
"Karena Abang nggak pernah selesai" protes Hana.
"Nggak selesai karena kita selalu terganggu. Nggak hanya kamu yang kesal dek. Abang juga... pening kepala Abang" kata Bang Ranggi.
Ayah Rico dan Mama Jihan saling lirik. Antara sebal, lucu dan kasihan melihat putranya. Mereka pun akhirnya memahami apa yang sedang di alami putranya selama ini bukanlah hal yang mudah.
Hana cemberut masih belum bisa menata hatinya.
"Abang ada pekerjaan di luar. Jadi pelatih tembak sama pemandu terjun paralayang" ucap Bang Ranggi akhirnya mengaku.
"Abang nggak macam-macam. Semua hanya profesional kerja"
"Iya Hana.. meskipun ada mantan Ranggi.. suamimu juga nggak mepet banget kok. Hanya pegang pinggang saja" imbuh Bang Mekky.
Mata Hana langsung menatap mata Bang Ranggi penuh kekesalan.
"Astagfirullah hal adzim.. kamu bisa diam nggak sih Mek.. Nyamber aja. Biar aku yang jelaskan sendiri" kata Bang Ranggi.
"Kenapa marah sama Bang Mekky? Kalau Bang Mekky nggak bilang. Abang nggak akan pernah ngaku khan?" tanya Hana.
"Atau Abang punya hubungan dengan Imelda?"
Bang Ranggi semakin cemas saja melihat ekspresi wajah Hana.
"Monyong dah lu Ranggi" ledek Ayah Rico mantap dan gemas.
Hana masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat pintunya.
"Dek.. sayaang" Bang Ranggi mencoba meraih jemari Hana tapi istrinya itu menepisnya.
"hmm.. Ijin Komandan.. saya pamit kembali ke kesatuan. Tadi saya belum ijin senior" pamit Bang Mekky yang sebenarnya sudah bernyali ciut melihat tatapan mata Bang Ranggi.
"Oohh.. ya sudah, salam buat Komandan wilayah ya" kata Ayah Rico.
"Siap"
__ADS_1
:
"Sayaaang.. cantiiiikk.. ngobrol sebentar yuk Neng" Bang Ranggi berjongkok menyandarkan kening di daun pintu. Sudah setengah jam lewat Hana tidak bersuara dan tidak mau membuka pintu.
Tak lama ponsel Bang Rico berdering. Opa Garin pun bersuara.
"Oohh.. Imelda ya. Ranggi sedang mandi tuh. Oohh.. mau video call????" ucap Opa Garin sekencang mungkin.
Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka dan Bang Ranggi pun sedikit tersungkur. Wajah Hana sudah sembab, matanya memerah.
"Dek..!!" Bang Ranggi mendongak menatap wajah Hana kemudian berdiri dan memeluknya.
"Jangan marah dulu, ayo kita bicara..!!" Bang Ranggi mendorong Hana masuk ke dalam kamar kemudian mengunci rapat pintu kamar.
Para tetua pun menyadari ada hal pribadi yang harus di selesaikan anak dan menantunya.
"Kita jalan-jalan yuk..!! Oma pengen belanja disini..!!" ajak Oma Esa.
"Tamat sudah kalau Oma minta belanja" jawab Opa Garin.
"Nggak ada hubungan apapun lagi sama Imelda. Hanya sebatas pekerjaan saja dek. Itu tadi Opa hanya ngerjain kita saja"
"Terus kenapa Abang pegang-pegang Imelda?" tanya Hana mulai memiliki perasaan cemburu.
Bang Ranggi bahagia dan lega sekali karena Hana sudah mau mengekspresikan diri selayaknya wanita yang sedang cemburu tapi tetap saja ada perasaan was-was menyelesaikan masalah ini.
"Kalau nembak Abang hanya mengarahkan saja, tapi kalau paralayang dan tandem. Jelas Abang duduk di parasut, tepat di belakang Imelda. Mau pegang-pegang bagaimana? Abang pegang tali kemudi" jawab Bang Ranggi.
"Tapi tetap aja mepet" kata Hana.
Bang Ranggi membuang nafas panjang.
"Mepet juga nggak ada rasa sama sekali dek. Mantan tetaplah mantan, Abang sudah mati rasa" suara Bang Ranggi melemah tapi kemudian Bang Ranggi melebarkan senyumnya.
"Abang sudah tidak memikirkan hal seperti itu lagi. Nakalnya Abang sudah habis. Sekarang fokus Abang hanya anak dan istri, berusaha meningkatkan kualitas ibadah Abang"
__ADS_1
Ada rasa cemas di hati Bang Ranggi mengingat sosok Imelda. Masa lalunya yang teramat pahit untuk di rasakan.
"Apa dia terlalu manis untuk di lupakan?" tanya Hana mengamati raut wajah Bang Ranggi yang seolah sulit melupakan Imelda.
"Tidak ada mantan yang manis. Jika dia terindah, tak mungkin Abang tinggalkan. Kamu pemenang dari semuanya. Segalanya sudah Abang pasrahkan untuk kamu. Seluruh apapun yang Abang punya, tubuh ini, hati ini, gelar Nyonya Ranggi.. semua milikmu"
"Kalau memang begitu, kenapa masih ada dia di sekitar Abang. Kalau memang tidak ada cerita manis di antara kalian.. tidak mungkin Abang mau dekat dengannya lagi apalagi Abang berlindung di balik kata tidak ingin memutus tali silaturahmi" jawab Hana.
"Semua orang punya cerita dan masa lalu sayang..!!"
"Apa yang Hana alami adalah suatu musibah terberat dalam hidup Hana, tapi yang Abang alami adalah sebuah kesengajaan." ucap Hana sungguh tidak pernah meleset. Bang Ranggi mati kutu tidak bisa menjawab ucap Hana lagi.
Air mata Hana menetes.
"Jika saja Hana bisa memutar waktu.. Hana ingin menjadi gadis yang suci, punya kekuatan untuk menjaga harga diri. Hana hanya ingin menyerahkan semuanya pada pria yang sungguh Hana cintai."
"Begitu pula dengan Abang. Ingin membuang segala kebodohan karena banyak keburukan yang sudah Abang lakukan. Abang terlalu banyak menggoda wanita hingga sumpahnya mengutuk Abang dengan rasa sakit yang tak terkira." Bang Ranggi terus merutuki dirinya.
Hana tak sanggup menjawabnya. Ia berusaha keras mengendalikan diri agar dirinya tidak terkungkung pikiran yang mampu mempengaruhi emosinya.
"Maukah kamu memulai hidup baru bersama Abang? Berusaha mengikhlaskan segala yang telah terjadi di masa lalu dan belajar menata masa depan..!!" tanya Bang Ranggi.
Hana menata perasaannya. Ia sadari tidak akan baik menyimpan perasaan tak pasti. Hana pun mengangguk.
"Tapi jangan marah ya Bang, kalau Hana terkadang terbawa emosi" kata Hana.
"Abang maklumi.. Abang juga begitu. Wajar terkadang manusia masih punya pikiran cemburu." jawab Bang Ranggi dengan senyumnya.
"Ngomong-ngomong.. Kapan nih Abang di sayang? Jatah Abang belum full Neng"
.
.
.
__ADS_1
.