
"Abang nggak melarangmu makan, tapi kamu perkirakan juga.. apa lambungmu itu sanggup terima semua. Jangan sampai kamu trauma dengan makanan"
"Perut Hana masih kuat Bang, masih lebar" kata Hana.
"Itu waduk atau karung? Awas aja kalau kamu mengeluh sakit" Bang Ranggi melanjutkan makannya.
:
Bang Ranggi menyalakan musik koplo kesukaannya. Sesekali suami Hana itu ikut bernyanyi dan asyik terbawa suasana sampai tidak melihat Hana meremas perutnya.
"Bang, cari toilet donk..!!" kata Hana.
Tanpa menjawabnya, Bang Ranggi segera berbelok ke tempat pengisian bahan bakar tak jauh dari jalan, kemungkinan hanya kurang lebih dua ratus meter.
~
Sepuluh menit berlalu, Bang Ranggi merasa terlalu lama jika hanya untuk menunggu wanita yang sedang buang air kecil saja.
"Lama sekali sih, apa toilet nya antri??" gumam Bang Ranggi sambil celingukan dan sesekali masih bernyanyi tapi lama kelamaan perasaannya menjadi resah.
Bang Ranggi turun dan menyusul Hana di toilet.
~
"Apa Abang bilang, itu masih ada sate berbungkus-bungkus di dalam mobil. Makanya jadi orang tuh jangan tamak kalau makan."
"Abang mau bantu apa mau marah? Malas aahh sama Abang" wajah Hana merebak merah.
"Abang nggak marah, Abang hanya ingatkan kamu soal masalah sate. Kalau nggak kuat ya jangan terlalu banyak makan. Lambungmu bisa tertekan sesak" kata Bang Ranggi mengingatkan kembali.
Hana memalingkan wajahnya bagai wanita paling tersakiti.
Beberapa orang yang mampir disana jadi melihat perdebatan Hana dan Bang Ranggi. Suami Hana itu akhirnya mengalah daripada mata orang harus menilai yang tidak benar.
"Ya sudah ayo..!! Jangan ngambek lagi, nanti orang kira Abang omelin kamu"
__ADS_1
"Abang memang marah khan. Nggak boleh makan sate banyak"
Allahu Akbar.. ternyata hal seperti ini juga menguji nyali.
"Abang minta maaf ya cantik, Abang salah.. nanti adek habiskan sendiri. Abang nggak akan minta.. melirik aja nggak" ucap Bang Ranggi mengalah dan akhirnya Hana mau berjalan keluar dari toilet.
Ya Tuhan.. meskipun ada rasa kesal karena istriku rewel tapi aku lebih menerima hal ini daripada Hana harus menangis mengingat segala kepahitan hidupnya selama ini. Biar aku saja yang menerima segala kepahitan dan biarkan Hana tersenyum dalam bahagianya.
-_-_-_-_-
Sore ini seluruh keluarga berkumpul karena Ayah Rico esok pagi akan membawa Cherry ke Aceh. Hana sudah mengikhlaskan semua namun tetap saja hati seorang ibu terkadang tidak sesuai dengan ucapnya.
"Kalau nggak boleh di bawa.. ayah nggak akan paksa. Ayah hanya ingin bawa Cherry agar kamu bisa konsentrasi dengan kehamilanmu" kata Ayah Rico.
"Nggak apa-apa yah. Hal seperti ini biasa khan..!! Ayah boleh bawa Cherry" Hana melihat Cherry mulai dekat dengan Opanya bahkan melebihi dekatnya dengan Oma Jihan. Terlihat Cherry tidak ingin berpisah dari Opa bahkan beberapa kali Opa Rico mengajak Cherry bekerja.
"Ya sudah.. besok ayah bawa Cherry"
***
Hana sesenggukan melihat Cherry dalam gendongan Ayah Rico. Gadis kecilnya itu terlihat sangat bahagia, wajahnya berhias senyum dan tawa. Beberapa koper milik Cherry hanya berisi mainan Cherry dari Papa Ranggi dan sebagian lagi dari Opa Rico.
Hana terdiam sejenak, tapi ada rasa tenang dalam hati Hana karena tau Cherry putrinya akan tinggal dan di didik bersama orang-orang yang tepat, yang begitu menyayangi nya.
"Hana ikhlas Bang" ucapnya kemudian.
:
Cherry mencium pipi Hana dan memeluknya dengan sayang.
"Jangan nangis Mama..!!" Cherry mengusap air mata di wajah Hana.
"Mama nggak nangis. Mama bahagia" jawab Hana.
"Mama harus bahagia. Papa Ranggi sayang Mama" kata Cherry.
__ADS_1
Air mata Hana berlelehan, ia terharu sebab ia tau Bang Ranggi memang sangat mencintainya.
"Mama juga sangat sayang sama Cherry"
"Iya Ma" Cherry memeluk Hana tapi Bang Ranggi tidak mengijinkan Cherry dalam gendongan Hana terlalu lama sebab Cherry sudah menindih calon adik kecilnya.
"Cherry sama Papa ya, kasihan adik tertindih kakak Cherry" Bang Ranggi pun tak kalah sedihnya tapi ia harus menahan perasaan agar Hana tidak semakin sedih.
"Hana masih ingin peluk Cherry Bang" pinta Hana namun sesaat kemudian seruan untuk penumpang harus segera menaiki pesawat.
Bang Ranggi mendekatkan wajah Cherry sekali lagi agar Hana bisa menciumnya. Tetes air mata Hana tak bisa di bendung lagi dan akhirnya Bang Ranggi pun tak kuat merasakan perpisahan dengan putrinya. Setitik air matanya ikut mengalir.
Tuhan.. Kau pun tau aku bukan Ayah dari malaikat kecil ini, tidak berasal dari benihku.. tapi hatiku menyayanginya. Tak masalah bagiku jika dunia tidak percaya rasa sayangku, aku hanya ingin Kau saja yang paham isi di hatiku.
Bang Ranggi menarik Cherry dari mamanya lalu menciumnya beberapa kali. Ingin rasanya memeluk lebih dalam tapi ia sadari. Dirinya tetap punya batasan karena tidak sepenuhnya ia bisa mendekap Cherry. Itulah sebabnya ia sangat menginginkan peri kecil miliknya sendiri dari rahim Hana istrinya.
"Baik-baik sama Opa dan Oma ya sayang. Kalau ada waktu lebih.. pasti Papa cari Cherry disana. Cherry anak pintarnya Papa Ranggi khan?"
"Iya Papa." Cherry memberikan satu kecupan sayang di kelopak mata Bang Ranggi.
"Cherry sayang Papa"
Rasanya Bang Ranggi tidak tahan dengan semua ini. Apalagi saat Cherry menghapus air matanya yang kini menetes.
"Terima kasih Papa.. sudah sayang sama Cherry." Cherry bersandar sesaat di bahu Papa Ranggi.
Hati Bang Ranggi semakin tertusuk karena putri kesayangannya begitu pintar, kata ringan itu tidak mungkin semua bisa di ucapkan sembarang anak seusia Cherry.
Ooohh Tuhan.. betapa aku sayang gadis kecil ini.
"Sama-sama sayang. Di manapun Cherry berada.. ingat..!! Cherry punya Papa Ranggi yang akan selalu sayang sama Cherry"
.
.
__ADS_1
.
.