Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
53. Pertemuan.


__ADS_3

"Percayalah.. kamu tidak akan pernah tersia-sia menjadi istri Abang" Bang Ranggi menahan rasa sakit yang juga teramat menyesakan dada.


"Setiap Hana melihatnya, Hana merasa kotor. Kenapa Hana tidak bisa menahannya. Hana istri Abang tapi bisa berbuat seperti itu dengan pria lain" teriak Hana histeris.


Ayah Rico segera mengambil alih Cherry dari gendongan Bang Ranggi.. tatapan mata Ayah Rico pun sempat terarah teguran dan peringatan keras untuk sang putra yang di nilai begitu ceroboh membuat Hana kembali depresi dalam masa pemulihan.


"Sampai ada apa-apa sama menantu dan cucu ayah.. Kamu benar-benar ayah hajar Ranggi..!!" ancam ayah Rico kemudian berlalu pergi.


Bang Ranggi menengadah menghalau air mata yang hendak meluncur tanpa ia perintah. Ia memeluk Hana dengan erat.


"Dengan cara apalagi Abang harus berusaha biar kamu percaya sama Abang. Abang tidak akan pernah menjerumuskanmu. Kalau kamu sendiri kehilangan kepercayaan sama Abang.. bagaimana Abang bisa melindungimu"


Tubuh Hana yang semula gemetar kini perlahan tenang, ia bersandar dalam dekapan hangat Bang Ranggi.


"Hana tidak pernah berkhianat Bang. Hana tidak pernah ingin menodai pernikahan kita" ucap Hana.


"Abang tau.. terima kasih banyak untuk semuanya" jawab Bang Ranggi.


Sesekali Hana masih terisak sesak.


"Jangan nangis lagi donk dek. Istri Letda Ranggi kok cengeng amat ya. Abang ini tangguh lho.. anti nangis, kalau nggak sepaham dengan hati ya langsung 'tangani' saja" kata Bang Ranggi membesarkan hati sang istri.


Hana menarik nafas dalam-dalam saat merasa dirinya sudah lumayan kuat.


"Baiklah.. jika nanti sampai Imelda sampai berulah beraninya mengganggu Abang.. Hana langsung yang akan maju memberinya pelajaran" jawab Hana dengan mantap.


Bang Ranggi ternganga mendengar jawaban Hana yang sebenarnya bukan itu arah tujuan ucapannya.


"Oohh.. oke.. bagus juga itu. Tangani saja..!! Memang begitu seharusnya kalau menjadi seorang istri, harus berani mempertahankan hak mu sebagai istri Abang"


"Kalau begitu, ayo kita masuk. Tunjukkan kalau Hana ini milik Abang" ajak Hana.


Bang Ranggi pun tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Ayo..!!"


...


Bang Hasdin menunduk lesu duduk berseberangan dengan Hana dan tidak berani menatap wajah mantan istrinya.


"Maaf Abang tidak pernah memberimu uang untuk beli susu Cherry"


"Nggak apa-apa Bang. Di rumah sudah penuh sesak karena Bang Ranggi sudah membelinya untuk beberapa bulan ke depan." kata Hana berusaha santai.


"Maaf Abang sudah berbuat tidak sopan sama kamu"


"Tidak ada yang terjadi di antara kalian. Itu hanya mimpi buruk Hana saat mengenalmu" sambar Bang Ranggi yang sebenarnya sudah tidak tahan dengan pertemuan Hana dan Hasdin.


Hana pun berusaha mengimbangi Bang Ranggi.


"Hana sudah pasrah dengan keputusan Abang Ranggi. Hana percaya apapun keputusan Abang pasti itulah yang terbaik" ucap Hana.


Tak memikirkan lagi perasaannya kini. Bang Ranggi memperbanyak istighfar sebelum benar-benar memutuskan sesuatu.


Tak hanya Hana yang kaget tapi Ayah Rico dan semua yang ada di sana pun menjadi kaget. Tapi mereka masih menyimpan rasa penasaran mereka.


"Asal kau tau Hasdin. Rasa sakit hati, tidak rela, tidak ikhlas, sedih, kecewa dan marah semua bercampur menjadi satu dalam hati saya. Hana hanya mantan istri mu yang sekarang sudah menjadi istri saya. Ingin rasanya saya mengedepankan emosi dan membunuhmu tapi Allah tidak tidur Hasdin. Saya juga punya batas kesabaran dan goyah menghadapi keputusan Tuhan tapi di balik semua itu.. ada hal yang harus selalu saya ingat. Cherry adalah titipan Tuhan buat saya melalui kamu. Kamu juga harus berbesar hati, saya juga papanya" jawab Bang Ranggi.


"Biarkan saya tetap disini komandan. Saya lebih pantas berada disini" Bang Hasdin berdiri tepat di hadapan Bang Ranggi lalu memberi penghormatan terakhirnya tapi Bang Ranggi menurunkan tangan Bang Hasdin membentuk sikap sempurna.


"Aku tidak butuh semua itu. Aku hanya butuh kau menjadi sosok yang baru, bukan Hasdin yang sudah sangat mengecewakan seperti ini" pinta Bang Ranggi.


"Tanpa komandan keluarkan saya dari sini pun saya akan berubah menjadi sosok yang lebih baik"


"Aku tau. Tapi kamu juga adalah seorang ayah dari Cherry juga bayimu yang masih ada dalam kandungan Citra." kata Bang Ranggi yang ternyata masih memikirkan nasib anak Bang Hasdin yang lain.


"Aku paham rasanya jadi suami, dimana kita harus bekerja lebih ekstra untuk anak dan istri kita. Aku yakin saat ini mentalmu tak kalah berantakannya dariku"

__ADS_1


"Siap komandan" jawab Bang Hasdin.


"Aku bukan Komandanmu lagi"


Bang Hasdin menekuk kedua lututnya di hadapan Bang Ranggi.


"Selamanya Letda Ranggi akan tetap menjadi komandan saya meskipun pangkat ini tak lagi bertengger di lengan saya. Saya akan mengabdi pada Letda Ranggi seumur hidup saya" kata Bang Hasdin berurai air mata.


Bang Ranggi mundur karena merasa tidak enak mendapatkan perlakuan tidak wajar dari Bang Hasdin.


"Kau menyamakan aku dengan berhala??" tanya Bang Ranggi.


"Siap.. tidak komandan" jawab Bang Hasdin.


"Bisakah kau memanggilku dengan sebutan yang lain. Aku risih sekali mendengarnya" ata Bang Ranggi berwajah masam kemudian mengarahkan Bang Hasdin untuk duduk.


"Aku antar Cherry kesini untuk bertemu Papanya. Bisakah kau bersikap sedikit manis agar gadis kecil kita itu tidak takut"


Papa Rico mengantar Cherry ke dalam ruangan. Awalnya Cherry menangis dan tidak mau bertemu Papanya bahkan Hana berwajah begitu datar enggan memandang wajah Bang Hasdin sama sekali.


"Cherry.. ayo beri salam sama Papa." ajak Bang Ranggi.


"Ayo donk cantik.. masa anak Papa Ranggi begitu. Anak Papa Ranggi khan hebat, anak sholehah nya Papa Ranggi, kesayangan Papa Ranggi."


Baru setelah mendengar suara itu Cherry mau mendekat pada Papa Hasdin.


"Sini sayang, sama Papa..!!" Bang Hasdin meraih tangan Cherry dan menggendongnya.


"Kenapa Papa buat mama nangis. Papa Ranggi sedih sekali" protes si kecil Cherry.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2