
Jika ada yang kurang sinkron, Nara mohon maaf. Terkendala beberapa kegiatan dan hal yang begitu padat, Nara tetap mencoba berusaha untuk up sebaik mungkin. Di kesempatan lain.. Nara akan mengadakan revisi ulang. 🙏🙏
🌹🌹🌹
Tolong Pa..!!"
"Allahu Akbar Langsaang.. kenapa kamu bisa berbuat hal seceroboh ini?? Apa sulit untuk kamu bedakan mana Naya dan Mana Andin??" bentak Papa Ranggi dalam sambungan telepon.
"Aku sudah jelaskan sejujurnya sama Papa. Nyawaku masih setengah sadar." kata Bang Langsang.
"Nanti kita sambung lagi. Ini Papa mau hubungi Om Juan. Katanya Ayu mau melahirkan"
"Astagfirullah.. yang benar Pa?"
"Iya, makanya Papa mau tanya langsung. Katanya Huda selingkuh, Ayu kaget sampai kontraksi" Jawab Papa Ranggi.
...
Bang Langsang menerawang menatap langit-langit ruang kerjanya. Masalah belum beres tapi masih harus di kagetkan dengan berita Ayu yang akan melahirkan.
Apa aku hubungi Leo saja ya?.
~
"Iya benar, Huda selingkuh.. mau kawin lagi dia."
"Yang benar kalau kamu bicara?????" bentak Bang Langsang.
"Aku nggak bohong. Banyak yang bilang begitu. Ayu sampai pingsan berdarah-darah. Apa mungkin Huda melakukan KDRT??"
"Terus sekarang keadaan Ayu bagaimana?"
"Masuk kamar gawat darurat" jawab Bang Leo.
"Apa??? b******n juga si Huda" umpat Bang Langsang kemudian mematikan sambungan teleponnya.
~
J****k kowe yo. Ngomong apa kamu sampai anakmu lahir lebih cepat??????" bentak Bang Langsang.
Bang Huda terdiam sejenak. Mungkin kaget mendengar suara Bang Langsang. "Ya Allah, bukannya salam malah misuh"
__ADS_1
"Kamu memang pantas di maki..!! Berani kau poligami, aku berangkat sekarang kesana.. ku buat kau jadi dodol..!!" bentak Bang Langsang penuh dengan ancaman.
"Nggak Lang, aku hanya bercanda. Adikmu itu sudah sejak awal suka mengerjaiku, aku hanya membalasnya sedikit. Siapa sangka anak-anak ku malah demonstrasi" jawab Bang Huda.
"Rasakan.. makan tuh ulahmu. Dasar nggak ada otak kau ya..!!" ucap Bang Langsang masih dengan emosinya.
"Eehh.. sebentar.. darimana kamu tau Ayu melahirkan?" tanya Bang Huda.
"Aku lah.." jawab Bang Leo terdengar enteng disana.
Mungkin saat ini mata Bang Huda melirik tajam ke arah Bang Leo. "Kau itu memang bermulut besar, keluargaku jadi salah paham dan mengira aku mau kawin lagi..!!!" suara Bang Huda meninggi sampai kedua bayinya menangis ketakutan.
Bang Huda mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Wooo semprul" gerutu Bang Langsang.
Ia pun kembali duduk bersandar. Paling tidak, berita miring tentang Huda tidak benar adanya. Kini dirinya masih mumet memikirkan kericuhan yang terjadi dalam rumah tangganya.
"Bagaimana caranya membujukmu dek..!!" gumamnya pelan. Pikiran Bang Langsang semrawut. Segala kegalauan bercampur aduk menjadi satu mengobrak abrik perasaan. "Apa di saat seperti ini uang bisa meluluhkan hatimu dek?"
...
Andin berjalan-jalan di sekitar rumahnya, tak sengaja ia berpapasan dengan Naya. Mereka berdua sama-sama tidak enak untuk saling menghindar.
Naya mengangguk mengiyakan. "Mau di rumahku?" tanya Naya.
"Di kantin yang dekat taman saja, yang lebih dekat dengan barak remaja. Bosan juga khan kita di rumah terus" jawab Andin.
:
"Aku mau minta maaf soal perlakuan Bang Langsang sama Mbak Naya"
"Iya, aku pikir juga lebih baik kita sudahi saja salah paham ini. Aku saja yang terlalu berlebihan, Bang Langsang nggak akan mungkin punya pikiran macam-macam. Aku juga minta maaf kalau sudah membuat keributan, kamu juga pasti sedih" kata Naya.
Andin dan Naya pun saling berpelukan, saling memaafkan dan berniat melupakan semua.
"Kamu kabari saja Bang Langsang, aku lihat Bang Langsang cemas sekali memikirkan hal ini."
"Iya, nanti pasti aku kabari. Aku masih sedikit kesal sama Abang karena tidak mengenaliku." jawab Andin.
Akhirnya Naya dan Andin mengobrol di taman sembari merasakan sepoi angin sore bersama Angger dan Inay.
__ADS_1
...
Bang Langsang pulang ke rumah lebih cepat, ia masih berusaha keras untuk meminta maaf pada Andin dan Naya tapi kedua wanita itu tidak terlihat batang hidungnya.
"Andin pergi kemana?" Bang Langsang mencari Andin kemana-mana tapi Andin tak terlihat juga.
Bang Langsang melangkah keluar rumah dan disana ada seorang anggota yang melintas.
"Eehh.. tunggu..!!!!" Bang Langsang menghentikan langkah anggota tersebut.
"Siap.. arahan Dan?"
"Kamu lihat istri saya?"
"Siap.. Ijin, baru saja dari barak pinjam pisau dapur" jawab anggota tersebut.
"Lahdalaah.. Andin..!!! Jangan-jangan dia nekat bunuh diri karena cemburu, atau dia mau bunuh Naya. Ya Tuhanku..!!" Bang Langsang berlari kencang tanpa pamit.
Langkah yang seharusnya lebih cepat ia tempuh dengan motor malah harus susah payah ia gapai dengan berlari, pikirannya kalut takut Andin istrinya akan nekat.
~
"Andiiiiin..!!" benar saja, Andin berdiri di sebuah pohon sambil membawa pisau tersebut. Bang Langsang segera berlari dan merebutnya. "Jangan nekat sayang, sumpah demi Allah Abang hanya sayang kamu. Hukum Abang apa saja yang penting jangan nekat seperti ini lagi. Kejadian itu murni karena Abang kangen sama kamu..!!!" cerosos Bang Langsang tidak melihat keadaan sekitar.
"Duuh Abang.. bisa diam nggak sih?" tegur Andin.
"Nggak.. sampai kamu maafin Abang. Abang ngaku salah, Abang juga nggak tau kenapa pikiran Abang cuma pengen ngehamilin kamu terus" jawab Bang Langsang terus terang tanpa tedeng aling-aling.
"Cieeeee.. Komandan sudah kangen" kata seorang anggota di atas sana.
"Puasa donk brooo" ledek senior Bang Langsang.
Bang Langsang seketika mengusap wajahnya. "Kenapa kamu nggak bilang kalau di atas pohon mangga ada banyak anggota sama senior Abang..!!" bisik Bang Langsang.
"Andin khan sudah bilang. Abang diam aja..!!" kata Andin.
"Siap salah..!!" akhirnya Bang Langsang harus menanggung malu karena tanpa sadar membuka kelemahannya tanpa rekayasa.
.
.
__ADS_1
.
.