
Kebijakan dalam membaca. Cerita belum usai..!!
🌹🌹🌹
"Nggak apa-apa, nanti Abang resepkan untuk menghentikan pendarahan. Sementara stabilkan emosi istrinya, ya berjaga saja takutnya Hana depresi usai persalinan. Badannya masih sakit, jangan sampai perasaannya ikut tidak nyaman"
"Siap Bang, saya mengerti" jawab Bang Ranggi.
Tak lama Bang Hasdin datang ke rumah sakit untuk menyerahkan kunci gudang karena ia baru selesai keadaan perusahaan.
~
"Semua aman terkendali Boss, untuk pembayaran anggota dalam juga sudah final. Laporan sudah saya kirim ke email boss"
"Oke, saya sudah transfer gaji ke rekening mu ya.." kata Bang Ranggi.
Benar saja, sudah ada laporan dana masuk ke rekeningnya dan terus terang gajinya memang lumayan tinggi.
"Ijin boss, banyak sekali"
"Kau biasa saja denganku..!! Ya sudah itu semua bukan milikmu sendiri, ada uang susu anakmu juga uang skin care Citra" jawab Bang Ranggi dengan nada biasa saja.
"Saya ingin memberi sebagian uang itu untuk Hana dan Cherry" kata Bang Hasdin.
Bang Ranggi tersenyum mendengarnya. "Kau bisa bertemu dengan Hana karena kamu ayahnya Cherry, tapi maaf saat ini jangan bertemu dengan Hana dulu. Dia masih masa pemulihan. Terus terang aku masih memberinya terapy agar mentalnya tidak mudah kambuh"
"Saya minta maaf boss" ucap sesal Bang Hasdin.
Bang Ranggi hanya menepuk bahu Bang Hasdin. Sudah barang tentu sangat sulit melupakan hal pahit yang pernah terjadi tapi ia memilih memendam rasa sakit demi kebaikan semuanya.
***
"Kenapa belum tidur?" tanya Bang Ranggi melihat Hana masih terjaga jam 01.00 dini hari.
"Perut Hana sakit, badan juga sakit, semua sakit" jawab Hana.
Dengan lembut Bang Ranggi sedikit memiringkan tubuh Hana lalu memijatnya pelan. Terlihat Hana sangat nyaman. Berbulan-bulan sulit bergerak karena mengandung buah hatinya. Wajar saja Hana kelelahan.
"Enak?"
Hana mengangguk dan perlahan tertidur.
"Bagaimana Hana? Bisa tidur?" tanya Opa Ranggi.
"Baru saja tidur yah. Melahirkan Khaja setengah mati. Kasihan sekali" jawab Bang Ranggi.
__ADS_1
"Perjuangan seorang ibu, makanya ayah juga tidak bisa apa-apa kalau Mamamu ngomel. Melahirkan kamu juga setengah mati Ranggi"
"Sekarang rasanya hidupku lebih berarti dan utuh jadi laki-laki" ucap Bang Ranggi.
"Kalau tau sudah jadi ayah, jangan blangsak lagi. Ingat anak istri, jangan ada urusan dengan Imelda dan mantanmu.. siapa itu namanya???"
"Anis.." Bang Ranggi berbisik mengingatkan ayahnya.
"Naahh itu"
"Nggak lah yah, saat itu aku di jebak. Bukannya ayah sudah tau dan dia sudah mengaku" kata Bang Ranggi.
"Awas saja kamu kalau sampai ada Anis ke dua. Ayah sendiri yang akan menghajarmu sampai babak belur..!!" ancam ayah Rico.
"Lailaha Illallah.. nggak yah. Iya.. aku memang bejat, sekarang aku sudah tobat yah"
flashback on..
Ranggi menenggak minuman haram di bawah gemerlap lampu discotic. Seorang gadis melenggok berjinjit menciumi sisi leher Bang Ranggi. Sesekali dengan nakal pria itu mer***s p****t gadis yang tengah menggodanya.
"Ngamar yuk..!!" ajak gadis itu.
"Aku tidak suka wanita amatiran. Seleraku tinggi" tolak Bang Ranggi malas. Memang kriteria wanita dalam pikirannya sangatlah rumit. Ia menyukai gadis yang manja namun tidaklah di buat-buat. Ia juga suka gadis yang apa adanya.
