
"Kenapa Angger di buat nangis??"
"Nggak dek, Abang telat kasih susu" jawab Bang Langsang.
"Nggak mungkin, pasti Abang ledekin?"
"Sumpah nggak" kata Bang Langsang.
Seketika baby Angger sangat marah dan menangis semakin kencang.
"Bawa kesini Bang, Abang pasti menghinanya"
"Menghina apa sih? Kata-katamu itu seperti Abang ini tersangka penistaan" kata Bang Langsang sambil berjalan membawa Angger pada Mamanya.
~
Bang langsang ikut merebahkan diri di samping Andin lalu mendekap tubuh istrinya yang sedang memberi ASI untuk Angger dari belakang.
Terdengar bunyi tegukan keras dari jagoan kecilnya.
"Abang haus ya, Papa nggak minta" kata Bang Langsang.
"Haus donk pa, habis Papa buat nangis." jawab Andin.
"Bro.. gantian donk..!!" ucap lirih Bang Langsang.
Seketika Andin menoleh geram. "Apa sih Bang, masa di depan anaknya bilang begitu"
"Aahh.. cuma bilang aja. Nggak ada niat macam-macam sayang" jawab Bang Langsang berkilah tapi berbanding terbalik dengan gerak tubuhnya yang semakin memepetnya rapat.
"Ini nggak macam-macam?"
"Biarkan Abang begini sebentar, biar sedikit lega, pekerjaan aman terkendali" Bang Langsang beralih mencium curuk tengkuk Andin dengan dengan lembut.
Andin tau kegelisahan Bang Langsang. Suaminya itu berusaha 'menenangkan' diri dengan memanjakan diri sendiri. Rasa tidak tega Andin pun muncul. Ia melihat Angger sudah kembali tertidur.
"Bantu Andin posisi telentang Bang..!!" pinta Andin.
Bang Langsang pun sigap membantu Andin, ia mengira punggung istrinya sedang lelah dan pegal, maka ia segera membantunya.
"Abang lakukan sendiri..!!"
"Haah.." Bang Langsang bingung dengan perkataan Andin.
"Daripada Abang pusing sendiri, ini baru empat hari Bang, empat puluh hari masih panjang. Ini Andin khan juga dapat perlakuan khusus. Andin takut lama pulihnya"
Bang Langsang mengerti arah pembicaraan Andin. "Nggak apa-apa. Abang sabar nunggunya dek"
__ADS_1
"Andin sudah memberi Abang pilihan. Andin nggak mau Abang marah nggak jelas karena keinginan Abang tidak terlampiaskan."
"Abang janji nggak akan seperti itu" janji Bang Langsang tapi ekspresinya tidak menunjukkan keseriusan.
"Ya sudah, kalau Abang melanggar.. Andin pergi dari rumah" ancam Andin.
"Iyaa sayang.. Abang nggak akan begitu"
Bang Langsang mundur teratur, sebenarnya ia tau banyak cara menuju Roma, hanya saja ia benar-benar menginginkan pendekatan yang sempurna, bukan hanya sekedar penyelesaian satu belah pihak karena dirinya juga memikirkan perasaan Andin yang mungkin saja juga menginginkan belaian sayang darinya.
"Kita tidur saja ya, ini sudah hampir pagi. Kamu harus banyak istirahat karena butuh banyak pemulihan" kata Bang Langsang.
***
Siang hari Bang Langsang menggeliat, tengkuknya terasa berat. Tiba-tiba ada panggilan telepon dari Papa Ranggi. Bang Langsang mengangkatnya.
"Wa'alaikumsalam.. gimana Pa?"
"Oma sakitnya semakin Parah, Papa mau berangkat ke Jepang sama Mama. Sementara Papa dan Mama nggak bisa jenguk kalian ya, sama sesekali kamu hubungi adikmu Ayu, kehamilannya sudah mau memasuki tujuh bulan..!!" kata Papa Ranggi.
"Iya Pa, kapan Papa berangkat?"
