Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 8. Garangnya Jaguar.


__ADS_3

Andin sedang membersihkan mess. Hari ini adalah jadwal dirinya membereskan tempatnya tinggal selama berdinas.


Tak lama ada pick up Batalyon berhenti tepat di depan mess nya dan Mbak Indri sedang mengikir kuku cantiknya di teras mess.


"Selamat pagi.. ijin Bu. Saya mau mengambil barang-barang ibu Langsang" kata Pratu Sumadi.


"Pagi mas.. dalam rangka apa ya?" tanya Mbak Indri.


"Ijin Bu. Pak Langsang meminta barang istrinya untuk masuk rumah dinas sekarang juga"


Senyum Mbak Indri pun mengembang manis, "Tunggu ya mas, saya ambil barang saya dulu..!!" Mbak Indri dengan girangnya segera masuk ke dalam mess.


Pratu Sumadi dan Pratu Madya saling lirik. "Kita salah menyampaikan arahan nggak sih Bang, perasaan maksud Pak Langsang itu.. Ibu Andin. Tapi kenapa Mbak Indri yang girang??"


...


Bang Langsang melihat pakaian dinas wanita yang tertempel nama 'INDRI'. Kening Bang Langsang pun berkerut. "Ini kenapa baju Indri ada disini?? Terbawa atau bagaimana??" tanya Bang Langsang.


"Ijin Dan. Mungkin kami miskomunikasi. Ijin arahan.. istri Komandan itu Sertu Indri atau Serda Andini?" tanya Bang Madya.


"Astagaaaa..!!!!!"


plaaaaakkk.. plaaakkk.. plaaakk.. plaaakkk...


"Kalian ini belum paham perintah saya??? Bawa barang istri saya Serda Andini untuk pindah ke rumdis Batalyon. Kenapa kamu angkut barang Sertu Indri????? Kalian berdua mabuk tuak?????" bentak Bang Langsang. "Bawa kembali barang Indri..!! Nanti kalian sampaikan sama Andin, Lettu Langsang menunggu di asrama Batalyon. Jangan salah lagi..!!!! Jangan-jangan nanti kalian bisa salah bawa si Minah ARTnya Danyon." gerutu Bang Langsang panjang lebar.


"Siap salah Dan..!!"


"Bawa Andini dalam keadaan apapun.. Apa adanya dia saat ini..!!!" perintah Bang Langsang.


"Keterlaluan.. hampir dua Minggu menikah masih tidak tau rupa suaminya. Mencari tau identitas nya pun tidak.. apa maunya si Andin itu. Apa dia tidak pengen di belai, di sayang manja layaknya istri pada umumnya. Bojomu iki nahan kangen mikir kamu sampai ngelu Ndin.. ngawur wae..!!!" ocehnya tak juga berhenti.


...


Mbak Indri berkacak pinggang saat barangnya di kembalikan dan malah barang Andin yang naik ke atas pick up. Andin pun tidak bisa berbuat banyak karena dua anggota Batalyon hanya menjalankan perintah.


"Ibu segera naik di depan, motor ibu biar Sumadi yang bawa. Lettu Langsang sudah menunggu di asrama" kata Bang Madya.


Mau tidak mau Andin naik ke pick up dan duduk di depan bersama Bang Sumadi. Saking paniknya, ia sampai tidak mengingat berganti pakaian. Andin hanya mengenakan hot pants dan baju membentuk lekuk tubuh dan itu pun tidak berbahan tebal.


:


Bang Langsang melihat kaki putih, bersih dan mulus terawat turun dari pick up. Matanya melotot saat tau ternyata itu adalah sosok Andin.

__ADS_1


"Astagfirullah hal adzim.. Andiiiiinn.. kamu ini..!!!" Bang Langsang menyambar selimut motor yang masih bertengger di tempatnya untuk menutupi tubuh Andin.


Tak hanya Bang Langsang yang melotot, Andin pun melotot melihat nama dada pria di hadapannya. Trabas L. T yang kemungkinan besar adalah Trabas Langsang Trijata. "Bukannya salam malah memelototi suamimu. Kamu itu salah..!!" bentak Bang Langsang.


"Ampuun Abaaaanngg..!!" refleks Andin memeluk kaki suaminya meminta maaf karena sudah membuat Bang Langsang marah besar.


"Dua minggu dek, kamu nggak berusaha cari tau suamimu. Abang ini setengah mati lempar kode, tapi kamu nggak respon juga. Ngenes tenan dadi bojomu Iki dek..!!!"


Papa Ranggi yang baru saja datang dari rumah kak Cherry pun sampai kaget mendengar amarah putranya. "Kamu itu kenapa Lang. Uring-uringan nggak jelas" tegur Papa Ranggi.


"Ada apa ndhuk?" tanya Papa Ranggi.


"Abang marah soalnya Andin nggak kenal sama Abang" jawab Andin.


