
Bang Langsang melajukan mobilnya dengan cepat menuju Markas, sampai di sana.. ia melihat Andin sama sekali tidak berani beranjak dari posisi.
"Ya Allah.. ini kenapa dek??" jantung Bang Langsang berdebar kencang.
"Andin nggak tau Bang" Andin menahan sakit sekuatnya.
"Sabar.. sabar.. kita ke rumah sakit" Bang Langsang membantu Andin untuk berdiri tapi seketika itu juga, Andin tak sadarkan diri.
"Dek.. Astagfirullah.. kenapa kamu ini dek..!!" Bang Langsang menepuk pipi Andin.
"Bawa dulu ke rumah sakit Lang. Mana kuncinya..!! Aku yang nyetir" Bang Huda meminta kunci dari Bang Langsang.
...
"Duuhh Lang, istrimu pendarahan" kata Bang Pratama.
"Maksudnya bagaimana Bang??" tanya Bang Langsang bingung.
"Tanda-tanda keguguran Lang" jawab Bang Pratama.
Bagai tersambar petir di siang bolong, Bang Langsang nyaris pingsan mendengarnya untung Bang Huda sigap menahan tubuh littingnya itu.
...
"Kamu itu sedikit banyak tau tentang ilmu kesehatan. Masa kamu nggak bisa merasakan tubuhmu sendiri. Apa kamu nggak peka ada sesuatu yang berbeda??? Rasa mual, lemas... atau jangan-jangan kamu memang tidak menginginkan mengandung benihku karena mengejar karirmu??????" Bang Langsang sampai stress memikirkan kondisi Andin.
"Maaf Bang, Andin salah"
"Abang sudah memintamu untuk istirahat. Kenapa kamu abaikan???"
Amarah Bang Langsang terdengar sampai ke luar kamar. Bang Sumadi dan Bang Madya sampai ngeri mendengarnya.
"Ada apa ini??" tanya Papa Ranggi yang menyisihkan waktu di jam istirahat untuk menjenguk menantunya bersama Mama Hana.
"Siap.. Ijin.. tidak tau" jawab Bang Sumadi dan Bang Madya.
__ADS_1
Terdengar suara keras lagi dari Bang Langsang. "Kamu benar-benar mengecewakan Abang..!!"
Pintu kamar terbuka. Mama Hana segera memeluk menantunya yang menangis sesenggukan mendapatkan luapan amarah dari Bang Langsang.
plaaaaakkk...
"Apa suaramu bagus sampai harus berteriak sekuatnya..!!" tegur Papa Ranggi. "Duduk, redakan emosi dan tahan diri..!!" Papa Ranggi balik membentak Bang Langsang.
"Abaaang.. Ma_af" Andin terbata dalam sesaknya hingga pandangannya kabur dan menghilang.
"Andiiinn..!!" Bang Langsang panik melihat Andin mengejang.
...
Bang Langsang mondar-mandir tak karuan di depan ruang tindakan. Hatinya cemas tak tenang.
"Bodoh... inilah yang Papa cemaskan dari keteledoranmu. Dimana-mana usai berhubungan pasti ada persentase penyebab kehamilan. Bisa-bisanya kamu menyalahkan Andin. Dimana tanggung jawabmu??" Papa Ranggi sungguh geram merasakan kelakuan putra keduanya. "Apa otakmu geser, baru pakai pengaman setelah berkali-kali berhubungan di awal????"
Bang Langsang terdiam, pikirannya tak karuan sampai Bang Pratama keluar dari ruangan. Ia menatap mata Bang Langsang.
"Maaf Lang, Andin keguguran. Kandungannya masih terlalu muda.. lima minggu. Yang sabar ya" jawab Bang Pratama.
Tubuh Bang Langsang terhuyung lemas. Dunianya seakan terbolak balik. Bang Khaja dan Bang Huda menahannya dan mendudukkan Bang Langsang di kursi. Pandangan Bang Langsang nyaris hilang bahkan hanya untuk bersuara pun rasanya mulut itu terkunci rapat.
"Kalau sudah begini terus bagaimana??? Bukannya menenangkan Andin kamu malah semakin membuatnya stress. Sekarang kau tanggung akibat dari emosimu itu. Kalau sampai ada apa-apa dengan Andin juga.. kamu akan menyesalinya seumur hidup..!!" bentak Papa Ranggi.
Bang Langsang sudah tak kuat lagi menahan perasaannya, hatinya terluka penuh penyesalan, ia merutuki dirinya yang lepas kontrol sampai membuat semuanya menjadi runyam.
