Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 33. Hanya karena Andini.


__ADS_3

"Kemana uangnya??" tanya Bang Langsang.


"Ijin Dan.. siap salah"


"Kamu ingat nggak apa yang selalu saya tekankan?"


"Siap.. tidak masalah dengan nominal, tapi kalau hilang.. komandan yang akan tersambar petir" jawab Bang Kristian.


"Naahh.. kamu saya tegur disini paling hanya lima menit, sedangkan saya sehari semalam tidak disapa pemegang tahta kedaulatan struktur ekonomi perdapuran." kata Bang Langsang kemudian duduk. "Masalah sepele saja kadang buat saya pening"


Bang Kristian akhirnya tanpa sadar ikut duduk di samping Bang Langsang.


"Iya Dan, saya juga lagi pusing sama Indri. Dia mabuk kalau saya nggak bau minyak urut" jawab Bang Kristian.


Bang Langsang menepuk bahu Kristian. "Sabar ya Kris.. daripada terjadi hal yang tidak di inginkan dan malah jadi kerepotan kita, lebih baik kita ngalah. Saya sudah kapok sampai akhirnya harus begini."


...


Bang Pratama melihat rekam medis Andin yang sebenarnya sangat sehat dan baik, tapi karena sebuah insiden kecil malah membuat Andin harus menginap di rumah sakit.


"Sudah boleh pulang nih Lang, tapi ingat jangan sampai stress lagi ya" pesan Bang Pratama.


"Siap Bang"


"Hmm.. ijin Abang.. kira-kira kapan saya sudah boleh 'pendekatan' lagi dengan istri?" tanya Bang Langsang.


"Owalaah.. jadi sebenarnya yang paling stress itu kamu to Lang??"


Bang Langsang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dirinya malu untuk bertanya tapi daripada batinnya terus tersiksa, pekerjaan berantakan dan akhirnya menimbulkan masalah, ia pun memutuskan untuk bertanya pada pihak yang tepat.


"Siap"


Bang Pratama membuka kembali lembar buku riwayat kesehatan Andin. "Hmm.. kehamilan Andin sudah masuk trimester kedua, mualnya sudah berkurang banyak, sudah mulai mau makan dan tidak pendarahan.. sudah boleh sih Lang, asal hati-hati"


"Siap Bang, terima kasih banyak infonya"


"Satu lagi Lang.. ingat keadaan istrimu. Jangan lepaskan pantauan. Pregnancy blues juga harus di waspadai"


"Siap.. saya paham"


***

__ADS_1


Bang Langsang mengusap perut Andin. Asa cemas membuatnya tidak bisa tidur dan terus terjaga hingga suara ayam terdengar menyambut pagi.


Sejak kejadian kemarin, Andin tidak lagi banyak bicara. Andin lebih banyak diam daripada berinteraksi dengannya dan itu membuat hati Bang Langsang terasa sakit, penuh sesal dan baru menyadari ternyata dirinya merindukan manjanya seorang Andin.


"Manja lagi sama Abang donk sayang. Baru sehari kamu nggak manja.. Abang sudah kangen"


...


Bang Langsang melihat Andin sedang menata pakaiannya sendiri saat baru saja berkoordinasi dengan beberapa orang anggotanya di rumah sakit.


"Biar Abang saja yang bereskan"


"Ini sudah beres" jawab Andin singkat.


"Kalau begitu Abang bayar administrasi dulu..!!"


"Sudah juga" jawab Andin lagi.


"Pakai uang siapa?" tanya Bang Langsang.


Andin masih sibuk menutup tasnya yang berisi uang hadiah bucket dari Bang Langsang. "Uang Andin. Andin khan kerja"


"Nggak apa-apa"


"Itu bukan jawaban. Kamu mau buat Abang menanggung dosa besar karena tidak menafkahimu??" suara Bang Langsang sedikit meninggi tapi sesaat kemudian ia mengurangi ketegangan ototnya karena mata Andin mulai berkaca-kaca.


