
Tolong yang tidak tahan dengan konflik.. skip saja dan tidak mengumpat. Nara membuat cerita sesuai pikiran Nara dan tata bahasa dari Nara termasuk bahasa daerah Nara. Kalau suka dengan cerita yang landai, bukan disini tempatnya dan silakan lihat kartun saja. Terima kasih🙏🙏.
🌹🌹🌹
Zani menghapus air matanya. Sungguh ini pertama kalinya dirinya mengupas bawang. Tak hanya itu, ia pun harus merasakan jarinya tergores pisau tapi hari ini dirinya sudah lebih bisa menguasai area dapur.
"Cepat Zani.. sudah jam 11. Sudah hampir jamnya Bang Tegar makan siang" kata Hana.
"Mbak.. Zani beli online aja ya" pinta Zani.
"Jangan.. masak saja biar Bang Tegar tau kesungguhan mu" tolak Hana.
"Zani capek Mbak. Nanti sore juga masih volly" jawab Zani.
"Sabar.. ambil saja hikmahnya"
"Hikmahnya.. Zani apes tujuh turunan penasaran sama Bang Tegar. Sepertinya Zani salah orang" Zani sesenggukan. Badannya memang sudah sangat lelah.
Hana menepuk bahu Zani menguatkan adik iparnya.
Dari balik dinding dapur. Bang Tegar tersenyum kecil melihat usaha keras Zani.
...
"Apa nih?" Bang Tegar melotot melihat sajian yang terhidang di atas meja kamar mess nya.
"Gule kepala kambing Bang" jawab Zani lebih kalem karena sudah lelah.
"Lailaha Illallah.. giginya kamu sikat nggak ini?????" tanya Bang Tegar.
"Ya di sikat Bang. Bersih kok"
"Merah sekali kuahnya. Kamu aniaya dulu apa gimana nih sampai kambingnya pasrah"
"Lehernya Zani jerat pakai tali karena terlalu banyak bertanya" jawab Zani ringan.
Bang Tegar menahan tawa dan langsung menyantap masakan ekstrem buatan Zani.
Satu gigitan.. rasanya tak mengecewakan. Bang Tegar pun melanjutkan makan siangnya. "Kamu nggak makan??" tanya Bang Tegar.
"Zani nggak nafsu makan"
__ADS_1
"Tetap harus makan. Kalau nanti saat volly kamu pingsan.. Abang tarik kamu pakai jeratnya si kambing" ancam Bang Tegar sambil menarik tangan Zani agar duduk di sampingnya.
Satu suapan.. dua suapan akhirnya makanan itu habis juga. Mereka menghabiskan satu piring berdua.
"Kenyang?" tanya Bang Tegar.
Zani mengangguk, ia meneguk minuman yang di sodorkan Bang Tegar dan setelahnya Bang Tegar meneguk tepat di bekas jejak bibirnya tadi. Zani ternganga karena Bang Tegar tidak memilih air minum yang masih utuh di depannya dan malah meminum dari jejak bibirnya.
"Itu khan bekas Zani Bang" kata Zani.
"Memangnya kenapa? Ada masalah?"
"Abang nggak jijik?" tanya Zani.
"Mulai dari makan sampai minum...Abang santai saja. Kenapa nggak tanya dari tadi?"
"Iya.. tapi Abang nggak merasa bagaimana gitu" Zani ingin lebih memastikan langsung dari bibir Bang Tegar.
"Abang tarik lagi dari bibirmu juga Abang nggak masalah. Bukannya kamu ngebet pengen sama Abang?" Bang Tegar balik bertanya.
Zani cemas setengah mati tapi kepalang tanggung ia tidak ingin menunjukan rasa gugupnya. "Ii_ya lah, Zani itu wanita yang berani. Zani menggeser kursinya mendekati Bang Tegar. "Bukan ngebet lagi Bang. Pengen tau rasanya dekat sama laki-laki yang badannya waooo" ucap Zani dengan gaya genitnya. Ia menyodorkan bibirnya.
Siapa sangka Bang Tegar segera menarik gorden di belakangnya agar kamar Mess nya tertutup rapat. "Baguslah.. gule kambingnya sudah bereaksi, modal tenaga tanam saham nih"
Bang Tegar merasa geli karena Zani terlihat sangat gugup. Ia pun ingin semakin mengerjai gadis itu Bang Tegar membuat suara gemas yang kemungkinan besar pasti di pahami wanita.
Mendengar suara itu, Zani semakin gemetar. Tubuhnya terperanjat saat Bang Tegar melonggarkan ikat pinggangnya.
"Astaga Bang.. Mbak Hana tidur nggak ya, sepertinya Zani lupa matikan kompor" kata Zani kemudian berlari pulang.
Bang Tegar pun terdiam sejenak tapi kemudian tersenyum penuh arti. "Kamu memang ujian berat ya dek. Abang mau pura-pura tapi ternyata Abang yang nggak kuat" Bang Tegar mengambil rokok kemudian menghisapnya untuk menekan perasaan.
...
"Berdiri..!!!!" Bang Tegar terus memberikan bola untuk Zani. Bukannya Zani tak bisa menerimanya, tapi pukulan dari Bang Tegar memang terlalu kuat. Bukan hanya Bang Ranggi yang suka menyiksanya.. tapi sekarang bertambah satu orang lagi yang gemar menyiksa dirinya.
"Ayoo Bu Tegar..!!" Beberapa orang anggota memberi semangat.
"Cepat.. Nggak malu kamu di ledekin anggota???" kata Bang Tegar.
Zani berusaha membalas tapi ternyata usahanya itu sia-sia belaka karena Bang Tegar selalu bisa menangkap bola darinya. Berkali-kali adu balas bola dan akhirnya Zani benar-benar kelelahan. "Bang sudah donk.. Zani nggak kuat"
__ADS_1
"Sudah Pak, kasihan ibu" ibu-ibu di lapangan membujuk Bang Tegar.
"Jangan terlalu lelah Pak, biar cepat jadi" ucap ibu yang lain.
"Aamiin.. ya sudah saya tinggal ya ibu-ibu. Nyonya sudah nggak kuat nih" Bang Tegar membantu Zani untuk berdiri.
"Baik Pak, silakan..!!"
:
"Mana Abang tau kalau kamu lagi dapat..!!"
"Makanya jangan suka ngerjain orang. Cepat belikan Zani pemb*lut sama obat pereda nyeri..!!!" pinta Zani.
"Haaaahh.." Bang Tegar semakin ternganga.
"Cepat Bang, sakit sekali..!!" Zani mencoba berdiri tapi sayang jejak noda sudah membekas di ranjang Bang Tegar. "Bang.. kotor" Zani pun cemas.
"Nggak apa-apa.. nanti ranjangnya Abang balik. Kamu naik saja di ranjang dan istirahat.. Abang beli dulu ke minimarket"
"Di koperasi saja yang dekat."
"Harga diri lah dek. Masa Abang beli di koperasi...!!" ucap Bang Tegar gengsi.
"Katanya Nyonya??? Kalau buat Nyonya nggak apa-apa donk" sindir Zani.
Bang Tegar menghela nafas terjebak ucapannya sendiri.
...
"Pemb*lut, obat pereda nyeri sama susu promil ya Pak" kata pelayan di minimarket.
"Iya mbak."
Setelah beberapa saat Bang Tegar membayar total belanjanya ia melihat lagi kantong belanjanya, senyumnya pun mengembang. "Bismillah"
.
.
.
__ADS_1
.