"Sudah cukup.. jangan ribut lagi. Ini pelajaran buat kalian semua" ucap Opa Rico untuk Bang Langsang, Bang Khaja dan Bang Huda. "Tidak ada yang mau musibah ini terjadi, begitu juga Andin. Taukah kalian, Andin yang merasa paling tertekan. Dia yang mengandungnya. Setelah ini yang paling utama adalah perbaikan psikisnya dari kamu Lang. Kalau kamu egois.. buyar semuanya"
"Kamu juga harus sadar Ranggi.. Kecerobohan Langsang juga bagian dari kelakuan mu dulu. Sekarang kamu merasakan sendiri bahayanya emosi. Kita harus saling menguatkan, terutama Andin. Pasti saat sadar nanti dia syok dan takut" pesan Opa Rico.
-_-_-_-_-
Bang Langsang mengintip dari jendela kecil di pintu masuk ke kamar rawat Andin. Istrinya itu terus menangis bahkan saat Mama Hana dan Oma Jihan berusaha menenangkan.
__ADS_1
Tak hanya itu, dokter terpaksa memberi oksigen karena Andin sulit untuk di tenangkan hingga hela nafasnya tidak beraturan.
Bang Langsang menguatkan hatinya tapi hatinya tak kunjung kuat menghadapi reaksi Andin. Tak di duga.. Papa Rahman merangkul bahu Bang Langsang. "Masuk saja.. Andin butuh kamu le..!!"
"Maaf Pa, aku salah"
"Jangan di bahas lagi..!! Papa minta tolong tenangkan Andin..!!" pinta Papa Rahman.
Setelah dirasa lumayan kuat.. Bang Langsang membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Begitu Bang Langsang masuk kamar, Andin semakin histeris dan merasa sangat bersalah karena sudah membuat Bang Langsang kecewa. "Andin minta maaf Bang, Andin nggak bisa menjaganya."
Bang Langsang memeluk Andin dan menenangkannya. "Sudahlah.. Allah yang belum percaya sama Abang. Menjagamu saja Abang tidak bisa.. jadi Allah mengambilnya lagi dari Abang" ucapnya ikut terbata penuh sesal dan terasa sesak di dada.
"Andin mau anak kita kembali Bang, Andin nggak mau kehilangan diaa" teriak Andin terdengar begitu pilu.
Para orang tua yang mendengarnya sampai ikut merasakan kesedihan itu, tak sanggup bicara dan hanya bisa mengelus dada merasakan tangis kehilangan dari Andin.
"Abang janji akan menggantinya dan akan mengembalikan dia sama kamu lagi. Abang janji..!!" Bang Langsang luluh lantah tak tau harus bagaimana menenangkan Andin. Untuk kesekian kalinya Andin kembali tak sadarkan diri.
:
"Andin memang punya mama, tapi mungkin mama tiri tidak senyaman saat ia mengadu pada ibu kandungnya. Papa juga sengaja meminta pada mamanya ini untuk membatasi hal tertentu agar Andin tidak terlalu terbuka dengan dunia luar. Intinya tidak ada yang mengajari dia dasar-dasar 'keibuan'. Papa minta maaf sampai harus terjadi hal seperti ini."
"Sama saja lah Bang. Saya juga salah kurang memberi poin penting pada Khaja dan Langsang sampai salah satunya mendapatkan sendiri akibat dari ke kakuan hati" Papa Ranggi ikut merasa bersalah menanggapi ucapan Papa Rahman.
Mendengar papanya berbincang, tak hentinya tangan Bang Langsang mengusap perut Andin sarat penyesalan. Ingin sekali menjerit menumpahkan perasaannya yang memenuhi hati, menyesakan dada. Dirinya mengingat saat Andin terus saja mual di pesawat, tapi ia sama sekali tidak peka akan hal itu. "Andaikan Abang lebih peka dengan keadaanmu, tentu semua ini tidak akan terjadi, maafkan suamimu yang ceroboh ini. Maaf.. Abang sudah jahat menyakiti hatimu..!!" bisik Bang Langsang di telinga Andin yang tengah tertidur pengaruh obat penenang.
Bang Langsang merasakan sudut mata Andin yang basah, air matanya meleleh dalam diam. Lama semakin lama perasaannya pun lemah. Bang Langsang memeluk Andin semakin erat. "Andiiiiin.. maaf, maaf sayang. Abang sudah mematahkan hak mu sebagai seorang ibu." Bang Langsang semakin histeris hingga Papa Ranggi pun turun tangan menenangkan putranya.
.
.
.
__ADS_1
.