
"Dia mencekoki Hana dengan minuman keras, memukuli Hana hingga lebam dan......"
"Cukup.. sudah cukup Res. Hatiku belum kuat mendengarnya" cegah Bang Ranggi.
"Aaawwhh.. kepalaku sakit sekali" Bang Ranggi mulai meraba perutnya. Agaknya mual kembali menyerangnya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bang Ares.
"Nama aslinya Serka Herman khan?"
"Haah.. apa???"
"Abangmu.. Serka Herman??" tanya Bang Ranggi.
"Iya.. Serka Herman" jawab Bang Ares.
Mata Bang Ranggi berkilat marah dan Bang Ares paham.. adik iparnya itu pasti sedang murka memikirkan keluarga nya.
"Apapun yang akan kulakukan nanti.. jangan pernah kau ikut campur Res..!!" ucap Bang Ranggi.
"Kamu jangan aneh-aneh Rang.. kamu mau bersitegang denganku?" tanya Bang Ares.
"Lebih baik kita musuhan, aku tidak mau berurusan dengan pria tidak tegas seperti mu" jawab Bang Ranggi.
"Tidak tegas kau bilang?? Kau tidak lihat posisiku? Keadaan ku terjepit Rang.. satu ibuku, satu kakak ku, dan satu lagi adikku" Bang Ares jadi tersulut emosi.
"Apa aku peduli?? Jika kau mengamankan ibumu dan membawa adikmu pergi jauh dari Herman.. tidak mungkin adikmu seperti ini" bentak Bang Ranggi kecewa.
"Jangan sok tau dengan keadaan ku Ranggi..!!!!!" Bang Ares melayangkan hantaman ke dada Bang Ranggi tapi dengan mudah hantaman itu di tepisnya dengan tenang.
"Jaga bicaramu, jika kau berada pada posisiku.. aku yakin kau akan mati kutu sama sepertiku" Bang Ares menghajar Bang Ranggi.
"Abaaaaang..!!!!" Dinar terpekik kaget melihat dua pria di hadapannya sedang beradu otot. Dinar mendorong Hana di kursi roda dengan perut besarnya.
Seketika duel antara Bang Ranggi dan Bang Ares terhenti. Mata Hana berkaca-kaca melihat pertikaian dua pria di hadapannya.
"Haaii.. kenapa sampai disini??" Bang Ranggi melebarkan senyum dan secepatnya menghapus bercak darah di bingkai bibirnya.
"Kenapa kalian berkelahi??" tanya Hana.
Bang Ares pun melebarkan senyum dan sedikit menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor terkena debu.
"Siapa yang berkelahi. Kami berdua mau turnamen. Tidak ada waktu untuk latihan karena sibuk jaga kalian." alasan Bang Ranggi kemudian melirik Bang Ares.
"Iya benar. Masa kita gelud. Bikin malu aja" jawab Bang Ares.
"Apa kalian memperebutkan perempuan??" tanya Dinar.
"Ahahaha.. yang benar saja. Istri sudah cantik begini.. masa mau melirik yang lain"
Belum sempat bibir Bang Ranggi tertutup.. Astari datang dan melingkarkan tangannya di lengan Bang Ranggi dengan manja. Ia juga menyandarkan pelipisnya di bahu Bang Ranggi.
"Abang mau kemana? Ngopi yuk..!!" ajak Astari belum memahami situasi. Sejenak Bang Ranggi ternganga karena kaget.
"Mbak Dinar, ayo kembali ke kamar.. mereka berdua sedang sibuk memperebutkan perempuan" kata Hana.
Dinar pun memutar kursi roda dan kembali ke kamar Hana.
"M****s.. mau bicara apa kita sekarang" gumam Bang Ares.
"Hana.. jangan salah paham dek..!!" Bang Ranggi menyingkirkan tangan Tari.
"Jadi itu pacar Abang yang sedang hamil??" tanya Astari.
Langkah Dinar pun terhenti. Hana juga mengepalkan tangan. Ia berbalik badan bersamaan dengan Hana.
__ADS_1
Hati Bang Ranggi terasa bagai jungkat jungkit berdegub cemas.
"Hanya itu nilai Hana di mata Abang?? Pacar?? Pacar yang sedang hamil?" ucap Hana.
"Kamu salah paham sayang. Dengar Abang dulu ya" jawab Bang Ranggi.
"Kalian berdua menyimpan rahasia apa?" tanya Dinar.
Bang Ares pun tak kalah bingung.
"Ng_gak ada sayang" jawab Bang Ares terbata.
"Ada penjelasan?" tanya Hana.
"Ares yang kenal" jawab Bang Ranggi.
"Itu kenalan Ranggi" jawab Bang Ares bersamaan.
Wajah Hana terlihat mendung. Jelas istri Bang Ranggi itu jauh lebih melow, sedangkan Dinar sudah memasang wajah penuh amarah.
"Aiisshh.. bisakah kau diam dulu" gerutu Bang Ranggi menyenggol kaki Bang Ares.
"Aku tidak mau susah sendiri" jawab Bang Ares.
