat Bang Ranggi mulai mengambil posisi di atas tubuh Hana.
"Nggak.. Jangan dekati Hana, Bang Ranggiiiiiii.. tolooong..!!!!" pekik Hana tertahan. Hana berontak ketakutan.
"Hanaa.. lihat dulu dek..!! Ini Abang..!! Ini suamimu..!!" Bang Ranggi mengunci kedua tangan Hana dengan satu tangan. Bang Ranggi mengarahkan wajah Hana agar matanya bisa menatapnya.
"Abaaang..!! Abaaaaang..!!!" Hana masih berteriak sampai ia benar-benar melihat Bang Ranggi ada di depan matanya.
"Mungkin ada baiknya kita melakukannya dek. Biar hanya Abang yang kamu rasakan. Semua ketakutan mu hanya ilusi. Ingatlah malam ini. Ini malam pertamamu bersama Abang.. hanya Abang yang boleh kamu ingat..!!" ucap Bang Ranggi pelan.
Air mata Hana meleleh, ia menata hati dalam ketakutannya. Hana tak lagi melawan saat Bang Ranggi membuka pah*nya, kemudian mengecup bibirnya dengan lembut, melu*atnya dan turun perlahan menyatukan diri dengannya.
.
.
.
__ADS_1
.