
"Jangan pegang Andin"
"Sumpah Abang nggak sengaja menyapa begitu dek"
"Andin nggak mau di panggil adek..!!"
"Iya ma, Maksud Papa nggak begitu Ma"
"Apa kurang Andin selalu melayani Abang?? Bahkan semalam Andin lelah dengan kegiatan kantor yang sangat padat pun tetap melayani hasrat Abang. Pagi, siang, sore malam.. seperti minum obat kudis tapi masih saja Abang melirik perempuan lain. Kenapa juga harus panggil 'dek' ke perempuan ganjen itu????? Apa karena dia sangat seksi, nggak gendut seperti Andin???" Andin tak hentinya meluapkan amarahnya.
"Maaf sayang. Maksud Abang bukan begitu"
"Apa maaf bisa membuat kata-kata itu hilang??????" teriak Andin.
Mati akuu.. kenapa jadi begini???? Andaikan tadi aku bilang 'tidak tau' pasti urusannya tidak sepanjang ini.
Sepanjang perjalanan jadi mencekam, malam yang seharusnya di habiskan untuk makan malam berdua jadi batal karena Andin sangat marah akibat dirinya salah bicara.
"Lapar nggak? cari makan apa nih?" tanya Bang Langsang masih terus berusaha keras membujuk Andin.
"Andin nggak mau makan apa-apa"
Andin bersandar kasar, sampai badannya tersengat hebat. Perutnya menegang, pinggangnya sakit, kepalanya pusing, nafasnya terasa tersengal sesak.
Bang Langsang awalnya diam, tapi saat melirik Andin.. "Dek..!!"
"Andiin nggak suka di panggil dek. Pakai saja panggilan dek untuk perempuan itu..!!!!!!!!!!!!!" teriak Andin. Tepat setelah itu mata Andin nanar, ia memegangi dadanya dan ambruk menatap sisi mobil dengan keras.
"Andiiiiin..!!!!!!"
...
Bang Khaja sedang menenteng makanan di tangannya. Senyum bahagia masih menghias wajah tampannya. Sesaat kemudian senyumnya hilang melihat Bang Langsang membawa Andin ke IGD.
Ia pun segera menghampiri Bang Langsang. "Ada apa Lang, Andin kenapa pingsan begini???"
"Nanti saja kuceritakan Bang"
:
"Hanya karena panggilan 'dek'.. Andin sampai seperti ini???" tanya Bang Khaja seakan tak percaya pendengarannya.
"Aku khan sudah bilang, gadis itu ingin aku mengantarnya.. tidak terbersit dalam pikiranku kalau Andin akan marah karena aku menyapanya dek"
"Astaga Tuhan.. untung anakku sudah lahir" Bang Khaja menepuk dahinya.
Beberapa saat kemudian Bang Pratama keluar dari ruang tindakan. "Lama stabil, tapi sekarang harus kembali kesini lagi Lang."
"Jadi bagaimana Bang????"
__ADS_1
"Tindakan operasi ya. Istrimu tensinya tinggi sekali. Tunggu sedikit lebih turun, baru langsung tindakan operasi" kata Bang Pratama.
"Ya Allah Bang, ini tadi saya hanya mengalami masalah sepele. Saya nggak tau akhirnya akan seperti ini" ucap sesal Bang Langsang.
"Apapun yang terjadi jangan di sesali. Kita tidak akan pernah tau apa yang terjadi, hormon wanita yang sedang hamil tidak pernah bisa di tebak alurnya."
"Iya Bang..!!"
"Kalau sudah siap, ayo kita buat surat pernyataan..!!" ajak Bang Pratama.
"Siap.. sekarang saja Bang"
...
Andin baru saja sadar. Papa Ranggi dan Mama Hana tergopoh-gopoh menuju ruang tindakan Andin.
"Langsaang.. kenapa sih kamu selalu buat Papa stress. sebenarnya kenapa sampai Andin harus persalinan sekarang???????? resikonya sangat tinggi Lang..!!!!!!"
Andin menangis memeluk Mama Hana yang berdiri di sampingnya. "Ada apa sayang.. cerita sama Mama"
"Abang panggil 'dek' ke perempuan lain" jawab jujur Andin.
Papa Ranggi dan Mama Hana saling menatap. Entah mereka harus bagaimana menanggapi menantu mereka yang satu ini. Papa Ranggi sampai mengelus dada tidak sanggup berkomentar apapun.
"Nanti biar Papa hajar Bang Langsang biar tidak sembarang bicara" bujuk Mama Hana seperti membujuk gadis kecilnya.
"Gadis itu seksi sekali, Abang mengurung Andin di dalam mobil dan malah mengobrol dengan gadis itu. Mata Abang melirik ke dadanya. Apa kurangnya Andin" Andin mulai kembali menangis.