Papa Ranggi masuk saat suasana masih memanas. "Ada apa lagi ini??"


"Abang, mulai marah lagi" jawab Andin kemudian duduk dan menangis.


Papa Ranggi menggeleng cemas melihat menantunya mulai sedih lagi. Beliau melirik Bang Langsang.


"Kamu ini bisa momong bumil nggak? Kenapa setiap kali selalu ribut."


"Maaf Pa" Bang Langsang memilih mengalah.


Papa Ranggi menghampiri Andin. "Bang Langsang marah kenapa?"


"Andin bayar biaya rumah sakit ini sendiri."


"Kenapa begitu? Ada suamimu dan memang kewajiban Bang Langsang bayar" kata Papa Ranggi.

__ADS_1


"Andin tidak ingin menjadi beban Abang, begitu juga seandainya Andin tidak bekerja.. Andin tetap akan mencari penghasilan sendiri untuk biaya persalinan dan biaya hidup anak Andin" ucap Andin menekan ke ulu hati padahal baru semalam Andin mengambil bucket uang hadiah dari Bang Langsang.


"Abang tanya kemana bucket uangnya? sejak pertama Abang kirim bucket itu hingga saat ini. Uangnya masih ada dan Andin simpan rapi kalau Abang ingin mengambilnya kembali"


"Apa-apaan kamu ini, bicara nglantur ngalor ngidul nggak jelas..!!!"


Agaknya Papa Ranggi mengerti keadaan menantunya sebab sang istri pun pernah mengalami depresi. "Langsang..!!! Papa keluar dulu.. kamu bicarakan baik-baik semuanya sama Andin..!! bumilmu terlalu sensitif Lang"


Papa Ranggi keluar dan menutup pintu kamar Andin.


~


Bang Langsang memeluk Andin dengan lembut, di usapnya dengan sayang punggung sang istri lalu menyandarkan kening Andin di bahunya. "Sebenarnya kamu kenapa? bantu Abang untuk tau inginmu. Kalau masih ada kata dan sikap Abang yang mengganjal di hatimu.. Abang minta maaf dek. Abang sungguh-sungguh minta maaf" bujuk Bang Langsang.


Tak disangka Andin langsung menangis. "Andin sudah gendut, nggak cantik lagi. Di pipi sering ada dua jerawat, rambut Andin kaku seperti kawat, pasti di luar sana banyak wanita cantik yang menarik perhatian Abang" jemari lentiknya mencubiti pinggang Bang Langsang.


Bang Langsang hanya bisa memercing menahan sakit. "Lalu apa hubungannya dengan bucket uang yang Abang kirim buat kamu"


"Siapa tau Abang ingin menikah lagi karena uangnya kurang. Andin tau sekarang sudah nggak cantik lagi" jawab Andin jauh di luar pikiran Bang Langsang.


"Naudzubillah min dzaalik.." Bang Langsang mengusap wajahnya saking syoknya. "Darimana datangnya pikiran itu??? sekelebat saja pikiran itu tidak pernah terlintas dalam benak Abang. Kamu terlalu berlebihan sayang"


"Benarkah Bang??"


"Sumpah..!!!! satu bumil seperti kamu saja kepala Abang mau pecah rasanya. Mana sanggup Abang mikir istri dua"


"Jadi benar Andin merepotkan????" Andin semakin mendung mendengarnya. Bang Langsang menjadi serba salah di buatnya.


"Nggak yank.. bukan kamu yang merepotkan. Abang saja yang pikirannya abstrak nggak jelas" jawab Bang Langsang.


"Oohh.. kirain Andin"


"Lailaha Illallah.. cukup anak satu ini saja Tuhan. HambaMu ini tersiksa sekali nggak kuat mikirnya" gumam Bang Langsang rasanya stress sekali memikirkan Andin.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2