Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 5. Perkara dua belas juta.


__ADS_3

Bang Langsang memperhatikan lagi kampus Andin. Ia baru menyadari kampus Andin bukanlah kampus sembarangan.


"Kamu kuliah disini tapi kenapa kamu bisa ikut demo.. almamater mu juga beda" tanya Bang Langsang.


Karena Bang Langsang sepertinya sedang mencurigai sesuatu.. Andin pun tak bisa berkelit. Ia seakan paham Bang Langsang bukan pria sembarangan.


"Kamu bagian dari mana? intelPol? Penyelidik swasta??"


"Andin.. Hanya mahasiswi biasa Bang" jawab Andin


"Oohh begitu ya, hutangmu jadi berbunga. Sekarang jadi tujuh juta" kata Bang Langsang.


"Mana bisa begitu Bang???"


"Sepuluh juta" Bang Langsang menambahi lagi nominalnya.


"Abang sedang butuh uang untuk anak istri atau bagaimana???" pekik Andin.


"Dua belas juta..!!"


"Andin kuliah Bang.!!!" jawab Andin.


Bang Langsang tidak bisa memaksa orang dalam tugasnya apalagi ini adalah masalah pribadi yang tidak memiliki surat tugas apapun. "Baiklah.. bayar hutangmu..!!"


"Iya, hutang dulu. Uang Andin untuk bulan ini nggak ada lagi. Tunggu uang lah."


"Kamu punya gaji?"


"Dari Papa." jawab Andin sambil melirik Bang Langsang.


"Iisshh.. anak Papa" ledek Bang Langsang. "Oke lah, saya mau kerja dulu. Sampai ketemu nanti. Oiya.. mana nomer ponselmu..!! Jangan-jangan kamu bakal kabur"


Andin berpikir sejenak kemudian memberikan nomer teleponnya pada Bang Langsang.


:


"Astaga.. wanita jaman sekarang. Mengumbar aurat hanya demi uang??? Kenapa aku kecewa sekali melihat penampilan mu yang terbuka ini? Melebihi sakit hatiku melihat Belinda, tapi aku bukan siapa-siapa mu." Bang Langsang mengepalkan tangan sekuatnya, entah kenapa hatinya benar-benar terasa sakit.


Rasa sesak di dadanya sungguh tak tertahan tapi sesaat kemudian ada ingatan berkelebat dalam pikirannya. "Dia memakai nama Zea di foto profil ini" Bang Langsang berusaha keras mengingat sesuatu.


"Istriku.. Dyah Mada Andini khan?" Bang Langsang mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


tuuuutt..


"Apa Lang?" tanya Bang Pratama.

__ADS_1


"Ijin bertanya Bang. Apa Abang ingat siapa nama pasien yang saya bawa kemarin?"


"Seingat Abang namanya Andin."


"Nama panjangnya Bang.. Ijin..!!" tanya Bang Langsang.


"Sebentar.. Abang cek di data Abang ya. Oohh.. nama sesuai KTP.. Dyah Mada Andini" jawab Bang Pratama.


"Lailaha Illallah.." Seketika Bang Langsang membanting kasar punggungnya pada sandaran jok mobilnya. "Terima kasih banyak Abang" jarinya mematikan sambungan teleponnya.


Bang Langsang meraup wajahnya dengan frustasi, tak terbayangkan betapa bodohnya dirinya tak menyadari sosok istrinya sendiri. "Inikah cara Tuhan mempertemukan kita dek?? Sebenarnya apa yang sedang kamu kerjakan??" Bang Langsang kalang kabut memikirkan Andin. Tak tau harus darimana menentukan arah tentang jati diri Andin. Malam itu juga Bang Langsang menemui Papa mertuanya.


...


"Jadi kamu sudah tau siapa istrimu??"


"Iya Pa, aku menemuinya di kampus pertahanan. Aku sempat berpikir.. kenapa kuliah tentang keamanan negara tapi harus demo" kata Bang Langsang.


Papa Rahman pun berdiri dan mengambil beberapa berkas. "Ini semua adalah datanya masuk di kampus A, B, C dan D.. kamu malah bertemu dengannya di kampus pertahanan."


Bang Langsang bersandar menerka segala arah pembicaraan Papa Rahman. Pikirannya terus berputar dengan cepat. Mata Bang Langsang basah ingin menepis segalanya, tapi ini semua menyangkut tentang istrinya. "Istriku anggota mana Pa?" tanya Bang Langsang akhirnya paham situasi.


"Markas.. anak buah Papa Ares mu.. langsung"


"Ya Allah Tuhan.. kenapa semua main rahasia denganku. Pekerjaan Andin sangat bahaya Pa. Siapa yang mengawal Andin???" Bang Langsang mulai terbawa emosi.


