Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
55. Hananya Abang Ranggi.


__ADS_3

Hana terus saja melebarkan senyumnya dan itu membuat Bang Ranggi tenang.


"Mana Bang..!! Mana??????" begitu mendengar kata yang berhubungan dengan uang, sifat khas seorang wanita langsung menyeruak begitu saja.


Tak lama Bang Ares datang menjenguk adiknya.


"Bagaimana dia?" tanya Bang Ranggi saat baru masuk ke dalam ruang observasi dan menggandeng Dinar.


"Kau lihat sendiri adikmu ini. Sebentar lagi aku bakal di bully habis-habisan. Untung saja aku sudah punya penjinak bom" jawab Bang Ranggi.


Bang Ares tersenyum karena Bang Ranggi sudah memberikan informasi padanya tentang keadaan Hana melalui pesan singkat.


"Hajar saja. Suamimu itu memang celamitan" kata Bang Ares dengan sengaja.


"Untuk soal celamitan ku kali ini, aku harus bayar dengan harga yang sangat mahal.. bunga Bank dan mabuk ngidam" jawab Bang Ranggi.


"Itu harga yang pantas Bang. Abang khan sudah hamilin Hana. Masa mau enaknya aja" ucap ketus Hana.


"Iyaaa.. iyaaaa.. ampun dah bini Abang kalau sudah ngambek. Nanti kalau anak kita begitu bagaimana?" tegur Bang Ranggi.


Bang Ares tertawa gemas kemudian memberi kode untuk bicara pada littingnya itu dan membiarkan Dinar bicara berdua sesama wanita.


~


"Ya kata Bang Joy.. Hana hanya akan mengingat aku sebagai ayah kandung dari Cherry dan bayi yang di kandungnya, karena kalau Hana sampai mengingat segala kejadian pahit yang di alaminya dulu.. pikiran Hana tidak akan kuat dan itu akan mempengaruhi janinnya, mentalnya down."


Bang Ares memejam sesaat, ia pahami keadaan dan keputusan Ranggi bukanlah hal yang mudah. Pasti akan ada konsekuensi dari setiap tindakan termasuk ucapannya tadi bahwa mungkin saja Hana akan salah sadar dan menyangka Bang Ranggi yang sudah memperkosa dirinya.


"Mudah-mudahan semua hal buruk itu tidak akan pernah terjadi. Aku cemas sekali kalau salah sadar itu benar-benar terjadi" jawab Bang Ares.


"Asal tidak terjadi pertengkaran di antara kami, pasti semua akan baik-baik saja dan aku akan selalu berusaha meminimalkan hal itu Res" kata Bang Ranggi.


"Kau juga jagalah emosi mu. Aku paham betul kau memang pria yang temperamental" ucap Bang Ares yang kemudian masih sedikit menyimpan ragu.


"Kalau untuk adikmu yang cantik itu, aku akan berusaha menjaga emosi"


"Kau sulit untuk di percaya" sambar Bang Ares.


Bang Ranggi hanya menghela nafas berusaha bersabar hati. Mantan preman agaknya lebih sulit untuk di percaya.


"Nggak percaya juga nggak apa-apa. Yang jelas aku ini seorang suami juga ayah dari dua anak. Pikiranku juga tidak mungkin selalu berkelahi dan mesum saja" jawab Bang Ranggi kemudian pergi meninggalkan Bang Ares

__ADS_1


...


"Abang kenapa? Habis ketemu Bang Ares kok diam?" tanya Hana.


"Masa sih? Nggak aahh.. khan Abang sudah bilang kalau Abang mual" jawab Bang Ranggi dengan senyum yang di paksakan.


"Belum reda juga Bang?" tanya Hana lagi.


"Namanya mabuk bawaan ya sulit hilang dek. Si dedek ngajak main Papanya terus"


Bang Ares tersenyum mendengar percakapan Ranggi dan Hana. Terlihat jelas Ranggi sangat menyayangi adik perempuan satu-satunya yang begitu ia sayangi.


"Abang.. pulang yuk, Dinar capek..!!" ajaknya sambil mengusap perutnya yang sudah begah di trimester ketiga.


"Hana juga Bang, mau pulang" ajak Hana juga tak mau kalah merajuk pada Bang Ranggi.