"Ikut ke kamar Hana..!!" perintah Dinar.
"Siaap..!!" jawab kedua pria itu tanpa sadar.
Hana menatap Bang Ranggi yang salah tingkah.
:
"Lepas seragam dan Push up..!!" perintah Dinar.
Tanpa banyak bicara, Bang Ares langsung mengambil posisi dan melakukan push up sesuai perintah Dinar karena ia tidak ingin kemarahan bumil semakin menjadi.
"Abang minta maaf, Abang yang salah.. semua ini tidak seperti yang kamu dengar" kata Bang Ranggi.
Hana memundurkan tangan Bang Ranggi.
"Abang berhak memilih yang terbaik kalau memang perempuan itu bisa membuat Abang bahagia."
Semakin Hana berucap demikian.. semakin hati Bang Ranggi tak ingin membuat istrinya itu menangis.
"Jangan perlakukan Hana seperti ini, Hana akan semakin tamak karena menginginkan Abang seutuhnya"
Dada Bang Ranggi terasa sesak menyadari istrinya itu membatasi diri karena merasa tidak pantas lagi bersamanya. Krisis percaya diri yang di alami Hana juga membuat hatinya ikut sakit.
"Kamu tau.. saat ini Abang lah yang merasa rendah diri di hadapanmu" kata Bang Ranggi menatap Hana.. ia menghapus air mata Hana dengan jemarinya.
"Mana sanggup Abang berbuat seperti yang kamu pikirkan.. ada anak Abang di rahim mu.. kamu yang akan melahirkan anak Abang.. percaya atau tidak.. selain Mama.. hanya kamu pintu surganya Abang"
"Hana takut, Abang akan menyesal menikahi Hana.. Abang tau khan Hana bukan wanita baik-baik" ucap Hana.
Secepat ucapan itu pula Bang Ranggi menggenggam tangan Hana.
"Tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tapi hatiku, mataku, diriku hanya melihat kamu yang tercantik, terindah dan terbaik dalam hidupku"
Hana luluh dan akhirnya memeluk erat Bang Ranggi.
"Sudah belum dek?? Nafas Abang hampir putus nih" tanya Bang Ares yang masih mendapat hukuman dari Dinar.
Kedua pasangan itu saling tak peduli dan masih sibuk dengan pasangan masing-masing.
-_-_-_-_-
__ADS_1
"Enak??" tanya Bang Ranggi.
"Hambar Bang" bisik Hana.
dddrrtttt.. dddrrttt.. dddrrtt...
Bang Ranggi memperhatikan ponselnya. Matanya melotot membulat besar.
"Siapa Bang?" tanya Hana pelan.
"Ayah" jawab Bang Ranggi.
"Kemana saja kamu?????? Lama sekali baru angkat telepon Ayah. Ada masalah apa kamu di Batalyon?????" bentak Ayah.
"Ayah tau darimana?" tanya Bang Ranggi.
"Bang Gazha bilang kamu terlibat masalah. Abangmu cemas sekali Ranggii..!! Bisa nggak, satu kali saja kamu nggak buat masalah" tegur Ayah.
"Awwhh.. Abaang, sakiiit" rengek Hana karena tanpa sengaja garpu yang sedang di bawa Bang Ranggi menusuk pahanya.
"Ranggiiiiiii..!!!! Kamu lagi sama perempuan ya??????" bentak Ayah lebih keras.
"Astaga yah, jangan teriak.. aku nggak tuli."
"Abaaang, perut Hana langsung sakit nih." protes Hana.
"Duuhh adek.. maafin Papa donk.. Jangan marah ya" kata Bang Ranggi kemudian mengecup perut Hana.
"Astagfirullah hal adzim.. Ranggiiiiiii.. buat apa kamu disana??????" bentak Ayah lagi.
"Jangan teriak yah.. cucu ayah kaget nih" jawab Bang Ranggi.
"Allahu Akbar.. ma, anakmu hamilin perempuan. Mati aku ma" gumam Ayah terdengar di telinga Bang Ranggi dan Bang Ranggi hanya tertawa geli karena berhasil membuat Ayahnya marah besar.
"Siapa yah??" terdengar suara mama yang panik.
"Anakmu Ranggi yang bengal itu." jawab Ayah
"Ada apa???" terdengar suara Opa ikut panik mendengar keributan.
"Ranggi hamilin perempuan Pa" jawab Mama menjawab pertanyaan Opa sampai menangis.
"Anak itu memang harus di hajar, sekarang berangkat semua ke Jawa..!!!! Perintahkan Gazha temui bocah resek itu..!! Bagaimana sih, kalau nggak perempuan.. pasti baku hantam." perintah tegas Opa.
Senyum Bang Ranggi mendadak hilang menjadi kepanikan.
"Ayaaahh.. Opaa.. aku bercanda..!!" sambungan telepon itu pun terputus.
"Duuuhh.. ampun dah.. Bisa remuk aku di hajar Ayah sama Opa" Bang Ranggi menepuk dahinya.
.
.
.
.
Jangan spoiler..!!!!
.
.
.
__ADS_1
.