
Pesawat telah mengudara, Bang Ranggi merangkul bahu Hana yang nampaknya begitu bersedih melihat buah hatinya tak lagi bersamanya. Ia terisak kemudian memeluk erat tubuh Bang Ranggi.
"Kita pulang sayang?" ajak Bang Ranggi.
Hana mengangguk, langkahnya gontai. Ia bisa memahami perasaan Hana yang juga adalah seorang ibu.
Bang Ranggi mengusap perut Hana, tanpa kata ia membujuk Hana bahwa masih ada di kecil yang juga butuh perhatiannya.
:
"Mau makan apa sayang?"
"Hana nggak lapar Bang" tolak Hana.
"Anakku lapar, dia juga butuh makan. Makan ya..!!"
Hana kembali menangis dan menggeleng menolak ajakan Bang Ranggi.
Bang Ranggi merangkul Hana sambil mengemudikan mobilnya.
"Kalau nggak mau dengarkan bapaknya.. nggak apa-apa, tapi anak kita lapar. Bisakah kamu kasihani dia sedikit saja..!! Abang mohon..!!" pinta Bang Ranggi.
Mendengar kata-kata itu akhirnya Hana mau menuruti ajakan Bang Ranggi.
...
Bang Ranggi menyuapi Hana yang sesekali masih sesenggukan. Tapi ia tau Hana berusaha ikhlas.
"Kalau memang tidak kuat, seharusnya jangan di lepas"
"Nggak apa-apa Bang, semua demi anak. Hana akan mengorbankan apapun asalkan anak bahagia. Jika memang bahagianya ada bersama Opa dan Omanya.. Hana ikhlas" jawab Hana.
"Lalu.. bagaimana dengan bahagiamu?" tanya Bang Ranggi.
Hana mengarahkan pandangan menyisir wajah tampan Bang Ranggi, pria yang sudah mengetuk pintu hatinya.
"Bahagia nya Hana.. hanya bersama Abang" jawab Hana kemudian tersenyum.
"Benar-benar senyum sesat, pintar sekali kamu buat Abang kelimpungan" gumam pelan Bang Ranggi. Ia mengalihkan pandangan menatap cangkir kopi yang ia pegang kuat meskipun masih terasa panas. Jujur hanya senyum itu saja sudah cukup membuatnya tergoda dan ia sadari semua kata Opa Garin memang benar. Berdekatan dengan Hana merupakan ujian batin yang cukup berat untuknya, imannya memang benar-benar tipis.
"Kenapa Bang?" tanya Hana.
"Nggak apa-apa" jawab Bang Ranggi. "Kamu cantik sekali sayang" ucapnya kemudian sembari memutar cangkir sebagai pengalihan perhatian.
__ADS_1
"Kenapa hari ini Papa tampan sekali?" entah darimana keberanian Hana muncul hingga bisa menggoda Bang Ranggi sampai seperti itu.
Aliran darah Bang Ranggi merangkak naik. Denyut nadinya kencang berdesir menusuk-nusuk relung hati.
"Minta apa kamu ma?" Bang Ranggi masih berucap datar.
Hana mendekatkan bibirnya di samping telinga Bang Ranggi, ia berbisik pelan mniay bulu kuduk Bang Ranggi merinding.
Aseeemm.. malah nantang.
"Jangan banyak bicara..!! Cepat habiskan makannya. Gara-gara kamu nggak baca do'a, pikiranmu di ganggu setan" kata Bang Ranggi menghindar sebisanya.
"Ya sudah kalau nggak mau" Hana pun menarik diri, cemberut dan mencoba menghabiskan makannya meskipun ia tidak selera.
"Mbak, minta dua telur bebek di rebus setengah matang ya..!!" pinta Bang Ranggi pada seorang pelayan rumah makan.
"Baik Pak, mohon tunggu sebentar"
"Terima kasih" Bang Ranggi sekilas melempar senyumnya.
"Oohh.. nggak mau sama Hana tapi senyum sama yang lain??????" sindir Hana tanpa menatap ke arah Bang Ranggi.
"Ya ampun.. senyum kosong dek. Lagian ujung-ujungnya nanti juga buat kamu" jawab Bang Ranggi dan Hana duduk bersimpang arah hanya memberi punggung pada Bang Ranggi.
~
Bang Ranggi melirik pelayan wanita yang meninggalkan meja usai mengantar dua telur bebek pesanan Bang Ranggi.
"Semok ya Bang"
"Iya.." refleks ucap itu terlontar dari mulut Bang Ranggi hingga membuat perwira gagah itu kelabakan bingung melihat tatap mata Hana yang siap menelan dirinya bulat-bulat. "Eehh Astaga.. ya nggak lah. Bahenol juga istri Abang. Salah lihat Abang tadi" jawab Bang Ranggi sedikit gugup.