"Perjuangan banget sih gue mau jadi bapak" gerutu gemas Bang Ranggi.


"Abang nggak ikhlas????" tanya Hana mulai mengintimidasi.


"Ikhlas.. ikhlaaass sayaang.. Allahu Akbar, Ya Allah..!!!" meskipun gemas tapi Bang Ranggi sekuatnya masih menahan diri.


"Ayo pulang sayang..!! Biar mereka berunding sendiri dengan dokter" ajak Bang Ares.


Dalam perjalanan pulang, Bang Ares menerima telepon dari Bang Herman.


"Dimana Hana tinggal? Apa pangkat suaminya?" tanya Bang Herman.


"Abang lupa yang kemarin kubilang?"


"Berani kamu berucap kasar sama Abangmu? Ingat kamu ya, kalau Abang tidak suka sama suami Hana.. Abang bisa membatalkan pernikahan mereka" jawab ketus Bang Herman.


Ucap Bang Herman ternyata seketika itu juga memicu kemarahan Bang Ares.


"Sekali Abang berani merusak kebahagiaan Hana.. kupastikan Abang akan terlempar keluar dari pulau Jawa" bentak Bang Ares.


"Kau ingat ya Bang, aku ini juga Abangnya Hana. Kau menyakiti Hana.. kau akan berhadapan juga denganku dan pastinya kau akan mendapat pelajaran berharga dari suaminya Hana"


"Halaaahh.. macam apa suami Hana itu, aku tidak peduli" Bang Herman menutup panggilan telepon tersebut dengan kesal.


"Terserah lah, aku tidak mau tau kalau sampai Ranggi sendiri yang menanganimu..!!!!!" teriak Bang Ares ikut kesal lalu membanting ponselnya membuat Dinar kaget setengah mati.

__ADS_1


"Ada apa sih Bang?? Kenapa marah begitu?" tegur Dinar.


"Herman mau mencoba mengacau rumah tangga Ranggi dan Hana. Kau tau sendiri bagaimana sok taunya Herman dan bagaimana watak Ranggi kalau sedang marah. Begitu Ranggi tau ada masalah dengan Hana.. bisa habis Herman jadi dodol"


"Tapi kenapa marahnya sama Dinar???" ucap Dinar merasa tersakiti oleh sikap Bang Ares.


"Siapa yang marah? Kamu ini pemarah sekali"


"Iya.. memang Dinar pemarah. Abang baru sadar?????" seketika itu juga Dinar menangis semakin menjadi karena ucapan Bang Ares.


"Ya Rabb.. kenapa hari ini rasanya aku stress sekali"


"Karena Dinar khan?" ucap Dinar lagi.


Akhirnya Bang Ares memilih diam daripada perdebatan ini semakin tidak ada akhirnya.


//


"Benar Bang, Hana sudah kuat"


"Awas aja ya kalau sampai kambuh lagi pusingnya. Abang tumbling kamu di kamar..!!" ancam Bang Ranggi tidak main-main.


"Kalau nggak mau ajak Hana pulang, berarti jatah Abang berkurang" Hana pun balik mengancam dan pastinya rata-rata suami akan ketar-ketir karenanya.


"Apa-apaan ini. Kenapa kamu campur aduk masalah??" tegur Bang Ranggi.


"Ya karena Hana pengen pulang. Mau ambil bunga bank, mau jalan-jalan" jawab Hana santai.


"Lailaha Illallah.. hiiiiiihhh.. ini rumah sakit yo dek, jangan sampai Abang bereskan kamu disini. Bojo siji karepe kok akeh tenan to yoo..!!!"


"Jadi Abang mau berapa istri????" Hana mulai ketus, tangannya menepak keras bahu Bang Ranggi.


"Awww.. maksudnya nggak gitu. Aduuuhh.. sakit..!! Ampun dah.. Res.. adikmu iki lho." Bang Ranggi hanya bisa beringsut di balik kedua tangan yang bersilang menghindari Hana yang terus menyerangnya.


"Astagfirullah.. Abang sengat nih ya..!! Galak banget sih Mamanya terong Belanda" ancam Bang Ranggi mulai kewalahan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2