
"Sungguh ini fitnah dan saya tidak menggelapkan dana" kata Sertu Handro.
"Lalu uangnya kemana?"
"Masih ada di rekening saya. Dana tersebut tidak bisa keluar cepat karena saya masukan seluruh dana ke dalam deposito" jawab Om Handro.
"Baiklah kalau begitu.. saya minta seluruh bukti yang ada. Juga dengan kwitansi apapun soal pembayaran yang di lakukan rekan anggota." pinta Bang Ranggi. "Oiya.. kamu bisa datang ke Jalan Bebas No 1-8?? Kamu bisa temui Hasdin untuk minta arahan soal pekerjaan ini. Nanti rekan saya yang akan membantumu soal pemecahan masalah ini. Hasdin orang saya disana"
"Siap Komandan"
Menyadari segala keanehan itu. Ibu Tami baru menyadari bahwa sosok yang selama ini dia hina adalah orang yang berpengaruh di kantor Batalyon sebesar itu. "Hmm.. Pak Ranggi.. bisa kita bicara berdua?" tanya Bu Tami.
Bang Ranggi tetap tersenyum menghadapi mantan calon ibu mertuanya. "Mohon maaf Bu, saya masih ada urusan" tolak Bang Ranggi.
"Sebentar saja Pak, tidak lama" bujuk Bu Tami. Ada hati yang menggebu di balik sebuah penyesalan.
~
"Saya minta maaf kelakuan saya yang dulu. Saya sungguh tidak tau kalau bapak ternyata adalah seorang tentara"
"Memangnya apa bedanya tentara dan pekerja pada umumnya? Kami sama-sama menggunakan pikiran dan tenaga untuk bekerja. Kami juga sama-sama mencari penghasilan yang halal" jawab Bang Ranggi.
"Kalau abdi negara itu khan ada yang bisa buat simpanan di hari tua. Kasihan Zahra kalau hidupnya harus susah. Hmm.. sebenarnya saya kurang cocok lho Pak dengan si Handro. Akhlaknya kurang baik" kata Bu Tami. "Kalau bapak mau.. bapak bisa melamar Zahra lagi" pinta Ibu Tami berusaha keras membujuk Bang Ranggi.
Bang Ranggi menahan rasa kesal dalam hati, kini perasaannya terkunci hanya untuk satu nama.. yaitu Hana. "Maaf Bu. Saya tidak bisa"
Ibu Tami melirik jari manis kanan Bang Ranggi sudah tersemat cincin. "Tunangan saja masih bisa gagal Pak, siapa tau Pak Ranggi dan Zahra memang berjodoh" senyum Ibu Tami mengembang penuh arti.
"Kalau tidak ada yang mau di sampaikan lagi.. silakan keluar Bu. Saya akan mengurus masalah Handro..!!" secepatnya Bang Ranggi meminta Ibu Tami keluar agar tidak semakin membuat masalah.
Ibu Tami memilih menurut dengan sejuta harapan. Tentunya ia ingin Ranggi kembali pada putrinya dengan cara yang lembut tapi pasti menurutnya.
~
"Abang hanya minta ibu menjaga sikap dek. Seharusnya ini juga menjadi tanggung jawab Abang sendiri..!! Ibu jangan terlibat" Bang Handro menegur Zahra.
Zahra menyentuh tangan Bang Handro. "Zahra minta maaf ya Bang, Zahra janji nggak akan seperti ini lagi" kata Zahra.
Bang Handro tidak tega, ia mengusap puncak kepala Zahra. "Ya sudah.. setelah ini kita pulang. Istirahat dan jangan banyak pikiran" pesan Bang Handro.
...
__ADS_1
Hana berjalan perlahan menuju dapur, di lihatnya tulisan tangan Bang Ranggi yang lebih mirip tulisan tangan wanita. Dibacanya curahan hati suaminya itu. Ada ungkapan marah yang mungkin tidak dapat ia sampaikan, juga ada cemburu tertahan karena naluri seorang pria yang anti dalam persaingan.
"Tapi Hana hanya mencintai Abang. Yaa.. Abang benar, masa lalu akan tetap menjadi masa lalu. Tidak akan ada masa lalu terindah.. karena jika semuanya indah.. Abang dan masa lalu Abang pasti akan bersama sekarang"
tok..tok..tok..
Suara ketukan terdengar, Hana mengintip tapi tak terlihat, ia pun berjalan membuka pintu. Terlihat gadis cantik sebaya dengannya. "Mana Ranggi?" tanya Gadis itu sambil melepas kacamatanya.
"Silakan masuk dulu Mbak..!!" sejuta pertanyaan dalam hati Hana namun ia menahannya. "Sebentar lagi Abang pulang."