"Siang nanti" jawab Papa Ranggi. "Sekalian kamu kabari Khaja, dia nggak bisa Papa hubungi"
"Khaja sedang ada kegiatan di luar Pa, nanti aku sampaikan"
Malam ini Inay dan Angger sama-sama rewel membuat Papa Mamanya cemas. Naya sudah kelelahan, Andin pun sudah tak sanggup menggendong Angger tapi si kecilnya itu juga tidak mau ikut dengan sang Papa.
"Ada apa ya, Angger dan Inay menangis terus" kata Bang Khaja di ruang tamu rumahnya.
"Iya Bang, rasanya Naya nggak kuat lagi berdiri."
"Tidurlah, Inay nggak nangis nih Abang gendong"
"Tapi Abang besok kerja" Naya merasa tidak enak pada suaminya.
"Nggak apa-apa, tenaga Abang lebih kuat dari kamu.. di kantor kalau ada waktu luang, Abang bisa mencuri waktu tidur tapi kamu nggak bisa" jawab Bang Khaja.
braakk..
"Andiin.. Ya Tuhan..!!"
Suara kepanikan Bang Langsang terdengar hingga rumahnya. Suasana gaduh semakin menjadi sampai ajudan Bang Langsang datang terburu-buru.
Bang Khaja melihat dari jendela, Bang Langsang menyerahkan Angger pada om Kardi lalu Bang Langsang mengangkat seseorang dan pastinya itu adalah Andin.
"Ada apa Bang?" tanya Naya.
__ADS_1
"Andin pingsan, mungkin kecapekan. Selama hamil dia sama sekali tidak sehat" jawab Bang Khaja.
"Ya ampun, mana Inay..!! Abang kesana bantu Bang Langsang. Kasihan Bang" Naya sedikit mendorong punggung Bang Khaja.
"Sudah ada Kardi, besok saja Abang tanyakan. Abang juga jaga kamu. Masalahmu saja belum beres kok sudah kesana sini"
##
Opa Rico menggenggam erat tangan Oma Jihan.
"Abang masih tampan seperti yang dulu" setelah sekian lama sapaan itu terdengar lagi di telinga Opa Rico.
"Tentu saja, bukankah wajah ini yang membuatmu tergila-gila"
Oma Jihan tersenyum. "Kapan Abang letakan lagi sabun mandi untuk mengelabui Jihan"
"Kalau sudah pulang Abang akan mengajakmu main sabun di kolam kecil" kata Opa Rico menahan air matanya.
"Iya Bang, Jihan mau pulang. Jihan rasa Papa, mama dan Mbak Asya sudah menunggu Jihan" ucap Jihan.
"Nanti.. akan ada waktunya kamu bertemu mereka. Ini masa bahagiamu bisa melihat semua cicit kecilmu." Opa Rico mengusap kening Oma Jihan. Ia baru menyadari rambut istrinya perlahan rontok dan habis. Bibir merah yang dulu ranum kini semakin memucat dan kering.
"Kenapa Bang, Jihan sudah jelek ya?" pertanyaan khas sewaktu Jihan masih muda dulu.
"Nggak, kamu cantik.. sangat cantik. Bidadari di hatiku" Opa Rico menciumi tangan Oma Jihan.
"Abang punya dua bidadari"
"Tapi kamu yang paling Abang cintai" ucap jujur Opa Rico. Puluhan tahun menjalani biduk rumah tangga bersama dengan Oma Jihan tentu saja akan meninggalkan ribuan bahkan jutaan kenangan indah.
Tak di pungkiri rasa cintanya untuk Asya tidak bisa hilang begitu saja tapi Jihan adalah segalanya.
Oma jihan tersenyum cantik mendengarnya. "Entah kenapa Jihan bisa mencintai ayahnya Gazha."
"Karena saat itu Abang ingin menjadi Papanya Ranggi" jawab Opa Rico.
Bunyi alat di ruangan itu semakin lemah, Opa Rico gemetar ketakutan. Ia bersiap menekan tombol darurat.
"Jangan Bang, Jihan ingin berdua denganmu. Sebentar saja..!!"
.
.
.
.
__ADS_1