Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 19. Bujukan.


__ADS_3

"Ijin Bang. Kapan saya bisa program untuk punya momongan lagi?"


"Minimal tiga bulan Lang, itu cukup sampai rahim Andin benar-benar siap dan kuat" jawab Bang Pratama.


"Apa tidak bisa lebih cepat Bang?" tanya Bang Langsang.


"Bisa saja, tapi resiko yang akan kamu hadapi pastinya semakin berat juga. Pendarahan tiba-tiba, lemah kandungan dan sebagainya" kata Bang Pratama memberi pengertian.


Bang Langsang termenung, pikirannya terbolak balik terbayang tangis Andin.


Kalau Andin cepat hamil, resikonya sangat besar.. tapi kalau Andin tidak kunjung hamil, kesehatannya akan semakin menurun.


...


"Kalau nggak makan, nanti kamu semakin sakit"


Andin memalingkan wajahnya. Sejak kemarin Andin sama sekali tidak mau makan. Istri Langsang itu sama sekali tidak bersuara dan hanya menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan pandangan kosong.


"Sedikit saja, dua suap juga nggak apa-apa" bujuk Bang Langsang.


Andin tetap terdiam. Kedua tangannya tak berpindah dari perut.


Papa Ranggi menghela nafas panjang. "Kalau begini terus, kapan Andin bisa cepat pulih?" Papa Ranggi sampai terbawa frustasi memikirkan Andin. "Kau ini keterlaluan sekali Langsang" ingin rasanya Papa Ranggi menghajar Bang Langsang.


∆∆∆


Sejak kejadian buruk yang menimpa Andin, Bang Khaja semakin protektif terhadap Naya. Apalagi Naya juga masih belum pulih dari bekas kecelakaan.


"Mau kemana dek, di kamar saja..!!"


"Naya mau ke kamar mandi Bang, capek tidur terus" jawabnya masih saja bernada ketus.


"Nanti kamarnya Abang jebol biar kamu nggak perlu lagi wira-wiri ke kamar mandi. Kalau terpeleset.. Abang bisa gila mikir kamu" kata Bang Khaja.


Naya terus menatap wajah Bang Khaja yang kian hari kian tampan tapi.. setiap menatap wajah itu, rasa mual nya menyerang. "Ganti baju Bang, Naya nggak suka lihat Abang pakai baju loreng.. tapi jangan buka maskernya..!!" Naya mulai dengan tingkah anehnya. Kemarin istrinya begitu menyukai dirinya memakai baju loreng, sekarang sudah tidak lagi.


"Ya sudah, Abang ganti pakaian dulu."


~


"Kenapa pakai baju itu, itu baju olahraga Batalyon."


"Terus mau yang mana?" tanya Bang Khaja.


"Pakai baju gambar raja kerbau" jawab Naya.


"Abang mana punya."


"Naya sudah belikan Abang baju gambar raja kerbau. Itu di ruang tengah..!!"


Bang Khaja pun segera menuju ruang tengah dan melihat dua kodi kaos bergambar raja kerbau. Ia pun menggelarnya setinggi mata agar bisa melihatnya dengan jelas. "Astagfirullah.. Allahu Akbar.. kamu mau dagang atau bagaimana?? Banyak sekali pakaiannya dek..!!" protes Bang Khaja.


"Abang mau marah? Nggak sayang anak??"

__ADS_1


"Iya.. iyaa.. Abang sayang anak istri. Abang pakai nih" terpaksa Bang Khaja memakai baju bergambar raja kerbau tersebut. "Sudah nih. Abang jadi raja kerbau.. kamu Dewi kipas ya..!!" kata Bang Khaja akhirnya mengingat kisah raja kerbau dan Dewi kipas apalagi ketusnya Naya sudah amat mirip dengan Dewi kipas.


Naya melenggang cepat meskipun kakinya sedang sakit.


"Bisa pelan nggak jalannya??"


"Nggak bisa. Malas lihat Abang" jawab Naya.


"Ya Allah.. sabaar.. sabaaarrr..!!!!" Bang Khaja lebih memilih mengurut dada daripada berdebat dengan Naya.


...


Naya menyalakan music metal di dalam rumah. Meskipun kakinya sakit dan hanya tangannya saja yang bisa merespon cepat, tapi istri Khaja itu tak hentinya bergerak mengikuti irama lagu.


Bang Khaja hanya bisa mengurut dada melihat kelakuan Naya yang super ajaib. "Sayang.. satu asrama bisa tuli dengar music metal mu" kata Bang Khaja mengingatkan. Ia bukannya tidak suka music metal, suara yang di timbulkan Naya juga hanya terdengar di area rumah saja.. tapi tingkah Naya selalu membuatnya pusing tujuh keliling.


Seketika music itu mati. Naya bad mood mendengar teguran Bang Khaja. Ia perlahan berdiri dari posisinya dan mengambil tas di dalam lemari, susah payah Naya meraub baju di dalam lemari dan memasukannya ke dalam tas.


"Mau kemana sayang??" tanya Bang Khaja bingung.


"Mau pergi, Abang nggak sayang Naya lagi. Ini itu di larang. Padahal Naya hanya dengar musik saja" jawab Naya.


"Ya Tuhanku.." Bang Khaja mengusap wajahnya gusar. "Ya sudah nyalakan semaumu. Kalau perlu ledakan sekalian Batalyon nya. Paling Abang di jungkir sama Danyon" kata Bang Khaja.


