Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
63. Kalau ada yang ngambek.


__ADS_3

Bang Ares memberikan semangat pada Dinar tapi para perawat juga memberi dukungan penuh pada pria yang sebentar lagi akan menjadi calon bapak itu.


"Satu kali lagi sayang, yang kuat..!! kalau nggak kuat anak kita juga nggak bisa berjuang" bujuk Bang Ares.


"Terserah kamu lah nanti mau minta apa, pokoknya Abang minta tolong satu kali ini saja usahakan yang kuat dek" mata Bang Ares sudah sembab tak tega melihat Dinar.


Dinar sudah kesal meskipun tak putusnya ia membaca do'a tapi ia sungguh tak ingin mendengar suara dan melihat wajah Bang Ares, anehnya tak ingin pula di tinggalkan.


"Tutup wajah Abang pakai kantong plastik..!!" pinta Dinar dengan emosinya.


"Yadi.. tolong ambilkan saya kantong plastik..!!" teriak Bang Ares pada seorang anggotanya yang sedang berjaga.


~


Sekuat tenaga, Dinar mengejan dan mata Bang Ares terpejam, ia ikut menggigit bibirnya kuat. Gagahnya serasa melayang dan sama sekali tidak berani mengintip ke arah bawah.


Tak lama terdengar suara tangis bayi yang sangat kencang.


"Alhamdulillah.. sudah lahir Pak" kata seorang bidan.


"Alhamdulillah" Bang Ares melepas plastik di kepalanya, perlahan Bang Ares membuka mata, ia mengusap wajahnya yang masih menyisakan aura tegang.


"Terima kasih Bu"


"Sini Res, lihat bayimu dulu. Nggak penasaran kamu?" tanya Bang Joy karena Ares dan Ranggi sama-sama tak ingin melihat jenis kel*min bayinya.


Bang Ares menyempatkan diri memeluk dan menciumi wajah Dinar dengan haru. Rasa sayangnya pada istrinya kini berlipat-lipat.


"Terima kasih banyak ya dek. Kamu sudah memberikan kebahagiaan untuk Abang sampai seperti ini. Entah harus bagaimana Abang membalas semuanya." kata Bang Ares tersentuh melihat perjuangan Dinar.


"Jangan selingkuh" ucap Dinar.


"Nggak akan.. dan nggak akan pernah berani melakukannya" jawab Bang Ares kemudian mengecup kembali bibir Dinar.


"Abang lihat dedek dulu ya..!!" pamit Bang Ares dan hanya terbalas anggukan dari Dinar.


Langkah pelan mengiring hati Bang Ares yang tengah berbunga-bunga. Senyumnya merekah penuh kelegaan.


"Assalamualaikum pendekar Papa" sapa Bang Ares kemudian menyentuh jemari kecil jagoan kecilnya.


"Ayo silat sama Papa..!!" ucapnya sambil menyeka air mata.


"Ayo di adzani dulu, bukan malah di ajak tarung..!!" tegur Bang Joy.


"Siap Bang..!!"


~


Bang Ares mencium putranya kemudian menyerahkan pada perawat untuk di rawat dalam bed inkubator.


"Hebat kamu le, sudah buat Om Ranggi mu setengah mati kelabakan di luar sana. Ini masih gara-gara kamu sama mamamu, belum gara-gara tantemu. Salah sendiri darah takut padahal dia sering berdarah-darah, ulat bulu yang sepele pun takut padahal dengan ular berbisa sekalipun nggak pernah takut. Besok kamu wajib buat jengkel om mu itu" kata Bang Ares mengadu.


//


Bang Ranggi berangsur tenang, mualnya juga sudah hilang.


"Heehh.. mau lihat jagoanku nggak?" tegur Bang Ares dengan sombongnya.


"Anakku perempuan, aku ngeri punya anak laki kalau harus berakhir payah sepertimu" jawab Bang Ranggi sudah lebih santai.

__ADS_1


"Apa Cherry masih kurang?" tanya Bang Ares.


"Bukannya kurang, aku mau kasih teman main boneka untuk Cherry."


"Waahh.. kalau modelan bapaknya begini, pasti kena kutuk kau nanti" ledek Bang Ares serius karena ia sendiri tau, Ranggi sangat menyukai perempuan sesuai dengan sifatnya yang 'pecinta wanita' saat belum tobat dulu.


"Pokoknya dia perempuan" ucap Bang Ranggi seakan tak mau tau.


Bang Ares tertawa lepas, rasanya saat ini bebannya sudah sirna meskipun masih ada rasa cemas karena putranya harus terlahir dengan keadaan prematur.


"Ijin Dan, Ijin ibu.. kami pamit mendahului" sela Om Richi.


"Selamat Dan atas kelahiran putra pertama nya" imbuh Om Richi pada Bang Ares.


"Terima kasih Richi.." kata Bang Ranggi.


