
Sabtu pagi. Bang Ranggi mencuci seluruh pakaian Hana terutama yang masih terkena bercak noda di samping garasi yang masih terasa lega daripada harus mencuci di belakang rumah.
Hatinya ngilu membayangkan pakaian Hana yang sampai hari ke tiga ini masih tetap terkena noda. "Sederas apa sampai masih seperti ini. Apa obat dari dokter tidak bereaksi dengan baik?" gumamnya.
"Kenapa nggedumel sendiri?" tanya Mama Jihan yang sedang mengambilkan bubur kacang hijau untuk Hana.
"Ma.. apa perempuan yang baru melahirkan memang seperti ini? Aku nyeri membayangkan sakitnya Hana" jawab Bang Ranggi.
Mama Jihan tersenyum mendengar pertanyaan putranya. Agaknya Ranggi benar-benar ketakutan dan masih mengalami trauma dengan persalinan Hana. "Kalau kemarin kamu takut, nggak apa-apa kok kalau nggak menemani. Kenapa di paksakan kalau akhirnya kamu ketakutan begini"
"Rasa takut itu manusiawi lah Ma, tapi kita khan juga bisa melawan rasa takut itu. Ada hal yang harus di utamakan daripada rasa takut"
"Persalinan Hana memang sedikit bermasalah tapi masih dalam tahap wajar. Penanganan rumah sakit pun sudah sesuai dengan prosedur. Kamu nggak perlu cemas, lanjutkan saja perawatan Hana asalkan dia tidak demam.. aman sih" kata Mama Jihan.
Bang Ranggi tak menjawab lagi dan langsung melanjutkan kegiatan mencucinya. Mama Jihan pun tersenyum dan meninggalkan putranya agar lebih tenang untuk berpikir.
~
"Oya?? Jadi Abang tidak seperti dulu lagi?" Mama Jihan mengulang ucapan Hana sambil menyuapi menantunya itu.
"Iya ma, Abang tidak mau dekat dengan Hana lagi" jawab Hana.
"Nanti Mama bicara sama Abang ya. Kamu jangan banyak pikiran ya Ndhuk.. biar ASI-nya banyak." Mama Jihan mengecup kening Hana. Tak ada bedanya rasa sayangnya pada anak ataupun menantunya.
~
Ayah Rico dan Opa Garin menguping di sisi pintu. Mereka sudah geram lebih dulu karena Ranggi membuat Hana tertekan sampai seperti itu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita temui si Ranggi..!! Bisa-bisanya anak itu buat Hana menangis. Wanita yang baru melahirkan pasti keadaannya tidak stabil" bisik Ayah Rico.
"Ayoo..!! Jangan sampai dia hanya berbakat memelototi girlband saja" jawab Opa Garin.
~
"Aku buat salah apa? Hana yang menghindariku" jawab Bang Ranggi saat menjadi tertuduh.
"Kalau kamu nggak berbuat macam-macam, nggak mungkin Hana sampai menangis" kata Ayah Rico.
"Astagfirullah.. macam-macam apa sih yah??"
"Atau jangan-jangan kamu diam-diam mencari Zahra sampai akhirnya Hana frustasi lalu dia pengen bunuh diri karena ulahmu yang minus???" imbuh Opa Garin berapi-api.
"Lailaha Illallah.. nyebut benar aku ini" Bang Ranggi mengusap wajahnya. Bukannya tenang kini dirinya semakin gusar karena ulah para tetua.
Bang Ranggi tau Ayah Rico dan Opa Garin hanya ingin menyelamatkan rumah tangganya atau mungkin menegur kelakuannya yang di takutkan di luar batas tapi tetap saja ada rasa jengkel karena memang tak ada lagi sosok Zahra dalam hatinya apalagi bayangnya. "Sudah tidak ada Zahra lagi. Jangan sebut dia lagi Yah, kalau Hana sampai dengar.. dia bisa salah paham" kata Bang Ranggi mengingatkan.
...
Siang hari.. Bang Ranggi memilih memperbaiki motor kesayangannya. Ia masih takut kalau sampai Hana menolaknya lagi padahal hatinya pun gelisah ingin sekali berdekatan dengan sang istri.
"Ranggi.. tolong kamu ke apotek beli obat. Sepertinya Hana tidak enak badan" kata Mama Jihan.
"Masa Ma? Tadi nggak apa-apa" Bang Ranggi pun langsung berjalan melihat keadaan Hana di dalam kamar.
Benar saja.. sampai di kamar Bang Ranggi melihat Hana berbaring tak bertenaga. Si kecil Khaja pun jadi rewel. Bang Ranggi duduk di samping Hana, ia mengusap lengan Hana. "Abang belikan obat dulu ya..!!"
__ADS_1
Hana mengangguk lemah dan Bang Ranggi pun secepatnya meninggalkan tempat.
...
Karena masih ada kekurangan untuk keperluan motornya.. Bang Ranggi mampir ke bengkel yang berada tak jauh dari apotek. Tak sengaja Bang Ranggi bertemu dengan Zahra dan ibunya.
"Haduuuhh.. untung saja kamu nggak sama pria ini. Hanya kerja di bengkel saja dan mengurus motor murah.. kamu mau makan apa kalau tinggal bersamanya Zahra????" ucap ibu Tami meledek Bang Ranggi. "Ingin sekali rasanya aku menyiram wajahnya pakai air got sekali lagi. Berani sekali berharap dengan putri ku yang berpendidikan tinggi"
"Permisi Bu.. Zahra..!!" Bang Ranggi memilih pergi memakai motor tua kesayangan milik Bang Ares. Sebisa mungkin dirinya menghindari keributan dengan ibu Tami.
"Pergilah sana.. mata Zahra bisa terganggu melihatmu. Sekarang dia sudah punya calon suami, tentara tapi punya penghasilan tambahan." sindir Ibu Tami.
~
Sepanjang jalan, tak hentinya Bang Ranggi memikirkan Zahra.. gadis yang dulu merajai hatinya dan membuatnya sempat terpesona. Namun karena cintanya pada sang ibu.. ia lebih memilih memutuskan hubungannya demi pria pilihan ibunya. Tak pernah ia mengakui bahwa dirinya adalah seorang abdi negara di hadapan Zahra maupun ibunya. Yang Zahra tau.. dirinya adalah seorang pekerja di bengkel kecil dan tidak memiliki penghasilan tetap.
Senyum syukur akhirnya terkembang, Allah telah membuka jalan yang lain untuk mempertemukan dirinya dengan jodohnya dan ia baru merasakan betapa Hana amat sangat berharga dalam hatinya.
Jika tidak mengalami kepahitan itu.. mungkin aku tidak akan pernah bertemu denganmu sayang. Percayalah.. dia memang gadisku di masa lalu tapi kamu gadisku di masa depan yang bisa kau miliki dan mendapatkan seluruh cinta serta sayangku tanpa syarat.. jika saat ini kau memintaku untuk mati.. aku rela, aku ikhlas asalkan itu demi dirimu Hana sayang.
.
.
.
.
__ADS_1