
Zani menerima kantong plastik dari Bang Tegar.
"Cepat masuk kamar mandi Abang..!!" perintah Bang Tegar.
Zani pun segera berjingkat masuk dan mengendap menutupi pakaiannya yang kotor.
Dengan cekatan Bang Tegar membalik kasurnya dan segera memasang sprei yang baru.
:
Lima belas menit Zani di dalam kamar mandi dan tak kunjung keluar. "Dek.. kamu itu masih sadar atau pingsan?"
Tak kunjung mendapat jawaban.. Bang Tegar mengetuk pintunya sampai ketukan lebih keras.. Zani tak kunjung menjawab. "Abang dobrak ya..!!!!" ternyata suara itu masih juga tak membuat Zani bersuara.
braaakk..
"Ya Allah.. Zaniii..!!" Bang Tegar panik, ia segera membersihkan Zani lalu mengangkatnya. "Duuhh.. kenapa kamu dek???"
Perlahan Bang Tegar menidurkan Zani di karpet kamarnya. "Sial.. bajunya basah" Bang Tegar mengambil pakaiannya yang longgar di dalam lemari.
:
Zani memercing memegangi perutnya, tepat saat itu Bang Tegar sedang mengaduk susu hangat untuk Zani.
"Apanya yang sakit dek?" Bang Tegar menghampiri Zani dan membantunya bangun untuk minum susu. Tatapan mata Bang Tegar begitu menyentuh hatinya, ia tak dapat menerka seperti apa pria di hadapannya itu.
Beberapa detik kemudian Zani menyadari pakaiannya telah berganti. "Apa Abang yang menggantinya?" tanya Zani.
"Kamu marah?"
Air mata Zani menetes, Bang Tegar meletakan gelas kosong di nakas samping ranjang.
"Kamu sudah janji untuk membawa nama Abang di atas tubuhmu. Jangan menangis.. memang itulah tugasmu sebagai Nyonya Tegar." kata Bang Tegar kembali menidurkan Zani perlahan.
"Tapi Zani bukan siapa-siapa Abang" Zani mulai menangis sesenggukan.
Bang Tegar sedikit membungkuk kemudian mengecup kening Zani dengan sayang. "Syazani Alfaizha kamu bisa tenang atau tidak? Abang hanya menagih janjimu dan Abang wajib bertanggung jawab dengan janji Abang.. di hadapan kedua orang tuamu, Oma dan Opamu juga kedua Abangmu dan yang lebih penting di hadapan Allah. Abang nggak suka mempermainkan wanita."
Rasanya Zani hampir pingsan saking takutnya. Ia tidak memahami situasi, yang ia tau.. dirinya terjebak dengan janjinya yang salah.
-_-_-_-_-
__ADS_1
Hingga malam tiba, Hana begitu cemas karena adik iparnya belum juga pulang. Ia tak mungkin menghubungi keluarga tapi juga tidak bisa menghubungi Bang Ranggi yang sedang bertugas.
"Ya ampun Zani.. kamu dimana? Abangmu bisa marah kalau kamu nggak pulang" gumam Hana mondar-mandir di depan ruang tamu.
Tak lama pintu rumah terbuka, terlihat Bang Ranggi begitu lemas di papah Bang Ares dan Bang Hasdin. Mulutnya terus saja mengoceh tanpa henti.
"Abaaang.. Abang kenapa Bang????" pekik Hana.
"Kamu ambil minum dulu dek. Suamimu kena obat bius" kata Bang Ares kemudian menidurkan Bang Ranggi di sofa.
:
Alam bawah sadar Bang Ranggi belum begitu pulih. Umpatan, makian dan segala perasaannya keluar begitu saja termasuk kesedihannya selama ini.
Bang Hasdin sampai tak sanggup bicara saat namanya sempat di sebut.
"Bang.. cepat sadarkan Bang Ranggi..!!" pinta Hana histeris.
"Ini sudah lebih baik dan Ranggi sudah minum obat agar lebih cepat pulih." jawab Bang Ares.
...