Tak lama Bang Ranggi pulang, ia memarkir motornya di garasi. Betapa terkejutnya Bang Ranggi saat seorang gadis menyongsong hadirnya lalu memeluk dan menciumnya.
"Aku kangen"
Seketika Hana langsung bersandar, sekelebat rasa sakit mendera hatinya.
"Huusshh.. Kowe iki opo sih." Bang Ranggi menegur gadis itu. "Ini lagi.. pakaian apa ini Ya Allah..!!" Bang Ranggi menepuk dahinya.
Gadis itu terlihat sangat kecewa tapi tak patah arang mengejar wajah Bang Ranggi.
"Astagfirullah Zanii.. Abang bisa di amuk mbak mu..!!!" Bang Ranggi sedikit membentak adiknya karena menyadari mimik wajah Hana mulai salah paham.
Hana merosot lemas sampai setengah sadar.
"Ya Tuhan.. dek..!!!!!"
~
Bang Ranggi melempar kain sarung agar Zani menutup pahanya yang lumayan terbuka. "Tutup pahamu yang bercorak abstrak itu..!!!" bentak Bang Ranggi karena melihat tatto di paha Zani. "Baru datang buat masalah. Mbak mu ini baru saja melahirkan. Kalau sampai ada apa-apa sama Mbak mu.. Abang hajar kamu..!!!" ancam Bang Ranggi sudah berkacak pinggang membuat bulu kuduk Zani meremang ngeri.
"Ini tatto tempel Bang, besok juga hilang" kata Zani.
Bang Ranggi mengambil cambuk yang tertempel di dinding ruang tamu rumahnya. Bang Ranggi melecutkan cambuk tersebut di hadapan Zani dengan keras.
"Mbaak Hanaaaa.. tolooong..!!!" Zani berlindung di samping lengan Hana yang masih bersandar lemas.
"Sini..!! Abang tambah batik di punggungmu..!!!!!!" bentak Bang Ranggi lagi.
"Mbak Hanaaaa..!!"
Tangan itu meminta cambuk di tangan Bang Ranggi.
__ADS_1
"Abang.. sudahlah. Zani sudah takut..!!" ucap Hana lembut dan ajaibnya Bang Ranggi menyerahkan cambuk itu dengan sukarela.
Mata Zani terbelalak melihat Bang Ranggi luluh di hadapan Hana. "Astaga Bang.. hanya begitu saja cara menaklukkan mu????? Di kasih apa Abang sama Mbak Hana??"
"Zaniiiii..!!!!!!!!" Ayah Rico menegur putri nya yang pecicilan.
Para tetua baru saja mengajak Cherry berjalan-jalan.
"Opaa.. ayah marah" rengek Zani mengadu.
"Kamu jangan hanya bisa marah Ric..!!" tegur Opa Garin.
Pandangan mata Zani bertemu dengan Cherry. Cherry melihat paha mulus Zani yang bertatto. "Waaww keren.. Cherry juga mau..!!"
Bang Ranggi kembali menatap murka pada Zani, karena adiknya itu.. Cherry menginginkan hal yang tidak-tidak.
"Hmm.. kalau anak kecil belum boleh pakai tatto" jawab Zani yang tidak mau lagi terkena amukan Bang Ranggi.
"Cepat kamu hilangkan bekas tatto itu atau jangan pernah kamu injak rumah Abang..!!" ancam Bang Ranggi lagi.
"Tante duduk angkat kaki saja. Jangan injak lantai" dengan polosnya Cherry membantu Zani menaikan kaki karena Papanya melarang Zani menginjak rumahnya.
Saat Zani mengangkat kaki, terlihat pemandangan yang tidak di inginkan membuat Bang Ranggi memalingkan wajahnya dengan raut wajah semakin murka dan saat itu tak sengaja seorang pria bertandang ke rumah Bang Ranggi.
"Ijin A_bang.. Waaooo.. Eehh.. Astagfirullah hal adzim..!!" Letda Tegar ikut salah tingkah memalingkan wajahnya.
"Lihat apa kamu??? Push up..!!!!" ucap Bang Ranggi refleks melangkahkan kaki menutup tubuh Zani.
"Siap salah Abang..!!!!"
Ayah Rico, Mama Jihan, Opa Garin dan Oma Esa masih terdiam belum paham alasan Bang Ranggi menghukum juniornya itu.
.
.
.
.
Tinggalkan kesamaan nama tokoh pada cerita Nara. Kesamaan nama tokoh pada cerita Nara adalah hal biasa. Terima kasih semua🥰🥰🙏🙏. Ingat ya.. cerita Nara.
__ADS_1