Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
71. Lemah.


__ADS_3

Warning..!!!!!!!


🌹🌹🌹


"Masa bagian begini harus Bang Ranggi yang tangani..!!"


"Iya nih, suamimu memang keterlaluan" Bang Ranggi tak hentinya menjadi kompor di tengah Dinar dan Bang Ares


"Cepat bersihkan Langga. Jangan cuma pintar buatnya, urusnya nggak mau" tegur Dinar.


"Ini lho lagi Abang bersihkan" jawab Bang Ares tanpa berani berdebat lagi meskipun setengah mati dirinya kesal dengan Bang Ranggi.


:


Hana tertegun sejenak di samping pintu ruangan Bang Ranggi kemudian menyimpan hasil USG dari Bang Joy ke dalam tas.


"Apa kata Bang Joy?" Bang Ranggi memeluk Hana dari belakang dan mengusap perut Hana, matanya melirik kertas yang baru saja masuk ke dalam tas Hana.


"Ini hasil USG nya dedek" Hana kembali menarik dan menyerahkan foto USG tersebut pada Bang Ranggi.


"Bagaimana nih lihatnya? Anakku laki atau perempuan?" Bang Ranggi tetap melihatnya meskipun ia tidak tau apa artinya.


"Hana juga nggak tau Bang, yang jelas anak Abang sehat" jawab Hana.


"Alhamdulillah..!!"


Hana berbalik badan dan langsung mengalungkan kedua tangan lalu mengecup bibir Bang Ranggi yang sama sekali tidak siap mendapatkan serangan dari istri tercinta.


"Huusshh.. ini di kantor, jangan aneh-aneh"


"Apa Abang sungguh nggak rindu sama Hana. Empat bulan ini Abang membatasi diri, Hana tau itu" jemari lentik Hana berjalan menyusuri dada Bang Ranggi hingga ke bawah. Bang Ranggi sempat menepis pelan jemari itu. "Jangan tolak Hana..!!" pintanya sambil melonggarkan ikat pinggang Bang Ranggi.


"Jangan cari perkara" tegur Bang Ranggi.


"Apa Hana sudah nggak menarik lagi?" tanya Hana kemudian berjinjit dan mengecup kembali bibir Bang Ranggi.


"Bukan begitu caranya..!!" Bang Ranggi terpancing gemas dan akhirnya mel*mat bibir Hana dengan rakusnya. Rasa rindu membuat desiran di dada naik dan turun.


Lama semakin lama perasaannya berantakan. Ia mengambil ponsel dan menekan tombol perwira yang bertugas dan memberi jeda nafas untuk Hana.

__ADS_1


"Ijin Abang, istri saya sedang tidak sehat. Ijin untuk mendahului meninggalkan tempat" pamit Bang Ranggi.


...


Tak lama mereka sudah berada di rumah. Pintu rumah baru saja terkunci, Bang Ranggi langsung mengangkat Hana dan membawanya ke dalam kamar.


"Abaaang.. Hana takut jatuh..!!" pekik Hana karena Bang Ranggi mengangkat tubuhnya dengan perut yang sangat besar.


Bang Ranggi tidak menjawabnya. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal saja.


~


Bang Ranggi terpejam mengusap perut Hana, ingin sekali rasanya menyelesaikan hasrat dan rindunya tapi ia pun memikirkan Hana dan bayinya.


"Kenapa Abang terus menghindari Hana?? Apa Hana terlalu gemuk?? tidak menarik lagi karena hamil??" wajah Hana terlihat murung.


"Kenapa bicara begitu?"


"Karena Abang selalu menghindari Hana. Bukankan kita masih bisa memakai cara lain, bukannya malah menghindar. Apa Abang punya perempuan lain di luar sana yang sudah memuaskan hasrat Abang?" akhirnya kata itu terlepas dari mulut Hana.


"Kalau bicara itu di atur, nggak baik dek" tegur Bang Ranggi.


"Mana ada suami yang kuat terlalu lama tidak menyentuh istrinya" Hana ingin beranjak dari tidurnya tapi Bang Ranggi menarik Hana dan segera memeluknya dengan erat.


Hana terdiam dan menyadari tapi tetap saja ada sisi hati yang tidak bisa ia tolak hadirnya. Entah kenapa.. dirinya begitu merindukan belai lembut Bang Ranggi dan ternyata Bang Ranggi memahami hal itu.