Hana menyeka badan Bang Ranggi yang penuh lebam. Sisi bibirnya sobek dan kening kirinya luka. "Aaawwhh.." Bang Ranggi hanya bereaksi kecil padahal Hana tau sekujur tubuh Bang Ranggi pasti sangat kesakitan.
"Nggak" jawab Bang Ranggi.
Hana ingin sekali memeluk suaminya tapi entah kenapa seakan ada dinding pembatas di antara mereka yang tidak ia pahami.
"Kamu nggak rindu sama Abang?" tanya Bang Ranggi.
"Baru juga empat hari lima malam Bang." jawab Hana. "Kalau Abang sendiri?" tanyanya ingin tau.
"Rindu sekali. Jangankan empat hari lima malam.. nggak lihat kamu saja hati Abang sudah rindu" Bang Ranggi mengulurkan tangannya berniat menyentuh pipi Hana tapi kemudian ia mengurungkan niat dan sedikit menyentuh pipi dengan punggung jarinya.
Bang Ranggi mengerti sebenarnya Hana pun juga rindu tapi ia ingin rindu itu akan terurai nanti di saat yang tepat.
***
Hari-hari berlalu, Bang Tegar menemui Bang Ranggi di ruangan. "Test pengantar Intel buatku lapor ke POM sudah jadi atau belum?"
"Belum, kantor masih sibuk sekali. Danyon juga ada tugas lapangan terus. Paling lambat bulan depan, yaaa.. dua minggu lagi paling cepat" kata Bang Ranggi.
__ADS_1
"Waahh.. parah banget sampai bulan depan"
"Santai sedikit lah bro" Bang Ranggi mengambilkan soft drink untuk Bang Tegar.
"Santai pala lu, anak buah nggak santai nih" ucapnya nggedumel sendiri.
Bang Ares yang sedari tadi hanya fokus dengan ponselnya menjadi tergelak. "Nggak apa-apa lah. Hitung-hitung temani si Ranggi puasa"
"Jangan bahas ini lagi.. pikiranku jadi kotor" kata Bang Ranggi.
"Kau itu nggak ada angin nggak ada hujan juga tetap saja pikirannya perempuan" Jawab Bang Ares.
"Kita bertiga nih sama saja" sambar Bang Tegar akhirnya mengaku. "Ayo cepat berangkat..!! Kita setting lapangan..!!"
...
Perdebatan terjadi di lapangan saat setting droping zone penerjunan untuk acara pengenalan daerah wisata kota.
"Kalau ibu menginginkan para anggota saya turun disana.. itu tidak mungkin, di daerah sana angin bisa membawa peterjun sampai ke pohon bakau dan tersangkut kalau ibu terjunkan di lautan.. parasut kami bisa basah dan sulit di tarik" Bang Ranggi memberikan alasan yang logis.
"Lalu buat apa jadi tentara kalau ini dan itu tidak bisa??" kata ibu manager hotel.
"Mohon maaf ya Bu, ibu meminta bantuan untuk pengenalan daerah wisata.. kami setuju. Kami hanya tidak bisa meletakan droping zone di tempat yang tidak sesuai" jawab Bang Tegar.
"Kalau bapak letakan di darat.. itu terlalu dekat dengan garis tamu VIP." protes ibu manager.
"Begini ya ibu.. tugas utama kami untuk pertahanan negara.. kalau untuk promosi daerah wisata itu hanya tambahan saja. Kami juga tidak mau mengorbankan anggota dan mati konyol hanya untuk keinginan ibu." Bang Ranggi sudah tidak sabar dengan ucapan ibu manager.
"Tentara kok takut mati."
Mata Bang Ranggi sudah berkilat merah padam, Bang Ares dan Bang Tegar menahan lengan littingnya itu agar tidak semakin murka.
"Tolong para anggota menyiapkan ibu manager untuk terjun dari pesawat..!!" perintah Bang Ranggi.
Seketika mata Bu manager terbelalak kaget.
"Ibu manager yang terhormat.. tentara tidak pernah takut mati. Kami hanya takut mati tidak meninggalkan nama baik dan pengabdian kami untuk negara. Satu lagi.. anak istri kami menunggu di rumah." ucap Bang Ranggi melirik gemas pada Bu manager.
.
.
__ADS_1
.
.