Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 44. Masa yang hilang.


__ADS_3

Dokter berlarian menuju ruang ICU. Satu melihat kondisi Opa Rico, satu lagi melihat kondisi Oma Jihan.


Seketika Dokter memasang raut wajah sedih. Beberapa orang perawat membantu menaikan Opa Rico di atas brankar.


"Ibu Jihan sudah tidak ada, begitu pun Pak Rico juga menyusulnya" kata dokter saat menemui Papa Ranggi dan Om Gazha.


"Mamaa.." Papa Ranggi berlari menerobos pintu ruang ICU tak terkecuali dengan Om Gazha.


Papa Ranggi memeluk Mamanya, Om Gazha menciumi kaki sang Mama. Kedua pria tersebut histeris bukan main kehilangan Papa dan Mama sekaligus.


Tak lama Tante Zani datang dan melihat Mama Papanya sudah terbujur di brankar masing-masing. Tanpa kata, tangis tak bersuara.


"Sabar ya Ma.."


Tante Zani hanya bisa menatap mata Om Tegar dengan tatapan pilu. Tak sanggup merasakan kehilangan.. Tante Zani pingsan dalam pelukan Om Tegar.


"Maa.. yang kuat Ma, semua sudah takdir Allah" bisik Om Tegar tak kalah cemas dan sedih.


:


"Pak Rico menelan obat 'jantung' tapi sayang semua terlambat, serangan jantung yang begitu mendadak tidak bisa teratasi dengan cepat. Kami turut berduka Pak Ranggi.. Pak Gazha"


Apa mau di kata, takdir Allah memang tidak dapat di tolak. Papa Ranggi dan Om Gazha hanya bisa berusaha kuat menerima takdir Allah.


\=\=\=


"Khaja.. Langsang.. Oma dan Opa telah tiada. Kami sudah bersiap membawanya pulang. Tolong di tanah air kalian handle acara pemakaman untuk Opa dan Oma."


Tangan Bang Langsang gemetar, ia masih menguatkan hatinya begitu pula dengan Bang Khaja masih mengatur perasaan. Naya dan Andin sudah menangis mendengar kabar tersebut pasalnya Opa Rico dan Oma Jihan sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka berdua.


\=\=\=


flashback Om Gazha on..


Mama Jihan menunggu para taruna di bawah tenda tamu dengan gelisah. Seluruh orang tua menunggu di dalam ruangan terkecuali Mama Jihan.


"Kamu nggak tunggu di dalam Ma? Sebentar lagi seluruh taruna apel di lapangan dan kita ikut disana..!!" kata Papa Rico.


"Nggak Pa, biar Mama tunggu disini saja..!!"


"Kamu kenapa? Gazha sudah di lantik, kamu nggak pengen lihat Gazha pakai seragam sepertiku???" tanya Papa Rico.

__ADS_1


"Bukan itu Pa"


"Lalu apa?? Sudah.. ayo kesana..!! Nggak ada alasan..!!" Papa Rico menggandeng tangan Mama Jihan menuju lapangan karena sejak tadi istrinya itu tidak mau masuk ke dalam gedung.


~


Acara apel pelepasan dan penutup telah usai.


"Silakan menghadap orang tua masing-masing..!!!"


Bang Gazha melangkah mencari orang tuanya. Matanya menyisir kesana kemari hingga melihat sosok Ayahnya. Bang Gazha berlari cepat tapi saat itu Mama Jihan menjauh dari sisi suaminya berniat menghindari Bang Gazha.


"Mamaaa.. kenapa Mama pergi?????" tegur Bang Gazha menghentikan langkah Mama Jihan. "Apa Mama tidak bangga padaku?? Apa karena aku tidak terlahir dari rahim mama??"


Mama Jihan menoleh dan seketika air matanya tumpah. "Bukan Le, Mama hanya merasa tidak pantas bersanding dengan ibu-ibu hebat, Mama tidak punya sesuatu yang pantas untuk kamu banggakan"


"Jika bukan karena Mama, aku tak akan seperti ini" Bang Gazha menatap kedua bola mata Mama Jihan. "Gazha juga putramu Ma, sama seperti Ranggi. Terimalah sembah bakti putramu." Bang Gazha berlutut mencium kaki Mama Jihan.