"Tidak tau, aku hanya liburan saja"
"Tapi aku mau sama kamu" gadis itu tidak menyerah menggoda Ranggi sampai berani menyentuh barang pribadi miliknya. Seketika nalurinya sebagai seorang pria terpancing, gadis itu tau Ranggi sudah tergoda, tapi masih menolaknya juga. "Aku janji tidak mengecewakan"
Bang Ranggi tersenyum nakal. "Apa kau bahagia jika ada pria yang melecehkanmu, contohnya sepertiku tadi" kata Bang Ranggi.
"Kalau aku tidak suka namanya pelecehan, kalau aku suka berarti kita sama-sama memberi kesenangan"
"Tapi sayang, aku hanya suka badanmu saja dan aku hanya bisa memberikan diriku untuk wanita yang aku cintai" jawab Bang Ranggi.
~
"Kamu apakan perempuan itu?" tanya Ares.
"Dia mengajakku paku tanam." jawab Ranggi.
"Enak donk.. kenapa nggak jalan?"
"Kau mau di hajar pelatih? Lagipula aku nggak suka perempuan yang manjanya seperti itu, aku maunya perempuan yang benar-benar manja yang selalu butuh aku dalam hal apapun. Tidak perlu aku yang memulai lebih dulu tapi dia tau keinginan ku" Ranggi mulai menerawang inginnya.
"Laahh.. dia khan sudah menawarkan diri" kata Ares.
__ADS_1
"Aku mau perempuan yang melayaniku dan hamil benihku dengan ikhlas, bukan karena uangku saja. Aku lebih ikhlas menikah dengan seorang janda tapi terhormat daripada gadis tapi tidak perawan" Jawab Ranggi.
"Nikah lu sana. Janda juga pikir panjang kalau mau nikah sama kamu. Impianmu sudah punya anak saja. Lagaknya.. preman pasar saja maunya yang model bidadari."
"Yang penting bukan bini orang. Gue juga kudu jaga sikap donk. Anak gue perempuan" Bang Ranggi menenggak minumannya, sesekali ia menghisap rokok di sela jarinya.
"Ayo kita balik..!! Mabok lu ya"
flashback on..
"Aku benar-benar menjaga diri, demi istriku juga demi anakku." jawab Bang Ranggi.
Ternyata aku sungguh mendapatkan Hana, janda cantik yang di kabulkan Tuhan. Alhamdulillah segala berkah dariMu. Aku sudah punya jagoan dan putri yang cantik.
...
Bang Ranggi menggendong Baby Khaja, wajahnya masih di liputi senyum bahagia. Sesekali ia mengajak baby Khaja berbicara. Tak peduli dengan jarum infus di tangannya, ia tetap mengasuh Khaja.
"Di tidurkan saja Bang, Abang belum sehat" kata Hana.
"Aahh.. dokter saja yang terlalu cemas. Abang nggak apa-apa. Kamu yang harus banyak istirahat, tenaga belum pulih, luka masih basah"
Hana tersenyum tapi juga ada keharuan di wajahnya. "Bang, kenapa ya sejak semalam Hana merasa Cherry itu bukan anak Abang.?" tanya Hana.
"Ngaco aja kamu. Bukan anak Abang bagaimana sih? Jangan asal bicara di depan anak..!!" tegur Bang Ranggi.
"Kepala Hana sakit Bang, sejak semalam tiba-tiba saja Hana teringat........" ucap Hana terhenti, ingatan tentang saat Bang Hasdin memperlakukannya dengan kasar kembali lagi.
Secepatnya Bang Ranggi menidurkan Khaja dalam box bayi nya dan beralih mendekap Hana. "Mimpi buruk jangan di ingat. Mana ada hal seperti itu. Coba lihat mata Abang..!!" Bang Ranggi mengarahkan wajah Hana agar bisa menatapnya. "Apa selama ini Abang pernah kasar sama kamu?" bujuk Bang Ranggi menenangkan Hana.
Saat itu Ayah Rico masuk ke dalam ruangan dan melihat putranya berusaha keras membujuk Hana.
"Tapi Hana ingat dia memperkosaku Bang" Hana mulai histeris.
"Nggak ada, jangan ikuti mimpimu..!! Dengar Abang..!! Abang yang pertama kali menyentuhmu, tidak ada yang lain..!!" ucap tegas Bang Ranggi.
Hana pun menangis dan luluh dalam pelukan Bang Ranggi. Ayah Rico membuang nafas sesak, ia tau bagaimana beratnya Ranggi harus mengalah pada keadaan. Mengalah bukan berarti kalah. Anak istri tentunya akan menjadi prioritas utama dalam hidup.
.
.
.
.
__ADS_1