Naya melirik Bang Khaja, matanya memerah sudah bersiap drama.


"Hmm.. kalau kamu pakai headset aja bagaimana?? Bisa kamu dengar sendiri.. bisa tidur nyenyak." bujuk Bang Khaja.


Bang Khaja pun mengambil headset di dalam lemari kemudian memakaikan di telinga Naya. "Bagaimana?? Lebih enak khan?"


Naya mengangguk. Bang Khaja mengarahkan Naya untuk berbaring dan memakaikan selimut, membiarkan Naya bergoyang tak jelas asal istrinya itu tidak meminta kabur darinya lagi.


Ya Allah.. buatlah aku tidak terpancing tingkah konyol Naya. Aku hanya minta anak istriku sehat. Itu saja. Aku bisa mati kalau mendapatkan musibah seperti Langsang.


***


Bang Langsang melipat sajadahnya usai sholat, ia melirik Andin yang terdiam menatapnya usai sholat.


"Sudah bangun sayang. Bagaimana tidurnya semalam? masih sakit?"


Andin menarik nafasnya, agaknya saat ini dirinya sudah sedikit lebih tenang. "Andin sudah sehat Bang. Nggak seberapa sakit lagi."


"Alhamdulillah..!!" Bang Langsang mencium kening Andin lalu turun ke bibirnya. "Abang minta maaf ya..!!"


"Untuk apa Bang?"


"Untuk semua kesalahan Abang, yang mungkin tidak bisa di maafkan." jawab Bang Langsang. Matanya selalu memerah tak bisa menghapuskan rasa sesal dalam hati.


"Kita akan mengenangnya bersama ya Bang..!!" ucap Andin berusaha tegar.


"Iya.. dan semoga Allah segera mengabulkan do'a Abang."


"Aamiin..!!" Andin memeluk Bang Langsang yang sama hancurnya dengannya. Ia sadari masalah hati tak akan memilih gender. Jika sudah datang rasa sedih.. maka tak ada satupun yang bisa menolaknya.

__ADS_1


***


"Apa-apaan ini dek?? Kamu dapat darimana semua barang ini???? Turun kamu..!!!!!!"


"Naya beli di online Bang." jawab Naya menjawab ringan sambil memasang poster penyanyi rock di kamarnya. Ia memanjat tangga untuk memasang lampu di rumah.


Bang Khaja bukannya tidak senang dengan bentuk kamarnya, apalagi warna kamar di dominasi warna gelap adalah seleranya.. tapi kelakuan 'minus' istrinya membuat ususnya terasa terpenggal. Ia menurunkan Naya dari tangga tapi Naya menolaknya.


"Ya salam.. dandanan macam apa lah ini. Sudah seperti anak p**k saja kamu" Bang Khaja mengambil tissue basah dan hendak menghapus lipstik warna biru dongker. "Mati aku.. kenapa kamu jadi begini..!!"


"Naya pengen seperti ini Bang. Kenapa setiap kali Abang larang Naya??" Naya pun mulai menangis.


~


Setelah beberapa hari akhirnya Papa Ranggi kembali berkunjung ke rumah anak-anaknya. Papa Ranggi masih cemas dengan keadaan kedua menantunya.


"Sepi sekali pa, tapi sepertinya ada suara Khaja marah. Apa Khaja memarahi Naya??" tanya Mama Hana.


"Biar Papa tegur..!!" Papa Ranggi segera masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk karena sudah cemas dengan keadaan Naya.


"Khaja.. kenapa kamu bentak istrimu???" tegur Papa Ranggi.


Bang Khaja pun keluar dari kamar dan menutup pintu.


"Aku nggak bentak Naya Pa"


"Papa dengar kamu bersuara keras, Naya nangis. Kenapa kamu batasi ruang gerak Naya??" tanya Papa Ranggi lebih tegas.


"Siapa yang batasi sih Pa. Looss.. Naya mau apa juga aku turuti. Aku hanya nggak mau Naya dandan berlebihan dan bertingkah macam-macam" jawab Bang Khaja.


"Dandan khan juga pastinya untuk kamu le. Maklumi saja lah, Naya juga lagi hamil. Mungkin lagi suka dandan" kata Mama.


"Dandan itu wajar, mungkin anakmu perempuan. Jadi Naya suka dandan" imbuh Papa membenarkan ucapan Mama Hana.


"Okee.. salahkan aku terus. Papa Mama lihat sendiri ya kelakuan istri cantik Khaja yang terkenal kalem" Bang Khaja membuka pintu kamarnya.


Terlihat jelas Naya yang masih asyik bertengger duduk di atas tangga menempel poster rocker. Gaya istri Khaja itu sudah mirip gadis p**k. Lipstick biru gelap dan polesan make up gelap pula semakin menambah kesan angker di wajahnya.


"Astagfirullah.." Mama Hana mengelus dada.


"Innalilahi.. Ya Tuhan.. turun ndhuk.. jangan nangkring. Kasihan si rocker kecil..!!" Papa Ranggi mengulurkan tangan tak kalah syok melihat menantunya tapi lagi-lagi Naya menolak.


"Begitu tuh kelakuannya. Cenat cenut kepalaku mikir Naya ini pa" gumam Bang Khaja kemudian ikut membantu Naya turun dari tangga.


"Wes diam kamu Khaja. Cuma sembilan bulan aja. Selanjutnya nggak lagi" jawab Papa Ranggi agar Bang Khaja tidak emosi lagi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2