"Langsang, kamu......" Papa Ranggi meremas dadanya, rasa hatinya seakan tak sanggup merasakan masalah bertubi-tubi yang menimpa Andin, bagaimanapun ia pernah merasa hal yang sama. Setiap ada menantu perempuannya yang sakit, batinnya ikut tersiksa karena mengingat pengorbanan Mama Hana.
"Tapi aku nggak sengaja Pa, dan nggak ada perasaan apapun sama perempuan itu"
"Nggak Pa. Abang senyum.. jawabnya juga lembut, manis sekali"
Papa Ranggi bingung bagaimana harus menanggapi menantunya, ia memiting leher Bang Langsang lalu membawanya keluar.
~
"Aman Pa" kata Bang Langsang sambil mengintip ke dalam ruang tindakan.
"Aman gundhulmu.. kejadian begini pernah Papa alami waktu Mama mau melahirkan Ayu, padahal waktu itu Papa cuma senyum dan bilang 'terima kasih' sama kasir perempuan di supermarket. Akhirnya sejak saat itu setiap Papa ketemu perempuan di manapun nggak berani senyum lagi. Ya gara-gara persoalan sepele itu adikmu lahir"
"Aku mau gila rasanya Pa" jawab Bang Langsang.
"Belum.. gilanya sebentar lagi kalau tunggu istrimu melahirkan" sambar Papa Ranggi.
-_-_-_-_-
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dokter Pratama sudah siap dengan tindakan operasi. "Abang dorong ke ruang operasi.. Kita mulai ya Lang..!!"
__ADS_1
"Siap Bang..!!"
:
Di dalam ruang operasi. Hawanya begitu dingin. Andin mengusap perutnya sebelum bertemu dengan bayinya.
Bang Langsang pun tak sanggup menahan perasaan. "Kenapa harus dengan cara seperti ini dek?? Abang nggak kuat kalau sampai ada apa-apa sama kamu, sama si kecil kita"
Andin memalingkan wajah seakan tak peduli tapi Bang Langsang tau dalam hati Andin pasti juga sangat sedih.
"Sudah ya, jangan marah lagi. Anak kita sudah mau lahir. Kasihan si dedek kalau nanti dia lahir malah harus lihat Papa dan Mamanya ribut. Abang minta maaf..!!"
Hati Andin pun melunak. Perlahan kadar emosinya turun tapi tekanan darahnya kembali meninggi. Ia kembali menatap mata Bang Langsang.
Dokter mulai sibuk mengurus persalinan Andin.
"Andin yang minta maaf, Andin tidak bisa mengontrol perasaan. Terima kasih segala cinta dan sayang Abang untuk Andin. Maaf.. Andin harus melahirkan dengan cara seperti ini. Andin bukan ibu yang baik. Andin gagal menjaganya"
"Dengan cara apapun melahirkan dia.. kamu tetap ibu yang sempurna. Di dunia ini tidak ada ibu yang tidak baik, yang ada hanyalah ibu yang kurang waspada." kata Bang Langsang.
"Apa Abang meridhoi Andin melahirkan anak kita?"
Bang Langsang sungguh sedih mendengarnya, hatinya gundah, pikirannya cemas dan kacau. Ia mengecup kening Andin. "Iya.. Abang ikhlas, Abang ridho sayang" di genggamannya tangan Andin.
"Terima kasih banyak Abang. Bisakah Andin dengar gombalan manismu?" tanya Andin mulai melemah.
Bang Langsang menunduk, rasanya tak kuat dan takut kehilangan Andin. "Beribu banyak bunga di taman, tak ada yang seindah kelopak Andini. Beribu banyak wanita di dunia, tak ada yang secantik Andini. Dia Andini.. gadis cantik penakluk hatiku." ucap Bang Langsang berlinang air mata.
"Gombal Pa" jawab Andin lirih.
"Papa nggak bohong Ma, kamu bidadariku yang terindah"
Andin tersenyum kecil. "I love you Pa" Mata Andin terpejam, genggaman tangannya melemah. Beriringan dengan suara tangis bayi.
"Andiiiiin.. Abang.. tolong Bang..!!!!!!!" pekik Bang Langsang dalam paniknya.
"Abaang, jangan teriak di telinga Andin donk..!!" pinta Andin kembali membuka matanya.
"Astagfirullah dek.. kamu ini. Hhhhhh.. jantung Abang mau copot." kata Bang Langsang, ia meremas dadanya kemudian duduk bersandar membanting punggungnya. Kakinya terasa luar biasa lemasnya.
"Ya sudah, dek lagi juga nggak apa-apa. Andin suka" jawab Andin.
"Jangan ribut.. lihat dulu ini. Si pendekar pembuat huru-hara. Anakmu lanang Lang..!! mirip siapa nih??" kata Bang Pratama.
.
.
.
__ADS_1
.