
"Kamu membuat Abangku hampir gila, kau mengambil Bang Irfan dariku, sekarang kau juga mengambil Bang Asnan dariku. Apa aku harus seperti dirimu.. memberikan tubuhku agar pria yang kucintai juga mencintaiku." Ayu berteriak tak karuan di dalam mobil sampai Bang Huda begitu sedih di buatnya.
"Itukah ungkapan perasaanmu dek?" Bang Huda mengusap pipi Ayu.
Tak lama Ayu merasa mual, ia sudah menutup mulutnya hampir melompat dari mobil. Bang Huda pun menepikan mobilnya dan membantu Ayu.
~
Sudah sepuluh menit, Ayu masih saja muntah.
"Istrinya hamil ya Pak?" sapa seorang pria setengah baya yang sedang berjualan kopi keliling menggunakan sepeda kayuh.
Bang Huda tersenyum pada bapak tersebut sambil terus mengurus Ayu.
"Hamil muda memang berat Pak, terkadang menyiksa. Itulah prosesnya untuk menghadirkan garis keturunan. Tidak tega tapi itulah kodrat wanita." kata bapak setengah baya tersebut.
Ayu memang tidak sedang mengandung buah hatinya tapi ucapan pria setengah baya tersebut begitu mengetuk perasaan Bang Huda. Tanpa sadar ia mengusap perut Ayu.
"Istrinya di sayang ya Pak, demi bapak.. dia sudah rela bersakit-sakit seperti ini"
Kamu sakit memang bukan untuk Abang dek. Saat ini kamu menangisi pria lain. Tapi apakah wajar bila hati Abang jadi sesakit ini?. Sakit sekali melihatmu menangisi dia. Laki-laki yang sangat kau cintai tapi tidak membalas seluruh hatimu.
"Saya pasti menyayangi nya Pak" jawab Bang Huda.
:
"Ayu sudah mau muntah lagi Bang, kembung terlalu banyak air kelapa..!!"
"Awas saja kalau kamu punya niat muntah di mobil, Abang suruh kamu cuci sampai bersih, mengkilat tanpa noda..!!!" ucap ketus Bang Huda. "Gara-gara pria tidak berguna itu, kamu sampai kehilangan akal. Apa laki-laki di dunia ini hanya ada Asnan???? Laki-laki tidak jelas begitu saja masih kamu banggakan"
"Ya memang hanya Bang Asnan yang paling tampan. Bang Asnan itu baik asalkan Linda tidak mengganggu" kata Ayu.
"Berati kamu tau kalau Linda pacarnya Langsang?" tanya Bang Huda.
"Tau.." jawab Ayu tidak banyak bicara. Ia berusaha menghindari tatapan mata Bang Hudan dan mengedarkan pandangan pada kelap kelip lampu di bawah bukit. Agaknya setiap mengingat tentang Belinda hatinya terasa sangat sakit.
"Kalau kamu tidak bisa melepas dan mengikhlaskan apa yang sudah Asnan lakukan padamu, kenapa tidak kamu lepaskan saja sedangkan Langsang melepaskan Belinda demi mendapatkan Andini." kata Bang Huda.
"Apa yang Abang tau tentang Bang Asnan?" tanya Ayu menyelidik.
"Mungkin seperti yang kamu tau" pancing Bang Huda padahal dirinya sama sekali tidak banyak tau tentang Letda Asnan.
"Ayu memaafkan Bang Asnan.... setelah dia bersama Belinda malam itu.... karena Ayu benar-benar mencintai Bang Asnan." jawab Ayu dengan suara seraknya, nadanya terbata-bata seakan ragu dan menyimpan banyak hal.
Bang Huda cukup kaget mendengarnya. Pasalnya setiap anggota yang terlihat hal yang tidak sesuai norma pasti akan mendapatkan sanksi yang tegas. "Benarkah??" tanya Bang Huda.
Ayu mengangguk cepat.
"Cinta dan bodoh beda tipis, dan kamu tergolong makhluk yang bodoh. Kamu bilang ikhlas tapi hatimu sakit khan?"
__ADS_1
"Nggak. Ayu sudah ikhlas" Ayu menunduk menyembunyikan wajahnya.
Bang Huda mengangkat dagu Ayu dan mengarahkan pandangan agar bisa menatapnya. "Katakan dengan jelas keikhlasan mu itu..!!"
Kedua pasang bola mata itu saling menatap. Ada sorot sayu penuh luka dari Ayu. Perlahan air mata itu meluncur deras di balik isak tangisnya. Tangan Ayu memukul Bang Huda seolah meluapkan gemuruh perasaan yang tertahan kuat. Bang Huda membiarkan Ayu membuang semua emosinya, tak dirasakan nya sakit sesaat yang ia terima agar Ayu bisa merasa lega.
"Kenapa??? Kenapa nasib Ayu begitu buruk??? Kalau boleh memilih.. Ayu ingin mati saja..!!" pekiknya semakin histeris.
"Mereka belum tau?" pancing Bang Huda lagi.
"Ayu lebih memilih mati daripada keluarga harus tau aib ini. Lagipula kalau Abang tau, Ayu pun pasti mati di bunuh Abang. Foto itu masih di tangan Bang Asnan" kata Ayu mulai terbuka.