Rasa campur aduk melingkupi perasaan Mama Jihan. Sungguh ia sangat menyayangi Gazha tiada beda dengan rasa cintanya Pada Ranggi dan Zani. Saking tak kuatnya menerima sembah sujud putranya, Mama Jihan sampai pingsan menabrak Ranggi.


"Astagaaa.. Bang, Mama pingsan." Ranggi yang saat itu masih berstatus pelajar, menggendong Mama Jihan ke tempat yang lebih teduh.


~


"Bisa-bisanya pikiran konyol seperti itu melintas di kepalamu Ma..!!" tegur Papa Rico membuang rasa khawatirnya. "Mau Gazha, Ranggi, Zani.. semua sama. Semua anakmu..!!!"


"Maaf Pa, Mama salah" jawab Mama Jihan.


Mama Jihan menatap wajah Bang Gazha, di sentuhnya pipi putranya yang kini telah tampan dan dewasa kemudian Mama Jihan memeluknya erat. "Kamu harus tau Gazha, Mama tidak pernah membandingkan rasa sayang untuk kamu duga adik-adikmu. Mama bangga sama kamu nak, sangat bangga."


"Iya Ma, Gazha tau" Gazha mencium punggung tangan Mamanya lalu mengecup kening sang Mama sebagai tanda bakti.


"Ma, kalau aku nggak jadi tentara.. nggak apa-apa khan Ma, Bang Gazha sudah jadi tentara. Masa aku juga jadi tentara" celetuk Bang Ranggi.


"Kamu mau jadi apa?? preman?? berantem di terminal??" tanya Papa Rico.


"Aku nggak mau ikut pendidikan Pa, nanti aku di hajar"


"Di hajar apanya?? Kamu akan di didik peka dengan situasi dan menghadapi hal-hal yang mungkin akan terjadi di luar perkiraanmu. Di tabok tipis-tipis nggak apa-apa lah. Itu latihan mental" kata Papa Rico.


"Nanti pelatihnya ku tonjok balik" jawab Bang Ranggi tak mau tau.

__ADS_1


"Gila kamu.. kalau pendidikan, dimana-mana ya harus ikut apa kata pelatih" bentak Papa Rico.


"Makanya aku nggak mau jadi tentara"


"Kalau sudah begini Papa semakin yakin untuk memasukan kamu untuk jadi tentara..!! ucap tegar Papa Rico.


"Nggak Pa, aku nggak mau"


"Sudah Le, sampai kapan kamu mau terus begini? Kamu harus memikirkan masa depanmu, jangan bawa perempuan si A, B, C lagi." Mama Jihan sampai menggoyang lengan Bang Ranggi yang saat itu baru satu bulan lulus dari SMA.


Bang Ranggi terdiam sejenak. Entah apa perasaannya saat itu, yang jelas ada raut wajah tak tega melihat sang Mama.


"Baiklah Ma, aku mau daftar masuk jadi tentara" jawab Bang Ranggi.


flashback Om Gazha off..


//


flashback Papa Ranggi on..


"Ranggi Tanujaaaa.. berdiri kamu..!!"


Bang Ranggi melihat tangan pelatih berada di pundaknya. "Jangan sentuh saya..!!" ucapnya menepis tangan pelatih.


"Kamu mau melawan saya?? Siswa pembangkang..!!" pelatih melecutkan satu cambukan ke arah putra Dan Rico. Komandan tinggi di pusat.


Bang Ranggi menangkap cambuk tersebut dengan tangannya. Tak disangka seorang siswa lagi merebutnya dan berbalik mengancam pelatih tersebut.


"Astagfirullah.. Ranggi.. Ares..!!!!!!" teriak Papa Rico dengan murkanya. Papa Rico mengambil cambuk di tangan Bang Ares.


ccttssss..


"Rasakan.. kalau semua siswa macam kalian. Mau jadi apa tentara kita???" bentak Papa Rico meradang melihat ulah Bang Ranggi dan Bang Ares.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2