Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 31. Akibat emosi lagi.


__ADS_3

Cek cerita Ayu n Huda di Cerita Nara terbaru ya 😘😘😘😘😘


🌹🌹🌹


"Mengertilah Indri.. perutmu sudah semakin terlihat, surat ini hanya tinggal menunggu keputusan komandan agar Abang bisa segera keluar dari kesatuan..!!" Bang Kristian sungguh membentak Indri di hadapan Bang Huda, Bang Khaja dan Bang Langsang. "Nggak apa-apa setiap hari kamu buat Abang pusing, tapi ingat anak ini..!!"


Indri semakin terdesak, dirinya tidak bisa lagi berpikir jernih. Tak tahan terus mendapat banyak tekanan. Indri pun tak sadarkan diri dan membuat panik seisi ruangan.


...


"Ijin dok, bagaimana keadaan Indri?" tanya Bang Kris.


"Bumil memang tidak boleh stress ya, karena akan mempengaruhi calon bayinya" kata dokter Pratama.


Bang Kristian pun ikut stress di buatnya.


Terdengar suara isakan tangis Indri. "Bang..!!" sapa Indri penuh sesak.


Bang Kris menghampiri Indri.


"Biar Indri saja yang keluar, Abang tetaplah bekerja di kesatuan" kata Indri.


"Kamu yakin??" tanya Bang Kristian memastikan.


Bang Huda, Bang Khaja dan Bang Langsang saling pandang.


"Yakin Bang" jawab Indri.


Bang Kristian menghadap langsung pada Bang Huda. "Ijin arahan Dan..!!"


"Baiklah, akan saya proses dan saya usahakan clear secepatnya..!!" janji Bang Huda. "Tapi kamu tau konsekuensi terburuk nya khan?"


"Siap paham Dan..!!"


Bang Huda segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Ia mengusap perutnya merasakan semalam ada huru hara dalam rumahnya.


\=\=\=


Dua bulan berlalu, Bang Huda dan Ayu sudah pergi ke tempat tugas yang baru. Keadaan Ayu sempat membuat keluarga ribut.


\=\=\=

__ADS_1


Perut Naya sudah terlihat besar, tapi gerakannya masih aktif dan lincah membuat Bang Khaja ketar ketir di buatnya. Berbeda dengan Andini yang lebih kalem, Andini lebih suka merajuk manja dan membuat Bang Langsang serba salah.


Bang Langsang duduk merasakan kepalanya pening di ruang briefing kantor. Baru pukul sembilan pagi, Andin sudah menghubungi nya. Istrinya itu sama sekali tidak ingin jauh darinya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bang Khaja.


"Nggak apa-apa, hanya saja Andin membuatku pusing tujuh keliling. Sekarang Andin nggak bisa jauh sama aku Bang, kalau panggilan teleponnya tidak segera kujawab pasti Andin sudah nangis nggak karuan, bilang aku nggak sayang lah, aku punya perempuan lain lah. Pusing kepalaku ini" jawab Bang Langsang.


"Sudah.. di bawa santai saja. Untuk apa kamu menanggapi bumil, bisa stress sendiri. Kamu lihat saja.. kandungan Naya semakin besar, tingkahnya juga sudah tidak sebahaya awal kehamilan. Semua ada masanya" Bang Khaja memberikan dukungan pada adiknya.


"Iya Bang, aku hanya takut terbawa suasana. Batalyon sudah sebegitu sibuk, aku takut lelahku malah jadi membentak Andin"


"Rem dirimu sendiri Lang. Abang juga pernah begitu. Naya sampai ketakutan.. sejak itu Abang berusaha sadar dan nggak marah-marah lagi" kata Bang Khaja.


...


Rapat masih berlangsung, Andin mulai lagi menghubungi Bang Langsang tapi Bang Langsang tidak bisa menjawabnya karena tidak enak dengan para senior dan komandan yang lain.


Hingga siang ada tiga puluh panggilan tak terjawab, Bang Langsang memilih segera menemui Andin di markas daripada sang istri semakin rewel tidak jelas.


~


"Pasti Abang punya wanita lain..!! Abang nggak sayang Andin lagi" Andin mulai dengan dramanya dan setiap kali kata itu tidak pernah lupa terucap dari bibir Andin.