"Ya Allah.. masuk dulu kalian. Jangan ribut di jalan. Malu di lihat tetangga. Ini apalagi?? Kenapa pakai mantel motor??" Papa Ranggi mau mengambilnya tapi Bang Langsang melarangnya.


"Jangan Pa, aku belum menghajarnya." ucapnya bernada kesal.


Mendengar itu Papa Ranggi paham pucuk kemarahan putranya. Kalian selesaikan dengan kepala dingin. Jangan ribut..!! Kurangi emosimu Lang..!!"


Papa Ranggi memilih mengobrol dengan dua ajudan Bang Langsang yang pastinya begitu tertekan dengan ulah putranya. "Ayo temani saya ngopi..!!"


"Siap Dan..!!"


...


"Apa hukuman yang pantas untuk istri pembangkang???" tanya Bang Langsang.


"Andin nggak pembangkang"


"Apa namanya? Wanita karir yang ingin bebas dan tidak terikat dengan pernikahan? Tidak berusaha mencari suamimu padahal kamu sudah bersuami??" kata Bang Langsang semakin menegaskan.


"Kalau Abang sudah tau Andin istri Abang, kenapa Abang nggak bilang dan Abang ajak Andin pulang. Abang khan janji begitu" jawab Andin.


"Masih membantah??? Lalu kenapa kamu datang dengan pakaian kurang bahan seperti ini..!!!!"


"Bukannya Abang perintahkan Om Sumadi dan Om Madya untuk membawa Andin dalam keadaan apapun?? Ini Andin datang sesuai perintah yang Abang arahkan" Andin masih tetap bisa menjawab Bang Langsang sesuai dengan pendiriannya.


"Tapi mikir lah dek. Masa pakai pakaian minim begitu. Abang nggak ikhlas kamu di lihat orang lain selain Abang. Terutama Sumadi dan Madya" ucap kesal Bang Langsang.


"Andin minta maaf ya Bang. Lain kali Andin nggak akan begitu lagi."


"Hmm.. kalau begitu sekarang kamu pijat Abang..!!" perintah Bang Langsang masih terdengar garang.

__ADS_1


Andin masih membatu di tempat nya. Ada rasa takut dan cemas berhadapan dengan Bang Langsang. Pria yang ia kira adalah anggota dari kesatuan lain sesuai dengan perkataan Papanya.


Mungkin ucap Papanya memang benar kesatuan lain, tapi hanya berbatas dinding pemisah saja dan dirinya baru menyadarinya. Yang paling membuatnya syok adalah.. pria itu adalah pria yang ia benci karena suaranya yang memekakan telinga dan dingin sikapnya menusuk tulang, meskipun kakak seniornya berharap banyak pada Bang Langsang. Jika di suruh memilih sifat tenangnya, ia akan memilih Pak Khaja walaupun dalam hati kecilnya juga mengakui ketampanan Bang Langsang.


"Kamu mau berdiri di situ saja jadi patung??" tegur Bang Langsang.


Andin pun mengikuti langkah Bang Langsang.


~


Kamar yang benar-benar indah, warna pastel yang tenang membuat siapapun tak akan menyangka bahwa semua ini adalah kamar dari rumah dinas.


"Lambat sekali jalanmu..!! Cepat Abang pegal berbenah rumah ini..!! Kalau nggak mbelani bojo, mana mau Abang ribet begini" perintah Bang Langsang sudah tertelungkup di atas ranjang menunggu Andin.


"Iya Abang.. ya ampun." Andin memberanikan diri mendekati Bang Langsang.


Mata Bang Langsang terpejam, ia menyembunyikan senyum kecil akhirnya Andin mau ikut dengannya.


"Bang.. Pak Khaja itu satu Batalyon dengan Abang khan?" tanya Andin.


Seketika Bang Langsang berbalik badan dan membuat Andin tak sengaja menduduki nya.


"Kenapa kamu tanya Khaja?? Naksir kamu sama dia????" suara Bang Langsang seakan menggema.


Andin duduk dengan gelisah dan merasa tidak nyaman karena ada yang mengganjal di bawahnya.


"Bukan Bang, Andin merasa wajah Abang ada sedikit kemiripan dengan Pak Khaja" jawab Andin.


"Khaja ya Khaja, Abang ya suamimu.. Jangan pernah kamu bahas dia lagi. Khaja sudah menikah" bentak Bang Langsang.


"Astagfirullah Langsang, di tutup to pintunya le..!!" tegur Opa Rico yang entah sejak kapan berada di sana sembari menutup pintu kamarnya. Wajah Papa Ranggi di belakang Opa pun sudah terlihat gemas.


"Duuhh.. maaf.. maaf .!!" Melihat Opa dan papanya, refleks Bang Langsang bangkit dan membanting Andin lalu membungkusnya dengan selimut.


"Baaang.. Andin terkilir" protes Andin.


"M****s lu, batal poles magazine. Emosian betul jadi laki" Papa Ranggi melenggang santai sambil membawa satu keranjang camilan untuk ajudan Bang Langsang.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2