Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
88. Efek lelah dan rindu.


__ADS_3

Ibu manager malu setengah mati dan mendapat teguran keras dari pemilik hotel di pinggir pantai karena Bang Ranggi dan anggota lain tidak ingin melanjutkan acara tersebut.


Sepanjang jalan Bang Ranggi terus mengomel sedangkan Bang Tegar terdiam murung menatap hamparan bakau di pinggir jalan.


"Kalian ini kenapa? Emosi sekali. Kalau kita membatalkan sepihak tanpa alasan yang jelas.. kita pun bisa kena teguran atasan" kata Bang Ares mendinginkan hati kedua sahabatnya.


"Batal ya batal, mau hukum ya hukum saja" jawab Bang Ranggi ringan.


Bang Ares memilih diam karena percuma saja ribut dengan pria yang sedang panas hati.


...


"Kamu sudah datang bulan dek?" tanya Bang Ranggi sesaat dirinya sudah sampai di rumah tadi.


"Belum Bang. Tapi waktu habis melahirkan Cherry, seingat Hana baru dapat enam bulan kemudian" jawab Hana sembari menerawang mengingat kehamilan pertamanya dulu.


Bang Ranggi mengangguk tersenyum kecil mendengarnya, ia pun menghampiri Hana yang sedang menata selimut bayi yang belum sempat di bereskan pagi tadi.


Tangan Bang Ranggi menyelinap masuk mencubit gemas perut Hana yang masih tetap stabil meskipun telah melahirkan dua orang anak. Rasa takut mengingat Hana melahirkan masih terasa jelas dalam lubuk hatinya, tapi rasa rindunya juga mencuat membuatnya tak tahan. Kali ini nyalinya lebih berani mendekati sang istri, hanya terasa tubuh Hana yang gemetar.


"Abang lepas ya? Kita khan hanya berdua" pinta Bang Ranggi sambil memegang jilbab Hana.


"Abang mau apa?" tanya Hana mulai cemas melirik raut wajah Bang Ranggi.


"Masa nggak tau neng?"


"Tapi Bang.. Hana belum selesai, kurang beberapa hari" kata Hana.


"Abang tau, Abang nggak akan minta lebih, cuma pengen nyolek sedikit" bujukan setan dari Bang Ranggi. "Boleh ya?" tanyanya sekali lagi.


...


Hana menjerit sampai menangis tapi Bang Ranggi segera membungkamnya karena cemas Khaja akan terbangun mendengar suara Mamanya, ia pun sampai tak menyadari sudah menggigit bibir Bang Ranggi dengan kuat.


Bang Ranggi antara sadar dan tidak ingin menarik diri tapi semua usahanya sia-sia saat merasakan Hana mulai menurut dan melunak sampai akhirnya ia lebih memilih pasrah melepaskan rasa rindu yang tertahan.


"Baang.. Hana takuut" ucap Hana kemudian mendorong pelan Bang Ranggi.

__ADS_1


"Maafin Abang ya.. Maaf..!!!!" Bang Ranggi kembali menciumi Hana dan membujuk rayu istrinya hingga satu detik.. dua detik.. tiga detik......


"Alhamdulillah.." Bang Ranggi ambruk lemas di samping Hana.


//


"Zani takut Abang marah, Zani bisa di cambuk Bang Ranggi, Bang Gazha pasti juga marah"


"Abang yang tanggung jawab dek..!!" Bang Tegar terus membujuk Zani. Percuma Zani menolak, kekuatannya tak sebanding dengan Bang Tegar.


"Nggak mau, Zani takuuutt..!!"


"Sebentar aja"


"Abaaaaang..!!!!"


...


"Abang tambahin nih, jangan ngambek lagi to sayang" Bang Ranggi sampai mengeluarkan seluruh isi dompetnya karena Hana sangat marah padanya.


"Abang nih nggak sabar sekali" pekik Hana.


"Hana sebel sama Abang" Hana tertelungkup dan menangis kesal.


"Buat jajan nih, Abang taruh di sampingmu ya..!!" pelan-pelan Bang Ranggi meletakan uang tiga juta di samping bantal Hana.


Tangan Hana secepatnya menyambar uang tersebut meskipun tak melihat Bang Ranggi sama sekali.


"Sungguh wanita sejati. Ya sudahlah yang penting aku nggak sampai tidur di teras" gumamnya sambil berjingkat keluar kamar pelan-pelan.


-_-_-_-_-


Zani masuk ke dalam kamar tanpa bicara sepatah kata pun dan itu semakin membuat hati Bang Ranggi berantakan tidak tenang.


"Kenapa Zani ngambek?" Bang Ranggi menegur Bang Tegar yang mengantarkan Zani pulang.


"Nggak apa-apa. Biasa perempuan" jawab Bang Tegar santai. "Kau sendiri.. kenapa wajahmu kusut??"

__ADS_1


"Biasa perempuan"


Keduanya pun akhirnya menghela nafas sampai Bang Ares datang ke rumah Bang Ranggi dengan wajah segar tanpa beban. "Kalian ini masih saja uring-uringan. Ayo nongkrong di luar saja. Kita ngopi" aja Bang Ares.


...


"Sabaarr.. beberapa hari lagi khan Hana selesai."


Bang Ranggi menghembuskan asap rokok tak tentu arah. Rasanya tak sanggup menjawab kata-kata Bang Ares.


"Kau juga yang sabar, tunggu Danyon ada waktu baru selesaikan pengajuan nikahmu itu." tak pilih kasih Bang Ares juga membesarkan hati Bang Tegar.


Bang Tegar pun terdiam dengan pandangan kosong.


"Nih.. wedhang jahe buat kalian. Jangan mikir yang satu itu terus. Pikirkan pekerjaan kita besok yang juga harus di pikir. Kepalaku pusing kalau harus mikir sendirian" Bang Ares menyodorkan dua gelas wedhang jahe untuk menenangkan hati sahabatnya.


"Boleh ku bantu mikir boss?" tanya Bang Hasdin.


"Hmm..." Bang Ranggi sedang badmood malam ini.


***


Tengah malam Bang Tegar masuk ke kamarnya. Dilihatnya spreinya yang berantakan dan kotor, ia sampai mengusap wajahnya kemudian menarik sprei tersebut dan melemparnya ke bak cucian.


//


"Pantas lah Hana marah.. mungkin aku juga keterlaluan" Bang Ranggi melihat mata Hana sembab. Bang Ranggi kemudian mengecup kening Hana dan duduk di samping ranjang. Jelas sekali jejak peperangan mereka berdua. Ada rasa sesal yang bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.


Sayang.. maafkan suamimu yang keterlaluan ini. Abang akui.. Abang salah. Abang nggak akan membela diri. Maaf sayang..!!


Teringat padanya saat bertugas beberapa waktu yang lalu, cobaan terus menghampiri.. mulai dari wa*ia, g*y hingga w*s berseliweran di sekitarnya. Bukan dirinya tidak bisa membedakan antara pekerjaan dan hal pribadi, namun keadaan saat itu turut mempengaruhi keadaan psikisnya apalagi tugas penyelesaian itu masih harus mendekat pada hal demikian. Di antara iman dan keteguhan pasti ada godaan dan di dasar hatinya sungguh tak ingin terjerumus dalam lembah hitam hanya karena nafsu sesaat.


Perlahan matanya terpejam lelah. Tumpukan pekerjaan yang menumpuk bercampur rasa rindu yang terkendali membuatnya berantakan dan akhirnya hal tak di sengaja pun terjadi.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2