Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 21. Ulah bojo.


__ADS_3

Bang Langsang menutup pintu kamar dengan terburu-buru, Andin pun kewalahan mengatasi reaksi Bang Langsang yang di luar dugaan.


"Abaang.. Andin kira Abang hanya pura-pura."


"Mana ada orang pura-pura nafsu. Aneh kamu" jawab Bang Langsang mengatur deru nafas memburu.


"Tapi Bang, apa nggak apa-apa kita lakukan sekarang?" tanya Andin cemas.


"Nggak apa-apa"


"Kata siapa Bang?" tanya Andin lagi.


"Kata Abang" jawab Bang Langsang seolah tak peduli ibarat kata sekalipun atap rumah roboh. "Sudah jangan bertele-tele kamu" tak banyak bicara, Bang Langsang menyergap Andin tak memberinya ampun.


Di barengi bujukan setan, Andin pun terbuai.


∆∆∆


Bang Khaja kelabakan mencari Naya yang tidak berada di rumah. Langkahnya panik mencari Naya ke seluruh ruangan. "Kemana sih kamu dek?? telepon Abang juga kamu abaikan" gumam Bang Khaja cemas.


Tak lama ada motor berhenti di depan rumahnya. Pratu Sumadi mengantar Naya pulang sambil membawa kotak yang sangat besar.


Bang Sumadi menegakan badan menyapa Bang Khaja sebelum meninggalkan tempat.


~


"Darimana saja kamu??"


"COD an air soft gun." jawab Naya dengan mode ketus.


"Buat apa kamu beli air soft gun. Pegang pistol air saja gugup" kata Bang Khaja.


"Ayo kita perang Bang"


"Nggak..!!" tolak Bang Khaja.


"Ayoo...!!" ajak Naya dengan paksaan.


"Abang nggak bisa"


"Bohong"


"Beneran yank..!!" cemas Bang Khaja sudah tak karuan menghadapi Naya.


Naya mengacungkan pistol tersebut ke arah Bang Khaja, refleks Bang Khaja mengangkat kedua tangannya. "Jangan main-main dek. Tetap bahaya kalau tanpa latihan..!!"


Naya mengarahkan senjata yang di pegangnya menyusuri tubuh Bang Khaja hingga berhenti di satu titik.


"Dek.. jangan main-main..!!!" tegur keras Bang Khaja kemudian berbalik badan melindungi aset berharga.


"Diam ya Bang..!!!" Naya seakan puas melihat wajah panik Bang Khaja.


"Ya Allah.. Allahu Akbar.. Lailaha Illallah.. Abang baru mau punya anak lho dek.." kepala Bang Khaja rasanya mau pecah menghadapi ulah Naya dari hari ke hari.


"Aahh.. Abang nggak seru." Naya menurunkan senjatanya kemudian melemparnya asal dan masuk ke dalam kamar.


Bang Khaja membuang nafas panjang. Sangat panjang. Matanya melirik senjata laras panjang tersebut. "Untung nggak di pompa. Kalau tadi kena aku.. lumayan juga lah" gerutunya. "Kelakuannya minus seperti Langsang"


Dengan cepat Bang Khaja mengemas kembali senjata tersebut hingga rapi kemudian menyimpannya di atas lubang atap agar Naya tidak lagi mencari benda sial tersebut.

__ADS_1


~


Bang Khaja duduk di tepi ranjang mengusap rambut Naya yang halus. "Cari benda lain yang kamu sukai asal jangan senjata. Itu berbahaya."


"Naya nggak suka yang lain. Hanya suka itu saja"


"Kamu pengen Abang mohon seperti apa sih sayang.. semua inginmu itu terlalu bahaya. Abang bukannya nggak sanggup memenuhi inginmu, tapi ingat si kecil juga donk sayang" tak hentinya Bang Khaja membujuk Naya.


Bang Khaja menyadari ada hal-hal tertentu yang mungkin sulit di kendalikan akal oleh bumil. Ingin rasanya Bang Khaja memarahi Naya tapi percuma saja kalau akan mengakibatkan celaka yang berujung penyesalan. Belajar dari pengalaman Langsang adiknya, ia amat sangat takut mengedepankan emosi tak terkontrol.


"Senjatanya khan nggak berbahaya Bang"


Bang Khaja menjitak kening Naya. "Memang tidak.. bagi yang sudah punya teknik dan ilmunya. Tapi buatmu yang hanya mengandalkan jurus pengawuran, jelas bahaya. Ingat yank.. seluruh senjata itu berbahaya. Salah satu bahaya main senjata.. ya bengkak perutmu itu" kata Bang Khaja.


Naya melirik kesal menatap Bang Khaja.


"Daripada urus yang itu, urusan yang di sini belum kamu bereskan lho dek. Sudah berapa hari nih Abang puyeng" bujuk Bang Khaja.


Awalnya Naya menolak, tapi karena rayuan pulau indah.. Naya pun akhirnya menurut.


***


Hari-hari berlalu, hari ini genap tiga bulan usia kandungan Naya. Perutnya sudah sedikit terlihat menyembul dan istri Khaja itu sudah bisa mengikuti kegiatan kantor sore itu.


Bang Khaja mengambilkan minum untuk Naya. Ia berjongkok membukakan tutup botol minuman untuk Naya. Sesekali tangan itu mengusap perut Naya dan menciumnya.


Dari sudut lain, Bang Langsang hanya bisa memperhatikan keinginan tersebut dengan hati pilu, di dasar hatinya yang terdalam terbersit rasa sakit dan iri. Ribuan penyesalan tak hentinya menghantui batin.


"Abang lihat apa?" sapa Andin.