"Kata-kata pertama adalah kejujuran dan Abang sudah jujur kalau perempuan tadi lebih cantik dari Hana"
gleekk..
Jebakan Batman nih namanya. Perempuan kalau nggak ribut memang nggak puas ya. Ada saja cara cari salah. Untung Kangmas mu cinta ndhuk.. cah ayu..
"Kalau nggak geger apa nggak puas to dek? Kalau Abang jawab begitu.. semua refleks karena memang mata laki-laki susah di atur, tapi Abang nggak main hati.. sayangnya tetap sama kamu" bujuk Bang Ranggi.
"Bohong..!!"
"Yawes kalau nggak percaya. Abang nggak maksa" kata Bang Ranggi.
__ADS_1
Tak lama seorang pelayan pria datang membawakan Hana makanan penutup puding caramel dan risoles mayonaise keju kesukaan Hana.
"Terima kasih Mas" Hana tersenyum manis sekali.
"Sama-sama Mbak" jawab pelayan tersebut kemudian meninggalkan tempat.
Perasaan Bang Ranggi langsung meradang kesal. "Pelayan perempuan tadi panggil Abang.. bapak. Kenapa pelayanan pria itu panggil kamu Mbak??? Kenapa juga kamu kecentilan begitu, senyum nggak jelas" tegur Bang Ranggi. "Maass..!!!!! Apa lah kamu ini?? manja sama mas-mas lain. Kurang bagaimana Abang sama kamu????"
Hana santai saja melahap makanan di hadapannya tak peduli lagi dengan Bang Ranggi yang sudah tidak lagi berselera makan.
...
Sepanjang jalan hingga sampai rumah, tak ada kata terucap dari bibir keduanya hingga mereka berdua masuk ke dalam rumah yang kini terasa sepi, dingin tanpa ributnya suara keluarga yang biasa meramaikan seisi rumah.
"Rumah ini sepi ya Bang" Hana membuka percakapan di antara mereka.
"Beberapa bulan lagi rumah pasti ramai" jawab Bang Ranggi sambil mengunci pintu rumah.
Tanpa di duga Hana memeluknya dari belakang. Seketika itu juga hati Bang Ranggi luluh. "Kenapa ini? Kangen??" tanyanya.
Hana mengangguk pelan, ia semakin mengeratkan pelukannya.
Bang Ranggi pun menyentuh tangan Hana yang memeluknya, di lepasnya perlahan pelukan itu dan terlihat sekali sempat membuat Hana kecewa tapi ternyata Bang Ranggi berbalik badan dan balik memeluk Hana.
"Mas sayang sama Hana khan?" ternyata Hana masih mengingat senyuman Bang Ranggi pada pelayan wanita tadi.
Bang Ranggi tersenyum geli. Jujur ini panggilan yang terasa asing di telinga nya tapi sungguh membuat hatinya berdebar kencang. "Manis sekali. Manja dulu donk sama Mas Ranggi. Mas pengen dengar..!!"
"Iihh Abang.. Hana cuma tanya" Hana mendorong dada Bang Ranggi karena malu juga bertingkah semanja itu di depan suaminya tapi sayang.. Bang Ranggi menarik Hana ke dalam pelukannya lagi.
"Manjalah di depan Abang dan merajuklah sepuas hatimu. Jangan pernah kamu bermanja di depan pria lain karena Abang mampu melakukan dan memberikan apa yang kamu butuhkan. Abang pun juga begitu, hanya ingin menyayangi dan memanjakan satu-satunya wanita yang Abang sayang, tidak ingin dan tidak akan pernah mencari kehangatan atau pelampiasan dari wanita lain karena kamu sudah cukup bagi Abang" kata Bang Ranggi.
Hana menyisir menatap wajah tampan sang suami. "Sempurna kah Hana?" tanya Hana.
"Menikahimu bukan untuk mencari sempurnamu. Abang menikahimu untuk menjadi pendamping hidup Abang. Menenangkan lahir dan batin Abang.. juga menyempurnakan ibadah laki-laki yang kamu tau betul.. jauh dari kata sempurna" jawab Bang Ranggi kemudian mendekatkan wajahnya pada bibir manis si cantik Hana yang membuatnya kecanduan. "Manjalah sama Mas Ranggi mu ini.. kamu harus tau kalau Mas Ranggi juga suka perempuan manja" bisiknya antara berani dan tidak menguraikan gejolak batinnya yang kini perlahan naik dan turun.
.
.
.
.
__ADS_1