Melihatnya.. tentu ada hati yang tidak tega. Bang Ranggi pun kalah apalagi sejak tadi imannya sudah goyah. "Sikapmu ini buat Abang sedih, taukah kamu tersiksanya batin Abang berbulan-bulan beristighfar, membuat capek badan biar nggak terus adu banteng"


"Maaf.. Hana yang jahat, Hana salah Bang" perlahan perasaan Hana mulai stabil dan bisa berpikir jernih. Tatapan mata Bang Ranggi sudah menjawab dengan jelas bagaimana perjuangan seorang suami yang terus menjaga istri dan calon anaknya.


Jari kekar itu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Hana. "Abang yang salah, seharusnya Abang mengedepankan komunikasi dan tidak egois membiarkanmu 'kesepian' padahal Abang juga merasa sepi"


Entah siapa yang memulai lebih dulu, perlahan wajah keduanya semakin mendekat, bibir pun berpagut bertukar rasa hingga terdengar de*ah kecil dari bibir keduanya. Tanpa sadar satu persatu kain pembatas di antara mereka berhamburan di lantai.


"Gimana ini Mas?" Hana membuat pertanyaan yang salah di sela jeda nafas mereka.


"Tanggung yank, adiknya Terong Belanda sudah ngamuk. Bablas wae ya..!!!!"


...

__ADS_1


Hana duduk meluruskan kaki di sofa dakron di ruang tengah. Empat kali meladeni hasrat Bang Ranggi sungguh membuatnya luar biasa kelelahan. Ingin menyudahi di ronde pertama tapi ternyata Bang Ranggi tidak melepaskannya begitu saja dan seharusnya ia menyadari akibat dari semuanya.. Bang Ranggi tidak akan cukup satu kali apalagi kalem mengerjakan tugasnya apalagi setelah menahan rindu berbulan-bulan.


"Uuuhh.. kenapa sakitnya nggak hilang juga. Mana papa mu sudah ngorok kalau sudah di ladeni, K.O nggak bisa di ganggu" gerutu Hana tapi harus ia akui bahwa dirinya juga merasa sangat puas hari ini.


Dari ruang tamu memang terdengar suara dengkuran, suara Bang Ranggi yang tidur tertelungkup kelelahan usai memenangkan pertemuan di medan laga.


tok.. tok..tok..


"Selamat sore. Ijin Dan..!!"


"Duuhh.. siapa nih yang ketuk pintu." gumam Hana.


"Bang.. Abaaaaang.. ada tamu" Hana memanggil Bang Ranggi dengan sedikit keras. Tak mungkin dirinya beranjak untuk membuka pintu dengan pakaian haram favorit suami tercinta.


"Maaass..!!!!" Hana memancing Bang Ranggi dengan panggilan lebih kuat lagi.


Mendengar suara Hana, seketika Bang Ranggi berjingkat. Matanya masih memerah.


"Dek..!!" Bang Ranggi mengedarkan pandangan ke seisi kamar tapi tidak ada Hana disana. Ia pun memakai celana pendeknya dengan cepat dan segera keluar kamar mencari Hana.


"Kenapa dek? ada yang sakit?? Apa mau tambah lagi??" tanya Bang Ranggi berjongkok cemas mencari kemungkinan Hana merasa kesakitan di sela nyawa yang belum terkumpul sempurna.


"Nggak.. Hana sudah capek Bang. Itu lho ada tamu di luar. Masa Hana yang buka pintu" jawab Hana.


Bang Ranggi menoleh ke arah ruang tamu, memang ada orang disana. Ia mengecup kening Hana. "Oohh.. kirain mau lagi. Ya sudah kamu tunggu disini. Abang buka pintu"


~


"Siap Dan, saya mau menyusul Imelda karena dia bawa anak saya pulang kampung"


"Usia anakmu masih satu bukan khan?" tanya Bang Ranggi melihat wajah Om Richi kehilangan gairah hidup.


"Siap.."


"Ya sudah sana.. nanti saya teruskan laporanmu. Hati-hati di jalan dan semoga masalahmu segera selesai" kata Bang Ranggi yang kini sudah menjabat sebagai Perwira Intel lagi.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2