"Thank you bro" jawab Bang Ares.


Imelda melengos tanpa kata dan enggan melihat wajah Hana sedikit pun dan Hana merasakan tingkah aneh Imelda.


"Pa, rasanya perut Mama kram juga deh" rengek Hana mencari ulah.


"Astaga.. kenapa lagi ini si Terong Belanda." seketika Bang Ranggi berucap refleks tanpa briefing bahkan tak paham Hana yang sedang bertingkah karena saat ini ia selalu di liputi rasa cemas dan was-was.


"Sakiiit Bang"


"Iya.. iya.. kita ke Bang Joy ya..!!" ajak Bang Ranggi.


"Nggak mau Bang. Kayanya si dedek pengen mamanya di sayang Papa deh" kata Hana.


Bagai tercocok hidungnya, Bang Ranggi langsung memeluk Hana dan mengusap perut sang istri dengan lembut.


"Adik lapar ya, Maaf ya Papa lupa kalau ini sudah terlalu siang"


Hana tersenyum mendengar ucap kalem dari Bang Ranggi.


"Makan apa sayang?" tanya Bang Ranggi.


"Hana mau makan sayap ayam di masak kuah pedas" Jawab Hana.


"Oke berangkat..!!"


"Tapi Hana maunya sayap kanan dari ayam betina dan di potong siang hari" kata Hana mantap.


"Aduuh Tuhan, bagaimana urusannya nih. Abang mau tau darimana kalau pakai sayap kanan, ayam betina dan di potong nya siang" Bang Ranggi melirik Bang Ares meminta pertolongan tapi kemudian Bang Ares belaga sibuk.


"Waahh.. sepertinya Dinar cari aku nih. Kutinggal dulu ya?" pamit Bang Ares.


Disana tinggal Om Richi dan Imelda yang masih terpaku.


"Richi.. tolong saya cari ayam buat istri saya..!!" perintah Bang Ranggi.


"Nggak apa-apa khan Bu Richi?" tanya Bang Ranggi.


"Siap Dan"


Imelda tak menjawab apapun selain kesal melihat wajah Hana yang sok manja bersandar di dada Bang Ranggi.


"Sudah tuh sayang.. masih sakit nggak?" Bang Ranggi mengusap perut Hana lagi.

__ADS_1


Hana sempat kaget dan membuat wajah memelas.


"Masih Paa.."


Mendengar jawab Hana semanja itu baru lah Bang Ranggi paham kalau sang istri sedang merasa cemburu dengan mantan kekasihnya tapi tak mungkin ia menegur kelakuan Hana di tempat.


"Duuhh.. anak Papa minta di apakan ya ini. " kata Bang Ranggi mengimbangi ucap Hana dengan lembut namun matanya penuh penekanan.


Hana pun berkedip sedikit takut melihat Bang Ranggi menatapnya tajam.


"Abang mau marah sama Hana yang lagi ngidam demi jaim di depan perempuan lain??" tanya Hana menutupi rasa takutnya.


"Bukan main.. sudah bawa-bawa terong Belanda, masih tidak mau mengaku salah. Kalau mau marah ya marah saja. Jangan bawa anak" ucap Bang Ranggi sedikit menekan.


"Marah saja terus, taruhannya terong ungu" jawab Hana tak mau tau.


"Cckk.. ancaman apalagi sih ini???? Apa sih maumu?? Jangan macam-macam..!!!"


"Hana hanya minta sayap. Apa itu masalah??"


Bang Ranggi menggeleng gemas tapi tak tega melihat wajah Hana mulai mendung.


"Richi.. tolong kamu share di group.. anggota yang sedang free tolong bantu saya cari sayap ayam sebelah kanan di masak bumbu kuah pedas.. satu lagi.. itu ayam tewasnya siang hari" perintah Bang Ranggi.


"Si_ap Dan..!!" Om Richi bingung menerima perintah dari atasannya itu kemudian mengambil ponselnya tapi masih terpaku bingung mencari kata-kata.


"Perintah sudah di laksanakan Bu. Apa ada perintah lain.. Ijin arahan..!!" tanya Bang Ranggi.


"Hana mau ke Batalyon G" jawab Hana ketus.


Bang Ranggi mengeryit dahi.


"Mau apa kesana??"


"Mau ketemu Bang Rahman" jawab Hana.


"Lettu Rahman???"


"Iya"


"Mau apa kamu ketemu senior Abang?" tanya Bang Ranggi semakin penasaran.


"Bang Rahman khan mantannya Hana"


Wajah Bang Ranggi berubah dingin, tajam dan tegas. Nampaknya hatinya kini mulai meradang.


Bang Ranggi mengangkat ponselnya dan menekan nomer Bang Ares.


"Opo???" jawab Bang Ares.


"Kesini kamu..!!!!" ucapnya tak melepas pandangan dari Hana.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2