Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 46. Berangkat.


__ADS_3

Pesawat mendarat di tanah air. Keluarga sudah menunggu kecuali Ayu yang tidak bisa hadir karena kehamilan sudah mulai besar. Usia kembar kehamilan tujuh bulan dan kehamilan ini membuat Bang Huda suami Ayu sering kalang kabut di buatnya.


...


"Mana bisa Pa, kapasitasku apa?"


"Papa sudah minta ijin jajaran atas agar kalian bisa memberikan penghormatan pada Opa untuk terakhir kalinya" jawab Papa Ranggi. "Bagaimana.. Kamu atau Langsang IrUp nya?" tanya Papa Ranggi sudah lelah usai perjalanan.


"Langsang saja Pa, Naya nggak enak badan" jawab Bang Khaja.


"Ya sudah aku IrUp nya juga nggak apa-apa"


...


Bang Langsang lumayan gugup berada di posisi terhormat sebagai pemimpin pemakaman Opa tercinta. Bukan kapasitas dirinya tapi karena perundingan dinas dan keluarga akhirnya dirinya berdiri mewakili upacara pemakaman militer tersebut.


Andin dan Naya duduk bersama Mama Hana dan bayi mereka disana. Pemakaman menjadi haru biru saat seorang mengungkapkan jasa-jasa Opa Rico pada masa jaya nya. Prajurit tangguh di medan perang dengan tak-tik yang baik.


Flashback tentang masa lalu hingga dirinya harus kehilangan seorang istri demi negaranya dan kini harus berpulang bersama istri keduanya. Sehidup semati mengarungi bahtera rumah tangga.


Papa Ranggi dan Om Gazha sangat berduka, terlihat sesekali keduanya menyeka air mata yang menetes di pipi.


"Kami.. mewakili para prajurit. Memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya............"


Bang Langsang dengan tegar menyambutnya.


...


Naya dan Andin duduk menggendong bayi mereka masing-masing. Si kecil tak hentinya rewel. Mungkin merasakan kehilangan juga.

__ADS_1


"Angger kenapa sayang?" tanya Bang Langsang kemudian mengambil Angger dari gendongan Andin.


"Nggak tau Bang, nangis terus.. nggak mau minum ASI"


"Ayo di ajak ke mobil, mungkin Angger capek pengen istirahat" kata Bang Langsang.


"Sekalian Naya juga, suara Inay sampai serak nangisnya" imbuh Bang Khaja ikut cemas melihat Inay menangis kencang.


:


Satu jam berlalu. Bang Langsang dan Bang Khaja melihat para istri sudah kelelahan tapi Angger dan Inay tidak juga berhenti menangis.


"Astagfirullah.. ada apa sih dengan mereka" Bang Langsang menggendong Inay dan Angger bersamaan kemudian keluar dari mobil, langkahnya menuju makam Opa dan Oma buyut.


~


"Oma.. Opa.. Inay dan Angger antar Oma Opa pulang ya, yang tenang disana. Kami sudah ikhlas" kata Bang Langsang kemudian membaca do'a dan meniup ubun-ubun Inay dan Angger. Ajaibnya kedua bayi tersebut diam tanpa tangis.


"Anak-anak pengen antar buyutnya" jawab Bang Langsang ringan.


...


"Bagaimana keadaan Ayu?" Papa Ranggi menghubungi menantunya untuk menanyakan keadaan putrinya.


"Alhamdulillah Ayu sehat Pa, mohon maaf kami malah membuat acara syukuran seperti ini. Acara kecil-kecilan karena saya belum pernah membuat acara apapun untuk Ayu" kata Bang Huda.


"Nggak apa-apa. Acara itu sudah di rencanakan, sedangkan meninggalnya Oma dan Opa adalah kehendak Tuhan. Oya, apa Papa mu ada disana?" tanya Papa Ranggi.


"Iya Pa, ada Papa dan Mama disini menemani Ayu."

__ADS_1


"Syukurlah.. Papa titip Ayu, jangan ribut lagi. Bukan karena Ayu anak Papa, tapi mengalah saja sama istri biar tidak sering bertengkar"


"Siap Pa, saya paham"


...


Bang Khaja mencium kening Naya yang tengah tidur pulas. Ia tau istrinya sangat lelah mengurus buah hatinya. Naya yang banyak berulah saat hamil, sekarang menjadi tenang tanpa banyak tingkah.


"Bagaimana menyampaikan padamu kalau Abang mau berangkat dinas. Langsang sudah terlalu sering menggantikan tugas Abang. Nggak apa-apa khan kalau Abang tinggal dinas luar?" bisik Bang Khaja di telinga Naya. "Kamu ikhlas khan?" tanya Bang Khaja menyuarakan isi hatinya yang tidak ikhlas.


Mendengar bisik suaminya, Naya terbangun dan melihat Bang Khaja tertelungkup memeluknya. "Abang?? Abang kenapa?" Naya bingung kenapa mata Bang Khaja memerah.


"Nggak apa-apa" jawab Bang Khaja.


"Bohong.. ada apa Bang?"


Akhirnya Bang Khaja tidak bisa menutupi kegundahan hatinya. Cepat atau lambat pasti Naya akan tau juga. "Abang berangkat dinas?"


"Kemana Bang? Kapan?"


"Besok pagi, ke Ambon"


"Yang benar Bang? Kenapa Naya nggak tau????"


"Mendadak sayang, nggak mungkin khan Langsang berangkat lagi" kata Bang Khaja membuat Naya terdiam.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2