Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 35. Marahnya Andin.


__ADS_3

Bang Langsang dan Andin menjenguk Naya di rumah sakit. Mereka berdua heboh sendiri, gemas melihat imutnya baby Sandhya Punai Halmahera. Putri cantik kesayangan Kapten Khaja.


"Ku kira anakmu anak lahir pendekar, ternyata malah putri cantik Bang" kata Bang Langsang yang hanya berani menyentuh kulit lembut baby Inay dengan ujung jarinya.


"Aku kira juga begitu. Berarti anakmu lah yang perempuan. Andin melow dan manja begitu"


"Benar Bang, kemarin aku sudah USG.. perempuan. Alhamdulillah.. jadi semalam aku sudah beli banyak baju pink." Bang Langsang pun sudah bersemangat menyambut calon bayinya.


"Waaahh.. pakaian Inay malah pakaian laki-laki semua. Karena waktu USG terakhir dia ngacung, ku kira 'gajahnya' ternyata jari, ngeledek bapaknya"


Bang Langsang tertawa terbahak mendengar curhatan Bang Khaja. Ternyata ada-ada saja drama bumil yang membuat para bapak-bapak nyeri lambung.


"Kau tunggu saja tanggal mainnya. Mudah-mudahan Andin tidak banyak drama. Cari aman saja kau Lang" Bang Khaja yang lebih berpengalaman pun mengingatkan.


~


Setelah melahirkan, Naya kembali berubah total menjadi Naya yang kalem kesayangan Kapten Khaja.


"Seingat Naya, Selama Naya hamil.. Bang Khaja sering sekali memarahi Naya deh"


"Masa sih Mbak Nay??? Sepertinya Bang Khaja nggak pernah marah" kata Andin. "Malah Bang Langsang tuh, kasih Andin uang selalu saja kurang. Kata orang khan kalau suami kasih uang suka kurang.. bisa saja kita mau di jadikan tumbal pesugihan"


"Iihh masa sih. Naya jadi takut sama Bang Langsang. Naya lihat memang Bang Langsang tuh serem lho, apalagi kalau sudah berkacak pinggang di depan apelan"


Tak sengaja Bang Khaja dan Bang Langsang mendengar percakapan tak bermutu dari para istri.


"Apa dulu isi kepala kalian tidak di vaksin polio? Kenapa mikir sampai ngelantur kemana-mana???" tegur keras Bang Langsang. "Kamu lagi dek.. sudah jadi tentara juga pikirannya malah nggak jelas."


"Andin hanya waspada Bang, siapa tau benar Andin mau di tumbalkan" jawab Andin memang memasang wajah waspada.


"Oohh.. jadi kamu sudah tau, ya sudah sekarang kita naik ke puncak.. Abang lempar kamu sebagai tumbal..!!!" ancam Bang Langsang.


Bang Khaja tertawa geli mendengarnya. "Wes.. jangan ribut lagi. Suami galak itu bukan tanpa maksud, terkadang suami tidak sengaja keras karena istrinya yang berulah. Lagipula mana ada suami yang marah tanpa sebab" Bang Khaja pun menengahi.


...


Sepanjang jalan Andin masih waspada, raut wajahnya gelisah. Memang ia menyadari jaman sekarang segalanya serba modern, tapi tak menutup kemungkinan hal di luar nalar juga bisa terjadi.


Bang Langsang melirik Andin yang sedang mengusap perut besarnya. Sekarang usia kandungan Andin sudah tujuh bulan lebih dan selama masa itu Andin memang luar biasa rewel padahal Bang Langsang tau betul sang istri adalah wanita yang sangat kuat, bukankah pastinya seorang tentara di ambil dari pribadi yang tangguh.

__ADS_1


"Mau makan apa nih?" tanya Bang Langsang.


"Abang punya niat apa?" tanya Andin.


"Maksudmu?"


"Abang mau ajak Andin makan, setelah itu piring Andin Abang kasih jampi-jampi.. sampa di rumah nanti Andin sakit, nggak bisa nafas.. perut sakit.. Andin sudah di jadikan tumbal sama Abang"


Bang Langsang menepuk dahinya. Andin istrinya.. kalau tidak melow, pasti sudah manja dengan segala drama dan problematika dalam hidupnya.


"Ya sudah nggak usah makan"


"Abang mau buat Andin lapar??" tanya Andin.


"Allahu Akbar.. terus mas mu iki kudu piye to dek. Tanya salah, nggak tanya juga salah. Bojomu isine salah wae" protes Abang Langsang.