"Foto seksi mu???" tanya Bang Huda sangat hati-hati, ia takut salah bicara memancing Ayu untuk bicara.
"Iya Bang. Ayu harus bagaimana?? Ayu ingin cepat jadi tentara dan menggapai cita-cita sebelum foto itu benar-benar terbongkar. Ayu sudah habis-habisan dan keluarga tidak tau" jawab Ayu.
"Berapa yang sudah kamu berikan untuk laki-laki b*****t itu?" tanya Bang Huda.
"Seratus lima puluh juta." Jawab Ayu lagi.
Bang Huda memejamkan mata sesaat, hatinya terasa semakin nyeri memikirkan Ayu. Bukan masalah nominalnya yang ia permasalahan, tapi mental Ayu yang berusaha kuat menghadapi cobaan di tengah senyum manis dan cerianya selama ini. "Besok kita temui Asnan..!!"
"Jangan Bang, Abang nggak tau siapa Bang Asnan. Lagipula Ayu sudah di lamar Bang Asnan, tentu hal ini bukan masalah"
"Kalau bukan masalah, kenapa kamu sampai seperti ini. Dimana ketegasanmu?? Sekarang Abang tanya.. dimana kamu melakukannya sampai Asnan mengambil fotomu??" tanya Bang Huda.
"Ayu nggak ingat Bang, waktu itu Ayu masih pakai pakaian lengkap tapi foto itu ada di tangan Bang Asnan"
Ayu mengangguk cepat. "Ayu sudah sering melakukannya" jawab Ayu.
"Astagfirullah dek.." Bang Huda bersandar lemas, tapi pelukan itu tetap erat mendekap menenangkan Ayu. Tangannya mengepal kuat, matanya terpejam sembari menggigit kecil bibirnya mengurai rasa emosi yang ia tahan agar tetap stabil. "Kita temui Asnan.. Abang akan selesaikan semuanya..!!"
"Jangan Bang, kalau Bang Khaja dan Bang Langsang tau.. Ayu bisa di hajarnya."
"Abang yang tanggung jawab. Ini urusan laki-laki..!!!!!!!"
***
"Apaaaa??? Jam empat pagi buta kamu menemui saya untuk bicara hal ini????" Papa Ranggi sungguh syok mendengar permintaan Bang Huda.
"Siap..!!"
"Besar juga nyalimu. Punya apa kamu sampai berani meminta putri saya??" bentak Papa Ranggi menguji keteguhan Bang Huda.
Bang Khaja dan Bang Langsang berkacak pinggang menatap mata Bang Huda mengawal sang Papa menghadapi Bang Huda. Belum juga adzan subuh terdengar, suara ribut di samping taman rumah sakit sudah nyaring bunyinya.
"Mungkin saya bukanlah pria baik-baik. Saya juga tidak punya apapun untuk di banggakan.. tapi saya akan berusaha keras menjadi yang terbaik untuk membimbing Ayu"
"Katakanlah di hadapan kedua Abangnya. Kalau mereka setuju, segera temui saya..!!" perintah Papa Ranggi pasrah pada keputusan kedua putranya.
__ADS_1
Bang Khaja dan Bang Langsang menyeringai licik.
"Selamat datang kawan..!!" sapa Bang Langsang.
Bang Huda meneguk salivanya merasakan aura panas dari sorot mata Bang Langsang.
...
Pagi ini Andin sudah di perbolehkan pulang, ia sudah bisa menelan makanan meskipun tidak banyak.
"Kamu nanti langsung istirahat di rumah ya, di temani Mama sama Naya. Abang mau ke kantor sebentar.. ada beberapa pekerjaan" kata Bang Langsang.
Andin mengangguk karena ia tau betul kegiatan suaminya sangat padat.
...
"Dimana Huda??" tanya Papa Ares.
"Siap.. Ijin.. tidak tau Dan" jawab seorang anggota.
"Ijin Dan, ada keperluan keluarga" jawab seorang anggota yang lain.
//
Bang Asnan menatap Ayu berdiri di belakang punggung Bang Huda. "Ada apa Bang, kenapa menemui saya di luar bersama Ayu?"
"Saya hanya mau minta file foto Ayu yang kamu simpan..!!"
"Foto apa Bang? Saya nggak simpan foto Ayu" jawab Bang Asnan.
"Jangan pernah kamu bermain-main dengan hal seperti ini Asnan...!!" ucap tegas Bang Huda.
Bang Asnan menatap mata Ayu, terlihat sekali wajahnya sangat kecewa pada Ayu. "Apa yang tidak Abang tepati dek? Hingga detik ini.. foto itu masih tersimpan rapi dan tidak pernah keluar dari tempatnya. Kenapa kamu tidak percaya Abang? Abang cinta sama kamu dek" kata Bang Asnan.
"Percaya Bang. Ayu juga cinta sama Abang, tapi menurut Ayu.. cinta tidak seperti itu" jawab Ayu.
Bang Asnan berusaha menarik tangan Ayu dari balik punggung Bang Huda tapi Bang Huda menghalangi dan menepisnya.
"Jaga batasanmu Asnan..!!"
"Ayu tunangan saya Bang" kata Bang Asnan.
"Tunjukan rasa hormatmu Asnan..!!!! Ayu............"
.
.
.
__ADS_1
.