Bang Langsang membuang nafas panjang kemudian pamit meninggalkan rumah mertuanya.


~


"Ijin Abang, tolong naikan nama istri saya secepatnya ya. Namanya sudah saya kirim barusan via pesan singkat. Besok saya menghadap langsung ke Danyon"


"Kamu kenapa Lang, kebablasan ya?? pacarmu hamil???" tanya Bang Restu memberondong.


"Siap salah Bang" jawab Bang Langsang agar tidak banyak pertanyaan mencuat.


...


Abang harus cari kamu kemana dek??.


Bang Langsang mencoba menghubungi Andin tapi tak ada yang menjawab panggilan teleponnya. Tak lama matanya melihat Andin duduk berdua dengan seorang pria di teras cafe. Ia pun memarkir mobil kemudian turun, memakai topi dan kacamata.


Perlahan ia berjalan dan duduk di belakang Andin saling membelakangi. Terdengar perbincangan antara Andin dan pria tersebut.


...

__ADS_1


Malam semakin larut, Andin menepi ke samping gedung dan benar saja, ia setengah berbisik melaporkan apa yang terjadi tadi. Ada keterlibatan anggota Batalyon nya dengan pemakaian obat-obatan terlarang dan perdagangannya dari dalam dan luar negeri.


"Ternyata kamu kerja disini?? Apa rektor mu tau kalau mahasiswa nya 'magang' di tempat seperti ini?" sapa Bang Langsang pura-pura tidak mengetahui masalah sebenarnya.


Andin cukup kaget melihat Bang Langsang ada di dekatnya tapi ia berusaha mengendalikan diri sebisa mungkin. Ia berbalik menggoda Bang Langsang karena tau pria tersebut adalah seorang abdi negara dan tidak akan mungkin seorang abdi negara melecehkan seorang wanita.


Andin berjinjit mengalungkan kedua tangan di belakang leher Bang Langsang. "Akhirnya Abang tau pekerjaan Andin yang sebenarnya. Beginilah Andin, harus bekerja keras apalagi sekarang Andin harus membayar hutang ke Abang dua belas juta rupiah" ucapnya dengan nakalnya.


Bang Langsang memeluk pinggang Andin lalu menatap matanya dalam. "Berapa Abang harus membayarmu kalau Abang menginginkanmu sampai pagi?" tanya Bang Langsang.


"Dua belas juta" jawab Andin.


"Waaww.. eksekutif class??? Abang bisa hapuskan hutang dua belas juta, bahkan menambahnya jadi dua kali lipat.. asalkan kamu layani hasrat Abang malam ini. Bagaimana??"


Andin mulai gelisah melihat ekspresi Bang Langsang. Ternyata perkiraan nya salah. Pria tersebut sangatlah berani. Andin masih mencari celah untuk melarikan diri. "Bukankah kemarin Abang bilang mau nikah?" tanya Andin.


"Kamu juga bilang begitu kemarin. Lalu bagaimana reaksi suamimu kalau tau istrinya bekerja seperti ini?" jawab Bang Langsang.


"Abang sendiri?? Bagaimana dengan istri Abang?"


"Kamu ini berputar-putar saja. Sebenarnya mau atau tidak??" Bang Langsang mulai jengah meladeni Andin yang seakan mengulur waktu. "Cepat Andin..!!" sadar atau tidak meskipun dirinya hanya mengerjai Andin tapi tetap saja ada naluri yang tidak bisa ia tolak hadirnya.


"Hari ini nggak bisa Bang, calon suamiku mau menjemput" kata Andin beralasan.


"Oya.. siapa nama calon suamimu?" tanya Bang Langsang.


"Trabas Trijata" jawab Andini.


Bang Langsang mengangguk menahan tawanya. "Calon suamimu itu tak ada apa-apanya di bandingkan dengan Abang" ia semakin mengeratkan dekapannya.


"Ciihh.. calon suamiku lebih gagah darimu Bang" kata Andin mencibir dengan sombongnya.


Tawa itu semakin menjadi, tertahan sampai perut Bang Langsang terasa sakit tapi Bang Langsang segera kembali memasang wajah serius. "Abang tidak menerima penolakan. Kamu milik Langsang malam ini..!!" Bang Langsang sedikit memaksa menggandeng tangan Andin menuju mobilnya.


"Parkit.. bisa dengar suara?" tanya seseorang melalui alat komunikasi di sekitar telinga dan pakaian Andin.


"Bisa, tapi.. ada Rajawali menyambarku" bisik Andin.


Bang Langsang tersenyum puas melihat Andin kelabakan mencari jalan melarikan diri darinya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2