"Abang marah?? Andin khan hanya tanya satu kalimat, kenapa Abang ngomel sama Andin??" wajah Andin seketika berubah mendung.


"Salah maneh.."


"Abang lihat nggak, perut Andin besar karena siapa?? Seharusnya Abang tanggung jawab sudah buat Andin jadi begini." kata Andin akhirnya jadi emosi. "Dasar kucing garong.!! suka nyolong ikan tengah malam, suka marah lagi..!!"


"Siap salah" jawab Bang Langsang tak berani lagi menjawab macam-macam.


"Siap.."


Bang Langsang melajukan mobilnya tanpa banyak komentar.


"Belok ke warung sate..!!" perintah Andin tepat saat Bang Langsang sudah melewati warung makan tersebut. Refleks Bang Langsang menghentikan laju mobilnya.


Mobil yang berhenti tiba-tiba membuat Andin nyaris terpental. "Abang bagaimana sih. Kenapa berhenti mendadak??" protes Andin.


"Kamu yang bilangnya mendadak dek" kata Bang Langsang.


"Mendadak bagaimana?? Ini sudah di warungnya."


Astagfirullah.. sabar.. sabar.. jembar sabar.


Bang Langsang memilih beristighfar dan mengalah daripada harus ribut dengan bumil. Ia turun dan memutar berniat membuka pintu untuk Andin tapi tiba-tiba seorang gadis menghampiri Bang Langsang. Gadis bertubuh mungil dan indah memakai high heels dan dress bertali satu.. dress di atas lutut menunjukan pahanya yang mulus dan indah.

__ADS_1


"Permisi Mas, mau tanya.. apa Mas tau alamat ini?" tanya gadis tersebut mendekati Bang Langsang, mengibaskan rambut panjangnya sambil menunjukan sesuatu dari ponselnya dan tanpa sadar pintu mobil Andin tertahan karena Bang Langsang menanggapi gadis tersebut, gadis yang jelas dari arah pandangan mata pria setinggi Bang Langsang bisa memandang dua buah pepaya California dengan jelas.


"Oohh iya dek. Jalan saja lurus kedepan. Nanti ada perempatan jalan.. adek ambil arah kiri sampai ada belokan ke kiri lagi.. Alamatnya tidak jauh dari sana" jawab Bang Langsang.


Andin merasa kesal karena Bang Langsang menyapa gadis tersebut dengan sapaan 'dek'.


"Bisa minta tolong antarkan saya kesana? Saya takut nyasar" pinta gadis itu.


Hati Andin semakin kesal, ia mendorong pintu sekuatnya sampai Bang Langsang sedikit terhantam. Melihat wajah masam Andin, Bang Langsang paham kalau istrinya itu pasti sedang marah.


"Maaf, mungkin mbaknya bisa di antar ojeg online, disana banyak mas-mas ojeg" kata Andin.


Bang Langsang sudah ketar-ketir, jantungnya bertalu-talu cemas.


"Hmm.. begini ya, saya takut di ganggu sama mas-mas ojeg. Apa mbaknya mau di sini dulu.. biar mas nya antar saya. Kata mas nya khan hanya dekat saja"


"Mbak ini maunya apa ya?? Saya ini istrinya dan saya tidak mengijinkan suami saya mengantar mbak dan ingat satu hal, jangan pernah bersikap sok cantik cantik, perempuan baik harus punya harga diri..!!" bentak Andin merasa sensitif dengan keadaan.


"Mbak.. saya ini hanya mau minta tolong, bukannya mau merebut suamimu. Kecuali.. suamimu memang mau sama saya"


Tanpa banyak debat dan basa basi, Andin memiting gadis tersebut. Bang Langsang pun panik di buatnya.


"Dek.. sayang, lepas ya. Jangan marah-marah. Kasihan anak kita" bujuk Bang Langsang hati-hati.


Mata Andin melirik Bang Langsang. "Abang bela siapa??" tanya Andin.


Bang Langsang jadi serba salah.


Tak segera mendapat jawaban dari Bang Langsang, Andin membanting gadis itu di pinggir trotoar hingga menjerit kesakitan.


"Astagfirullah.. keseleo nggak kamu dek..!!" Bang Langsang segera mendekap dan memeriksa kondisi Andin.


"Andin nggak suka di panggil dek..!!" teriak Andin sekuatnya.


"Iya ma.. iyaa.. Papa minta maaf ya Ma" Jawab Bang Langsang merasakan denyut jantungnya tak normal.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2