Seketika Andin terdiam tanpa bicara. Wajahnya memucat, lesu dan lemas tak bertenaga.


Tak lama ada suara dering telepon di ponsel Bang Langsang. Bang Langsang pun menerimanya di hadapan Andin.


"Selamat siang Mbak, bagaimana?" tanya Bang Langsang.


"Selamat siang, bisa kita bertemu sekarang Pak?"


"Bisa Mbak, tapi di ruangan saya ya, karena saya masih ada kegiatan" jawab Bang Langsang.


"Baik Pak, saya berangkat sekarang" kata wanita itu.


Bang Langsang melirik Andin yang masih terdiam sesekali menatapnya, wajahnya sudah mendung. Bang Langsang segera mematikan panggilan teleponnya.


"Apalagi? Curiga?? Marah?? Kamu urus saja pikiran konyolmu itu. Abang mau ketemu selingkuhan Abang" kata Bang Langsang kemudian pergi tanpa pamit.


...

__ADS_1


Siang itu, pikiran Andin tetap tidak bisa di kendalikan. Ucapan Bang Langsang terlalu mengena di dalam hatinya. Bayangan rasa takut Bang Langsang memiliki wanita lain terus saja terbayang.


Andin berjalan kaki dari Markas menuju Batalyon Bang Langsang meninggalkan motor matic motif unicorn miliknya. Sepanjang jalan pikirannya tidak stabil, tidak sekali dua kali Andin hampir terserempet motor sampai akhirnya Bang Khaja melihat Andin.


"Andin.. mau kemana?" sapa Bang Khaja.


"Mau cari Bang Langsang"


Bang Khaja merasa aneh, jawaban Andin terasa datar, tatapan matanya kosong, langkahnya terseok.


"Ayo cepat naik..!! Abang antar ke ruangan Langsang" Bang Khaja mengajak Andin menaiki motornya.


Andin pun naik tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.


Kenapa ya Andin? Aneh sekali, apa dia sedang sakit?.


Bang Khaja melaju perlahan karena waspada sedang membawa bumil apalagi Andin duduk tidak terlalu dekat dengannya.


~


Sesampainya di Batalyon, Bang Khaja langsung mengarahkan motornya menuju dekat ruangan Bang Langsang agar Andin tidak jauh berjalan tapi saat sampai disana, Bang Khaja turun bersama Andin dan memarkir motornya.. dalam arah penglihatan Andin, ia melihat Bang Langsang memeluk seorang wanita dari belakang, memegang pundaknya bahkan melingkarkan tangan di pinggang wanita itu.


Tak sengaja Bang Khaja melihat Andin terpaku wajahnya sudah sembab. Rasa khawatir Bang Khaja pun muncul.


Astaga.. apa Andin mengira Langsang memeluk perempuan?? Bumilnya Langsang sensitif sekali.


"Ndin.. ayo ke ruangan Langsang..!!" ajak Bang Khaja agar Andin bisa melihat secara langsung.


Andin diam seolah tak mendengarnya. Tepat saat itu Bang Langsang melihat Andin hanya terdiam. Menyadari tangannya di tempat yang tidak tepat, Bang Langsang pun menarik tangannya lalu kembali meneruskan pekerjaannya bersama beberapa orang team belanegara dan salah satunya ada seorang pria berambut indah, pria yang berdiri bersebelahan dengan Bang Langsang.


Merasa Bang Langsang tak lagi peduli dengannya, hati Andin terasa sangat sakit. Segala ucapan kasar Bang Langsang kembali terngiang. Bagai tertimpa batu besar, Andin terhuyung tak sadarkan diri.. jatuh miring menabrak jalan bebatuan, untuk saja Bang Khaja masih sempat menggapai tangan Andin hingga perutnya tidak terhantam batu besar.


Para anggota pun panik dan ikut ribut membuat perhatian Bang Langsang teralihkan. "Ada apa ya?" gumam Bang Langsang di tempat Andin berdiri.


Samar terlihat dari tempatnya, Bang Khaja mengangkat Andin ke tempat yang lebih luas. Mata Bang Langsang terbuka lebar. "Astagfirullah.. Andiiin..!!" Bang Langsang berlari meninggalkan ruangan sampai melompati pagar taman saking paniknya melihat Andin pingsan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2