"Itu lho, bujangan sekarang mainnya kok kurang lincah. Abang ikut main volly dulu ya ke lapangan..!!" pamit Bang Langsang.


"Sabar sebentar ya, itu sudah ganti pemain" Bang Langsang menyempatkan diri untuk mencium bibir Andin sekilas.


Andin memilih duduk tidak jauh dari kursi Mbak Naya.


"Nggak main Ndin? Setelah ini volly nya gabung sama om-om." tanya Mbak Naya.


"Nggak mbak. Andin sedikit pusing" jawab Andin dengan senyumnya.


"Abang nggak main?" tanya Naya pada Bang Khaja.


"Nggak, kalau kamu kena bola.. Abang bisa kejang" Bang Khaja memang tidak pernah meninggalkan Naya sedikitpun. Dua hari ini istrinya sedang tidak gencar berulah dan bersikap manis.


:


"Sikaatt Madiiiii..!!" suara Bang Langsang nyaring dan mendapat sorakan riang dari ibu-ibu muda.


Dan benar saja.. team Bang Langsang memenangkan volly tersenyum.


Bang Langsang mengusap peluhnya. Ia pun menghampiri Andin. "Abang minum donk dek..!!"


Andin pun membuka tutup botol kemudian menyodorkan air putih untuk Bang Langsang yang kemudian habis tiga perempat botol dalam sekejap mata.


"Ayo main..!! refreshing yank..!!" ajak Bang Langsang.


"Andin capek Bang" jawab Andin.


"Cari keringat sebentar. Mumpung cuacanya enak dek..!!" bujuk Bang Langsang.

__ADS_1


Andin menggeleng kemudian memeluk memeluk Bang Langsang, refleks tangan Bang Langsang mengusap rambut Andin dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.


"Tumben kamu beberapa hari ini manjanya nggak kira-kira. Mintanya di sayang terus. Ada masalah apa di kantor? Indri usil?? Komandan banyak tingkah?? Atau Huda menggodamu??" tanya Bang Langsang.


Andin tetap menggeleng bahkan mengeratkan pelukannya. "Nggak Bang"


"Terus kenapa donk. Ayo bilang..!!" Bang Langsang mulai cemas. "Oohh.. lagi datang bulan ya?"


Andin kembali menggeleng. "Andin pengen adu ilmu beladiri sama Abang. Eehh.. taekwondo aja Bang..!!" jawab Andin.


"Bilang donk daritadi. Ayo kita ke aula" ajak Bang Langsang menggandeng tangan Andin menuju ke aula.


:


Setelah keduanya berada di aula.. Bang Langsang pun beradu skill dengan Andin.


"Kenapa tendanganmu lemah sekali. Kerahkan tenagamu dek..!!" pinta Bang Langsang yang tidak merasakan kuatnya tenaga dari Andin.


"Boleh nih Bang??" tanya Andin ragu.


"Ya boleh. Namanya saja beladiri, taekwondo, karate.. adu ilmu apapun soal kegiatan ini tidak boleh kalem" jawab Bang Langsang.


Andin pun melayangkan tendangan dan jurus-jurus. Memang gerakan Andin sangat indah dan memukau sampai di satu tendangan.. Andin benar-benar menghajar Bang Langsang sampai suaminya itu kewalahan, apalagi Bang Langsang itu tak mungkin membalas serangan Andin.


"Abang harus bonyok..!!" ucap Andin tak ingin melepaskan Bang Langsang.


"Ya ampun dek, Abang ini bukan begal.. kenapa kamu buat bonyok" protes Bang Langsang masih menangkis serangan Andin.


"Abang sudah sering begal Andin. Masih mau mengelak apalagi??" Jawab Andin seakan meluapkan emosinya. "Ayo dek, kita hajar Papamu..!!" kata Andin.


Mendengar itu Bang Langsang terdiam dan ternganga menerka ucapan Andin sampai tak menyadari kaki Andin menendang tepat mengenai dadanya dengan keras, hampir saja Andin terpelanting karena terpantul, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Bang Langsang.


Dengan sigap tangan Bang Langsang meraih Andin dan mendekapnya. "Apa kamu bilang tadi??? Hajar Papa?????? Kamu hamil??????" tanya Bang Langsang memastikan pendengarannya.


plaaaakk..


"Kalau tanding jangan peluk-peluk..!!" Andin berusaha memberontak.


"Jawab dulu?? Kamu hamil?????"


"Apa sih Abang????" Andin masih saja berusaha melepaskan diri.


"Abang nggak main-main Andiniii.. jawab yang jelas.!!!!!" bentak Bang Langsang.


"Iiisshh mau tau aja lah Abang" protes Andin kesal.


"Abang setengah mati buatnya, nafas putus sambung.. enak sekali kamu bilang 'mau tau aja'. Ngaku nggak..!!!! Atau Abang cek body sistem di tempat..!!!!!" ancam Bang Langsang serius. Tatapannya sungguh menusuk jantung.


Andin menodongkan tangan di hadapan Bang Langsang. "Bayar dulu satu juta.. nggak ada informasi yang gratis..!!"


"Aseem tenan kok kowe iki dek. Kalau bukan bojo sudah Abang tekuk kamu. Baru kena serempet Glock saja nangis nggak karuan, mau sok-sokan ngerjain Abang. Kalau sudah Abang ledak kan sungguhan.. nangis kamu dek..!!!" omel Bang langsang sambil menarik dompet di saku celana lorengnya. "Ini.. satu setengah juta cash.. cepat bilang..!!!!!" nada suara Bang Langsang masih meninggi.


Andin menyambar uang di tangan Bang Langsang. "Yang lembut donk..!!" ucap Andin semakin membuat emosi Bang Langsang meninggi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2